Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
9


__ADS_3

Semakin bertambah kaget saja dua orang kawannya melihat Karsa Jaliteng dalam keadaan begitu rupa. Jika semula mereka hanya bersikap ingin mempermainkan gadis cantik yang duduk tenang di tempatnya. Maka kini kemarahan telah menguasai jiwa mereka.


Wongso Mendit bahkan mencengkeram bahu si gadis. Laki-laki ini dapat meremukan tulang belulang lawannya. Untuk itu ia dikenal sebagai Tangan Baja. Setengah jengkal lagi tangan Wongso Mendit menyentuh bahu si gadis.


Plaak!


"Akhh...!" Wongso Mendit memekik keras.


Tidak sampai sekedipan tangan si gadis menghantam dadanya tanpa menoleh sedikit pun. Laki-laki berbadan jangkung ini terjajar dan memegangi dadanya yang terasa seperti remuk. Bila ia melihat ke dadanya sendiri. Maka terkejutlah ia. Bagian dada yang terkena tinju si gadis tampak memerah memar.


"Perempuan liar. Kau benar-benar tidak melihat tingginya gunung di depanmu ini!" bentak Lingga.


Tiga Iblis Pemburu Nyawa tiba-tiba sambil menggembor marah bermaksud meringkus gadis itu. Tangan mereka yang terkepal menderu dahsyat menimbulkan angin panas memerihkan kulit.


Namun sebelum ketika serangan beruntun yang dilakukan oleh kaki tangan penguasa Gunung Bromo sampai. Dengan gerakan yang cepat dan indah gadis berpakaian ringkas telah melompat ke udara. Ia menjenjakkan kakinya persis di tengah-tengah ruangan warung.


Menyadari serangan mereka yang dapat dihindari oleh lawannya. Tiga Iblis Pencabut Nyawa kertakkan rahang.


"Gadis liar! Tertawalah kau sepuasmu! Jika kau telah berada dalam genggaman kami, kau pasti minta ampun!" desis Karsa Jaliteng.


"Cepat kita ringkus! Betapa aku ingin men*lanjangi tubuhnya yang mulus itu!" kata Wongsi Mendit.


"Iblis-iblis Hina! Kalian adalah manusia rendah bermulut besar! Kalau belum kurobek mulutmu yang kotor itu, tidak puas hatiku!" geram gadis berbaju kuning.


Tubuhnya tiba-tiba berkelebat lenyap bagaikan bayang-bayang. Wongso Mendit, Lingga dan Karsa Jaliteng yang melakukan serangan ganas lebih awal jadi kelabakan. Bahkan lebih celaka lagi. Setiap serangan yang mereka lakukan hanya mengenai sasaran kosong.


Des!


Dess!


Dua kali tendangan telak membuat Lingga dan Karsa Jaliteng jatuh terpelanting tubuh mereka menabrak kursi dan meja yang terdapat di dalam ruangan warung. Lalu tidak sampai disitu saja, gadis cantik ini terus berkelebat. Dilain kejab.


"Huup!"


Tap!


Kedua kakinya mendarat di punggung Wongso Mendit. Jemari tangan yang lentik namun kokoh mencengkeram bibir atas dan bibir bawah lawannya.


Week!


Terbelahlah bibir Wongso Mendit.


Laki-laki berbadan tinggi semampai ini menjerit keras. Darahnya langsung mengucur dari luka lebar di mulutnya yang terbelah.


"Untuk kenang-kenangan! Berikan ini pada majikan kalian!"


Plaak!


Satu hantaman keras mendarat di kening Wongso. Bukan main kerasnya pukulan itu sehingga membuat pembantu majikan Gunung Bromo jatuh terduduk tidak sadarkan diri.


Ruangan warung berubah sunyi. Gadis berbaju kuning gading itu sudah lenyap. Sementara Lingga dan Karsa Jaliteng yang kena tendangan dahsyat si gadis tampak berusaha bangkit berdiri. Bergetar tubuh mereka berdua ketika melihat bibir Wongso Mendit terkoyak lebar hampir mencapai telinga. Lebih terkejut lagi saat melihat secarik kain yang melekat di jidat kawannya.


Dengan langkah terhuyung-huyung Karsa Jaliteng menghampiri kawannya yang tidak sadarkan diri. Sementara itu Lingga hanya memandang dari tempatnya berdiri dengan mata liar mencari-cari.

__ADS_1


"Celaka! Gadis liar itu telah melarikan diri!" desisnya geram.


"Lihat ini lebih celaka lagi!" teriak Karsa Jaliteng ketika mendapatkan sobekan kain berwarna kuning yang menempel ketat di jidat kawannya.


Lingga datang mendekat.


"Sial dangkal! Bagaimana paku itu bisa menancap di kening kawan kita? Coba cabut...!"


Dengan sangat hati-hati Karsa Jaliteng mencabut paku berikut sobekan kain kuning berlumur darah.


"Ada tulisannya!" teriak Karsa Kaliteng dalam kejutnya.


Mereka pentang sobekan kain bercampur darah. Maka terbaca beberapa baris kalimat yang membuat darah mereka serasa mendidih.


Empat tokoh yang tergabung dalam partai Dunia Akhirat!


Saat kematian bagi kalian sudah hampir tiba!


Secepatnya persiapkan kubur kalian masing-masing.


Tujuh belas tahun yang lalu kalian berhutang nyawa kepadaku!


Dewi Bulan


Wajah Lingga dan Karsa berubah kelam membesi. Jelas ancaman itu ditujukan pada majikan mereka. Tapi yang membuat mereka geram adalah karena gadis yang bernama Dewi Bulan itu telah pergi dari hadapan mereka.


"Apa yang kita lakukan?" Lingga berpaling pada Karsa Jaliteng


"Tidak ada pilihan lain. Kita bawa Wongso Mendit dan laporkan peristiwa memalukan ini pada ketua kita!"


"K*parat! Sungguh k*parat! perempuan itu benar-benar menginginkan kematian dari kita!"


Lingga menggeram marah. Kumisnya yang melintang tampak bergerak-gerak pertanda kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun.


"Kita pakai kuda pemilik warung!"


Orang-orang ini segera melepaskan kuda yang terdapat di kandang belakang. Sekejap saja kuda-kuda itu telah melesat meninggalkan debu-debu di udara.


"Kudaku! Ah... maling-maling pemeras rakyat itu...!" desis bapak pemilik warung tanpa mampu berbuat apa-apa.


***


Puncak gunung Mahameru yang biasanya sepi, pagi-pagi itu dipecahkan oleh suara bentakan-bentakan disertai teriakan menggelegar. Bumi laksana terbelah, langit bagai terkoyak. Terlebih-lebih ketika terjadi ledakan-ledakan dahsyat di satu tempat. Daun-daun jati tampak berguguran. Segala jenis binatang lari terkencing-kencing meninggalkan sarangnya. Monyet-monyet siluman menyelamatkan diri mencari tempat sembunyi.


Dan bila memandang ke puncak Mahameru. Maka di sana terlihat dua sosok tubuh sedang bertarung. Pertarungan yang bukan saja Maha dahsyat, namun juga sangat mengerikan. Betapa tidak dua orang yang terlibat pertempuran sengit itu berkelebat laksana bayang-bayang saja. Angin pukulan yang mereka lepaskan terasa memanggang tubuh.


Debu dan batu-batu kecil beterbangan. Pohon-pohon di sekitarnya meranggas tanpa daun akibat pertempuran itu. Sesekali terdengar bentakan dahsyat, lalu ada bentakan dan sumpah serapah. Tapi anehnya suara tawa pun terkadang menggema di sana.


"Kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu', Suro...!" terdengar teriakan laki-laki berbaju serba putih dan berambut, jambang serta jenggot berwarna putih.


"Guru, kau...!"


Pemuda gagah yang berdiri bertolak pinggang memakai baju warna biru muda tidak dapat teruskan ucapannya. Kakek serba putih di depannya sambil keluarkan bentakan melengking langsung menerjang ke depan. Tangan kanan menotok ke sepuluh bagian jalan darah. Tangan kiri menyiku ke perut sedangkan kaki yang setengah berjongkok berjingkat-jingkat memburu.

__ADS_1


Walaupun jurus yang dilancarkan si kakek terkesan lucu dan terkadang tangan menggaruk-garuk seperti orang kena penyakit gatal. Tapi serangan itu benar-benar sangat berbahaya.


Suro Blondo pemuda berambut gondrong memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning sadar benar bahaya besar sedang mengancamnya. Untuk itu ia menggenjot kedua kakinya. Tubuhnya melesat ke udara kemudian melakukan salto beberapa kali.


Begitu tubuhnya menderu ke bawah. Maka ia sudah hantamkan kedua tangannya dengan mempergunakan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'. Inilah salah satu jurus yang tidak kalah dahsyatnya dengan jurus yang dilancarkan oleh si kakek.


Wuuk!


Buuk!


Buuk!


"Gila! Gila betul!" desis Suro Blondo sambil menyeringai kesakitan.


Ia memang berhasil memukul punggung kakek yang menyerangnya dengan ganas. Tapi kakek itu dengan gerakan yang sangat aneh sekali sempat menghantam jidat pemuda baju biru muda. Kepalanya mendenyut sakit, seribu kunang-kunang bertabur di matanya.


"Sebentar lagi Suro! Sebentar lagi kau ******!" Si kakek miringkan badannya.


Tangan diputar-putar sambil menggaruk-garuk sekujur tubuhnya tidak ubahnya seperti tingkah seekor monyet. Tangan si kakek bergetar hebat. Tangannya bergerak cepat, hingga dilihat sepintas lalu tangan itu berubah menjadi ribuan jumlahnya.


"Eeh.. dia mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Benar-benar edan! Ia ingin membunuhku rupanya!" desis si pemuda.


"Jangan memaki bocah blo'on. ******...!" teriak si kakek.


Tangan yang telah berubah banyak itu menderu ke seribu arah. Angin kencang berhembus, udara berubah panas seperti di neraka.


"Hiyaat...!" Suro Blondo tidak menunggu lebih lama lagi.


Tubuhnya berkelebat terhuyung-huyung, terkadang ia berjongkok dan melompat-lompat. Sungguh aneh dan lucu gerakannya. Tapi tidak lama setelah itu terdengar suara tawanya yang tidak beraturan. Tawa itu terdengar melengking tinggi, menyakitkan gendang-gendang telinga. Kadang berubah pelan mendayu-dayu. Namun dilain saat telah berubah seperti suara rintihan tangis, memilukan.


Tangan dan kaki mendorong ke segala penjuru arah. Selanjutnya melompat dan menendang. Inilah jurus 'Tawa Kera Siluman'.


Si kakek menggeram marah, mulutnya mengomel panjang pendek. Lalu terdengar suara bentakan dahsyat merobek langit. Tangan-tangannya yang seakan berubah menjadi banyak itu menghantam dengan kecepatan dua kali kecepatan suara.


"Edan! Kau benar-benar mau membunuhku!" Suro Blondo meradang. Ia berkelit secepat yang ia mampu.


Wuus!


"Hups...!"


Walaupun pemuda berbaju biru muda memakai ikat kepala warna biru belang kuning dapat menghindari tinju yang menggeledek itu. Tidak urung ia menjerit ketika sambaran angin panas menyengat melabrak dada.


Suro Blondo usap-usap dadanya. Tampak dada itu memerah. Ia langsung melompat menjauh. Hatinya menggerutu, mulutnya pletat-pletot, lalu tersenyum.


"Ha ha ha...! Bagus! blo'on! Tidak sia-sia! Tidak sia-sia. Kau dengar...!"


Melihat gurunya tertawa dan tampak hentikan serangan. Maka Suro Blondo pemuda tampan bertampang, konyol, kocak dan blo'on ini ikut tertawa-tawa.


"Bagus! Ha ha ha...! Guru hampir membunuhku! Ha ha ha... gila benar!"


Ucapan dan tawa Suro Blondo melenyap. Terlebih-lebih setelah melihat kedua telapak tangan kakek baju putih menapak tanah. Suro Blondo segera menyadari kalau gurunya bermaksud melepaskan pukulan yang sangat dahsyat!


"Hah... dia ingin melepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'. Aku harus mempergunakan pukulan apa?" cemas Suro Blondo dalam hati. Tiba-tiba saja ia berteriak:

__ADS_1


"Guru! Kau jangan main-main dengan pukulan itu. Aku bisa mati...!"


"Kalau semua akal yang kau miliki sudah hilang! Maka kau memang pantas mati di tanganku!" menggeram Penghulu Siluman Kera Putih.


__ADS_2