
Gadis berbaju kuning gading memakai ikat kepala warna putih ini tiba-tiba hentikan langkah. Wajahnya yang cantik rupawan dengan tahi lalat di dagu tampak tertutup oleh anak-anak rambutnya. Ia sibakkan anak rambut yang tergerai diwajahnya. Setelah itu ia melangkah lagi.
Pada saat berjalan seperti itulah ia teringat dengan orang-orang yang telah membunuh ayah dan ibunya. Balung Raja, Braja Musti dan Baja Geni semuanya sudah mati. Hanya Ki Rambe Edan saja yang luput dari kematian. Teringat akan musuh-musuh besarnya yang sudah mam pus. Terbayang pula oleh si gadis seorang pemuda. Pemuda tampan berambut kemerah-merahan namun bertampang to lol. Dialah Suro Blondo.
Entah mengapa akhir-akhir ini ia selalu teringat pada pemuda itu. Bahkan setiap tidur ia sering bermimpi bertemu dengan Suro Blondo. Kemana perginya pemuda yang dikaguminya ini ia tidak tahu. Mungkin ia masih memburu musuh besarnya yang hingga sampai detik ini Suro Blondo tidak tahu dimana rimbanya.
"Angin oh angin. Mengapa hatiku selalu bergetar? Matahari-matahari, dimana dia gerangan?" Dewi Bulan gadis rupawan ini menggumam dalam hati.
Tiba-tiba saja wajahnya berubah memerah. Ia menjadi malu pada dirinya sendiri. Bukankah ketika bersama Suro Blondo dulu tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintai dirinya? Mengapa kini ia seperti orang yang kasmaran saja? Dengan wajah masih tetap memerah, Dewi Bulan tiba-tiba memutar langkah dan bermaksud meninggalkan Cisarua. Tapi gerakannya segera tertahan ketika ia mendengar suara nyanyian seseorang. Oh, ternyata bukan nyanyian. Tapi orang yang sedang melantunkan bait-bait syair.
Dengan seksama Dewi Bulan mulai mencari-cari, kemudian terlihatlah olehnya seorang perempuan cantik berumur sekitar tiga puluh tahun. Bajunya berwarna kembang-kembang. Namun tipis, sehingga lekuk lengkung tubuhnya yang menggiurkan itu terlihat dengan jelas. Bibir si perempuan yang kemerahan selalu menyunggingkan senyum sedih.
Di tanah Jawa tidak seorang pun yang kenal dengan dirinya terkecuali hanya tokoh-tokoh tertentu saja.
Karena sesungguhnya ia berasal dari tanah seberang.
Di tanah Andalas orang mengenalnya sebagai Ratu Penyair Tujuh Bayangan. Ahli dalam penyamaran sedangkan ilmu kepandaiannya sangat sulit diukur.
Dewi Bulan dengan seksama memperhatikan perempuan yang berdiri membelakanginya itu untuk beberapa saat lamanya. Kemudian ia mendengar suaranya yang begitu merdu menggetarkan hati.
Tidak kering dilanda panas,
tidak lekang dilanda hujan.
Jawa dan Sumatera hanya,
dipisahkan oleh sebuah selat.
Dua golongan terjebak dalam tradisi,
kemunafikan dan angkara murka.
Undangan merah yang disebar para setan,
telah kudapatkan.
Undangan maut untuk para iblis.
Di Gunung Pangrangko,
huru hara akan berlangsung.
Sayang,
Pengantin yang diharap,
hanyalah iblis busuk yang menipu mata.
__ADS_1
Orang-orang sakti datang sendiri.
Jodoh yang diharap,
ternyata seorang bertampang to lol.
Maya Swari putri cantik.
Kecantikannya melebihi putri-putri raja.
Dasar celaka... hik... hik... hikk...!!
Malang benar gadis yang mencinta.
Dewi Bulan terkejut sekali mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir si perempuan. Entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang lagi. Seingatnya pemuda bertampang tol ol hanyalah pendekar Blo'on seorang. Apakah mungkin Suro Blondo yang dimaksudkan oleh perempuan itu. Atau ada pemuda ***** lainnya? Tapi siapa yang dimaksudkannya dengan gadis yang mencinta?Apakah dirinya? Kalau memang benar berarti perempuan berbaju kembang-kembang itu tahu segala.
Sudah menjadi adat Dewi Bulan. Ia serba ingin tahu, wataknya keras dan tidak mau mengalah. Tapi bila ia sudah merasa jatuh cinta kepada seseorang, maka ia akan mempertaruhkan nyawanya demi orang yang sangat dikasihi. Kini rasa penasaran itu telah membuatnya melompat ke depan menghampiri perempuan baju kembang-kembang.
Sungguhpun gerakan Dewi Bulan begitu pelan bahkan kehadirannya tidak menimbulkan suara sedikit pun. Namun perempuan itu cepat membalikkan badannya. Ketika melihat kehadiran orang lain disitu, perempuan baju kembang-kembang ini mengerutkan keningnya. Tatapan matanya yang mempesona penuh rasa curiga.
"Siapakah kau bocah cantik?" tanya perempuan baju kembang-kembang.
Dewi Bulan malah cemberut.
"Seharusnya akulah yang bertanya siapa, Nisanak! Karena orang yang berpakaian sepertimu tidak lain hanyalah sebangsanya memedi atau perempuan murahan. Sebagaimana syair-syair yang Nisanak ucapkan barusan tadi!" Entah mengapa Dewi Bulan merasa tidak dapat mengendalikan kata-katanya. Apa yang diucapkannya meluncur begitu saja tanpa terpikirkan sebelumnya.
Dewi Bulan tentu saja terkesiap mendengar ucapan perempuan baju kembang-kembang ini. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa perempuan itu tidak lain adalah Ratu Penyair Tujuh Bayangan. Jelas ia berasal dari Sumatera. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh gurunya dulu. Bahwa di negeri seberang itu ada beberapa tokoh sakti yang benar-benar sangat ditakuti bahkan mempunyai kepandaian selaksa ilmu. Diantara mereka adalah, Ratu Penyair Tujuh Bayangan, Datuk Nan Gadang Paluih, setelah itu Datuk Panglima Kumbang, dan juga Datuk Alang Sitepu.
Laki-laki yang disebutkan terakhir ini merupakan seorang ahli sihir kenamaan yang sangat ditakuti oleh golongan sesat dan golongan lurus. Masih ada satu lagi tokoh yang tidak dapat dianggap remeh. Dialah si Dewa Kudu dari Indera Giri Hilir. Cuma tokoh yang satu ini konon hanya tinggal legenda saja. Bahkan kabarnya sudah meninggal sekitar lima belas tahun yang lalu. Tapi kuburannya tidak seorangpun yang dapat menyambanginya.
Sekarang Dewi Bulan berhadapan dengan salah satu tokoh dari tanah seberang. Namun melihat penampilannya, rupanya gadis ini tidak percaya bahwa Ratu Penyair Tujuh Bayangan ini merupakan tokoh kosen sebagaimana yang pernah diceritakan oleh gurunya. Apalagi bila melihat perempuan ini masih sangat muda sekali.
Tapi untuk membuat persoalan bukanlah kebiasaannya. Lagipula diantara mereka baru kali ini bertemu. Rasanya tidak pantas jika ia mencari-cari perkara hanya karena ingin mengetahui kehebatan orang lain.
"Ternyata anda Ratu Penyair Tujuh Bayangan. Datang memenuhi undangan merah? Siapakah yang mengundangmu?"
"Hik hik hik! Tahukah kau dimana gunung Pangrangko, anak baik?" tanya Ratu Penyair Tujuh Bayangan tanpa menghiraukan pertanyaan Dewi Bulan. Sehingga membuat gadis berwatak keras ini merasa diabaikan.
"Kalaupun aku tahu, tidak nantinya aku tunjukkan padamu!" dengusnya kesal bukan main.
"Ratu Penyair Tujuh Bayangan tidak bisa ditolak, anak manis! Di puncak Pangrangko akan terjadi peristiwa besar. Jawa ini bisa menjadi lautan lumpur api seluruhnya jika prisma Permata tidak dapat dikembalikan ke asalnya."
"Siapa percaya dengan bualan seorang penyair?"
Sikap yang sungguh meremehkan ini membuat Ratu Penyair Tujuh Bayangan menjadi dongkol.
"Aku tahu kau ingin mengujiku. Tapi baiklah jika kau tidak mau bekerja sama secara baik-baik denganku. Aku akan mengajarimu untuk bersikap baik pada orang tua sepertiku. Lima jurus kuberikan padamu. Jika kau kalah maka kau harus menuruti apa yang aku mau!"
__ADS_1
Dewi Bulan tentu saja tertawa lebar. Bagaimanapun ia seorang murid dua tokoh sakti. Ilmu kepandaiannya sudah hampir mencapai tarap sempurna. Bagaimana mungkin Ratu Penyair Tujuh Bayangan dapat memastikan lamanya sebuah pertarungan?
"Kau terlalu sombong, Ratu Penyair. Sebaiknya selalulah kau ingat bahwa diatas langit selalu masih ada langit lagi!"
"Hik-hik-hik! Jangan keburu marah. Urusanku di puncak Pangrangko tidak bisa ditunda. Sekarang lihat serangan...!"
Ratu Penyair Tujuh Bayangan tiba-tiba menyambar ranting kayu yang tergeletak tidak jauh di bawah kakinya. Ranting kayu kering yang semula kaku itu kini berubah melemas bagaikan rambut. Ketika ranting itu dikebutkan menuju delapan penjuru jalan darah. Maka angin pun bergelung-gelung melabrak Dewi Bulan.
Gadis ini terkesiap dibuatnya, ia segera dapat mengetahui hanya orang yang memiliki tenaga dalam diatas sempurna saja yang mampu melakukannya. Sementara itu Dewi Bulan terpaksa melompat ke belakang untuk menyelamatkan diri dari totokan lawannya. Tapi baru saja ia menjejakkan kakinya diatas tanah. Ranting kayu yang kini telah berubah keras seperti asalnya telah meluruk deras ke arah urat besar pada bagian perutnya. Hanya dengan mengandalkan jurus 'Kupu-kupu Menari di Atas Bunga' saja ia masih mampu menghindari serangan lawannya.
"Keluarkan senjata yang kau punya!" perintah Ratu Penyair Tujuh Bayangan sambil bergerak lagi.
Dewi Bulan merasa nafasnya semakin menyesak, sedangkan jantungnya seolah-olah berhenti berdenyut. Apalagi ketika Gatri Kencana ini memutar ranting ditangannya melebihi kecepatan titiran. Tidak ayal lagi Dewi Bulan terdorong mundur. Kini sadarlah gadis berwatak keras itu bahwa apa yang dikatakan oleh gurunya Gajah Gemuk dan Gajah Kurus bukan hanya sekedar omong kosong belaka.
Sebaliknya pada saat tengah berfikir dan sambil menghindari serangan lawannya ini. Dewi Bulan dikejutkan lagi oleh suara Ratu Penyair Tujuh Bayangan yang seakan datang dari delapan penjuru arah.
"Melihat jurus-jurus silatmu. Rasanya tidak salah jika kau sesungguhnya murid dua Gajah di tanah Jawa!"
"Huh, bagaimana kau tahu?"
"Hik-hik-hik! Aku adalah penyair yang dapat membaca isi kepala orang. Gerakan tubuhmu adalah duplikat gerakan Gajah Kurus dan Gajah Gemuk. Apakah kau mau mungkir?"
Sebagai jawabannya Dewi Bulan langsung mencabut pedang pendek yang terselip di pinggangnya.
Sing!
Wuut! Wuut!
Pedang itu berputar sedemikian cepat. Terdengar suara menderu-deru. Di tangan Dewi Bulan pedang andalan itu seakan berubah menjadi banyak. Menusuk membabat bahkan menyodok ke arah empat jalan darah. Rupanya Dewi telah mengerahkan jurus 'Tarian Sang Walet'. Salah satu jurus ciptaan bersama kedua gurunya.
Untuk beberapa jurus Gatri Kencana tampak terdesak mundur. Namun hanya beberapa saat saja, begitu ia telah melihat jurus-jurus lawannya. Maka ia bergerak maju menerobos pertahanan Dewi dengan serangan ranting ditangannya yang dapat melentur seperti oyot kayu dan dapat berubah kaku seperti baja. Cepat bukan main serangan itu. Hingga tahu-tahu salah satu ujung ranting sudah berada di depan hidung Dewi. Gadis ini tentu saja tidak menghendaki hidungnya hancur. Ia menangkis sambil melompat mundur.
Traang!
Dewi Bulan terkejut, tangannya terasa sakit bagai ditusuk ribuan batang jarum. Tidak disangka kesempatan yang singkat itu dipergunakan oleh lawannya.
Tutts...!
Gadis bertahi lalat di dagu ini mengeluh tanpa mampu menggerakan tubuhnya lagi. Sadarlah ia bahwa Ratu Penyair Tujuh Bayangan ini telah menotoknya.
"Bagaimanapun kau kalah pengalaman dan umur bila dibandingkan aku. Empat jurus kau telah takluk, sekarang antar aku ke puncak Pangrangko!"
"Kau telah bertindak curang. Kalau guruku tahu, kau pasti hanya tinggal nama saja!" ma ki Dewi Bulan tanpa mampu menggerakan tubuhnya ketika Gatri Kencana memanggulnya.
"Gurumu datang gurumu kugebuk mam pus. Jangan pamer guru di depanku!" dengusnya.
Sekali berkelebat, maka Dewi Bulan merasakan tubuhnya dibawa lari laksana terbang.
__ADS_1