Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
34


__ADS_3

Halaman luas yang dimasuki Suro Blondo tampak tenang dan sepi-sepi saja. Pemuda berbaju biru muda itu terus melangkahkan kakinya mendekati pintu utama, hingga kemudian terdengar suara bentakan disertai berkelebatnya beberapa sosok tubuh mengurung pemuda itu. Tanpa bertanya-tanya lagi, para pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari delapan orang langsung menyerang dengan pedang terhunus di tangan.


"Walah! Mau bertemu dengan saudagar kaya, an jing penjaganya malah mengeroyokku! Baiklah kalian akan kubuat loyo...!" dengus Pendekar Blo'on. Seraya garuk-garuk punggung kepala.


Lalu menyambut serangan gencar lawan-lawannya dengan mempergunakan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'. Inilah salah satu jurus menghindar dan menyerang yang teramat konyol dan lucu. Mula-mula pemuda ini berjingkrak, kemudian melompat-lompat di lain saat menyerang sambil mengibaskan tangannya berulang-ulang. Sungguh pun gerakan kilat itu seperti orang menggaruk. Namun lawan terdepan yang terkena hantaman tangannya langsung terpental, berguling-guling disertai suara jerit kesakitan.


Melihat kawannya dengan dikerjai oleh pemuda ini. Maka yang lain-lainnya menjadi sangat marah sekali. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh mereka semakin lama semakin bertambah hebat. Pedang menderu-deru menghantam sepuluh jalan kematian.


Suro Blondo terpaksa memiringkan tubuhnya atau terkadang melesat ke udara. Ketika tubuhnya meluruk deras ke bawah. Maka kaki kanannya menghantam kepala lawannya dengan keras.


"Praaak...!"


"Akkkhgggk...!" dua pengawal menjerit keras. Tubuh mereka tersungkur dengan kepala remuk menyembur darah.


Kepala pengawal tersentak kaget, sama sekali ia tidak menyangka kalau pemuda itu memiliki kepandaian yang tidak rendah. Lebih mengherankan lagi ketika menyadari bahwa sampai sejauh itu pedang di tangannya tidak dapat menyentuh tubuh si pemuda. Merasa tidak ada pilihan lain, kepala pengawal segera mengerahkan jurus 'Menyibak Bukit Menghantam Demit'.


"Hiyaaa...!" Kepala pengawal sambil berteriak melengking tinggi segera memutar pedang di tangannya. Di lain waktu ia menerjang ke depan, lalu menusukkan ujung pedang ke lambung Suro Blondo. Pemuda itu menarik tubuhnya ke belakang. Namun dari arah belakangnya mata pedang lawannya membabat pula.


"Tep! Weleh... edaaan...!" Si pemuda menggerutu. Selanjutnya menghantamkan tangannya kedua arah sekaligus. Sinar putih berkilauan melesat dan menghantam kepala pengawal dan kawannya. Itulah pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir' yang dimilikinya.


Terdengar satu ledakan dahsyat. Bersamaan dengan itu terdengar pula suara jerit lawannya. Kepala pengawal dan satu lainnya terkapar di tanah dengan mulut menyemburkan darah dan jiwa melayang.


"Hhmm... sekarang tinggal kalian! Cepat pilih, antara mati atau memanggil juraganmu untuk menghadapi aku!" Empat orang pengawal saling pandang sesamanya. Mereka sama-sama berpikir jika kepala pengawal saja tewas di tangan pemuda itu, apalagi sekarang mereka hanya tinggal berempat saja.


Namun sebelum mereka sempat memutuskan apa-apa. Pintu utama tiba-tiba saja terbuka. Seorang laki-laki berpakaian mewah muncul dan melangkah menghampiri pemuda berambut hitam kemerahan ini. Wajahnya jelas-jelas tidak dapat menyembunyikan rasa kejutnya ketika melihat empat orang pengawalnya tergeletak tanpa nyawa.


Saudagar Bergola Mungkur memperhatikan pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya ini sejurus lawannya.


"Kau siapa?" tanya sang saudagar, suaranya bergetar berusaha menahan amarah.


Suro Blondo tersenyum, lalu usap-usap keningnya.

__ADS_1


"Aku Pendekar Blo'on! Sengaja datang menemuimu untuk menagih hutang-hutangmu yang bertumpuk!"


"Ha ha ha...! Bicaramu ngaco belo. Manusia to lol sepertimu telah menghutangkan apa kepadaku yang kaya raya, heh...!" hardik Bergola Mungkur, berang.


"Kau memang kaya, tapi hasil kekayaanmu adalah hasil cucuran keringat darah orang-orang yang mati sengsara di Bumi Ayu." dengus Pendekar Blo'on serius.


Saudagar itu terdiam. Wajahnya berubah memerah. Ia merasa yakin dapat mengatasi pemuda yang mengaku berjuluk Pendekar Blo'on ini. Untuk itu ia pun berkata dengan angkuhnya.


"Kau pendekar Gila! Lebih baik kau angkat kaki dari hadapanku sebelum aku benar-benar memenggal kepalamu!"


"Justru aku jauh-jauh datang kemari ingin meminta nyawamu. Kalau kau tidak percaya tanyakan saja pada semua algojomu yang sudah menunggu di pintu nereka!" kata pemuda itu lalu tertawa gelak-gelak.


Saudagar Bergola Mungkur terkesiap. Sama sekali ia tidak menyangka kalau pemuda tampan itu telah membinasakan orang-orang kepercayaannya.


"Kepa rat! Kau benar-benar membuatku marah!"


"Sret!"


"Jika kau sudah marah, mengapa tidak menyerang?" Suro Blondo tersenyum mengejek.


Tingkah dan ucapan Pendekar Blo'on tentu saja membuat lawannya semakin mendongkol. Sambil membentak garang, Bergola Mungkur tiba-tiba saja mengibaskan pedangnya membelah dada si pemuda. Dengan gesit pemuda ini langsung menghindar.


Selanjutnya ia memapak serangan itu dengan gerakan yang serba aneh dan lucu-lucu. Namun dibalik kekonyolan jurus-jurus yang dimainkannya. Terkandung sebuah kedashyatan yang tidak dapat diduga-duga.


Saudagar Bergola Mungkur sendiri sempat terkesima. Berulang kali ia membangun serangan. Namun hingga sampai sejauh itu, setiap serangannya selalu menemui tempat kosong. Padahal ia telah mengerahkan jurus 'Sayap Kupu-Kupu Membelah Kuntum Bunga'.


"Shaa...!"


"Des! Des!"


Satu gerakan tipuan dilakukan oleh laki-laki setengah baya ini. Suro Blondo berusaha berkelit. Namun dua pukulan yang tidak diduga-duga menghantam dada dan punggungnya. Pemuda berambut hitam kemerahan ini terhuyung-huyung. Dadanya terasa sesak hingga membuatnya sulit bernafas.

__ADS_1


Belum sempat ia memperbaiki posisinya. Mata pedang lawannya menderu dan jika tidak cepat ia menarik badannya ke belakang. Pasti pedang lawannya telah menjebol perutnya.


"Heh... dia sangat cepat sekali dalam memainkan jurus-jurus pedangnya. Sebaiknya aku mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau" batinnya dalam hati.


"Huuup...!"


"Deep!"


"Beet!"


Benar saja dugaan si pemuda begitu tubuhnya berkelebat cepat. Pedang di tangan lawan terus memburu. Suro Blondo tiba-tiba berbalik, lalu hantamkan tangannya ke bagian pergelangan tangan Bergola Mungkur.


Sungguh pun gerakan yang dilakukan oleh pemuda itu terasa cepat sekali. Namun lawan rupanya berlaku sangat cerdik. Jika semula ia melakukan tusukan, maka kini berbalik membabat kaki Suro Blondo. Ia balas menyerang dan....


"Des!"


"Aaakkkh...!"


Pendekar Blo'on menyeringai. Tubuhnya jatuh terguling-guling. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bergola Mungkur yang telah dikuasai oleh nafsu membunuh. Ia memburu sambil menghujamkan pedangnya berturut-turut.


Suro Blondo terus berguling-guling kalang kabut. Satu kesempatan ia yang telah mengerahkan tenaga dalamnya segera menghantam ke depan.


"Wuuus!"


Sinar merah hitam menderu dari telapak tangannya. Itulah pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Salah satu pukulan pamungkas yang sangat sulit dicari tandingannya. Bergola Mungkur sama sekali tidak menyangka akan mendapat serangan sedemikian rupa. Dalam jarak yang begitu dekat mustahil ia dapat menghindarinya. Tidak pelak ia pun memutar pedangnya untuk melindungi diri. Namun gerakannya kalah cepat dengan pukulan yang dilepaskan Suro Blondo. Sehingga tidak pelak lagi pukulan 'Neraka Hari Terakhir' dengan telak memanggang tubuhnya.


Suara ledakan dahsyat disertai dengan suara jeritan Bergola Mungkur. Tubuhnya terbanting ke tanah dalam keadaan hangus seperti arang. Sedang pedang yang dipergunakan oleh Bergola Mungkur meleleh dan tergeletak tidak jauh dari mayat pemiliknya.


"Hemm... saudagar ini kaya raya, tapi ia mati tidak membawa hartanya. Lagipula orang mati mana doyan harta, tidak jajan dan tidak pula membutuhkan kemewahan dunia. Biarkah rakyat yang memiliki harta itu." batin Pendekar Blo'on lalu garuk-garuk kepalanya


Hari telah menjelang senja saat Pendekar Blo'on si bocah ajaib beranjak pergi meninggalkan mayat-mayat yang bergeletakan.

__ADS_1


__ADS_2