
Ruangan pertemuan itu sangat luas sekali. Tiang-tiang penyangganya dibuat dari orang-orang yang telah mati. Tentu mayat-mayat yang dijadikan tiang penyangga tersebut berasal dari golongan putih. Keadaan mayat-mayat itu sungguh menyedihkan sekali. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah singgasana, di samping singgasana terdapat pula sebuah patung batu marmar yang sangat indah. Patung itu berujud perempuan berbaju transparan.
Di atas singgasana itu kini duduk seorang perempuan berpakaian ketat warna ungu. Tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Tiada henti ia perhatikan patung laki-laki dan patung perempuan di kanan kirinya. Sungguh pun patung perempuan itu sangat cantik tidak terkira. Tapi nampaknya ia menyukai patung laki-laki berbadan kekar dengan otot-otot menonjol yang terdapat di samping kanannya. Lebih dari lima orang tokoh kini berada di dalam ruangan itu. Di antara mereka adalah Mustika Jajar, Damerta, Ki Alit.
Kedua laki-laki ini berhasil dipengaruhi oleh Mustika Jajar. Mereka berasal dari Samba. Kemudian Wiku Palawa, laki-laki berumur tujuh puluh lima tahun, berbadan bongkok bersenjata tongkat. Kemudian seorang laki-laki berbaju kembang-kembang seperti banci.
Tidak lama setelah itu muncul pula seorang laki-laki tua berambut serba putih, berjenggot panjang dan punya mata cuma satu. Mata itu senantiasa berwarna kemerah-merahan, seperti orang yang terkena penyakit mata. Ketika melihat kemunculan laki-laki mata satu yang dikenal dengan julukan Tua Tengkorak Mata Api ini. Mustika Jajar yang duduk di atas singgasana langsung menjura hormat.
"Silakan guru Maha Sesat mengambil tempat!" pinta si gadis pelan.
Tua Tengkorak Mata Api dari lereng Cilawu ini langsung duduk di atas singgasana lain yang disediakan khusus buatnya.
"Untuk mempersingkat waktu sebaiknya kita mulai saja pertemuan ini!"
Mustika Jajar bangkit berdiri. Semua mata memandang kepadanya. Termasuk juga Damerta dan Ki Alit.
"Kisanak sekalian dan juga guruku yang sangat kumuliakan. Hari ini aku sengaja mengundang kalian ke tempat pertemuan Curing bencana, tentu saja dengan maksud yang sangat baik. Aku ingin membuat sebuah kekuasaan dan kerajaan yang sangat besar. Sebuah partai yang tidak terhingga dan menguasai hajat hidup semua golongan. Karena kulihat di wilayah barat ini tidak ada satu partai pun yang menonjol, baik dari golongan hitam maupun putih. Maka inilah kesempatan yang sangat baik bagi kita...!" kata Mustika Jajar secara panjang lebar.
"Tunggu dulu! Di wilayah barat ini aku mendengar kehebatan seorang pematung. Katanya ia merupakan tokoh aliran lurus yang mempunyai kepandaian hebat. Di samping itu dari daerah timur kudengar pula ada seorang pendekar bertampang to lol yang memiliki kesaktian luar biasa dan aneh. Setiap orang yang memiliki kesaktian tinggi dari golongan lain, aku menganggap ia merupakan musuh yang harus diperhitungkan!" kata Damerta cemas.
Mustika Jajar tersenyum, seraya mengelus-elus patung laki-laki di sampingnya penuh kebanggaan.
"Para Kisanak, lihatlah patung ini! Ia merupakan lambang kesempurnaan dari seorang ahli seni. Hanya Pematung Kelana yang dapat menciptakan patung seperti ini. Menurut kehendak para iblis, patung ini dapat kita hidupkan sebagaimana halnya manusia. Jika ia telah hidup, berarti dia menjadi andalan kita dimasa yang akan datang. Menurut anda, mungkinkah patung sebagus ini oleh pemiliknya diberikan pada kita? Sedangkan saudagar Bergola Mungkur yang kaya raya saja tidak bisa mendapatkannya? Padahal dia bersedia menukarnya dengan tiga kantung uang emas."
Orang-orang yang hadir dalam ruangan pertemuan saling diam. Tidak lama barulah salah seorang di antara mereka bertanya.
"Tetua... bagaimana cara anda mendapatkannya? Apakah anda membujuk Pematung Kelana?"
"Hi hi hi! Tentu saja tidak! Pematung Kelana kubereskan dulu, setelah tubuhnya yang lapuk kucampakkan ke jurang, kemudian kuambil patung ini. Sekarang ini aku mendengar munculnya seorang pendekar...!"
__ADS_1
"Muridku, bicara terus terang dan langsung pada titik persoalan! Aku tidak betah duduk berlama-lama di sini." sergah Tua Tengkorak Mata Api tidak sabar.
"Maafkan aku guru. Mengenai rencana muridmu ini tentu guru sudah dengar. Ambisiku terang dan jelas. Yaitu ingin mendirikan sebuah kerajaan dan kekuasaan. Sekaligus membuat perjanjian untuk menghidupkan patung ini untuk kujadikan pengawalku kelak...!"
"Rencanamu sangat gila...?!" dengus laki-laki bermata satu ini tidak setuju.
"Mengapa gila guru? Bukankah guru punya Ajian Benteng Roh? Guru pernah mengatakan padaku bahwa benda-benda mati yang menyerupai sesuatu yang hidup dapat dihidupkan kembali sebagaimana guru menurunkan ilmu silat padaku?"
Tua Tengkorak Mata Api terdiam. Bagaimana pun ia sangat sayang pada muridnya. Karena sayangnya, dulu segala keinginan si gadis selalu diturutinya.
Dan inilah kesalahan sekaligus kelemahannya. Tapi untuk tidak mengabulkan permintaan muridnya. Laki-laki bermata satu ini merasa ragu.
"Semua apa yang kukatakan memang tidak dapat kupungkiri, tapi ingatlah! Aku bukanlah Tuhan. Tentu caraku sangat jauh bertentangan dengan kehendakNYA. Tentu saja kekuatan yang akan berperan dalam hal ini adalah kekuatan iblis juga!" kata Tua Tengkorak Mata Api.
"Aku tidak perduli kekuatan apa yang akan mengisinya. Yang jelas aku ingin agar patung ini dapat hidup untuk mendampingiku!" Mustika Jajar rupanya tetap bersikeras juga.
"Hmm, begitukah?"
"Watakmu memang keras sejak kecil. Untuk menghidupkan patung itu diperlukan gadis paling tidak tujuh orang yang masih suci. Apakah kau sanggup?"
"Hi hi hi! Jangankan baru darah tujuh orang gadis suci. Seratus sekalipun kalau memang itu saratnya akan kupenuhi. Bukankah begitu, Wiku Palawa?" Mustika Jajar melirik ke arah Wiku Palawa.
Laki-laki berjenggot panjang ini menganggukkan kepala.
"Sebagai anggota, tentu saja aku akan selalu memenuhi perintah tetua!"
"Untuk mencari dan mengumpulkan gadis-gadis itu, aku juga mau membantunya." ujar Damerta dan Ki Alit hampir bersamaan.
"Nah tunggu apa lagi, sekarang berangkatlah kalian!" kata Mustika Jajar.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi berangkatlah Damerta, Ki Alit dan Wiku Palawa.
Kini di ruangan itu hanya tinggal Mustika Jajar, Tua Tengkorak Mata Api dan juga Pamali. Suasana di dalam ruangan begitu hening. Dan Mustika Jajar baru saja ingin mengatakan sesuatu ketika seekor kuda meringkik-ringkik di halaman Curing Bencana
"Kuda itu seperti kuda tunggangan milik Sugriwa? Ada apa dengannya?" desis Mustika Jajar.
Tua Tengkorak Mata Api seakan mengetahui apa yang telah terjadi, sehingga iapun berkata.
"Orangmu yang bernama Sugriwa telah meninggal, Tika. Racun telah berhasil ditebarkan ke sungai, begitu juga mayat Pematung Kelana telah dicampakkan ke sungai. Tapi seseorang telah membunuhnya!"
Mustika Jajar terkejut mendengarnya. Ia cepat-cepat berpaling ke arah Pamali. Tanpa diperintah, Pamali langsung menyadari bahwa tetuanya menghendaki agar ia mengambil jenazah Sugriwa. Laki-laki berusia empat puluhan ini menjura hormat, kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Hanya beberapa saat setelah itu, ia telah kembali sambil memanggul mayat Sugriwa yang dalam keadaan sangat menyedihkan itu.
"Hem, benar-benar keji pembunuhnya! Aku yakin Sugriwa tewas bukan karena membunuh diri. Kepalanya pecah, benaknya berhamburan. Apakah masih ada kemungkinan untuk menghidupkannya, guru?"
Tua Tengkorak Mata Api menggelengkan kepala.
"Keadaannya yang begini mengenaskan, mustahil bagiku untuk menghidupkannya. Terkecuali kau mau mengorbankan sesuatu yang sangat besar!"
"Apapun persyaratannya akan kulakukan. Aku kasihan padanya, roh Sugriwa pasti tidak tenang di alam sana."
"Apakah kau mau mengorbankan kehormatanmu?" desis Tua Tengkorak Mata Api berterus terang.
Mustika Jajar tentu saja tidak menyangka kesuciannya yang harus di jadikan korban untuk menghidupkan Sugriwa. Sungguh pun ia tokoh sesat yang menghalalkan segala cara, rupanya untuk menyerahkan yang satu itu ia tidak rela juga.
"Kalau itulah persyaratannya, aku tidak dapat menyanggupinya, guru!"
"Itulah sebabnya, lebih baik kuburkan saja Sugriwa. Kau dapat mengurus persoalan-persoalan lain secepatnya!"
__ADS_1
Mau tidak mau Mustika Jajar terpaksa menurut juga. Ia memerintahkan Pamali untuk membawa mayat Sugriwa, kemudian menguburkannya di suatu tempat.