Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
62


__ADS_3

"Baiklah. Kuterima gebukanmu tapi jangan kuat-kuat!" Pendekar Blo'on menyeringai.


Ini membuat Maya Swari menjadi mangkal. Cepat ia menggeser langkahnya kesamping kiri. Kaki depan ditekuk, sementara tangan terkembang di depan dada.


Jelas sekali Raka Tendra mengetahui bahwa putrinya mengerahkan salah satu jurus yang sangat berbahaya. Padahal pemuda itu sungguhpun anaknya mempergunakan jurus biasa belum tentu lawan dapat menghindarinya. Raka Tendra segera dapat mengambil kesimpulan bahwa anaknya memang bermaksud menghabisi lawannya.


"Yeaa...!"


Maya Swari melompat ke depan. Tangannya terkembang menghantam ke dada. Cepat bukan main gerakan ini sehingga orangpun dapat membayangkan dengan sekali pukul pemuda berambut hitam kemerahan ini roboh dan paling tidak terluka dalam cukup parah.


"Jangan kelewat kejam...!" desis Suro Blondo lalu pencongkan mulutnya. Setelah itu ia melompat ke samping. Ia pergunakan jurus Kera putih Memilah Kutu. Gerakan menghindar yang dilakukannya terkesan asal jadi dan sembarangan.


Tubuhnya terhuyung ke depan, ketika hantaman tangan lawan datang ia tarik ke kiri, lalu terhuyung pula ke kanan. Sedangkan kaki dengan lincahnya melompat-lompat lalu....


Wuus!


Satu liukan indah dilakukannya. Sehingga serangan beruntun Maya Swari mengenai sasaran kosong. Para hadirin terlebih-lebih Raka Tendra tertegun. Jurus serta serangan anaknya itu terkenal cepat dan tidak pernah meleset. Tapi aneh, jika kali ini lawan dengan gerakan yang kacau dapat menghindari serangan itu.


Maya Swari kertakan rahangnya. Tangan kiri diputarnya, lalu tangan kanan menghantam ke bagian wajah lawan sedang kaki menendang ke arah perut. Ini merupakan gerakan yang sulit dilakukan oleh orang lain secara sempurna. Sekejap ia melompat lalu lepaskan tendangan dan pukulan secara beruntun.


Sambil berjingkrak-jingkrak Suro Blondo terpaksa melompat ke belakang dan terus ke belakang. Orang memperkirakan sebentar lagi pemuda bertampang to lol kekanak-kanakan ini pasti jatuh dari panggung. Tapi siapa sangka begitu sampai di ujung panggung ia bersalto sebanyak tiga kali. Bahkan ia masih sempat pula melakukan serangan balasan.


Bett...!!


Tangannya melayang mencakar ubun-ubun lawan. Maya Swari terpaksa berguling-guling selamatkan kepala.


"Ha ha ha...!" Pendekar Blo'on tertawa ngakak.


"Hati-hati, Nisanak!"


"Jangan bangga! Heyaa...!" Maya Swari sambil berteriak melompat berdiri tangannya menghantam lutut si pemuda. Karena serangan itu bertubi-tubi dan penuh variasi. Suro Blondo kali ini terpaksa melompat lagi, tangan menghantam kiri kanan dan depan. Ia berjongkok dan seperti seekor monyet berjingkrak-jingkrak ia melayani serangan lawannya.


Yang aneh dari serangan balasan yang dilakukan kali ini adalah setiap menyerang dari mulutnya keluar suara raungan seperti suara hiruk pikuk monyet di hutan. Suara ini membawa pengaruh tidak ringan, karena gerakan silat serta konsentrasi lawan jadi terpecah-pecah.


"Hiiik!" Maya Swari rupanya segera menyadari apa yang harus dilakukannya untuk menghilangkan pengaruh suara pendekar Blo'on. Sehingga ia berteriak keras sekali. Pertarungan itu semakin lama berlangsung semakin seru. Semua pihak berdecak kagum. Termasuk juga orang-orang yang bersembunyi di balik pohon maupun yang diatas pohon.


"Anak itu tampangnya to lol dan kekanak-kanakan. Tapi siapa sangka ia mempunyai ilmu silat yang sangat langka." komentar Buto Terenggi seakan memuji.


"Aku seperti pernah mengenal jurus-jurus aneh seperti itu. Tapi aku lupa kapan dan dimana." Raka Tendra menimpali.


"Tenaga dalamnya berada diatas tenaga dalam Maya Swari" Nyanyuk Pingitan buka suara.


"Sayang kita tidak tahu dia berasal dari golongan mana!"


"Kita lihat dulu apakah ia mampu menghadapi ilmu pedang putriku. Jika dia lolos dari kematian. Nanti kita dapat bertanya darimana asal pemuda itu."


Sementara itu Gajah Gemuk dan Gajah Kurus juga sedang berembuk dan membicarakan Pendekar Blo'on.


"Kurasa di kolong langit ini hanya Penghulu Siluman Kera Putih Batara Surya saja yang memiliki ilmu kera semacam ini. Tapi apakah kau yakin dia muridnya Batara Surya?"


"Aku kurang tahu, Kakang. Menurut apa yang kudengar Batara Surya tidak pernah memungut seorang murid pun. Ia lebih suka berkumpul dengan monyet-monyet siluman kaumnya."


"Tapi... ah, ini lebih gila lagi. Lihatlah jurus yang dimainkannya itu. Lima puluh tahun yang lalu aku seperti pernah melihat jurus yang sangat kacau sebagaimana yang dimainkan oleh pemuda itu. Tidak! Jurus ini lebih dahsyat dari jurus-jurus kera putih." Bantahnya sendiri.


"Kacau balau? Bukankah jurus itu hanya dimiliki oleh Malaikat Berambut Api?"


Gajah Gemuk manggut-manggut.

__ADS_1


"Benar... aku baru ingat jurus yang sekarang dimainkan oleh pemuda itu sama persis dengan jurus Kacau Balau ciptaan Malaikat Berambut Api.Tapi apa hubungannya? Apakah dia muridnya? Konon Malaikat Berambut Api manusia sakti mandraguna itu tinggal di Pulau Seribu Satu Malam dan tidak punya seorang murid pun."


"Ya... dan gadis itu walaupun kini bersenjata pedang mungkin tidak sampai lima jurus dimuka segera menjadi pecun dang!" kata Gajah Gemuk menimpali.


Apa yang dikatakan oleh Gajah Kurus memang bukan hanya sekedar bualan saja. Sungguhpun Maya Swari telah menggerakkan jurus pedang yang paling sangat diandalkannya. Hingga sejauh itu ia masih belum dapat menciderai lawannya. Jangankan melukainya, sedangkan merobek pakaian si pemuda saja ia tidak mampu.


Ketika Suro Blondo melancarkan serangan balik dengan perpaduan dua jurus, yaitu jurus Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau dan Jurus Kacau Balau. Maka Maya Swari segera terdesak. Gadis cantik ini semakin memperhebat gerakan pedangnya dan juga melipat gandakan tenaga dalamnya. Sejauh itu ia masih belum mampu menembus pertahanan lawannya. Bahkan setiap serangan-serangan yang dilancarkannya selalu tertahan. Permainan pedangnya terbatas dan selalu membalik nyaris mengenai diri sendiri.


Diatas pohon Dewi Bulan yang turut menyaksikan pertempuran itu diam-diam mulai cemas. Ia bukan mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu, tapi jauh di lubuk hatinya jika Pendekar Blo'on dapat memenangkan pertandingan ini berarti dia akan menjadi suami Maya Swari.


Siapa yang tidak sedih melihat pemuda yang dicintainya secara diam-diam menjadi suami orang lain. Secara kebetulan itupun tengah dipikirkan oleh Suro Blondo. Kalau dia mau tentu sejak tadi Maya Swari dapat dijatuhkannya. Tapi konsekwensinya ia harus menjadi suami Maya Swari. Padahal inilah yang tidak dikehendakinya. Bukan karena Maya Swari jelek rupa.


Dibandingkan Dewi Bulan, Kecantikan Maya Swari tidak ubahnya bagai pinang di belah kampak. Artinya sama-sama cantik dan menawan. Mengingat Maya Swari merupakan putri dari tokoh sesat, hal ini tidak sejalan dengan jalan hidup yang ditempuhnya. Lagipula ia masih harus mencari musuh besar orang tuanya yang hingga kini belum ketahuan dimana rimbanya.


Sekarang ia harus mencari jalan lain, paling tidak ia harus mengalah. Tapi jika itu dilakukannya, ia pasti mati ditangan si gadis yang begitu ganas. Dalam keadaan bingung begitu rupa, serangan-serangan Maya Swari semakin bertambah gencar kembali.


Tokh sebagai orang berpengalaman Diraja Penghulu Iblis, Buto Terenggi dan Nyanyuk Pingitan sudah dapat mengetahui bahwa pemuda berambut hitam kemerahan itu kini sengaja mengalah. Dalam arti sebenarnya ia sudah memenangkan pertarungan sejak beberapa jurus tadi.


Apapun alasannya, pemuda itu sudah pantas menjadi pendamping Maya Swari sebagaimana isyarat gadis itu kepada ayahnya.


Celakalah bagi Suro Blondo karena usahanya ini tidak mendatangkan hasil. Ketika Diraja Penghulu Iblis bertepuk tangan dan angkat bendera putih. Maka Maya Swari melompat mundur. Tidak lama penguasa gunung Pangrangko ini melompat ke atas panggung, memandang untuk beberapa saat lamanya, lalu tersenyum ditujukan pada Maya Swari anaknya.


"Sesungguhnya kau telah kalah, Anakku. Pemuda ini pantas menjadi pendampingmu. Bagaimana apakah kau mau mungkir?" pertanyaan ini membuat wajah Maya Swari yang putih susu berubah memerah seperti tomat masak. Ia sendiri harus mengakui bahwa Suro Blondo memang hebat, kalau dia mau mungkin sejak tadi ia sudah menjadi pecundang. Dihatinya ia beranggapan bahwa pemuda berambut hitam kemerahan itu sengaja mengalah karena takut kepada orang tuanya. Kini setelah ayahnya naik ke atas panggung maka semakin bertambah jelaslah persoalannya.


"Siapakah namamu, anak muda?" tanya Raka Tendra dengan suara keras.


Suro Blondo menjadi bingung sebentar, lalu garuk-garuk kepala. Mungkinkah ia harus berterus terang? Sedangkan ia berhadapan dengan orang-orang yang tidak satu golongan.


"Jika keadaan sangat memaksamu untuk berdusta karena kau merasa ragu menilai kebaikan orang lain. Berbohongpun tidak akan ada salahnya!" kata-kata yang pernah diucapkan oleh gurunya seakan mengiang kembali di telinganya.


Pertanyaan ini membuat si pemuda tersentak kaget.


"Na.. namaku, namaku Pangeran Linglung." jawab si pemuda sekenanya.


Raka Tendra kerutkan kening sedangkan Maya Swari sebagaimana tamu lainnya ikut tertawa.


Dibalik tempat persembunyiannya Gajah Gemuk bicara


"Bocah itu ternyata hanya orang gendeng yang memiliki kepandaian tinggi."


"Tenanglah, kita lihat saja apa yang akan terjadi!" Gajah Kurus Krempeng menimpali.


Pembicaraan diatas panggung terus berlangsung.


"Apakah kau tidak berdusta?"


"Tidak."


"Siapa gurumu?" tanya Raka Tendra dengan sorot mata penuh selidik.


Suro Blondo nyengir lagi.


"Aku tidak pernah berguru. Aku hanya melihat gerak gambar ditebing batu lalu kutiru."


"Benarkah begitu?"


"Ya..."

__ADS_1


"Apa pekerjaanmu?"


"Sejak jadi yatim piatu aku menggembala kuda milik orang kaya di Banyuwangi. Karena kuda-kuda itu beranak terus, aku kewalahan dan lari hingga ke sini...." Jawaban Suro Blondo yang tenang itu membuat Raka Tendra harus percaya, walau dihatinya curiga. Sebaliknya para undangan tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban yang sangat polos itu.


"Tahukah kau bahwa kau memenangkan pertandingan ini?"


Suro Blondo menggeleng.


"Kau menang, berarti kau berhak menjadi pendamping putriku. Kurasa Maya Swari setuju bukankah begitu?" Raka Tendra menoleh pada putrinya.


Maya Swari menundukkan kepala malu-malu, padahal memang setuju.


"Tapi... ee... bagaimana ini...!"


"Menolak pinangan iblis berarti mati. Tidak sadarkah kau bahwa ini merupakan satu kehormatan bagimu!" ketus sekali suara Diraja Penghulu Iblis.


Sementara di atas pohon Dewi Bulan yang dalam keadaan tertotok dan terus didampingi oleh Ratu Penyair Tujuh Bayangan segera palingkan mukanya ke arah lain.


Tapi satu permintaan Suro Blondo yang diajukan kepada Raka Tendra paling tidak membuat hatinya lega.


"Kehormatan itu dapat kuterima. tapi aku punya satu syarat. Jika syaratku diterima tentu bukan halangan bagiku untuk menjadi suami putri yang cantik ini."


"Apakah syaratmu?"


"Karena aku seorang Pangeran, walaupun hanya Pangeran Linglung. Aku punya pembantu paling setia. Kelak dia akan datang sendiri bila melihat majikannya ada disini."


"Ha ha ha...! Jangankan hanya satu kacung, sepuluh kacung pun jika kau punya tidak mengapa kalau kau mau membawanya kemari."


"Terimakasih-terimakasih...!"


"Jadi kau telah setuju untuk menjadi mantuku?"


Pendekar Blo'on tersenyum-senyum, lalu anggukan kepala.


Melihat ini tentu Maya Swari girang bukan main. Sebaliknya Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng mema ki.


"Anak to lol! Kepandaian tinggi. tapi mau menjadi menantu ib lis. Dasar edan!"


"Tenanglah Adik Krempeng. Kurasa ia punya tujuan tertentu. Kita lihat saja." kata Gajah Gemuk.


Di atas panggung Raka Tendra mulai mengumumkan pertunangan Maya Swari dengan Pendekar Blo'on yang mengaku sebagai Pangeran Linglung.


Sementara itu Buto Terenggi dan Nyanyuk pingitan sedang berbincang-bincang dengan seorang tamu yang baru saja datang. Tamu itu memiliki badan agak bungkuk, matanya cuma sebelah, wajahnya mengerikan karena membusuk disana sini. Melihat cara Buto Terenggi yang bermata kecil seperti ikan lele itu menghormat. Jelas tamu yang datang bukan tamu sembarangan. Dia tidak lain Si Bungkuk Lima alias Datuk Alang Sitepu dari gunung Sibayak.


"Maaf, kami terlambat menyambut tamu yang datang dari jauh. Silakan mengambil tempat Raja Penyihir. Sebentar lagi pesta besar segera diadakan!" Nyanyuk Pingitan mempersilahkan manusia bungkuk bau bangkai ini mengambil tempat tidak jauh dari panggung.


"Hmm, Inikah orangnya yang akan menjadi mantu Raka Tendra?" tanya Datuk Alang Sitepu sambil tersenyum. Tapi senyumnya itu dimata orang lain tidak ubahnya seperti seringai menakutkan. Dan bibir itu sendiri seperti hendak tanggal ketika ia sedang bicara.


"Benar Datuk Alang." yang menjawab adalah Buto Terenggi.


"Hanya seseorang badut mengapa harus dijadikan mantu...?" Datuk Alang yang sangat dikenal di pulau Jawa karena ilmu sihirnya yang hebat-hebat, meludahkan air sirihnya ke tanah. Rumput yang terkena air ludah laki-laki ini langsung hangus menebar asap berbau busuk sekali.


"Lagi pula pemuda itu belum mampu menotok calon pengantin perempuan. Mengapa adu kepandaian dihentikan?" Datuk Alang Sitepu protes.


"Pemuda itu mungkin takut melakukannya, Datuk. Mungkin pula ini caranya dalam menghormati calon istrinya. Ia tidak mau mempermalukan calon isteri di depan orang banyak." Pembicaraan antar tokoh ini terus berlangsung.


Sementara Maya Swari dan Suro Blondo telah digiring meninggalkan panggung untuk dirias di kamar pengantin.

__ADS_1


__ADS_2