Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
3


__ADS_3

Sementara itu lereng Gunung Bromo sebelah barat malam itu segera terkoyak dengan terdengarnya suara tangisan bayi. Suara tangisan bayi terdengar semakin lama bertambah semakin jelas.


Satria Purba yang baru pertama kalinya menimang anak tampak tergopoh-gopoh mengurusi anaknya yang baru terlahir ke dunia ini.


Tapi Golok Terbang ini tampak kaget sekali ketika melihat rambut anaknya tampak berwarna merah kehitam-hitaman. Selain itu pada bagian punggungnya terlihat sebuah


topel (Tahi lalat) sebesar ibu jari.


"Ya Gusti! Ramalan Pertapa itu ternyata benar!" desis Satria Purba dengan wajah berubah pucat.


Dewi Rini yang dalam keadaan terbaring


lemah di tempat tidur tampak heran melihat suaminya diam mematung di pinggir pemandian bayi yang telah disediakan.


"Kakang! Ada apa? Bagaimana anak kita? Laki-laki atau perempuan?" pelan sekali suara Dewi Rini.


"Aa... anak kita laki-laki. Dewi... ramalan Ki Begawan Sudra... ternyata...!"


"Ternyata apa...?"


"Benar!" desis Satria Purba. Si Golok Terbang langsung terdiam.


Sementara tangis sang bayi belum juga terhenti. Satria Purba tiba-tiba saja mendengar gemerisik semak-semak terinjak oleh seseorang.


Sing! Sing!


"Jingan!" terdengar suara makian seseorang.


Rupanya jebakan yang dipersiapkan oleh Satria Purba sejak sore hari untuk menjaga segala sesuatu yang tidak diingini telah melesat ke arah sasaran.


Kemudian dari arah lain terdengar suara jerit kematian dan suara sosok-sosok tubuh berjatuhan.


"Jingan! Sepasang Golok Terbang telah menjebakku dengan permainan usangnya!" maki seseorang.


Setelah itu terdengar suara mendesing yang


disertai suara menderu-deru. Pertanda bahwa orang-orang yang berada di luar pondok sedang berusaha menyelamatkan diri dari serangan perangkap yang telah dipersiapkan oleh Satria Purba.


"Ha ha ha...! Segala macam perangkap tikus kau pasang di sini! Aku Kala Demit mana kena dikadali!"

__ADS_1


Suara tawa yang dilanjutkan dengan ucapan menggeledek itu jelas-jelas mengandung tenaga dalam tinggi.


Pondok milik Sepasang Golok Terbang bergetar hebat. Satria Purba jadi tercekat. Ia


segera menyerahkan anak yang baru terlahir itu ke dalam pelukan istrinya.


"Lindungi anak kita dari tangan manusia-manusia busuk yang berada di luar sana!" pesan laki-laki berbaju hijau ini.


Seraya dengan cepat melompat ke samping pintu. Dewi Rini yang dalam keadaan lemah karena baru saja selesai melahirkan ini tidak


mungkin dapat melakukan banyak gerakan. Ia sendiri kemudian sambil mendekap anaknya segera mencabut golok yang terletak di bawah bantal.


Pada saat itu tiba-tiba saja terdengar suara berderak pada daun pintu. Sosok laki-laki berbadan kurus berambut awut-awutan dan berbaju tambal-tambalan sudah berdiri di depan pintu.


"Ha ha ha...! Kau bersembunyi di mana Satria Purba! Kulihat istrimu sudah melahirkan! Cepat serahkan anak itu padaku!" Laki-laki kurus bernama Kala Demit ini bermaksud menyerbu ke dalam kamar istri Satria Purba.


Tapi tiba-tiba dari samping kiri tampak berkelebat sinar putih menyilaukan menghantam perut dan bahu Kala Demit.


"Hanya manusia laknat saja yang berani bertindak macam-macam di rumahku!"


"Uts...! Gila...!" Kala Demit berseru kaget.


mengancam kesepuluh jalan darah lawannya.


Kala Demit menggeram marah. Ia mengibaskan tangannya ke bagianwajah Satria Purba. Laki-laki muda ini terpaksa tarik balik serangan untuk menyelamatkan muka. Tapi kemudian golok di tangannya membelok dan menyambar bahu Kala Demit.


Bret!


"Akh! Keparat! Manusia dungu, ***** ****! Kau benar-benar minta mati!" bentak Kala Demit.


Laksana kilat ia melompat ke belakang. Tapi


gerakannya langsung terhalang dinding penyekat ruangan. Sambil menotok jalan


darah pada bagian yang terluka. Kala Demit menggembor marah. Tiba-tiba ia mencabut senjata andalannya berupa kebutan yang dapat berubah menjadi kaku laksana baja.


Senjata maut yang jadi lambang kebesarannya selama malang melintang di rimba persilatan ini segera dikibaskan menyongsong tusukan golok yang terarah pada bagian lambungnya.


Angin sedingin es mengandung racun ganas menderu laksana badai topan prahara. Satria Purba tercekat dan terhuyung-huyung. Ia terpaksa menarik pulang tusukan goloknya. Untuk melindungi diri salah satu dari pasangan pendekar Golok Terbang ini

__ADS_1


lepaskan satu pukulan dahsyat 'Halimun Senja'.


Seleret sinar biru disertai hawa panas membakar langsung melabrak kebutan milik Kala Demit.


Bum! Bumm!


"Ugkh...!" Pukulan dahsyat yang dilepaskan Satria Purba ternyata sebagian membalik dan menghantam diri sendiri ketika Kala Demit secara terus menerus hantamkan kebutannya ke depan.


Laki-laki gagah berani ini terpelanting roboh. Tubuhnya mencelat keluar setelah sebelumnya menghantam dinding papan di belakangnya. Kala Demit tertawa panjang. Walaupun Satria Purba menderita luka dalam yang cukup parah. Namun dengan cepat ia bangkit berdiri dan langsung masuk ke dalam rumahnya melalui dinding yang bobol.


Braak! Braak!


Pintu bagian belakang pondok pada waktu bersamaan juga hancur berkeping-keping. Dua orang laki-laki berbadan katai berambut di kuncir ke atas tampak menyunggingkan senyum ke arah Kala Demit yang sedang tampak terkesima karena melihat Satria Purba ternyata masih hidup bahkan sekarang menyerangnya kembali dengan jurus-jurus golok Terbangnya yang sangat berbahaya.


"Hu huhu...! Ternyata nasib kami lebih bagus dari nasibmu, Kala Demit!


Silakan kau main-main dengan Golok Terbang! Sementara kami dengan bebas membawa bayi ajaib itu!" dengus salah seorang dari manusia katai itu.


Tubuh mereka tiba-tiba berkelebat ke dalam


kamar di mana Dewi Rini berada. Kala Demit marah bukan main. Ia bermaksud mengejar dua manusia cebol itu.


Tapi tekanan serangan gencar yang dilakukan Satria Purba, juga perlu diperhitungkannya. Akhirnya ia hanya mampu memaki panjang pendek.


"Dua katai *******! Jika kau bawa anak ajaib itu. Kau dan kembaranmu akan kubuntungi kepala dan kaki!" Untuk yang kesekian kalinya Kala Demit mengebutkan senjatanya.


Sementara itu, sebelum kedua manusia katai sampai di kamar Dewi. Dari arah barat tampak melesat cahaya putih seperti meteor. Cahaya putih menyilaukan mata itu kemudian tampak berputar-putar di atas atap rumah


Sepasang Pendekar Golok Terbang.


Kemudian ketika sinar seperti bintang


berhenti di tengah-tengah bubungan rumah. Maka satu larik sinar kecil berwarna sama menembus ke dalam pondok dan langsung menyinari sosok bayi yang tidak lagi menangis di samping Dewi.


Keanehan terjadi. Sinar yang hampir tidak dapat dilihat kasat mata itu tiba-tiba menggerakkan bayi. Kejadian itu tidak sempat dilihat Dewi. Karena perempuan muda yang baru melahirkan ini langsung menerjang sepasang manusia Katai yang tiba-tiba saja muncul di dalam kamarnya.


"Manusia-manusia iblis! Apa saja kerjamu di sini!" dengus Dewi Rini yang sama sekali tidak kenal dengan dua laki-laki asing ini.


"Serahkan anakmu! Jika kau ingin selamat!" perintah salah seorang di antaranya.

__ADS_1


"Makan senjataku!" teriak Dewi Rini. Secepat kilat tubuhnya telah melesat ke depan. Golok di tangannya dua kali lebih cepat bergerak menebas ke bagian dada kedua laki-laki katai ini.


__ADS_2