
"Bagus! Mengamuklah sesuka hati, kalau tenagamu sudah terkuras habis. Tidak lama lagi kau akan menjadi loyo!" kata Pendekar Blo'on sambil tersenyum mengejek.
"Aku akan membunuh kalian berdua!" teriak Perkasa.
Lagi-lagi ia melompat ke depan. Sebentar kemudian tangannya sudah terjulur menggapai leher Suro. Tetapi pemuda berambut hitam kemerah-merahan ini sudah menghindar ke samping. Serangan lawan tidak mengenai sasarannya. Pada saat itulah tanpa diduga-duga Perkasa menghantam ulu hati Suro dengan tendangan kaki kiri.
Duuk!
"Hegkh...!"
Suro Blondo keluarkan seruan tertahan. Ia jatuh terguling-guling. Bukan main sesaknya nafas si pemuda, ia cepat bangkit berdiri. Tetapi hal itu sulit dilakukannya. Sementara Perkasa telah menyerangnya kembali dengan sebuah pukulan yang mematikan.
Melihat selarik sinar merah meluncur deras ke arah si pemuda. Maka Dewi Arimbi segera kirimkan sebuah pukulan 'Benteng Kincir Air'. Seketika itu juga terdengar suara angin menderu-deru. Segelombang angin bercampur uap putih melesat deras dari telapak tangan si gadis. Tidak dapat dihindari lagi kedua pukulan dahsyat itu akhirnya bertemu di udara dan menimbulkan ledakan dahsyat.
"Blaam...!"
"Huukh...!"
Kali ini Perkasa tampak jatuh terduduk. Dewi Arimbi sendiri tampak terguling-guling. Sudut bibirnya mengucurkan darah. Gadis itu berusaha memperbaiki posisinya. Tetapi gerakannya ini malah membuat darah semakin banyak yang keluar.
Suro Blondo yang juga sudah terluka tidak mungkin membiarkan kenyataan ini terjadi. Ia segera bangkit berdiri. Lalu ia mengerahkan tenaga dalam ke bagian telapak tangan. Tiba-tiba ia melompat ke depan disertai seruan keras...
"'Ratapan Pembangkit Sukma' Hiyaa...!"
Pemuda berambut hitam kemerahan ini dengan serentak menghentakkan kedua tangannya ke arah Perkasa yang baru saja berusaha bangkit berdiri. Angin kencang bergulung-gulung laksana badai salju menderu. Tampak sinar putih memenuhi daerah tersebut. Pohon-pohon bertumbangan, pukulan tersebut menyapu apa saja yang berada di depannya. Melihat badai topan yang mendayu-dayu ini. Perkasa mencoba melepaskan pukulannya. Tetapi apa yang dilakukannya sudah sangat terlambat. Kemudian....
Glaar!
"Aaaa...!"
Perkasa menjerit sambil memegangi dadanya. Tubuh laki-laki tinggi besar ini terguling-guling. Dari sudut-sudut bibir Perkasa tampak mengucurkan darah. Pendekar Blo'on tidak mau mengulur-ulur waktu lagi. Sekali lagi ia melepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma' ke arah lawan. Tetapi rupanya walau Perkasa telah terluka. Ia juga melepaskan pukulan andalannya. Ketika tangannya ia kibaskan ke depan. Maka selarik sinar menebar hawa panas menderu ke arah Suro Blondo. Selagi pukulannya meluncur deras di udara. Maka Perkasa langsung berkelebat pergi.
Blaar!
"Hekh...!"
Suro Blondo jatuh terjengkang. Dadanya terguncang, isi perutnya bergetar sehingga menimbulkan rasa sakit berdenyut-denyut. Sebenarnya Suro Blondo sempat melihat lawannya melarikan diri tadi. Namun ia tidak sempat mencegah, karena pukulan Perkasa menghadang langkahnya.
"Benar-benar manusia kampret! Ia melarikan diri di saat aku hampir mencapai sebuah kemenangan!" ma ki Pendekar Blo'on sambil golang-golengkan kepalanya.
"Sudahlah, cepat atau lambat kita pasti akan menemukannya lagi!" ujar Dewi Arimbi yang baru saja selesai mengobati luka dalam yang dideritanya.
"Kita harus memburu manusia setan itu!" tegas Pendekar Blo'on.
__ADS_1
"Ya, kau sendiri bagaimana? Apakah sudah dapat meneruskan perjalanan kembali?" tanya Dewi Arimbi.
"Aku tidak apa-apa. Mari kita pergi...!" ajak Suro Blondo.
Tanpa berkata apa-apa lagi mereka segera berangkat ke arah matahari terbit. Tepatnya ke Bukit Cadas Siluman.
*
Setelah mengobrak-abrik tempat persembunyian Mustika Jajar yang lama. Kakek berbadan pendek tidak sampai satu meter itu segera membakarnya. Dalam waktu sebentar saja api pun telah berkobar-kobar.
"Dia telah hengkang dari sini! Kemana perginya gadis iblis itu?" pikir laki-laki berkumis dan berjenggot putih ini.
"Sekarang aku melakukan segala-galanya seorang diri. Bocah gendeng itu entah dimana rimbanya! Apa Dewi Kehidupan telah membunuhnya?" Wiro Suryo hanya menggelengkan kepalanya saja. Tidak lama setelah itu ia meneruskan perjalanannya kembali dengan hati kecewa. Akan tetapi belum lama dia berjalan. Tiba-tiba saja dari semak-semak belukar bermunculan sosok tubuh menghadang Tenggiling Kedil. Melihat penampilan mereka tampaknya orang-orang ini dari rimba persilatan. Cuma yang agak mencurigakan kelima laki-laki tersebut seperti orang linglung,
"Berhenti...!" perintah salah seorang di antaranya yang memakai baju hijau. Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil menghentikan langkahnya. Kemudian ia tertawa membahak.
"Kau memerintahkan aku berhenti. Besar juga nyalimu!" bentak si kakek.
"Kau harus menyerah pada kami, Kisanak. Kalau engkau mau bergabung, tentu ketua kami tetap membiarkan engkau tetap hidup!"
"Ha ha ha...! Hidup sembilan puluh tahun, baru sekali ini ada orang berani membentakku! Aku jadi ingin bertanya apakah ketua kalian itu Betina Dari Neraka?"
"Benar!" sahut yang memakai baju hitam dengan angkuhnya.
Ucapan Wiro Suryo ini tentu membuat kelima laki-laki yang menghadangnya menjadi sangat marah.
"Diberi kesempatan hidup malah minta racun. Bunuh si pendek jelek itu!" perintah yang berbaju hijau.
Serentak kelima orang ini menerjang Wiro Suryo. Kaki dan tangan mereka meluncur menghujani tubuh kakek berbadan sangat pendek ini. Tetapi dengan cara bergulung-gulung seperti Tenggiling. Ia berhasil menghindari serangan kelima lawannya. Bahkan ia kemudian melipat badannya sehingga berbentuk bulat seperti bola. Dengan begitu ia menggelinding kesana kemari dengan cepatnya. Kelima laki-laki yang menyerang Wiro Suryo jadi terkejut. Ia tidak menyangka lawan yang dihadapinya dapat melakukan tindakan yang aneh-aneh.
"Tendangan Berantai! Heaa...!"
Disertai teriakan keras, dalam waktu bersamaan mereka melepaskan tendangan ke arah Wiro Suryo. Semula kakek itu tetap berada di tempat. Tetapi ketika serangan kaki lawannya semakin bertambah dekat. Maka ia kembali menggelundung seperti bola. Tidak dapat dihindari lagi kaki mereka beradu dengan kaki kawannya sendiri.
Bletak!
"Wadoww...!"
Mereka menjerit kesakitan. Ketika orang-orang ini melompat mundur. Maka tampak kaki mereka menjadi pincang.
"Gwoblok, mengapa menyerang kaki kawan sendiri!" bentak yang berbaju hitam sewot.
"Siapa sangka dia bakal menghindar!" sergah kawannya tidak senang.
__ADS_1
"Sekarang serang pakai senjata!" perintah laki-laki berbadan tinggi besar yang berdiri tegak di sebelah kanan Wiro Suryo. Kawan-kawannya menganggukkan kepala.
Sring! Sriing!
Mereka segera mencabut clurit yang tergantung di pinggang masing-masing. Wiro Suryo segera bangkit berdiri. Ia mengusap-usap perutnya yang tidak memakai baju.
Ketika senjata-senjata itu di kibaskan ke depan. Maka terdengar desir angin menggiriskan hati. Clurit-clurit di tangan lawan terus bergerak kemana saja Wiro Suryo mencoba menghindar. Terkadang menusuk, membabat, mengait atau malah menebas.
Dengan kelincahannya yang sangat luar biasa sekali Wiro Suryo terus berkelit. Karena hujan serangan bertubi-tubi. Maka kakek pendek ini terpaksa mengerahkan ajian 'Suket Sekilen'. Kehebatan ajian ini walaupun lawan sudah memastikan bahwa serangan senjatanya sudah mengenai sasaran. Tetapi serangan tersebut sesungguhnya hanya sejengkal lagi mengenai sasaran.
Berulang kali serangan-serangan gencar dilakukan oleh lawannya. Tapi sampai sejauh itu mereka masih belum berhasil melukai apalagi merobohkan Wiro Suryo. Lima belas jurus berlalu tanpa membawa hasil bagi lawan-lawannya. Si kakek merasa telah cukup memberi kesempatan pada mereka.
"Manusia-manusia to lol begundal iblis, kodok buduk kebo bunting! Serangan yang kalian lakukan tidak bermutu semuanya! Sekarang lihatlah baik-baik bagaimana caranya mempecundangi manusia to lol seperti kalian!" teriak Wiro Suryo.
Bet!
Sekali berkelebat, maka tubuh Tenggiling Kedil lenyap dari pandangan mata. Rupanya ia menyusup ke pertahanan lawannya. Karena tubuhnya yang pendek, ia menyelinap di bawah ************ lawan sambil menjambreti buah jambu yang cuma dua biji itu. Atau tidak jarang ia meremas tempat keramat ini.
"Aarkh...!"
"Wuaaakh...!"
"Kepa rat...!"
Jerit kesakitan dan suara ma kian terdengar silih berganti. Mereka berjingkrakan seperti monyet-monyet yang terserang penyakit ayan. Sedangkan tangan kiri mereka memegangi pusakanya yang terasa semakin memanjang.
"Ha ha ha...! Bertarung ya... bertarung, tidak usah menjerit apa lagi mema ki." kata Wiro Suryo sinis.
"Tua bangka setan kejepit bumi! Kau harus merasakan pembalasan kami!" teriak salah seorang di antaranya dengan geram. Mendahului kawan-kawannya laki-laki itu menyerang Wiro Suryo dengan mempergunakan jurus 'Menepis Hujan di Siang Hari'. Ini merupakan salah satu jurus andalan bagi kelima lawan Tenggiling Kedil tersebut. Mula-mula ia melakukan gerakan-gerakan seperti menangkis, sedangkan kedua kakinya terkembang. Detik berikutnya seperti seekor **** hutan laki-laki tersebut meluruk deras ke arah Wiro Suryo. Serangan ini jelas sangat berbahaya bagi si kakek pendek. Namun ia menghindar ke samping, lalu merundukkan kepalanya serendah mungkin. Setelah clurit lewat di atas kepalanya. Maka ia menangkap pergelangan tangan lawan.
Tep!
Sambil mencekal pergelangan tangan lawan, tangan kiri si kakek merampas senjata milik lawan. Begitu senjata berada di tangannya. Ia mengibaskan senjata melengkung itu ke perut lawan.
Brebet...!
"Aaakh...!"
Laki-laki berbaju hitam menjerit keras. Isi perutnya berbusaian keluar, sedangkan darah mengucur seperti kerbau disembelih. Anehnya Wiro Suryo tidak langsung melepaskan lawan. Ketika melihat lawan lain menyerangnya. Maka si baju hitam yang telah tewas tadi dilemparkan ke arah para penyerangnya.
Wees!
Gabruuk!
__ADS_1
Tiga orang lawan jatuh terduduk tertimpa mayat kawannya sendiri. Mereka segera bangkit berdiri dan berlompatan ke arah Wiro Suryo sambil mengibaskan senjata di tangan. Tetapi ketika itu Wiro Suryo telah berguling-guling menjauhi lawannya. Sehingga serangan-serangan itu hanya mengenai angin atau menghantam senjata kawan sendiri.