
Hidung Tenggiling Kedil kembang kempis. Ternyata memang tercium bau bangkai di situ.
"Aku tahu cara mengatasinya. Sekarang kita hadapi mereka bersama-sama...!" kata Wiro Suryo.
Tidak seorang pun yang sempat menanggapi kata-kata Tenggiling Kedil. Karena pada saat itu mayat-mayat hidup tersebut telah menyerang mereka dari seluruh penjuru arah.
"Groak...!
Hraaagh...!"
Terdengar suara-suara aneh di sana-sini. Mayat-mayat hidup yang jumlahnya mencapai ratusan itu menghujani mereka dengan pukulan, tendangan maupun cakaran dengan mempergunakan kuku-kukunya yang panjang.
"Hiyaa...!"
Sambil berteriak keras, Dewi Arimbi tiba-tiba melentik ke udara. Ia berputar-putar di sana, lalu ketika tubuhnya meluncur ke bawah. Maka kedua tangannya dihentakkan ke arah mayat-mayat hidup yang mengeroyoknya.
Wuut!
Selarik sinar merah laksana bara melesat dengan cepat ke arah lawan-lawannya. Beberapa saat kemudian pukulan yang dilepaskan oleh Dewi menghantam sasaran.
Buum...!
"Aaaa...!"
Terdengar jeritan keras. Beberapa mayat hidup jatuh terjungkal dengan sekujur tubuh hangus dan tidak bangkit-bangkit lagi.
"Gunakan pukulanmu, Suro!" teriak Tenggiling Kedil.
Begitu mendengar aba-aba dari kawannya, maka Pendekar Blo'on sambil menghindari setiap serangan yang datang segera melepaskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar'. Ketika pemuda berambut hitam kemerahan-merahan menghentakkan kedua tangannya ke arah mayat-mayat itu. Tampak selarik sinar redup menderu keluar dari telapak tangan Pendekar Blo'on. Detik itu juga pukulan yang dilepaskan oleh Pendekar Blo'on menghantam ke arah sasaran.
Glaar!
"Hraaakh...!"
Terdengar jerit kesakitan disana sini. Tampak beberapa sosok mayat tergelimpang roboh. Hawa panas yang keluar dari telapak tangan si pemuda itu ternyata membuat mayat-mayat itu tidak dapat bertahan hidup. Setelah mengetahui kelemahan mayat-mayat hidup ini. Maka Suro, Wiro maupun Dewi segera melepaskan pukulan mautnya berulang-ulang.
Korban dipihak mayat hidup terus berjatuhan. Tetapi mereka yang masih tetap bertahan tampak menjadi semakin bertambah beringas.
Melihat keganasan mereka, Suro Blondo terpaksa mempergunakan jurus 'Kacau Balau' yaitu sebuah jurus khusus menghindar yang diwariskan oleh Malaikat Berambut Api. Suro meliuk-liukkan badannya, setiap langkahnya tidak beraturan. Terkadang tubuhnya terhuyung ke depan atau condong ke belakang. Tetapi terkadang dengan cepat ia menerjang ke depan sambil melepaskan tendangan beruntun ke arah mayat-mayat tersebut.
Duuk!.
"Hegkh...!"
__ADS_1
Satu dua sosok mayat hidup jatuh terpelanting. Tetapi kawan-kawannya yang berada di samping dan dari belakang menghujani si pemuda dengan serangan-serangan menggeledek.
"Hraaakh...!"
"Wadoww...!"
Pendekar Blo'on jatuh tunggang langgang. Pukulan mayat-mayat hidup yang menghantam dada dan punggung serta perutnya, membuat pemuda ini merasa tubuhnya seperti remuk. Walaupun begitu Suro cepat bangkit berdiri. Sementara Tenggiling Kedil entah pergi kemana.
"Sialan. Si pendek malah merat di saat aku dan Dewi sibuk menghadapi bangkai-bangkai berjalan ini." gerutu si pemuda.
Baru saja Pendekar Blo'on mencoba melepaskan pukulannya yang paling ampuh. Pada saat itu pula dari dalam bangunan keluar Tenggiling Kedil dengan membawa obor menyala dengan jumlah besar.
"Sisakan tenaga kalian untuk menghadapi Betina Dari Neraka. Sekarang kita serang mayat-mayat bau ini dengan api!" teriak Wiro Suryo. Seraya kemudian melemparkan api ke tengah-tengah mayat yang mengeroyok Suro dan Dewi.
"Huaaah...!"
Mayat-mayat hidup tersebut berserabutan menyelamatkan diri dari amukan api.
"Melemparkannya pelan-pelan, bocah tua. Salah-salah mengenai diriku!" teriak si pemuda. Ia lalu menangkap salah satu obor yang melayang-layang di udara. Dengan mempergunakan obor menyala tersebut Suro menerjang ke arah lawan-lawannya.
Setiap sosok mayat yang terkena api, pasti mereka mengeluarkan jeritan aneh. Lalu tubuhnya ambruk dan tidak dapat bangun lagi. Walaupun pasukan mayat hidup ini jumlahnya cukup banyak. Tetapi karena ketiga lawan mereka mengetahui kelemahannya. Maka dalam waktu yang agak lama, mayat-mayat hidup ini terkapar dan kembali ke ujud aslinya.
Sekarang tinggal lah lima belas sosok berpakaian serba hitam. Ternyata mereka ini tidak takut api. Kenyataan ini membuat Suro Blondo jadi golang-golengkan kepalanya.
"Ha ha ha...! To lolnya kau. Mereka bukan mayat, tapi manusia hidup seperti kita juga. Hadapilah dengan kemampuan yang kau miliki!" sahut Wiro Suryo.
Dewi Arimbi yang juga sedang menyerang laki-laki berpakaian hitam menjadi geli hatinya. Pemuda yang telah menyita perhatiannya itu terlalu polos dan lugu. Walau kadang-kadang juga memperlihatkan kecerdikannya yang tersembunyi. Bagi Dewi sendiri menghadapi pasukan hitam ini tidak begitu mendapat kesulitan yang berarti. Karena tampaknya kekuatan, baik berupa tenaga dalam maupun ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih tinggi dibandingkan lawan-lawannya. Walaupun begitu, untuk tidak membuang tenaga terlalu banyak. Dewi Arimbi kemudian melepaskan selendang yang melilit di pinggangnya yang ramping.
Ctar! Ctar!
Saat Selendang Api melecut di udara. Maka terlihat pijaran bunga api kemana-mana. Selendang itu kemudian meliuk-liuk bagaikan seekor ular. Lalu mematuk ke enam jalan kematian. Melihat keganasan senjata lawannya. Maka pasukan hitam ini mencabut golok besar yang tergantung di pinggang.
Sriing!
Bet! Bet!
Laki-laki berpakaian hitam tersebut langsung mengibaskan golok besarnya menyambuti setiap serangan yang datang. Tetapi Dewi bertindak cukup cerdik. Ketika golok-golok lawannya menebas selendang mautnya. Maka ia menarik balik serangan, disaat lawan lengah maka selendang itu berubah kaku seperti pedang. Selendang meluncur deras menghantam perut dan wajah lawannya.
Jless!
Praat!
"Auukh...!"
__ADS_1
Tiga orang laki-laki berpakaian hitam menjerit keras. Perut mereka ada yang tertembus ujung selendang. Dua di antara mereka mukanya hancur terhantam selendang.
Melihat kawan-kawannya berkaparan di atas tanah secara mengerikan. Maka lima orang lainnya dengan garang menerjang ke arah Dewi sejengkal lagi senjata-senjata lawan mencincang tubuhnya. Maka Dewi segera melentingkan tubuhnya di udara. Walau pun begitu salah satu golok lawan masih mengenai betis si gadis.
Sret!
"Akh...!" Dewi Arimbi keluarkan jerit tertahan. Tetapi tanpa menghiraukan rasa sakit di bagian kakinya ia berjumpalitan di udara. Sedangkan selendang di tangannya secepat kilat menghantam dua orang lawan yang terus bergerak mengejarnya.
Karena kedua laki-laki itu sedang mengambang di udara, tentu sangat sulit bagi mereka untuk menghindari serangan selendang. Mereka kemudian membabatkan golok dengan maksud menangkis. Tetapi Selendang Api milik Dewi Arimbi seakan tertahan di udara. Golok kedua laki-laki itu menebas angin, barulah setelah sabetan golok berlalu. Selendang itu meluncur kembali dan bergerak ke dua arah sekaligus.
Clep! Cleep!
"Hekh...!"
Kedua anak buah Mustika Jajar ini melotot, suara tercekat karena tenggorokannya tertembus selendang Dewi. Mereka langsung jatuh ke semak-semak. Darah mengucur deras, tubuhnya berkelojotan sebentar kemudian terdiam untuk selama-lamanya.
Sementara itu Wiro Suryo yang juga sedang menghadapi pasukan hitam tanpa mengalami hambatan yang berarti segera menyudahi perlawanan dua orang lawan.
"Sudah bosan aku main-main denganmu. Hiii...!" Kakek berbadan sangat pendek ini segera berguling-guling ke samping kiri. Lawan mengejarnya dengan sabetan golok bertubi-tubi.
Kalaulah Wiro Suryo memiliki kepandaian biasa-biasa saja. Niscaya tubuhnya telah tercabik-cabik terkena sabetan golok. Namun tokoh dari Gunung Sembung ini punya segudang pengalaman di samping memang memiliki ajian 'Suket Sekilen'. Sehingga semakin sulitlah bagi kedua lawannya untuk melukai Wiro Suryo.
Tenggiling Kedil tiba-tiba saja bangkit berdiri. Kemudian ia melompat sejauh dua tombak ke belakang. Di saat itu kedua tangan maupun sekujur tubuhnya telah memancarkan cahaya putih. Itulah ilmu 'Pancar Cahaya' yang tidak ada duanya ini.
"Suuuit....!"
Wiro Suryo bersuit nyaring. Lalu kedua tangannya dikibaskan ke depan.
Wuus!
Detik itu juga meluncur dua larik sinar putih membutakan mata ke arah lawan-lawannya. Karena silau, tentu kedua orang ini melindungi matanya dengan telapak tangan. Mereka baru sadar bahwa maut mengancam jiwa mereka pada saat ilmu pukulan 'Pancar Cahaya' menghantam tubuh mereka.
Buuum!
"Aaaa...!"
Jeritan panjang disertai dengan terpentalnya dua sosok tubuh beberapa batang tombak ke belakang. Mereka tewas detik itu juga dengan sekujur tubuh berubah putih macam debu.
Di lain pihak Suro Blondo dan Dewi Arimbi juga baru saja selesai mengakhiri perlawanan pasukan hitam. Mereka jelas tampak sangat kelelahan.
"Bagaimana bocah tua. Apakah kau melihat ada manusia se tan di dalam bangunan itu?" tanya Pendekar Blo'on serius.
Wiro Suryo menggelengkan kepalanya. Suro menggaruk-garuk kepalanya karena bingung. Namun pada saat itulah secara tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras menulikan telinga. Ketiga orang ini serentak berpaling ke arah datangnya suara.
__ADS_1