
Cambuk di tangannya sesekali melecut di udara disusul dengan suara jerit kesakitan salah seorang dari sekian banyak orang-orang dari mereka yang terbelenggu mata rantai. Tubuh yang semula muda perkasa ini lambat laun hanya tinggal kulit pembalut tulang. Mereka kurang makan, kurang tidur, kurang istirahat dan kurang segala-galanya. Sepanjang hari mereka harus terus menerus bekerja menggali sebuah terowongan, mengayak serpihan tanah untuk mendapatkan biji-biji emas murni.
Tidak jauh dari pekerja-pekerja paksa itu lebih dari sembilan laki-laki bertubuh tegap berkepala botak dan bertampang beringas terus mengawasi pekerjaan mereka tanpa mengenal belas kasihan sama sekali. Jika para pekerja itu tampak malas, maka cambuk berduri di tangan para algojo itu ikut bicara. Tidak heran jika tiap hari para pekerja itu ada saja yang mendapat celaka atau mati. Mayat-mayat mereka biasanya dibuang begitu saja tanpa ada seorang pun yang di antara para pekerja itu yang berani mengurusnya.
Sebuah dataran rendah tidak jauh dari tempat penggalian emas telah ditentukan sebagai tempat pembuangan jenazah. Tidak heran jika dalam beberapa tahun saja Bumi Ayu telah dipenuhi dengan tulang belulang yang bertimbun bahkan mulai menggunung.
Bau di tempat itu tidak dapat dilukiskan. Kenyataan ini tentu saja sangat mengganggu pernafasan para pekerja paksa yang banyak didatangkan dari daerah Bumi Ayu dan Cijulang.
Tapi siapa yang akan perduli?
Tidak ada seorang pun yang memperdulikan nasib mereka. Kalau pun ada di antara para pekerja paksa yang berusaha melarikan diri. Tidak seorang pun di antara mereka yang dapat menyelamatkan diri. Mereka yang ketahuan oleh algojo segera dihabisi nyawanya. Kalaupun ada yang selamat sampai ke kampung halaman. Maka dalam waktu yang sangat singkat para algojo itu menyeret mereka untuk menerima hukuman mati atas pelarian nekad itu.
Siang panas terasa membuat rengat batok kepala. Para pekerja paksa itu seakan tidak mengenal rasa letih, terus melaksanakan tugasnya. Jika di antara para pekerja itu ada yang malas. Maka para algojo dengan kejamnya langsung mengayunkan cambuknya.
Pada suasana seperti itu, di kejauhan sana terdengar derap langkah suara kuda. Penunggangnya adalah dua orang laki-laki berbaju serba hitam bertampang tirus. Sedangkan kuda yang berada paling depan ditunggangi oleh seorang laki-laki berpakaian bangsawan. Semakin lama tiga ekor kuda tunggangan ini semakin dekat dengan tempat tujuan.
Para algojo begitu mengetahui siapa yang datang langsung menyongsong kehadiran mereka dengan sikap penuh rasa hormat. Tidak sampai sepemakan sirih. Sampailah rombongan penunggang kuda ini di lokasi penggalian emas Bumi Ayu. Tiga ekor kuda tunggangan berhenti dengan tiba-tiba. Dua orang penunggangnya melompat turun, sedangkan laki-laki berpakaian bangsawan tetap duduk di atas pelana kudanya. Seraya memperhatikan para algojo itu dengan tatapan sulit dimengerti.
"Bagaimana hasil kerja selama satu purnama ini, Dasa Reksa?" tanya saudagar Bergola kepada kepala algojo
"Maafkan kami, Tuan. Pendapatan biji-biji emas agak merosot. Semua ini dikarenakan semakin menipisnya jumlah pekerja. Menurut hemat hamba, kita merasa perlu menambah jumlah pekerja..." ujar laki-laki berbadan tegap itu berpendapat.
"Hmm.... Seharusnya tidak kau bicarakan itu padaku. Kalian boleh mencari tambahan tenaga kerja di mana saja. Kau bisa pergi ke Argopuro, Ciamis atau Tungku Jajar." kata saudagar Bergola ketus.
"Ba... baik... Tuan. Kami segera melaksanakannya dengan baik!" kata kepala algojo itu menyanggupi.
"Bagus! Kalian memang harus selalu mengabdi kepadaku!" dengus saudagar Bergola Mungkur. Seraya kemudian beralih ke arah Giwang Rana dan Bajar Saketi. Yaitu kedua tangan kanannya yang sedang mengambil emas hasil para pekerja paksa itu. Ada senyum sinis menghias di bibir si laki-laki. Tidak lama ia segera memeriksa emas di dalam bungkusan yang diserahkan oleh kedua tangan kanannya.
"Hasil bulan ini tampaknya memang agak berkurang banyak, Dasa Reksa. Kuingatkan padamu agar tidak mempermainkan aku. Jika ternyata kau menyembunyikan sebagian hasil pencarian ini. Seumur hidup kau dan kawan-kawanmu benar-benar akan kubuat menyesal!"
__ADS_1
Rupanya ancaman saudagar Bergola Mungkur bukan sekedar ancaman kosong belaka. Karena ternyata Dasa Reksa sang kepala algojo tampak sangat ketakutan sekali.
"Saya mana mungkin berani mempermainkan Tuan. Selama ini saya sudah berusaha jujur kepada Tuan. Cuma karena belakangan para pekerja di sini banyak yang kojor menemui ajal. Itu sebabnya tenaga di lapangan menjadi sangat berkurang sekali."
"Aku percaya kata-katamu, Dasa Reksa. Untuk itu kuperintahkan pada kalian segera mencari tenaga tambahan. Purnama mendatang hasil yang kalian peroleh harus semakin bertambah meningkat!"
"Perintah segera kami laksanakan, Tuan..." kata Dasa Reksa. Saudagar Bergola Mungkur sama sekali tidak menyahut. Malah setelah memberi isyarat pada Giwang Rana dan Banjar Saketi mereka memacu kuda-kuda tunggangan itu menuju daerah Cileles.
****
"Uhukk...! Uhuuuuukk..! Wuaakh.. kupikir benda hitam panjang yang bergelantungan itu sarang lebah. Tidak tahunya…!" Pemuda tampan berbaju biru muda memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning ini hentikan ucapannya. Perutnya mual seperti hendak muntah. Lalu tanpa tertahankan lagi.
"Hoeek... hoeek...! Tuh kan, muntah betul...!” desisnya. Seraya lalu menyeringai dan garuk-garuk belakang kepalanya. Sekali lagi ia memperhatikan mayat-mayat yang tergantung di pinggir jalan menuju kota kecil Malaya. Mayat-mayat itu rata-rata kepala menghadap ke bawah, kaki terikat pada cabang pohon. Ribuan lalat tampak mengerumuni. Sebagian di antara mereka telah membusuk. Tapi tidak jarang ada pula yang masih utuh. Pemuda tampan yang tidak lain adalah Pendekar Blo'on ini memperhatikan mayat-mayat itu dengan kening berkerut.
"Kulihat ada kematian di mana-mana. Siapa mereka? Melihat luka-luka di tubuhnya rasanya mereka disayat-sayat dengan senjata yang teramat tajam. Apakah mungkin mereka ini merupakan orang-orang dari rimba persilatan? Rasanya...!" Suro Blondo usap-usap keningnya yang berkeringat. Ia melihat sebuah pedang pendek tergeletak di bawah salah satu mayat yang tergantung.. Namun sama sekali ia tidak punya, keberanian apa-apa untuk memungutnya.
"Ini merupakan pekerjaan yang sangat keji.... Siapa pun pelakunya. Siapa pun orangnya. Pastilah merupakan seorang pembunuh berdarah dingin."
"Hhh...!"
Dengan mengandalkan ilmu lari cepat Kilat Bayangan yang sudah mencapai sempurna. Bergeraklah Suro Blondo dengan kecepatan yang sangat sulit diikuti kasat mata.
Tidak sampai sepemakan sirih, sampailah pemuda itu di atas sebuah dataran berbukit-bukit. Pemuda tampan bertampang ***** ini tidak langsung menghampiri seorang laki-laki tua bertelanjang dada dan berambut riap-riapan. Melainkan bersembunyi di sebuah tempat yang agak terlindung. Sambil menahan nafas ia terus memperhatikan laki-laki bertelanjang dada yang ternyata sedang membuat patung ukiran terbuat dari batu cadas.
Anehnya, laki-laki ini hanya mempergunakan kuku-kuku tangannya untuk membentuk bagian-bagian tertentu badan patung. Suro Blondo leletkan lidah dan usap-usap keningnya. Beberapa kali terdengar decak kagum dari mulut si pemuda.
"Cek.. Ceek! jika saja dia tidak memiliki ilmu dan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat sempurna. Tidak nantinya ia mampu menggores batu cadas itu dengan ujung jemarinya." gumam Suro Blondo. Mata terbeliak lebar terlebih-lebih setelah melihat betapa bagusnya patung yang dibuatnya.
"Melihat badannya yang reot seperti rumah hendak roboh. Mustahil rasanya ia mampu melakukan pekerjaan yang memerlukan ketekunan dan tenaga dalam yang tinggi. Dan hasil pahatan itu juga sangat bagus sekali. Ia pasti seorang pengukir patung yang sangat terkenal. Tapi untuk apa patung sebagus itu dibuatnya? Lagipula bagaimana membawanya? Patung itu ingin dijualnyakah?" kata Pendekar Blo'on lagi. Kemudian ia garuk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Pendekar Blo'on dengan perasaan takjub yang tidak ada habis-habisnya terus memperhatikan si pembuat patung yang tampak sibuk menyelesaikan wajah patung yang hanya tinggal menghaluskannya saja. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba saja Suro, Blondo mendengar kakek pembuat patung bicara. Tapi suaranya seperti orang yang sedang menyanyi. Pemuda itu pasang kuping dan gelang-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Hidup delapan puluh tahun!
Badan renta dimakan hari dan waktu. Menunggu si anak tunggal datang,
tuntut ilmu ambil kepandaian.
Yang ditunggu pendek umur pendek nafas. Tinggallah si tua renta putus karapan patah asa.
Hidup terlunta-lunta menunggu pengganti.
Tetap menunggu tidak seorang pun yang datang,
Dasar sial tua renta tidak berjodoh!
Suro Blondo tercenung. Kakek tua itu barusan mengucapkan kata-kata yang tidak dimengertinya sama sekali. Anak tunggal? Siapakah yang dimaksudkannya? Apakah kakek pematung itu mempunyai anak?Ataukah ia hanya seorang pematung yang mempunyai otak tidak waras?
Keheranan di hati pemuda berbaju biru muda ini belum juga lenyap ketika dari arah utara terdengar suara derap langkah kuda yang dipacu sedemikian cepat menuju ke arah pematung tersebut.
Si kakek tua bersikap acuh tak acuh, ia tetap meneruskan pekerjaannya. Dan kini ia mulai memoles badan patung batu dengan sejenis pewarna berwarna coklat tua.
Penunggang kereta kuda semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Karena jalanan itu sempit. Maka ketika ketiga rombongan berkuda itu sampai di depan si kakek. Maka ketiga penumpang kuda langsung memperlambat kuda mereka. Salah seorang laki-laki di depannya berpakaian bangsawan hampir saja membentak, tapi begitu melihat patung yang sedang diwarnai oleh si kakek langsung katupkan mulut dan telan ludah.
Raut wajahnya yang selalu menyimpan ketamakan itu tampak berubah memerah. Wajah patung tampak tampan. Otot-otot tubuhnya bertonjolan, dadanya bidang. Bagian perutnya yang menonjol tampak tegang dan berukuran cukup besar. Dalam hati penunggang kuda berpakaian bangsawan ini bertanya-tanya, patung siapakah yang dibuat oleh si kakek tua ini?
"Jalan di sini begitu lebar. Kalau kalian mau lewat, silakan saja!" kata si kakek tanpa berpaling sedikitpun.
Pengawal laki-laki berpakaian bangsawan hampir saja membentak gusar jika saja laki-laki di depannya tidak cepat memberi isyarat agar pengawal merangkap tangan kanan itu diam.
"Orang tua, siapakah kau ini?" tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa pernah mengalihkan perhatiannya pada patung yang sedang diwarnai oleh si kakek. Sama sekali si pematung tidak menjawab, bahkan menoleh pun tidak. Tapi saudagar Bergola Mungkur tetap berusaha bersabar, walaupun di dalam hatinya menccaci makki.
__ADS_1
Bagaimana tidak?
Ia adalah orang yang sangat diseganidi kota Malaya karena kekayaan dan pengaruhnya yang besar terhadap pembesar-pembesar Pariangan. Jika hanya seorang pematung tidak mau menjawab pertanyaannya, berlagak tuli seperti babu. Tentu ia merupakan orang yang sangat istimewa atau paling tidak memiliki keterampilan yang sangat tinggi.