
"Cincang bang sat pendek itu!" teriak salah seorang lawan kepada tiga orang kawannya. Teriakan itu segera disambut dengan teriakan yang lain-lainnya. Lalu mengepung Wiro Suryo dari empat penjuru arah sekaligus.
"Hemm, nyali kalian memang cukup besar! Tetapi kemampuan tidak ada!" kata si kakek pendek mengejek. Ketika sedang bicara begitu, tiba-tiba terasa sambaran angin dingin dari bagian rusuk sebelah kiri. Tenggiling Kedil cepat berpaling. Dilihatnya sebuah clurit hampir menebas beberapa buah tulang rusuknya yang kecil-kecil.
Kakek berambut jarang ini melompat-lompat seperti seekor kodok. Lalu ia mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangan. Ketika tenaga dalamnya itu telah tersalur ke bagian telapak tangan. Maka sekujur tubuhnya tampak seperti memancarkan cahaya putih berkilauan. Kemudian Wiro Suryo melenting ke udara.
"'Aji Pancar Cahaya'! Shaaaa...!"
Disertai dengan teriakan keras menggelegar. Wiro Suryo mengibaskan kedua tangannya yang berwarna putih itu ke arah lawan-lawannya. Detik itu juga tampak melesat empat larik sinar putih menyilaukan mata. Sinar yang menebarkan hawa sejuk seperti di pegunungan ini langsung menghantam ke empat orang lawan-lawannya.
Buum!
"Huaakh...!"
Ke empat laki-laki tersebut jatuh terpelanting. Saat mereka masih melayang di udara. Dari mulut mereka menyemburkan darah. Begitu mereka terhempas di tanah maka jiwa mereka sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Tampak dengan jelas dari pori-pori mereka keluar darah berwarna hitam. Begitu dahsyat ajian yang dimiliki oleh Wiro Suryo ini. Sehingga lawan-lawannya yang tewas pun sudah tidak merasakan rasa sakit lagi.
"Mati yang sia-sia adalah kematian yang orang itu sendiri tidak tahu untuk apa membela orang yang bersalah!" kata si kakek.
"Weleh-weleh, perjalananku jadi tertunda gara-gara empat kroco pesing ini!" Tenggiling Kedil menggelengkan kepalanya. Ia baru saja bermaksud memutar langkah, ketika terdengar suara tidak jauh di belakangnya.
"Lima Iblis Clurit Maut, mati percuma membuang nyawa! Kita sekarang bertemu lagi. Aku gembira karena hutang lama segera terbalas!" bentak sebuah suara.
Wiro Suryo menunggu untuk beberapa saat lamanya. Karena yang bicara tadi tidak kelihatan juga maka ia segera menyahuti....
"Mendengar suaramu seperti burung hantu, aku mana kena ditipu! Kalau badan belum menjadi setan lebih baik tunjukkan diri. Walau kau dapat merubah suaramu seperti burung bangkai. Aku pasti mengenal tampangmu!"
"Hak hak hak...! Bagus kalau kau masih kenal diriku. Kau tinggal sebutkan kematian yang bagaimana yang kau mau?" dengus orang itu. Lalu terlihat sosok tubuh berkelebat ke arah Tenggiling Kedil. Tidak sampai sekedipan mata, tampak seorang laki-laki bertubuh jangkung berdiri tegak di depannya.
"Ternyata mataku tidak kena ditipu. Kau pasti Wiku Palawa yang kutinggalkan dalam keadaan sekarat di depan pagar tembok majikanmu, Iblis Betina Dari Neraka!" dengus Wiro Suryo ketus.
"Tidak pernah kupungkiri kehebatanmu! Sayangnya kau kemari tidak bersama-sama bocah miring itu. Apakah dia sudah mam pus?" e jek Wiku Palawa.
"Kawanku Suro Blondo tampangnya memang tol ol, namun otaknya cerdik. Sekarang mungkin ia sedang bertarung dengan Iblis Betina Dari Neraka Majikanmu!" pancing Wiro Suryo memanasi.
"Ha ha ha...! Bukan hanya tubuhmu saja yang membuat iba orang lain. Ternyata kau juga adalah seorang pemimpi. Bagaimana mungkin majikanku di Bukit Cadas Siluman dapat dikalahkan oleh bocah to lol itu. Sedangkan selain perkasa dia sendiri punya ratusan pengawal yang terdiri dari mayat-mayat hidup!" jawab Wiku Palawa. Tanpa ia sadari ucapannya barusan tadi sudah merupakan sebuah keterangan bagi Tenggiling Kedil.
"Walaupun Betina Dari Neraka punya seribu pengawal. Ia tidak mungkin lolos dari maut. Anak ajaib itu akan memenggal kepalanya, kemudian membuang tubuh Mustika Jajar ke taut Selatan!"
"Kepa rat pendusta! Kau hanya mengulur-ulur waktu saja! Kini giliranmu mati ditanganku." dengus Wiku Palawa.
"Jangan bicara seperti geledek. Buktikanlah kau punya kejantanan kalau tidak merasa malu." sahut Wiro Suryo disertai senyum.
Semakin panas hati Wiku Palawa mendengar ucapan lawannya. Tiba-tiba saja ia melompat ke depan sambil mengebutkan tongkat di tangannya. Si kakek tidak menyangka datangnya serangan secepat itu. Sehingga dengan telak tongkat lawan menghantam punggungnya.
Buuk!
__ADS_1
"Aduh... duh...!"
Wiro Suryo terhuyung-huyung. Sedangkan Wiku Palawa terus mendesak dengan serangan tongkat hitamnya. Jurus yang dipergunakan oleh Wiku Palawa juga tidak tanggung-tanggung. Ia mempergunakan jurus Tongkat Pelebur Darah. Hanya dalam waktu singkat tampak sinar hitam seakan mengepung Wiro Suryo dari seluruh penjuru arah. Kakek berbadan pendek setinggi setengah meter ini dibuat kalang kabut.
"Hih...!"
Tiba-tiba saja ia melambung tinggi ke udara. Setelah berjumpalitan beberapa kali tubuhnya meluncur deras ke arah lawan. Kakinya yang pendek menghantam kepala lawannya. Walaupun Wiku Palawa sudah berusaha merundukkan kepalanya serendah mungkin. Tetapi kaki Wiro Suryo terus mengejar dan....
Gladuk...!
"Wuaakh...!"
Laki-laki berpakaian serba kuning ini merasa dunia seakan berputar-putar. Kepalanya sakit berdenyut. Walaupun begitu tampaknya ia menjadi semakin nekad. Apalagi mengingat beberapa waktu yang lalu Wiro Suryo pernah mempermalukan dirinya dengan membuat sang Wiku tidak sadarkan diri.
Kini ia menyodokkan tongkatnya ke perut Tenggiling Kedil. Tetapi si kakek super pendek sudah menggelundung dan bergerak menjauh.
Cwieet!
Serangan Wiku Palawa hanya membeset angin. Rupanya hal ini membuat sang Wiku menjadi bertambah geram. Kemudian ia menggeser kakinya ke samping sebanyak dua langkah. Sedangkan tongkat hitam di tangannya ia putar dengan cepat, sehingga menimbulkan suara angin menderu-deru.
"'Sabetan Geledek' Shaaa...!" teriak Wiku Palawa.
Sambil terus memutar tongkat, Wiku Palawa melompat-lompat ke depan mendekati musuh bebuyutannya. Tongkat dikibaskannya ke arah lawan, sedangkan kaki menyapu bagian bawah tubuh Wiro Suryo. Serangan seperti ini jarang dilakukan oleh orang-orang rimba persilatan. Karena selain menguras tenaga, gerakannya pun sangat sulit.
Gdbuuk!
"Atauww...!"
Tenggiling Kedil meringis kesakitan sambil berjingkat-jingkat. Tampaknya Tenggiling Kedil tidak kapok. Tiba-tiba saja ia berguling-guling perut sang Wiku.
Buuk!
Lawannya sempat terdorong mundur. Tetapi sekejab kemudian ia sudah melompat dan menginjak dada Tenggiling Kedil.
Ngiik!
"Wei... orang gendeng, kualat kau menginjak dada orang tua!" teriak kakek konyol ini sambil meronta. Namun injakan kaki lawan semakin kuat. Malah Wiku Palawa menghantamkan tongkat di tangannya ke bagian kepala lawannya. Dengan gerakan yang sangat aneh, tubuh yang terinjak itu tiba-tiba meluncur ke depan. Sedangkan tongkat di tangan Wiku terus meluncur dan menghantam tulang kakinya sendiri.
Glotak!
"Aduuh...!"
Wiku Palawa menjerit kesakitan terhantam tongkatnya sendiri. Wiro Suryo yang sudah berdiri sepenuhnya usap-usap dadanya yang memerah. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha...! Agaknya otakmu benar-benar sudah miring. Masa kaki sendiri dipukuli. Makanya jangan terlalu bernafsu membunuh orang, otak di pakai, jangan asal mengumbar tenaga. Main serudak-seruduk macam ****. Dasar anak buahnya iblis!" teriak Wiro Suryo seperti sedang memarahi anaknya yang nakal.
__ADS_1
"Manusia bang sat! Makanlah nih tongkatku...!" geram Wiku Palawa.
Set!
Bet! Bet!
Tongkat hitam itu kemudian menderu-deru. Sesekali meliuk, menotok bagaikan seekor ular cobra yang sedang marah.
Menghadapi serangan yang bertubi-tubi ini penghuni Gunung Sembung segera mengerahkan ajian 'Suket Sekilen'. Hanya sebentar saja serangan-serangan lawannya tampak menjadi kacau dan tidak pernah mengenai sasarannya. Dalam penglihatan Wiku Palawa, setiap tusukan maupun gamparan tongkatnya mengenai bagian tubuh Tenggiling Kedil. Namun kenyataan yang di dapat sungguh sangat bertolak belakang sekali. Tidak satupun serangan itu mengena. Sebaliknya serangan balasan yang dilakukan oleh Wiro Suryo berulang kali menghantam dada maupun kening lawannya. Sehingga pelipis Wiku Palawa tampak mengucurkan darah dan membengkak sebesar telur ayam.
Sang Wiku tampaknya mulai bingung dan merasa kehabisan akal menghadapi orang tua yang sama konyolnya dengan Pendekar Blo'on ini. Akhirnya ia terpaksa melompat mundur ke belakang. Tongkat ditangannya ia campakkan ke samping. Tenggiling Kedil menanggapinya dengan tawa.
"Rupanya kau sudah jenuh mempergunakan tongkat, ya...? Sekarang apa kau mau mempergunakan tongkat kramatmu? Ha ha ha...! Sebaiknya jangan. Tongkat itu khusus untuk perempuan, mustahil kau memasukkannya ke lubang semut atau pantatku. Nanti semut-semut marah dan membuatmu menjadi konyol!" e jek si kakek rada-rada ngeres.
Pipi Wiku Palawa tampak menggembung menahan geram. Wajahnya merah padam. Tetapi ia tetap tutup mulut dan konsentrasi mengerahkan tenaga dalam ke bagian telapak tangan. Beberapa detik setelah kedua tangan itu telah menjadi hitam. Lalu....
"'Petaka Gila Durjana'! Hiyaa...!"
Disertai teriakan melengking seperti seekor serigala kelaparan, Wiku Palawa menghantamkan kedua tangannya ke depan. Sepuluh larik sinar hitam menebar bau busuk melesat bagaikan jilatan lidah api ke arah Wiro Suryo. Hanya beberapa saat kemudian sinar hitam tersebut menghantam Wiro Suryo.
Gledeng...!
"Aaaa...!"
Dengan telak pukulan tersebut menghantam tubuh lawannya. Wiro Suryo tergontai-gontai. Namun tidak ada satupun bagian yang kurang dari tubuhnya. Kiranya ketika lawan melepaskan pukulan tadi, Tenggiling Kedil membentengi dirinya dengan ajian 'Suket Sekilen'. Ketika debu lenyap dari udara, maka Wiro Suryo tertawa membahak. Ia berdiri bertolak pinggang.
"Pukulan picisan begitu kau pamerkan di depanku! Jika kau punya yang lebih ampuh lagi, kuberi kesempatan padamu untuk melepaskannya. Jika tidak kau bakal tidak mendapat pengampunan ke dua dariku!" dengus si kakek super pendek.
Wiku Palawa tercengang. Ia telah melepaskan pukulan tingkat paling tinggi yang ia miliki. Sosok di depannya pastilah bukan manusia, sebab bila manusia sungguhan. Paling tidak tubuhnya telah hancur berkeping-keping. Merasa tidak punya pilihan lain lagi, maka Wiku Palawa terpaksa mempergunakan asap pembius pemberian Mustika Jajar. Laksana kilat ia menyambitkan benda hitam sebesar kepalan tangan orang dewasa ke depan Wiro Suryo
Buum!
Begitu suara ledakan terdengar. Maka asap tebal langsung menebar ke arah Wiro Suryo. Sebagai orang yang telah kenyang makan asam garam rimba persilatan. Tentu ia mengetahui kekuatan apa yang terkandung di dalam tabir asap itu. Sehingga sejak awal, sebelum bahan pembius itu meledak ia telah menutup indera penciumannya.
"Aakkkh... mengapa begini...!" desis si kakek.
Kemudian tubuhnya tampak terhuyung-huyung. Setelah itu ia jatuh terlentang seperti orang yang tidak sadarkan diri.
Wiku Palawa merasa senang bukan main melihat lawannya roboh. Ternyata si pendek konyol ini masih kena diakali. Siapa kira akan semudah itu ia menangkap Wiro Suryo yang dianggapnya memiliki mukjizat tersebut.
"He he he...! Ternyata jalan pikiranmu sependek tubuhmu! Manusia sepertimu akan sangat berguna bila bergabung dengan kami!" kata Wiku Palawa.
Tanpa merasa curiga sedikitpun. Ia segera mendekati Tenggiling Kedil dengan maksud membawanya pergi ke Bukit Cadas Siluman. Namun diluar dugaan, Wiro Suryo membalikkan tubuhnya. Sedangkan kedua tangan dihentakkan ke arah lawan. Segulung sinar putih menderu. Begitu dekatnya jarak di antara mereka sehingga Wiku Palawa tidak sempat lagi menghindar. Tidak terelakkan lagi ajian 'Pancar Cahaya' yang dilepaskan Wiro menghantam tubuh lawannya. Nyawa Wiku Palawa putus seketika, sehingga dia tidak sempat lagi menyadari apa yang terjadi dengan dirinya. Wiro Suryo bangkit berdiri.
"Dia entah ke akherat atau neraka aku tidak perduli. Yang terpenting aku sudah mendapat petunjuk dimana iblis bersembunyi!" kata kakek kerdil itu sambil melangkah pergi.
__ADS_1