
Sampai sejauh mana Prisma Permata berpendar? Dan seberapa hebat kekuatan yang dimilikinya?
Hanya Datuk Alang Sitepu saja yang mengetahuinya. Sebagaimana pembicaraan yang sedang berlangsung di dalam ruangan pertemuan itu.
"Aku sekarang sudah menemukan cara untuk menggabungkan kekuatan yang kumiliki dengan kekuatan Prisma Permata ini. Hanya kita memerlukan waktu dan tempat yang aman untuk melakukannya."
"Datuk! Apakah tempat kediamanku ini tidak cukup aman?" tanya Diraja Penghulu Iblis.
Raja Penyihir ini menyeringai, Bibirnya yang menggelambir dan nyaris tanggal dari tempatnya bergoyang-goyang.
"Harus kuakui tempat ini sudah tidak aman lagi. Tamu-tamu yang tidak diundang berkeliaran disini pula."
"Aku menyediakan Ciruyung tempat tinggalku untuk menggabungkan dua inti kekuatan antara Prisma Permata dengan ilmu sihir Datuk!" Nyanyuk Pingitan menawarkan diri.
"Hmm, sebuah ide yang sangat baik. Aku setuju. Tapi bagaimana dengan kawan Buto Terenggi dan Diraja Penghulu Iblis?" Si Datuk lalu memandang lurus pada dua orang ini.
"Aku setuju saja. Asalkan semuanya sesuai dengan rencana kita!" Diraja Penghulu Iblis menyetujuinya.
Hanya Buto Terenggi saja yang tidak memberikan jawaban. Namun ia menganggukkan kepala.
Datuk Alang Sitepu tertawa. Sejenak setelah tawanya terhenti ia berkata
"Kalau semuanya sudah setuju, sekarang aku ingin mengajak Nyanyuk Pingitan pergi ke rumahnya. Anda berdua boleh menunggu disini untuk mengecoh musuh diluar! Sepekan mendatang anda boleh menyusulku jika aku tidak sempat datang kemari!" pesan Datuk Alang Sitepu.
"Baiklah. Aku meminta agar Diraja Penghulu Iblis dan Buto Terenggi menjaga keutuhan bakal istana yang akan kita bangun ini."
Setelah berkata begitu Nyanyuk Pingitan dan Datuk Alang Sitepu bangkit berdiri. Pada saat itu waktu sudah menjelang subuh. Berangkatlah kedua tokoh ini meninggalkan gunung Pangrangko.
Sementara itu pada saat yang sama, Dewi Bulan yang telah menyamar sebagai Pendekar Blo'on ini tengah tertidur pulas. Ia memang tampak letih sekali menghindari sikap Maya Swari yang begitu manja dan mengajaknya melakukan hubungan sebagaimana layaknya suami istri untuk yang kedua kalinya.
Bagaimana mereka dapat melakukannya. Sedangkan pendekar Blo'on palsu mempunyai kelamin yang sama. Dewi Bulan sebenarnya merasa geli sendiri, tapi juga khawatir. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika Suro Blondo yang berada di samping Maya Swari.
Paling tidak malam ini mereka sudah melambung ke surga. Walau sesungguhnya Suro Blondo hanya berpura-pura saja menjadi suami Maya Swari.
Setabah-tabahnya laki-laki, siapa sih orangnya yang tidak tergiur melihat kecantikan Maya Swari?
Dengan alasan terlalu lelah, Maya Swari rupanya mau mengerti juga. Ia pun kelelahan setelah lama membujuk demikian juga halnya dengan Suro Blondo palsu.
Dalam keadaan pulas sedemikian rupa, kedua orang ini sama sekali tidak tahu bahwa saat itu ada sosok bayangan mengendap-endap.
Bayangan itu tercipta dari api. Setelah sampai didepan pintu kamar Maya Swari. Bayangan tersebut berhenti. Matanya memandang liar kesekelilingnya untuk memastikan keadaan aman-aman saja.
Tidak lama tangannya bergerak, tangan itu sama sekali tidak menyentuh pintu. Tapi sungguh aneh, pintu terbuka. Si bayangan berkerudung itu menyelinap masuk. Setelah mulutnya berkomat-kamit. Tidak lama ia telah mendekati Maya Swari. Gadis ini sempat menggeliat, namun tidak terjaga.
Bayangan berpakaian gelap ini kemudian menotok urat gerak dan jalan suara Maya Swari. Gadis ini tersentak kaget dan terjaga. Matanya pun terbelalak lebar. Tapi sayang sudah terlambat, jangankan bergerak bersuara saja Maya Swari tidak mampu.
__ADS_1
Orang yang telah menotok gadis ini mempunyai maksud yang tidak baik. Bayangan itu tanpa menunggu lebih lama lagi langsung memanggul Maya Swari di pundaknya. Lalu menyelinap pergi dengan membawa Maya Swari.
Melihat caranya, tentu bayangan itu memiliki kepandaian sangat tinggi sekali. Sebab Dewi Bulan yang memiliki kepandaian tidak rendah sama sekali tidak terjaga dari tidurnya.
*
Ketika itu matahari mulai meninggi. Di salah satu lereng gunung Pangrangko. Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng tampak terheran-heran melihat dandanan pendekar Blo'on yang menjadi ka cung itu.
Rupanya tadi malam mereka tidak sempat melihat keadaan si pemuda berhubung begitu sibuknya mereka mengamankan Manusia Merah. Tapi kini setelah manusia Merah berada di tempat yang aman dan pulas pula. Mereka baru dapat melihat keadaan Suro Blondo yang sebenarnya.
"Kau...!"
"Ya, aku." Suro Blondo cengengesan sambil membetulkan topinya, berupa ikat kepala model ka cung.
"Bukan itu maksudku. Siapa namamu? Apakah kau punya gelar?" tanya Gajah Gemuk sambil uncang-uncang kaki, namun mata tetap tertuju pada Manusia Merah yang tengah tertidur.
"Aku Suro Blondo?"
"Apa? Suro Blondo?" Gajah Krempeng belalakkan mata. Teringat nama depan si pemuda, laki-laki kurus macam kurang makan ini teringat pula kejadian sekitar delapan belas tahun yang lalu.
"Apakah kau terlahir di gunung Bromo pada malam satu Asyuro delapan belas tahun yang lalu?" Gajah Gemuk ikut bicara.
"Kok tau...?"
"Ya tau... Pernah terjadi peristiwa besar disana. Jika benarlah kau anak ajaib sebagaimana dikatakan oleh seorang resi di pantai selatan pulau Jawa. Berarti sesuai dengan tanggal kelahiran kau manusia hebat. Tapi mengapa bertampang to lol seperti ini? Benarkah rambutmu merah?"
"Rambutnya hitam, kakang. Seperti bukan dia orangnya si bayi ajaib dulu." Gajah Kurus menimpali.
"Apakah ciri-cirinya seperti itu?" Suro Blondo bertanya. Tiba-tiba ia menuangkan air didalam kendi yang dibawanya. Rambutnya menjadi basah. Ketika rambut diusap, maka kelihatanlah warna yang asli.
"Hei... siapa kau ini yang sebenarnya anak muda?"
Hampir bersamaan Gajah Gemuk dan Gajah Kurus bertanya.
"Namaku Suro Blondo, tidak punya ibu tidak punya bapak. Orang-orang yang telah membunuh orang tuaku kini masih dalam pengejaran. Yang lain-lainnya aku tidak bisa katakan!"
"Ah malang benar nasibmu. Mengenai persoalanmu kita bicarakan saja nanti. Sekarang aku ingin bertanya mengapa kau menyamar sebagai ka cung?" tanya Gajah Gemuk heran.
"Seseorang yang memintaku begini. Karena aku memang tidak mau menikah dengan anaknya iblis." Suro Blondo berterus terang.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Seorang sahabat yang cukup lama kukenal." sahut Pendekar Blo'on, lalu tersenyum.
"Namanya? Sebutkan namanya?" desak Gajah Gemuk.
__ADS_1
"Sssst, bicara jangan keras-keras. Jika manusia Merah terjaga, mati kita semua." Si pemuda berbisik.
"Aku mengerti. Coba katakan siapa namanya?" Gajah Gemuk berbisik pula sehingga sekilas terlihat lucu.
"Dewi Bulaan...!" jawab Suro Blondo dengan suara keras lalu tertawa ngakak.
Gajah Gemuk sampai melompat kaget. Sebaliknya Gajah Krempeng malah menoleh ke arah Manusia Merah. Rupanya ia takut laki-laki tinggi lima meter berkulit merah darah ini terjaga.
"Dewi Bulan! Sekarang dimana dia?" desak Gajah Gemuk.
"Eeh... setelah kakek ketahui namanya mengapa sekarang malah jadi ngotot?"
"Bocah! Cepat katakan! Dan jangan pula kau panggil aku kakek!"
"Bagaimana ini. Mana yang harus kujawab duluan." tanya Suro Blondo sambil menyeka keningnya yang keringatan lalu garuk-garuk kepala seperti mo nyet.
"Kau harus memanggilku paman. Karena umurku paling baru sembilan puluh tahun...!"
Kini Suro Blondolah yang menjadi kaget. Orang yang dihadapinya termasuk Orang sinting. Masa' umur sudah bau tanah masih minta dipanggil paman? Pikir si pemuda.
"Baiklah paman. Dewi Bulan itu ahli dalam menyamar, punya tahi lalat di dagu. Aku yakin paman berdua akan tertarik padanya bila sudah melihat lesung pipitnya...!"
Jawaban yang ngaco ini membuat Gajah Gemuk jadi sewot. Sekali gebrak tangannya sudah mencengkeram kerah baju si pemuda, lalu diangkatnya pemuda itu tinggi-tinggi.
"Wei... mati aku...!"
"Cepat Jawab!"
"Bagaimana bisa jawab kalau leherku dicekik begini?"
"Jika punya kepandaian mengapa tidak dipergunakan!" dengus Gajah Gemuk.
Karena merasa sulit bernapas dan kepala serasa mau pecah akibat jepitan yang begitu kuatnya. Suro Blondo terpaksa lepaskan tendangan.
Buuk!
Tendangan yang sangat keras itu membuat cekalan Gajah Gemuk terlepas. Dan Suro Blondo terbanting di tanah. Ia tercengang melihat Gajah Gemuk hanya usap-usap perutnya yang kena ditendang. Memang Suro Blondo tidak mengerahkan tenaga dalamnya, karena ia merasa tidak punya permusuhan dengan laki-laki berat dua ratus kati ini. Tapi tendangan yang dilepaskannya tadi dengan mempergunakan seluruh tenaga luar. Jika Gajah Gemuk tidak mengalami akibat apa-apa. Ini sungguh menakjubkan bagi Suro Blondo.
"Duduk kurang ajar. Kau nakal sekali. Karena kau telah menendangku, sekarang aku harus memukulmu!" Gajah Gemuk cemberut.
Baru saja Gajah Gemuk hendak bergebrak. Tahu-tahu ada tangan kurus kering yang menahannya.
"Sabar kakang! Urusan kita masih banyak. Mengapa kita harus bertengkar?" kata Gajah Krempeng.
Lagi-lagi terjadi sesuatu yang sangat sulit dipercaya. Suro Blondo melihat Gajah Gemuk sudah mengerahkan tenaga dalamnya. Tapi begitu tangan Gajah Krempeng yang hanya sebesar lengan bayi itu menahan. Gerakan Gajah Gemuk jadi terhenti. Padahal si pemuda dapat memastikan, kalau ada angin kencang sedikit-sedikit saja menerpa badan Gajah Krempeng. Pastilah laki-laki berbadan tipis ini jatuh tunggang langgang.
__ADS_1
Tokh ia tidak dapat berpikir lagi, karena saat itu Gajah Krempeng yang tampaknya lebih penyabar ini telah menghadap kearahnya.
"Bocah...! Dewi Bulan adalah murid tunggal kami. Jika ada apa-apa, tentu kakangku ini akan menuntut mu. Sekarang coba katakan di mana dia!" desah Gajah Krempeng. Barulah Pendekar Blo'on mengerti.