Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
61


__ADS_3

"Berhenti...!" salah seorang petugas penerima undangan tiba-tiba membentak garang. Laki-laki gemuk luar biasa dan laki-laki kurus nggak ketulungan terpaksa menghentikan langkahnya. Dengan cepat dua orang penerima tamu yang bertugas digerbang utama datang menghampiri.


"Tunjukkan bendera undangan pada kami!" kata salah seorang diantaranya.


Gajah Gemuk dan Gajah Kurus saling pandang. Lalu dua-dua tersenyum.


"Undangan itu terpaksa kami buang karena ada orang-orang tertentu yang menghendaki nyawa kami. Bukankah begitu adik Gajah Kurus?" Gajah Gemuk kemudian memberi isyarat pada adiknya. Dengan gerakan cepat dan tidak terduga-duga, tiba-tiba Gajah Kurus menotok urat gerak di tubuh penerima tamu sehingga membuat kedua pemuda itu menjadi kaku tidak mampu bergerak-gerak lagi.


"Ha ha ha...!"Begini lebih baik bagi kalian!" kata Gajah Gemuk.


"Bagaimana Adikku?"


"Kalau sudah tidak ada aral melintang, sebaiknya kita naik ke gunung Pangrangko sekarang juga." desah Gajah Kurus.


"Mari...!"


Kedua tokoh aliran lurus ini kemudian melanjutkan perjalanannya. Karena jalan yang akan mereka lewati selalu dijaga ketat oleh anak buah Diraja Penghulu Iblis. Maka Gajah Gemuk dan Gajah Kurus terpaksa bekerja keras merobohkan orang-orang itu tanpa membunuhnya.


Ternyata mereka berhasil menyusup juga. Karena mereka ini bukan termasuk orang-orang yang diundang. Mau tak mau mereka terpaksa menyaksikan adu ketangkasan itu dari sebuah tempat bersembunyi tidak jauh dari panggung.


"Banyak juga orang-orang yang datang untuk mengikuti acara pemilihan calon suami ini, Kakang."


"Diraja Iblis memang mempunyai seorang putri yang aneh. Kalau cuma untuk menentukan siapa suaminya. Mengapa harus orang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan dapat mengalahkannya. Tokh diatas ranjang nanti ia tetap akan kalah dan selalu berada di bawah. Kurasa faktor yang terpenting bukan itu adikku. Siapa tahu ia punya niat untuk mengumpulkan seluruh orang-orang persilatan agar sudi bergabung dengan mereka."


"Bagaimana Kakang bisa beranggapan seperti itu?" tanya Gajah Kurus sambil terus memantau pertarungan yang sedang berlangsung diatas panggung antara Maya Swari dengan seorang pemuda berbaju putih bersenjata kampak.


"Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati para iblis siapa yang tahu?"


Gajah Kurus menganggukkan kepala.


"Urusan kita kemari hanyalah untuk mengambil ular Kayangan yang telah dicuri oleh Buto Terenggi. Apakah kita akan mencampuri urusan Raka Tendra?"


"Tergantung. Kalau ini menyangkut urusan rimba persilatan dan mengancam kaum golongan putih. Masa' kita hanya menjadi penonton saja. Coba sekarang perhatikan ke bawah pohon itu!"


"Ya... aku sudah melihatnya. Seorang pemuda berambut hitam kemerahan berbaju biru itu kan?"


"Betul. Ia bukan bergabung sebagaimana undangan lainnya, dia malah berkumpul dengan kuda. Tampangnya to lol kekanak-kanakan, apakah kau tidak tertarik untuk mengetahuinya apa sesungguhnya yang ia cari di tempat ini...?"


"Tampangnya to lol begitu, apakah dia bukan anggota para iblis?" Gajah Kurus tampak meragu.


"Hmm, tatapan matanya begitu lain. Aku yakin dia bukan undangan Diraja Penghulu Iblis. Tapi sebaiknya kita lihat apa yang akan dilakukannya."


Gajah Kurus mengangguk setuju.


Sementara itu diatas panggung Pibu, kini Maya Swari telah berhadapan dengan seorang pemuda lain bertelanjang dadanya. Badannya kekar berotot. Kulitnya hitam legam macam pan tat kuali. Ia menjura hormat sebelum memperkenalkan diri.


"Nisanak. Aku Pito Lukito ingin minta petunjukmu!"

__ADS_1


"Katakan dari mana asal usulmu!"


"Aku dari tanah seberang, tidak punya guru...!"


"Hmm, majulah!"


"Heaaa...!"


Diawali dengan suara bentakan keras menggelegar, Pito Lukito yang sudah melihat kehandalan lawannya ini langsung melancarkan serangan-serangan yang mematikan. Sungguhpun pemuda ini mengaku tidak pernah berguru, tapi serangan-serangan yang dilancarkannya cukup dahsyat dan terarah.


Maya Swari menyadari kenyataan ini. Tanpa mengenal rasa lelah setelah menjatuhkan sepuluh lawan terdahulu kini ia berusaha merangsak dan menembus pertahanan lawannya.


Perlu diketahui ketika mengalahkan sepuluh lawannya tadi. Tidak seorangpun yang mampu menyentuh badannya. Kini dengan senjatanya berbentuk sebuah celurit ia merangsek dengan ganasnya. Angin serangan menderu-deru. Sungguhpun begitu dengan kecepatan sulit diikuti kasat mata, Maya Swari masih sempat menghajar perut Pito Lukito dengan satu tendangan keras.


Deek!


Wees!


Pito Lukito terjajar tapi tidak sampai keluar dari kalangan pertempuran. Tepuk sorai hadirin terdengar. Tapi hanya sesaat, karena mereka segera melihat bahwa pita biru pengikat rambut Maya Swari kena ditebas putus. Gadis itu sempat ciut nyalinya. Buru-buru ia merapikan rambutnya yang tergerai.


"Bukan main!" Raka Tendra, Buto Terenggi dan Nyanyuk Pingitan berseru memuji.


Dalam pada itu Maya Swari telah bergerak lagi. Tubuhnya mencelat ke depan jemari tangan terkembang mencengkeram batok kepala. Sedangkan kaki menendang kearah lambung. Gerakan ini dikenal dengan jurus 'Memagut Bisa Mencabut Kepala'. Tidak sembarang orang dapat menghindar dari kematian jika tidak berpengalaman benar dalam menghindar.


"Huup! Heaa...!"


Dhakk...!


"Waaakh...!"


Mulut Pito Lukito menyembur darah. dengan keadaan setengah mam pus tubuhnya dilemparkan keluar panggung. Pemuda ini jatuh terguling-guling dibawah panggung dalam keadaan sekarat.


Seruan memuji terdengar. Dalam pada itu terdengar suara seseorang yang begitu lantang.


"Putri Diraja memang hebat. Sayang tidak ada lawan yang tangguh. Semua cap lonceng disini jadi pecun dang, huh sungguh memalukan!" ucapan bernada menge jek ini tentu mengundang perhatian setiap orang. Tidak terkecuali tuan rumah Diraja Penghulu Iblis.


Mereka segera mencari-cari asal datangnya suara. Maka terlihatlah oleh mereka seorang pemuda berbaju biru duduk ongkang-ongkang dibawah pohon sambil mengelus-elus pantat kuda.


Buto Terenggi berbisik pada Raka Tendra.


"Bocah to lol itulah yang tadi bicara!"


"Sebaiknya suruh dia maju ke panggung!" balas Raka Tendra sambil menganggukkan kepala.


Buto Terenggi maju menghampiri Suro Blondo. Di tempat persembunyiannya Gajah Gemuk berbisik pada Gajah Kurus.


"Bocah itu lancang sekali mulutnya. Tidak tahukah dia sedang berada di sarang macan yang sedang berpesta?"

__ADS_1


"Kita lihat apakah dia punya kepandaian?" Gajah Kurus menimpali.


Sementara Buto Terenggi telah datang menghampiri.


"Kau yang bicara tadi, bocah?"


Suro Blondo garuk-garuk kepala.


"Apakah kau merasa punya kemampuan sehingga berani menghi na orang lain...?"


"Aku tidak tahu. Kulihat putri itu hebat bukan main. Tapi apa gunanya membuat panggung lawakan yang tidak lucu, kalau orang yang bermain diatasnya hanya orang-orang seperti badut!" kata pendekar Blo'on sambil tersenyum-senyum.


Merah wajah Buto Terenggi seketika. Rahangnya terkatup rapat. Ia pun kemudian menggeram marah.


"Jika kau merasa punya kebisaan mengapa tidak cepat naik keatas panggung?" bentaknya berang.


"Aku baru akan melakukannya!" ujar si pemuda.


Karena merasa tidak sabar. Datuk Mambang Pitoka langsung menyentakkan tangan pendekar Blo'on. Tubuh si pemuda ini langsung melayang hingga membuatnya jatuh terduduk diatas panggung. Semua orang berdecak kagum melihat besarnya tenaga yang dimiliki oleh Buto Terenggi. Tapi mereka segera maklum setelah mengetahui siapa orangnya.


"Lihatlah, orang yang mencuri ular-ular kita ada disitu. Apakah kita gebuk sekarang?"


"Jangan adik Kurus. Kita harus melihat situasi, naluriku mengatakan akan terjadi huru hara disini." kata Gajah Gemuk di tempat persembunyiannya.


Sementara itu Ratu Penyair Tujuh Bayangan juga sudah berada di tempat keramaian. Hanya ia yang datang bersama Dewi Bulan sengaja bersembunyi diatas pohon. Sungguhpun ia datang dengan membawa undangan, tapi kecurigaannya mulai timbul ketika melihat para petugas penerima tamu tewas dalam keadaan tertotok.


Kecurigaan Ratu Penyair Tujuh Bayangan semakin bertambah kuat melihat orang-orang yang tewas itu pertama tentunya dalam keadaan tertotok, baru sejam kemudian dibunuh. Jelas antara si penotok dengan si pembunuh merupakan orang yang berlainan.


Kini diatas pohon itu Ratu Penyair dan Dewi Bulan yang tertotok urat gerak dan suaranya dapat menyaksikan ke tengah-tengah panggung tanpa ada seorangpun yang melihat mereka. Dewi Bulan yang tidak mampu bicara itu tentu saja terkesiap melihat Suro Blondo terlempar ke atas panggung. Sungguhpun ia melihat orang lain yang melemparkannya. Artinya tetap sama saja, jika pendekar Blo'on yang memenangkan pertandingan ini ia berhak memperistri Maya Swari.


Tanpa terasa jantung Dewi Bulan berdetak kencang dan wajahnya pun bersemu merah. Dibelakangnya Ratu Penyair Tujuh Bayangan yang melihat kejadian ini hanya tersenyum-senyum saja.


"Pemuda itu meskipun tampangnya to lol kekanak-kanakan, ganteng bukan?" sindirnya kemudian.


Untung Dewi Bulan tidak dapat bicara, kalau tidak ia pasti sudah menyemburnya dengan ca ci ma ki.


Diatas panggung Suro Blondo dengan terpincang-pincang sudah bangkit berdiri. Sesungguhnya ia tidak kekurangan sesuatu apa. Ketika ia dilemparkan tadi ia bahkan telah mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi badannya dari pengaruh benturan. Tapi karena kini ia berada di tengah-tengah orang-orang berkepandaian tinggi dan terdiri dari para tokoh sesat pula. Mau tidak mau ia mengambil sikap seperti orang yang tidak punya kepandaian sama sekali.


"Bicaramu selangit, seakan kau mempunyai kesaktian segudang." dengus Maya Swari.


Rupanya setelah melihat ketampanan si pemuda yang sangat lain dari lainnya, gadis ini merasa tertarik juga.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melawanmu, Nisanak!" kata si pemuda, lalu menyeka keringat yang mengalir dikeningnya.


"Huh... siapa sudi memaafkan kau. Terlanjur kau naik kepanggung ini. Kau mau tidak mau, suka tidak suka harus menerima gebukanku!" kata Maya Swari.


Dan entah mengapa kini ia punya perhatian khusus pada pemuda berambut hitam kemerah-merahan ini.

__ADS_1


__ADS_2