Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
13


__ADS_3

Benar saja tidak lama para penunggang kuda berpakaian serba hitam telah berhenti di depannya. Begitu sampai salah seorang di antara mereka langsung menuding dara berbaju kuning gading.


"Itu dia gadis liar yang telah berbuat kurang ajar pada kami, tetua...!"


Yang bicara adalah Wongso Mendit yang bibirnya pernah disobek oleh sang dara saat bentrokan di warung beberapa hari yang lalu. Braja Musti, laki-laki tegap berperut buncit berkumis melintang macam tambang dada menggeram. Tenggorokannya turun naik setelah melihat kecantikan sang dara.


"Kulihat di tempat ini seperti bekas terjadi pertempuran!"


Braja Musti yang biasanya bersikap kasar ini bicara pelan. Suaranya juga lunak. Dara baju kuning meludah ke tanah. Ia melihat ke arah pemuda berambut pirang. Tapi dara baju kuning terkesiap, karena melihat pemuda itu tampan berambut merah bertampang tol ol sudah tidak ada lagi di situ.


"Tampaknya kau kehilangan lawan, anak manis! Tapi kau tidak perlu berkecil hati! Kami pantas menjadi lawanmu setelah kau merobek mulut salah seorang anak buahku! Sebelum itu coba kau jelaskan mengapa kau begitu berani mencari penyakit mengusik ketentraman kami!" sambil berkata mata Braja Musti menjelajah lekuk liku tubuh si gadis dengan ******.


"Manusia anj ing kur ap!" mendam prat dara baju kuning.


"Delapan belas tahun yang lalu, kau dan tiga kawanmu telah membunuh orang-orang hamil tidak berdosa di lereng Gunung Bromo. Sekarang saatnya bagimu untuk mempertanggung jawabkan dosa-dosa kalian!"


Kening Braja Musti laki-laki berusia hampir tujuh puluh tahun ini berkerut dalam.


"Kau tidak perlu kerutkan kening segala! Berpura-pura lupa telah menghutang nyawa ayah ibuku!" semakin lantang suara sang dara.


Jelas ketika itu ia benar-benar dikuasai amarah menggelegak. Seumur-umur belum pernah Braja Musti dibentak oleh orang lain, apalagi oleh seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali. Wajahnya pun berubah memerah.


"Eeh... siapakah kau...!"


"Aku Dewi Bulan! Sengaja datang kemari ingin mencabut nyawa empat tokoh sesat yang sekarang bercokol di puncak Gunung Bromo!"


Saat itu Suro Blondo yang sengaja menghindar dan bersembunyi di kerimbunan pohon tampak melongo. Ia seka keringat di dahi, matanya terus memandang ke bawah.


"Tidak kusangka aku mempunyai tujuan yang sama dengan gadis itu. Tapi kurasa ku nyuk jelek itu bukan orang yang membunuh orang tuaku!" Suro Blondo menduga-duga.


Namun kemudian ia teringat pesan Malaikat Berambut Api.


"Walaupun bukan pembunuh orang tuaku! Guru berpesan agar aku juga mengusir orang-orang partai Dunia Akhirat! Lebih baik kutunggu dulu apa yang terjadi."


Sementara Dewi Bulan yang terlihat tegang tarik urat sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Begitu membentak ia sudah lepaskan satu serangan dahsyat ke arah Braja Musti.


Orang yang diserang terkekeh. Ia papaki serangan tangan kosong lawan dengan mempergunakan kaki kanan-nya. Serangan menyamping itu luput. Dewi Bulan merasa gusar, tangannya tidak ditarik pulang tapi terus meluncur ke kepala kuda Braja Musti.


Praak!


Kuda tunggangan meringkik keras.Braja Musti hampir terpelanting jika saja ia tidak cepat lakukan jungkir balik, lalu jejakkan kaki ke tanah sambil mem aki.


"Bocah liar! Kau akan merasakan betapa pedihnya siksaanku. Tapi sebelum kematianmu. Aku akan memanfaatkan kebagusan tubuhmu untuk bersenang-senang!" Braja Musti mengekeh panjang.


"Puih! Manusia hi na! Mam puslah kau...!" jerit Dewi Bulan.


Sekaligus menerjang, sekarang ia mengerahkan jurus 'Dibalik Mega Gajah Semburkan Air'. Segelombang angin kencang dingin membekukan datang bergulung-gulung melabrak tubuh Braja Musti. Laki-laki tua ini sempat terkesiap, namun tanpa membuang waktu lagi segera melompat ke samping. Lalu ia memutar tangannya ke arah datangnya angin serangan itu.


Buss!


Serangan gencar yang dilakukan sang dara seakan tertahan. Braja Musti membentak. Dan tubuhnya berkelebat ke depan sambil hantamkan dua tinjunya secara beruntun. Tanpa ayal lagi Dewi Bulan menyambuti serangan itu. Saat tinju datang, ia menepis dengan tangan kanannya.


Plaak!


"Iiih...!" Dewi Bulan berseru tertahan.


Tubuhnya sempat tergetar. Sedangkan tangan yang dipergunakan untuk menepis terasa panas mendenyut. Sebaliknya Braja Musti juga sempat terperangah. Ia tidak menyangka gadis semuda itu telah memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.


Lima jurus telah berlalu. Braja Musti menggembor. Tubuhnya berkelebat lenyap laksana bayang-bayang. Angin kencang bersiuran. Sehingga dara baju kuning itu sekarang tampak terkurung bayangan hitam yang terus melancarkan serangan-serangan mautnya.


Tawa Dewi Bulan menggema, tubuhnya bersalto ke udara. Ketika ia berbalik ke bawah satu pukulan jarak jauh dilepaskannya.


Wuiss!


"Hmm...!"


Braja Musti menggerendeng. Ia angkat tangannya tinggi-tinggi. Serangkum sinar panas datang menggebu menyongsong pukulanyang dilepaskan oleh lawannya.


Blaar!


Blaar!


Dua kali ledakan dahsyat terdengar berturut-turut. Dewi Bulan terpental sejauh tiga tombak. Wajahnya berubah pucat. Sebaliknya Braja Musti jatuh terduduk. Mulutnya menyeringai, dada terasa sesak seperti ditindih batu gunung.

__ADS_1


Dewi Bulan bangkit berdiri, dengan langkah agak terhuyung-huyung ia mencabut pedang pendek berwarna putih berkilauan.


Saat itu Wongso Mendit, Lingga dan Karsa Jaliteng yang mempunyai dendam tersendiri terhadap gadis itu sudah menyerbu Dewi Bulan dengan pedang terhunus di tangan masing-masing.


"Walah ini yang namanya tidak adil!" gerutu Suro Blondo.


Ia memutus empat buah ranting lalu menyambitkannya ke arah Tiga Iblis Pemburu Nyawa bersamaan waktunya dengan berkelebatnya pedang di tangan lawan-lawan Dewi Bulan.


Traang!


Terdengar tiga kali suara berdentang. Tiga Iblis Pemburu Nyawa memekik kaget. Tangan mereka bergetar hebat. Hawa panas terasa menyengat bagian telapak tangan sehingga membuat pedang di tangan masing-masing hampir terlepas dari tangan.


Braja Musti sendiri sempat tertegun melihat anak buahnya sempat tersentak ke belakang dan menjerit-jerit seperti kesetanan.


Di saat itulah terlihat sosok tubuh berbaju biru muda melayang turun dari kerimbunan pohon. Ia menjejakkan kedua kakinya persis di samping Dewi Bulan. Gadis itu sempat pelototkan mata ketika mengenali pemuda di sampingnya. Suro Blondo tersenyum.


"Dalam keadaan seperti ini jangan kau marah padaku, Nisanak. Musuh-musuh yang kau hadapi adalah musuhku juga...!"


Dewi Bulan akhirnya hanya diam saja. Sementara Braja Musti sambil menggembor marah melompat mendekati lawannya.


"Pemuda bertampang to lol! Jangan


campuri urusan orang lain! Menyingkirlah sebelum orang-orangku menggorok lehermu!" bentaknya dengan kemarahan menggelegak.


Suro Blondo cengengesan. Mulutnya yang pletat-pletot menggeram:


"Masa aku hanya diam saja melihat seorang gadis dikeroyok oleh empat mo nyet brewok bertampang ib lis!"


"Bang sat! Siapakah kau?"


"Mengenai siapa aku tidak penting!" kata Suro Blondo meng ejek.


"Cuma sedekar kalian ketahui. Aku juga mempunyai tujuan yang sama dengan nisanak ini...!"


"Ha ha ha! Bocah bau ingus! Kau akan menyesal seumur-umur karena telah begitu berani mengusik kewibawaan kami!"


"Tetua! Mengapa harus bertele-tele! Serahkan pada kami biar kami bereskan dua ekor tikus yang tidak tahu peradatan ini!" menyela Karsa Jaliteng tidak sabar.


Ini adalah perintah yang sangat ditunggu-tunggu oleh Tiga Iblis Pemburu Nyawa. Tanpa berpikir lagi, mereka sudah menerjang saling dahulu mendahului. Pedang di tangan mereka menderu, berkelebat-kelebat menyambar dengan ganasnya.


Suro Blondo ganda tertawa. Tubuhnya melompat ke atas. Lalu pergunakan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'. Sungguh lucu dan konyol gerakan silat yang dimainkan oleh pemuda ini. Tapi setiap serangan balasan yang dilakukannya cukup berbahaya disamping mengeluarkan angin menderu-deru.


"Hiya! Nguk! Nguk...!"


Suro Blondo melompat-lompat. Pinggulnya bergoyang-goyang. Tubuhnya seruduk sana seruduk sini. Karsa Jaliteng penasaran bukan main melihat serangannya selalu menghantam tempat kosong. Saat pemuda lawannya melakukan sergapan ke arahnya. Pedang di tangannya kembali menderu membacok dan membabat.


"Ups...!"


Dengan gerakan yang sungguh lucu dan konyol. Suro Blondo berhasil mengelakkan serangan lawan. Tangan kanannya menjulur ke bagian pertahanan lawan yang lowong.


Praak!


"Akkhgh...!"


Karsa Jaliteng melolong setinggi langit. Tubuhnya terbanting mukanya hancur terhantam pukulan lawannya. Wajah tokoh Tiga Iblis Pemburu Nyawa mandi darah. Tubuhnya diam, nyawanya putus seketika.


Sementara itu Dewi Bulan juga telah berhasil mendesak dua lawannya. Pedang pendek di tangannya terus menderu-deru. Mati-matian Wongso Mendit dan Lingga berusaha bertahan. Tapi setiap ia melakukan serangan balasan selalu dapat dihalau oleh Dewi Bulan.


"Terus... terus...! Bunuh saja mo nyet jelek itu, Nisanak!"


Suro Blondo memberi semangat. Ia bahkan bertepuk tangan. Melihat ini Braja Musti berang bukan main.


"Mo nyet t olol! Jangan hanya bertepuk tangan disitu! Makanlah senjataku!"


Teriak laki-laki berusia enam puluhan ini. Bola berduri di tangannya menderu dan menimbulkan udara dingin menusuk sumsum.


"Hups! Kurang ajar. Mon yet, curang!" Suro Blondo meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat indah sekali.


Bumm!


Satu ledakan terdengar ketika senjata berbentuk aneh itu menghantam batu di belakang pendekar Blo on. Suro Blondo geleng-geleng kepala melihat lubang besar akibat hantaman senjata maut lawannya.


"Seribu Kera Sakti Mengecoh Harimau'...!" jerit pemuda tampan bertampang blo on ini.

__ADS_1


Seketika gerakannya berubah cepat bukan main. Tubuhnya bergerak laksana kilat. Tangan, kaki yang menendang tampak berubah menjadi banyak sedemikian rupa. Seakan tubuh Suro Blondo berubah menjadi ratusan mengelilingi Braja Musti dari segala penjuru arah.


Seumur hidup belum pernah Braja Musti mendapat lawan yang memiliki jurus seaneh ini. Sambil kertakkan rahang, Braja Musti semakin memperhebat serangannya. Tapi hanya dalam beberapa jurus kemudian laki-


laki ini terpelanting roboh ketika tersapu tendangan kaki lawannya.


Dalam waktu bersamaan, tubuh Dewi Bulan tampak berputar sebat laksana sebuah gading. Pedang di tangannya laksana kilat membacuk, menebas menusuk dan menghantam pertahanan lawannya yang sudah morat-marit.


"Hiyaa...!"


Crass! Craas!


Wongso Mendit dan Lingga tampak melintir tubuhnya. Tenggorokannya robek besar. Darah mengucur deras dari luka itu. Mata mereka tampak melotot seakan tidak percaya dengan apa yang mereka alami. Tubuh kedua orang ini langsung terguling roboh menyusul kawannya.


Trek!


Dewi Bulan memasukkan pedang pendek ke dalam sarungnya. Ia memandang pada Suro Blondo yang terus menyerang Braja Musti dengan bola berduri milik lawannya yang berhasil dirampasnya.


Entah mengapa sekarang timbul rasa sukanya setelah melihat kehebatan dan kekonyolan pemuda itu.


"Lekas bunuh mo nyet brewok itu. Ayo...!"


Dewi Bulan berteriak-teriak ditujukan pada si pemuda. Dengan mimik serius, Suro Blondo terus menerjang.


Braja Musti yang tampak selalu gagal melepaskan pukulan jarak jauhnya jadi terdesak. Geram campur marah menyatu dalam jiwanya. Suro Blondo yang ketika itu telah mengerahkan jurus tingkat tinggi. Yaitu jurus 'Tawa Kera Siluman', benar-benar sudah tidak dapat tertahan lagi gelombang serangannya.


Satu ketika Braja Musti bermaksud merebut senjata andalannya kembali. Namun bersamaan dengan itu Bola Berduri rampasan tepat menderu ke dadanya. Gerakan itu cepat bukan main. Sehingga Braja Musti tidak mampu menghindarinya lagi.


Braak!


Bola Berduri langsung amblas ke dalam dada Braja Musti. Laki-laki ini terhuyung, bibirnya mengeluarkan suara seperti tercekik. Tubuhnya melejang-lejang. Kemudian mati dalam keadaan jatuh terduduk.


"Ha ha ha! Mati...! Satu dari empat iblis telah mati...!"


"Kisanak! Karena kau telah menyelamatkan aku. Aku menganggap urusan di antara kita telah selesai. Oh ya... siapakah namamu?" tanya Dewi Bulan.


Ditanya dengan ramah oleh gadis cantik yang tadi sempat hampir mencelakainya. Jantung Suro Blondo terasa dek-dekkan juga.


"Nisanak tidak marah lagi padaku?"


"Kalau masih marah, sudah kugebuk kau sejak tadi!"


Suro Blondo sebelum menjawab usap keningnya yang keringatan.


"Namaku Suro Blondo!"


"Pantasan...!" Dewi Bulan tidak meneruskan ucapannya.


"Pantasan apa?"


"Wajahmu ganteng tapi tampangmu


b ego...!" Dewi Bulan tersenyum.


Sungguh mendebarkan senyumnya. Karena dua pipinya membentuk lesung pipit.


"Kau juga cantik! Sayang ceriwis dan pemarah!" sahut Suro Blondo, cengengesan.


Anehnya Dewi Bulan tidak marah. Malah ia balas tersenyum. Sesaat ia memandangi pemuda tampan bertampang blo on di depannya.


Bersamaan waktunya Suro Blondo memandang pula ke wajah si gadis. Tatapan mata mereka bertemu. Hati Dewi Bulan berdebar keras. Wajahnya bersemu merah. Ia cepat palingkan wajah ke arah lain.


"Suro! Maaf perjumpaan kita sampai di sini saja. Aku ada urusan mendesak di Gunung Bromo...!"


Hanya dalam sekedipan mata saja, Dewi Bulan telah lenyap dari hadapannya.


"Hei... tunggu...! Aku juga mau ke Gunung Bromo...!" teriak Pendekar Blo on memanggil.


Ia pun mengejar ke arah lenyapnya si gadis sambil mengerahkan ilmu lari cepat Kilat Bayangan.


Bagaimanakah nasib Dewi Bulan dan Pendekar Blo on?


Mampukah mereka menghadapi orang-orang yang telah membunuh kedua orang tua mereka?

__ADS_1


__ADS_2