
Perjalanan yang di tempuh oleh Pendekar Blo'on Suro Blondo memang memakan waktu yang cukup lama. Apalagi tempat persembunyian atau markas besar Mustika alias Ib lis Betina Dari Neraka masih belum jelas entah di mana.
Pagi itu udara dingin menyelimuti Daerah Ketemanggungan Batu Sari. Di halaman rumah Tumenggung Bono Sastrojoyo penduduk setempat tampak sedang berkumpul menunggu kehadiran pemimpinnya dengan perasaan harap-harap cemas.
Tidak lama kemudian muncul seorang laki-laki berpakaian bangsawan dan dikawal oleh dua orang laki-laki berbadan tegap memakai rompi hitam. Tumenggung Bono Sostrojoyo memperhatikan penduduk yang berada di halaman rumahnya dengan sorot mata menyelidik.
"Ada apa kalian pagi-pagi sekali datang kemari?" suara Tumenggung meningkahi suara-suara sumbang para laki-laki yang tampaknya tidak puas atas sikap lemah pemimpinnya. Seorang laki-laki bertubuh bungkuk mewakili tidak kurang tiga puluh kawannya tampak maju ke depan.
"Kami bukannya lancang, gusti Tumenggung. Cuma kami kurang puas atas sikap Tumenggung yang kelihatannya masih tenang-tenang saja dengan hilangnya tujuh gadis desa yang diculik oleh anggota Iblis Betina Dari Neraka. Kami khawatir sikap ini hanya akan membuat perempuan ib lis itu semakin sewenang-wenang. Tidak ada yang ditakuti dan bukan mustahil suatu saat akan semakin banyak penduduk terutama anak-anak gadis di wilayah Katemenggungan ini akan menjadi korban!"
"Ki Supit! Kukira hanya kau orang yang memiliki ilmu kepandaian yang lumayan di daerah kita ini. Mengapa kau tidak mau menghubungi orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi untuk mencari gadis-gadis yang hilang itu?" tanya Tumenggung Sastrojoyo penuh teguran.
"Mana kami berani jika tidak ada perintah dari Tumenggung!" jawab Ki Supit.
Jalak Seta salah seorang pengawal sekaligus orang kepercayaan Katemenggungan tiba-tiba saja maju ke depan.
"Jangan sembarangan menuduh! Kami di Katemenggungan telah melakukan segala upaya untuk mencari anak-anak perawan kalian yang hilang itu. Tapi apa mau dikata? Hingga sampai saat ini usaha kami belum mendatangkan hasil. Kalau kalian mau bekerja sama, nanti sore kita dapat bersama sama mencari mereka yang hilang!" ujar Jalak Seta.
"Coba kalau hal ini dibicarakan sejak kemarin. Tentu kami tidak penasaran dan terpaksa berkumpul di sini!" kata Ki Supit.
"Benar...!" kata kawan-kawannya mendukung ucapan Ki Supit.
"Sudahlah, kalian tidak usah cemas, persiapkan kuda dan segala peralatan senjata yang kita butuhkan. Nanti sore kita bergerak melakukan pencarian...!" kata Tumenggung Sastrojoyo.
"Hore... hidup Tumenggung....!" teriak para penduduk Batu Sari.
Para laki-laki yang dipimpin oleh Ki Supit itu akhirnya membawa orang-orangnya kembali ke rumahnya masing-masing. Tentu saja mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti sore.
Ketika hari menjelang senja, maka berangkatlah tidak kurang dari tiga puluh orang penduduk di sertai Tumenggung Sastrojoyo dan juga Jalak Seta. Mereka bersenjata lengkap menyisir sepanjang tepian hutan di mana beberapa hari yang lalu mereka melihat seorang laki-laki bertubuh bungkuk melarikan gadis-gadis dari daerah Batu Sari.
Belum lama mereka berjalan. Tiba-tiba saja mereka melihat seorang laki-laki keluar dari dalam semak-semak belukar. Ia memakai baju kembang-kembang. Bagian keningnya menonjol, wajah laki-laki itu dipenuhi jambang dan bawuk lebat.
Tumenggung Sastrojoyo menghentikan kudanya diikuti oleh orang-orang yang berada di belakangnya.
"Kalau tidak punya keperluan. Sebaiknya menyingkir dari hadapanku sekarang juga!" dengus Tumenggung itu dengan suara ketus.
"Ha ha ha...! Kau tidak layak memberi perintah, Tumenggung! Aku tahu kalian punya tujuan. Tentu kalian ingin mencari Betina Dari Neraka bukan? Apa yang ingin kau lakukan tidak semudah yang kau bayangkan. Karena aku Menak Tandira akan menjadi penghalang bagi kalian!"
"Hmm, rupanya kau anggota dan begun dalnya betina ib lis itu?"
"Belum, tapi aku calon anggota yang ingin bergabung!" kata Menak Tandira tegas.
"Biarkan kami yang memberi pelajaran pada mereka, Tumenggung!" pinta Ki Supit pula.
__ADS_1
Tumenggung Sastrojoyo menganggukkan kepalanya. Begitu mendapat isyarat maka belasan penduduk bersenjata golok dan tombak langsung menghambur melakukan penyerangan.
Menak Tandira tertawa mengekeh. Ia melompat tinggi ke udara begitu senjata-senjata itu berkelebat menghantam tubuhnya. Ketika Menak Tandira meluncur lagi ke bawah. Maka Menak Tandira menyambar salah satu senjata di tangan penyerangnya.
Bret!
Golok rampasan tersebut langsung berkelebat menyambar ke segala arah.
Crak!
Bret! Bret!
"Aaaa...!"
Terdengar pekik dan jerit kesakitan di sana-sini. Empat orang penduduk biasa roboh dengan tubuh bermandikan darah. Ternyata laki-laki berwajah angker ini memang mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. Terbukti hanya dalam beberapa jurus saja ia sudah mampu merobohkan beberapa penduduk.
Melihat kenyataan ini Ki Supit tidak tinggal diam.
"Menyingkir semuanya...!!" teriak Ki Supit dengan suara keras. Ia pun melompat ke depan. Tinju laki-laki itu menghantam iga Menak Tandira. Dengan sigap lawan menghalaunya.
Wuus!
Ki Supit dengan segera menarik tangannya kembali untuk menghindari benturan yang terjadi. Lalu ia lepaskan tendangan kaki ke punggung lawannya.
Duuk!
Menak Tandira terhuyung, punggungnya langsung nyeri seperti ada tulangnya yang patah. Ia menggeram keras, lalu tiba-tiba saja ia menerkam Ki Supit dengan tangan terkembang.
"Hiaa...!"
Semua orang yang berada di situ dapat melihat betapa jemari tangan Ki Supit berubah menghitam. Namun kawan-kawannya tetap merasa yakin Ki Supit pasti dapat mengatasinya, mengingat kakek tua berbadan agak bongkok ini juga memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
Ternyata dugaan mereka untuk sementara benar adanya. Ketika kedua tangan lawannya hampir mencapai sasaran. Maka Ki Supit mencabut keris Ki Ronda Pamungkas.
Set!
Wus!
"Heh... gila...?" desis Menak Tandira sambil tarik balik serangan dan berguling-guling selamatkan diri. Ki Supit terus memburu, lalu ia tikamkan senjatanya bertubi-tubi. Kenyataan ini membuat Menak Tandira jadi terdesak. Ia hanya dapat main mundur saja untuk kemudian membentak garang.
"Haiit! Aiyaaa...!"
Satu jurus lain dimainkannya. Tangannya mencakar kian kemari, sedangkan kedua kakinya bergerak lincah dengan cepatnya.
__ADS_1
"Graa! Graa!"
Jelas sekali kalau pada saat itu Menak Tandira sedang mengerahkan jurus Macan Luwe. Salah satu jurus ampuh yang dimilikinya.
"Haiiiik...!"
Menak Tandira melompat laksana terbang. Melihat serangan ganas ini Ki Ronda Pamungkas disodokkan ke depan oleh Ki Supit. Senjata itu mendesing ketika membelah udara. Secara aneh Menak Tandira menghindar ke samping dan dilain waktu ia sudah berada di belakang Ki Supit. Dengan begitu tentu saja serangan Ki Supit tidak mengenai sasarannya. Tahu-tahu dari belakangnya....
Duuk!
Beeeeet!
Sepuluh kuku jari Menak Tandira menghunjam di tubuh lawannya. Ki Supit menjerit. Suaranya seakan merobek langit. Tubuhnya terhuyung ke depan tanpa pernah sempat lagi berbalik ke depan. Tidak lama ia pun tersungkur roboh dan tewas seketika dalam keadaan yang sangat mengerikan sekali.
Menak Tandira tertawa membahak. Jalak Seta memandangi laki-laki itu dengan tatapan aneh. Namun ia tetap tidak bergerak mengambil tindakan. Sementara itu kawan-kawan Ki Supit sudah tidak sabar lagi. Mereka secara beramai-ramai dan tidak terkontrol lagi langsung segera mengeroyok Menak Tandira. Pertempuran sengit pun segera terjadi.
Namun karena para penduduk ini pada dasarnya tidak mempunyai kepandaian silat apa-apa. Maka hanya dalam waktu beberapa jurus saja belasan laki-laki itu telah terkapar dalam keadaan menyedihkan.
Tumenggung Sastrojoyo dibuat terkesiap. Sekarang hanya tinggal dia dan Jalak Seta saja. Tumenggung dan orang kepercayaannya saling berpandang-pandangan.
"Sebaiknya kau maju, Jalak Seta!" perintah sang Tumenggung.
Entah mengapa Jalak Seta malah tertawa membahak. Sekejap tawanya yang menyeramkan itu terhenti. Lalu...
"Sebagai pimpinan seharusnya gusti Tumenggung yang bertindak duluan! Nanti kalau sudah terdesak. Barulah saya yang maju!"
Belum hilang rasa kaget di hati sang Tumenggung. Laksana kilat Jalak Seta mencabut senjatanya dan langsung menghunjamkannya ke perut Tumenggung Sastrojoyo. Laki-laki bertubuh jangkung ini sudah tidak sempat mengelak lagi. Badik kecil telah menembus perutnya.Tidak lama Tumenggung Sastrojoyo terjengkang dari kudanya. Jalak Seta kembali tertawa dengan suara dingin. Tentu saja hal ini membuat kaget Menak Tandira. Masa' ada seorang bawahan begitu tega membunuh majikannya sendiri?
"Tidak usah heran, sobat! Jika kau benar-benar ingin bergabung dengan tetua Betina Dari Neraka. Aku siap membantumu, karena aku adalah salah seorang anggotanya juga." kata Jalak Seta dengan bangga.
"Mengapa kau bunuh Tumenggung itu? Bukankah dia atasanmu?" tanya Menak Tandira.
"Memang aku bawahannya. Tetapi aku sudah lama juga menjadi pengikut-pengikut wanita cantik itu. Aku bahkan yang menculik gadis-gadis di Batu Sari untuk keperluan membangkitkan Patung Perkasa. Itu sebabnya aku harus membunuh Tumenggung Sastrojoyo mengingat aku tidak ingin Tumenggung tahu di pihak mana aku berdiri!"
"Aku tidak menyangka kita orang sehaluan. Lalu... apakah engkau tahu di mana tempat tinggal Betina Dari Neraka saat ini?" tanya Menak Tandira.
"Tentu saja aku tahu. Jika kau mau, sekarang juga aku dapat mempertemukan kau dengan tetua!"
"Hhm, aku merasa sekarang memang sudah waktunya untuk menemui beliau. Aku sudah tidak sabar ingin bergabung dengan mereka!"
Maka tanpa menunggu lebih lama lagi berangkatlah kedua sahabat yang baru saja saling kenal ini. Di sepanjang perjalanan mereka terus berbincang-bincang tentang kehebatan yang dimiliki oleh Mustika Jajar dan gurunya.
Tanpa mereka sadari bahwa sejak beberapa saat yang lalu ada dua sosok bayangan yang terus mengikuti langkah mereka dalam jarak yang tidak begitu jauh.
__ADS_1