Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
44


__ADS_3

Suro Blondo dan Wiro Suryo memasuki sebuah bangunan yang dikenal dengan sebutan Curing Bencana. Namun ruangan itu terasa sepi. Seakan perempuan yang mereka cari-cari menghilang begitu saja bagaikan ditelan bumi.


"Apakah ini bukan jebakan, sobatku Tenggiling Kedil?" kata Suro Blondo khawatir.


"Kalau jebakan. Artinya kita sudah mulai masuk dalam perangkap. Tapi sebaiknya tak usah bersedih. Orang yang menjebak kita perempuan. Siapa tahu ia berkenan denganmu dan mengangkatnya menjadi pendampingnya. Bukankah kau juga yang enak?" kata Wiro Suryo sambil tertawa-tawa.


"Jangan bicara sembarangan. Dalam keadaan seperti ini rasanya tidak ada waktu bagi kita untuk bercanda!" sahut Pendekar Blo'on.


"Tenanglah, selama aku bersamamu. Kau tidak akan kesepian. Sebaiknya kita menuju ruangan yang terletak di sebelah kiri itu?" kata Wiro Suryo.


Sesuai dengan yang dikatakan oleh Tenggiling Kedil. Maka Suro Blondo belok ke kiri. Mereka sampai di sebuah ruangan-ruangan lainnya. Di dalam kamar itu terdapat sebuah ranjang seperti ranjang pengantin. Namun baik Wiro Suryo maupun Suro Blondo tetap tidak menemukan apa yang dicari-carinya.


"Lihatlah, Suro. Kau telah disediakan sebuah ranjang untuk malam pertama..." kelakar Tenggiling Kedil.


Pendekar Blo'on kerutkan keningnya. Ia tidak tahu arti ucapan manusia super pendek yang terus mengikutinya kemana pun ia pergi.


"Apa itu malam pertama?" tanya Suro lugu.


"To lolnya kau ini. Di malam pertama itu kau akan disuguhi makanan yang sangat istimewa di mana kau belum mendapatkannya pada waktu-waktu sebelumnya. Makanan itu sangat enak, matamu pasti terpejam karena begitu enaknya! Ha ha ha...!"


"Aku sering mendapat makanan yang enak. Jadi tidak usah mengolokku. Kau jangan bercanda terus, kita bisa mati di sini berdua...!"


"Tapi makanan yang satu ini lain, Suro...!"


"Diam! Gila kau!" dengus Pendekar Blo'on tidak suka.


Tenggiling Kedil akhirnya terdiam. Mereka terus melakukan pencarian. Sampai akhirnya menemukan sebuah lorong menuju bawah tanah.


"Mungkinkah ja hanam itu bersembunyi di bawah sana?" tanya Wiro Suryo.


Pendekar Blo'on garuk-garuk kepalanya. Ia sendiri tidak tahu apakah Betina Dari Neraka bersembunyi di ruangan bawah tanah atau tidak. Yang jelas mereka harus menemukan perempuan sesat itu bagaimana pun caranya. Maka tanpa ragu-ragu lagi Suro Blondo bersama Wiro Suryo menuruni anak tangga yang menghubungkan ke ruangan bawah. Baru beberapa langkah ia mengayunkan kakinya. Tanpa diduga-duga pintu di belakangnya tertutup.


Brak!


"Heh...!"


Suro Blondo terkejut sekali. Ia kembali berbalik dan berusaha mendorong pintu batu tersebut. Namun sedikit pun pintu tersebut tidak bergeming.


"Edan! Apa yang harus kita lakukan sekarang!" gerutu Suro Blondo sambil menggaruk kepalanya.


"Rasanya pintu ini memang tidak mudah untuk dihancurkan. Sebaiknya kita teliti dulu ada apa di sini. Baru kemudian kita cari jalan keluarnya dari sini!" kata Wiro Suryo.


"Orang ini benar-benar licik. Kita kena dikerjainya?"


"Berhentilah mengumpat. Dia bukan licik, tapi cerdik. Kurasa lebih baik kita ke sana sekarang juga!"


Sambil bersungut-sungut, Suro Blondo mengikuti apa yang dikatakan oleh si kerdil. Kira-kira dua batang tombak mereka melangkah. Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis.


"Kita memang telah dipersiapkan untuk terkubur di sini hidup-hidup!" ma ki Pendekar Blo'on.


"Semua ini gara-gara kau, Tenggiling Kedil. Ternyata bukan tubuhmu saja yang pendek. Tapi otakmu tidak dapat dipergunakan berfikir dengan baik!"


"Jangan marah-marah. Apa salahku?"

__ADS_1


"Apa salahmu? Bukankah kau yang menyuruhku belok ke kiri dan juga masuk ke bawah sini?"


"Kalau itu bukan aku yang salah. Dasar nasib kita saja yang apek!" sahut Wiro Suryo seenaknya.


Pendekar Blo'on tidak sempat lagi menanggapi ucapan sobat tuanya yang terus bergelantungan di pinggang Suro Blondo. Karena ia terpaksa menghindari serangan ular-ular itu dengan cara melompat-lompat seperti seekor monyet yang sedang menari-nari.


Ternyata ular-ular yang dihadapinya sangat ganas sekali. Sehingga Pendekar Blo'on kehilangan kesabarannya.


"Hiyaa...!"


Tuk! Tuuk!


Zzssst!


Dengan mempergunakan jari tangannya. Suro Blondo segera menyambut serangan ular-ular berbisa tersebut.


Beberapa diantara binatang melata itu dibuat hancur kepalanya. Ada pula yang digigitnya hingga putus menjadi dua. Pendekar Blo'on Sendiri tidak luput dari patukan ular-ular tersebut. Tapi bisa ular-ular itu tidak berakibat apa-apa karena Suro Blondo memang kebal terhadap segala macam gigitan ular. Tidak lama sebagian dari ular-ular yang selamat melarikan diri. Satu kesalahan dilakukan oleh Pendekar Blo'on. Ia memburu ular-ular itu. Wiro Suryo tiba-tiba berteriak.


"Awas...!!"


Peringatan Tenggiling Kedil terlambat. Jeruji besi di belakang Suro Blondo melorot turun dan menutup jalan keluar bagi mereka berdua.


"Kurang ajar! Kita terperangkap!" desis Pendekar Blo'on kaget.


"Seperti yang kukatakan. Iblis itu ternyata lebih cerdik dari kau." Jawab Tenggiling Kedil


"Apakah kau sendiri menganggap dirimu cerdik?" cibir pemuda berambut hitam kemerahan ini tidak mau kalah.


"Tentu aku lebih pandai dari kau!" sahut Wiro Suryo Seenaknya.


Karena jeruji tersebut tidak dapat dibukanya. Suro Blondo terpaksa melepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'.


"Heaaa...!"


Wut! Wut!


Der!


Jeruji itu sama sekali tidak bergeming. Malah langit-langit ruangan bawah tanah menunjukkan tanda-tanda akan runtuh.


"Jangan kau teruskan lagi, Suro!" cegah Wiro Suryo setelah melihat keadaan yang cukup gawat itu.


"Kenapa rupanya?" tanya Pendekar Blo'on tidak mengerti.


"Ruangan ini bisa runtuh jika kau terus melepaskan pukulanmu. Jika itu terjadi, maka kita terkubur hidup-hidup di sini. Pernahkah kau bayangkan betapa enaknya meregang ajal dalam keadaan sehat seperti kita-kita ini?"


"Kau jangan mengolokku, kerdil berjenggot. Kita dalam keadaan kesulitan. Tapi kau masih bisa tertawa."


"Ho ho ho...! Haruskah aku menangis dalam keadaan panik seperti sekarang? Atau aku harus tertawa dalam keadaan senang? Gila betul!"


"Ya... kau betul-betul gila. Satu purnama lagi aku bersamamu. Aku bisa ketularan penyakit gendengmu!"


"Sebelum bertemu aku saja kau memang sudah edan. Apalagi sekarang. Paling juga tambahnya sedikit saja!"

__ADS_1


Suro Blondo baru saja ingin mengatakan sesuatu. Namun ia terpaksa menelan ucapannya kembali saat mendengar suara tawa panjang seseorang. Suara tersebut menggetarkan lantai ruangan. Bahkan kemudian lantai runtuh. Maka terperosoklah Suro Blondo ke dalamnya.


Tetapi sebelum Pendekar Blo'on dan Wiro Suryo benar-benar tercebur ke dalamnya ia berusaha mengerahkan segenap kemampuannya untuk tidak terjatuh di dalamnya. Usaha yang dilakukannya ini hanya sia-sia saja. Karena ia tidak mungkin terus mengambang di udara.


Byuur!


"Gila! Ah... apa yang menggigitkuini...?" tanya Pendekar Blo'on pada Wiro Suryo.


"Melihat bau dan licinnya. Kurasa kita telah terperangkap ke dalam kolam lintah!" sahut Wiro Suryo sambil berusaha mengusir makhluk-makhluk kecil panjang itu dengan cara mengibaskan tangannya.


"Gila betul. Kita bisa kehabisan darah. Anehnya bang sat itu mampu meruntuhkan lantai ruangan ini hanya dengan tertawa."


"Kau yang to lol. Tentu dia sudah menggerakkan peralatan rahasianya yang telah dipersiapkannya untuk menyambut kehadiran kita!"


"Ha ha ha...! Kalian berdua seperti tikus masuk ke dalam perangkap. Kalian segera mati kehabisan darah. Kalaupun bisa selamat. Kalian tetap tidak bisa keluar dari situ! Tunggulah seminggu lagi Pendekar Blo'on. Kau pasti akan mendapat hukuman dariku!" kata sebuah suara.


"Bang sat pengecut!" ma ki Suro Blondo geram.


"Hik hik hik...!"


Suara tawa segera lenyap dan berganti dengan kesibukan Wiro Suryo dan Pendekar Blo'on untuk membebaskan diri mereka.


*


Perkasa duduk santai di tengah-tengah ranjang. Sementara Mustika Jajar tampak mondar-mandir di dalam ruangan itu. Ia seperti memikirkan suatu cara untuk membunuh lawan-lawannya yang sudah masuk dalam perangkap.


"Apa yang junjungan pikirkan? Tetua seharusnya tidak usah memikirkan yang rumit-rumit. Karena hal itu hanya membuat wajah tetua menjadi keriput." kata Perkasa, laki-laki sakti yang berasal dari patung ciptaan Pematung Kelana.


"Kau memang pandai mengambil hati, Perkasa. Kau orang yang kukagumi. Sekarang ambilkan tuak keras untukku! Malam ini kita rayakan kemenangan kita!" kata Betina Dari Neraka.


"Apa pun perintahmu. Aku selalu menurutinya gadis cantik!" sahut Perkasa.


Laki-laki bertubuh tegap tinggi dan hanya memakai koteka ini berlalu meninggalkan majikannya. Mustika Jajar memperhatikan kepergiannya dengan tatapan penuh arti.


Tidak lama kemudian Perkasa telah datang kembali sambil membawa dua kendi tuak keras. Ia langsung memberikannya pada Mustika Jajar.


"Kau mau mengawalku?" Betina Dari Neraka menawarkan.


Perkasa tentu saja tidak menolak. Ia menerima tuak itu lalu meneguk isi kendi yang diberikan padanya hingga tuntas.


"Malam ini kita merasakan segala-galanya, Perkasa. Kita dapat berbagi cinta. Cintaku yang membara selama beberapa purnama ini." kata gadis cantik berpakaian ketat warna ungu ini sambil meneguk araknya.


"Kemarilah, kekasihku!" Mustika Jajar yang ketika itu duduk di pinggir ranjang melambaikan tangannya. Perkasa tentu saja tidak menampik. Apalagi ia berasal dari kekuatan iblis.


"Berilah kehangatan yang kudambakan kepadaku!" desis Mustika sambil memeluk Perkasa. Matanya setengah redup. Bibirnya yang tipis terbuka mengundang gairah.


"Dengan senang hati aku akan memenuhi permintaanmu, tetua. Kau pasti tidak akan kecewa. Karena aku dapat membuatmu puas di dalam sorga dunia!" kata Perkasa.


Tangan Mustika Jajar menggerayang kemana-mana. Sebaliknya Perkasa mulai melepaskan pakaian gadis cantik itu satu persatu. Sehingga dalam waktu sekejap tubuh mulus Mustika Jajar sudah berada dalam keadaan telanj ang dan menantang sekali untuk dijamah. Perkasa ******* habis bibir Mustika, tangannya yang kokoh meremas dada Mustika yang telah berubah mengeras.


Dua insan yang berlainan jenis ini memang sudah sama-sama lupa daratan. Sampai pada akhirnya mereka saling menyatu. Mustika Jajar mengerang penuh rasa nikmat. Ia memeluk dengan erat tubuh Perkasa yang bidang.


"Oh... aahh... Perkasa. Ka... kau jangan hentikan...!" desis Mustika Jajar.

__ADS_1


Pelita di dalam ruangan itu bergoyang-goyang ditiup angin. Bahkan setelah itu tampak redup hingga akhirnya padam. Suara erangan di dalam kamar semakin mendayu-dayu. Terlebih-lebih ketika sesuatu memasuki diri Mustika Jajar. Ia menjerit keras. Bukan jerit kesakitan. Melainkan jerit penuh rasa nikmat yang tidak terkira. Selanjutnya suasana dalam ruangan itu berubah sepi. Hanya sesekali saja terdengar desah nafas lega dan kata-kata manja seorang perempuan. Memang tidak dapat dipungkiri, setelah kejadian itu. Maka kejadian-kejadian yang sama terus terulang.


Lalu bagaimanakah nasib Pendekar Blo'on. Dapatkah mereka menyelamatkan diri? Hukuman apa yang akan dijatuhkan Betina Dari Neraka pada Suro Blondo?


__ADS_2