
Dengan langkah terhuyung-huyung. Perkasa kembali ke Bukit Cadas Siluman dengan membawa kekalahannya. Ketika itu di bagian bangunan depan yang belum jadi sepenuhnya tampak sepasukan mayat hidup sedang berjaga-jaga. Selain mayat-mayat hidup ini masih ada lagi beberapa orang laki-laki berpakaian serba hitam. Mereka juga adalah anak buah Iblis Betina Dari Neraka yang berhasil ditundukkan oleh Wiku Palawa.
Mustika Jajar sedang mondar-mandir di dalam ruangan pribadinya ketika pintu depan terkuak dengan paksa. Ia tampak terkejut juga saat melihat Perkasa dalam keadaan terluka.
"Kekasihku, apa yang terjadi denganmu?" tanya Mustika Jajar. Gadis cantik itu segera menghampiri kekasihnya. Kemudian ia memapahnya menuju ke tempat tidur.
"Pemuda to lol itu telah melukaiku.Dia tidak sendiri, melainkan datang bersama seorang gadis air." Lapor Perkasa dengan suara timbul tenggelam tidak beraturan.
"Dewi air maksudmu?"
"Ya...."
"Kepa rat! Suro Blondo kelewat berani bertindak sewenang-wenang terhadapmu! Rupanya dia belum tahu bahwa melukai dirimu sama saja artinya menyakiti aku. Jangan khawatir kekasihku. Bila si kepar at itu datang ke sini. Tentu tidak ada jalan hidup baginya dan sebuah kubur telah kusediakan buatnya!"
"Dia sangat kuat sekali!" sergah Perkasa seakan ragu.
"Biarkan dia punya kekuatan selangit tembus, namun aku adalah Iblis Betina Dari Neraka. Tidak ada yang dapat mengalahkan orang sepertiku! Nah sekarang kau istirahatlah. Aku akan menyediakan obat-obatan untukmu...!" kata Mustika Jajar.
"Tunggu Junjunganku!"
Si gadis hentikan langkah.
"Ada apa?"
"Apakah kau lupa bahwa setiap penyakit yang kuderita tidak ada obatnya? Tubuhku tidak seperti manusia biasa. Badanku tidak bisa menyerap obat apapun. Terkecuali yang satu itu...!" Perkasa tidak melanjutkan kata-katanya. Tetapi Mustika Jajar cepat tanggap. Maka ia pun tertawa mengikik.
"Hik hik hik...! Hemm, akupun hampir lupa bahwa kau tidak pernah makan dan tidak pernah tidur. Makananmu adalah cinta...! Tetapi apakah kau sekarang sudah siap melakukannya?" tantang si gadis.
"Dalam keadaan hancur sekalipun aku selalu siap melakukan yang satu itu!" sahut Perkasa.
Mustika Jajar tersenyum. Tanpa membuang-buang waktu lagi ia segera melepaskan kancing-kancing bajunya. Setelah melepaskan seluruh pakaian yang menutupi auratnya. Maka ia langsung memeluki tubuh Perkasa. Dadanya yang membusung menekan dada Perkasa yang bidang. Dengan agresip sekali ia menjatuhkan ciuman bertubi-tubi di bibir dan leher kekasihnya. Perkasa menggeliatkan tubuhnya. Terdengar suara erangan dari mulut laki-laki penjelmaan patung tersebut.
"Perkasa. Kau tidak boleh mati, tanpamu hidupku akan menjadi sunyi. Tiada yang dapat menghilangkan dahaga yang kurasakan. Kau adalah segala-galanya bagiku!" desis si gadis dengan mata setengah terpejam.
Perkasa segera beraksi atas apa yang terjadi pada dirinya ia memeluk Mustika Jajar dengan erat. Sementara tangannya yang kokoh bergerak nakal ke sekujur tubuh si gadis, sehingga membuat Mustika Jajar menggelinjang.
"Per ka sa... se ka rang.... Cepatlah lakukan...!" bisik Mustika Jajar di telinga Perkasa.
Apa yang terjadi kemudian terasa begitu cepat. Saat Perkasa memasuki diri si gadis. Maka Mustika Jajar menjerit lirih, sedangkan pelukannya semakin bertambah erat saja.
__ADS_1
Apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Selanjutnya hanyalah dinding kamar yang menjadi saksi bisu atas perbuatan mereka. Sampai akhirnya mereka sampai pada puncak pendakian. Mustika Jajar terkapar di sisi kekasihnya. Gadis cantik itu tersenyum puas. Sedangkan diluar sepengetahuan Mustika Jajar. Luka-Iuka yang diderita oleh kekasihnya secara perlahan hilang dengan sendirinya.
"Walaupun dalam keadaan terluka, ternyata kau masih tetap hebat, Perkasa!" puji si gadis sambil menyeka bukit-bukit di dadanya yang berkeringat.
Perkasa hanya tersenyum. Tidak lama ia sudah bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir di tengah-tengah ruangan. Seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Cepat atau lambat dia pasti datang kemari! Disaat itulah seluruh anak buahku menghabisinya!" dengus si gadis sambil mengenakan pakaiannya kembali.
"Kuharap junjungan mampu membunuhnya!" kata Perkasa seakan merasa sangat khawatir,
"Tidak usah takut. Aku adalah orang nomor satu di kolong langit ini! Tidak seorang pun dapat mengalahkan aku!" sahut gadis itu dengan segala keangkuhannya.
*
Sementara di halaman depan, mayat-mayat hidup terus berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Pada kesempatan itu tiba-tiba di langit sana terdengar suara gemuruh disertai pekikan-pekikan burung yang sangat banyak sekali jumlahnya.
"Kek... kreak... kreak...!"
Burung-burung bangkai semakin banyak berdatangan. Setelah kawanan burung bangkai itu memenuhi langit di atas Bukit Cadas Siluman. Maka tiba-tiba saja terdengar suara siulan. Gelombang suara siulan tersebut tidak beraturan.
"Bunuh...!"
Terdengar bentakan mengandung perintah. Dengan serentak dan disertai suara teriakan keras. Maka burung-burung pemakan bangkai itu meluncur turun menyerang mayat-mayat hidup. Para pengawal Mustika Jajar tampak menjadi panik. Mereka segera melakukan perlawanan. Tetapi burung-burung bangkai menjadi semakin ganas. Rupanya mereka mengetahui bahwa yang mereka serang sebenarnya adalah bangkai-bangkai hidup yang menjadi sumber makanan mereka. Mayat-mayat hidup menjadi panik, daging busuk mereka tercabik-cabik di sana-sini. Tetapi mereka dengan sengit melakukan serangan balasan. Tangan mereka mencengkeram setiap burung-burung yang hinggap di bahu atau di kepala mayat-mayat ini.
"Pasukan hitam, mengapa kalian hanya diam menonton!" teriak si gadis ditujukan langsung pada belasan laki-laki bersenjata golok besar.
Mendapat perintah dari atasannya, maka belasan orang berbaju hitam itu langsung mencabut goloknya dan membantu mayat-mayat hidup.
"Perkasa! Burung-burung kepa rat itu bagianmu." tegas Mustika Jajar.
Perkasa pemuda gagah penjelmaan patung karya cipta Pematung Kelana dengan cepat mendongak ke langit. Di atas sana ia melihat ratusan ekor burung bangkai sedang terbang berputar-putar di sertai suara kak-kik-kok memekakan telinga. Pemuda itu tiba-tiba mengibaskan kedua tangannya ke udara. Secara spontan tampak bunga api meluncur deras membelah udara. Lalu....
Blar! Blaar!
Pukulan dahsyat yang dilepaskan oleh Perkasa menghantam burung-burung pemakan bangkai tersebut.
"Kek...!"
Burung-burung itu berkaparan mati dengan tubuh hangus seketika. Walaupun begitu sebagian besar di antaranya selamat. Burung-burung yang selamat kembali menyerang pengawal yang terdiri dari mayat-mayat hidup maupun pengawal Iblis Betina Dari Neraka yang memakai baju hitam.
__ADS_1
Hanya dalam waktu yang singkat mayat-mayat hidup itu kehilangan daging-daging busuk yang menempel pada badan mayat. Mayat-mayat itu jatuh bangun. Namun meskipun tinggal tulang belulang mereka bangkit lagi dan kembali menyerang kawanan burung-burung tersebut sehingga suasana di sekeliling tempat itu menjadi hingar-bingar.
Semakin lama pertarungan antara kawanan burung-burung bangkai dengan pasukan mayat hidup pengawal Mustika Jajar berubah menjadi semakin seru. Sudah banyak pula burung-burung bangkai yang mati, sebaliknya walaupun mayat-mayat hidup tersebut tercabik-cabik. Namun mereka masih tetap bertahan seakan tidak ada sesuatu apapun yang berkurang dalam diri mereka.
Lama kelamaan jumlah burung pemakan bangkai itu semakin menyusut. Tampaknya mayat-mayat hidup berada dalam kondisi yang menguntungkan. Pasukan berpakaian serba hitam yang melihat kenyataan ini segera berlompatan mundur. Sampai akhirnya mereka membentuk barisan seperti semula. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan di sertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
"Tahan...!"
Mayat-mayat hidup tampak terhuyung ke belakang. Dari arah lain terlihat seorang laki-laki memakai topi caping berjalan mendekati Mustika Jajar.
"Harum benar bau disini? Pasukan mayat. Setahuku hanya Tua Tengkorak Mata Api saja yang memiliki ilmu iblis Pembangkit Mayat. Tidak kusangka gadis secantik dan semudamu mempunyai kekuatan langka itu. Apa hubunganmu dengan Tua Tengkorak Mata Api?" tanya kakek bertopi caping bambu itu penuh selidik.
"Hik hik hik...! Kau sendiri siapa? Apakah burung-burung bangkai itu milikmu?" Mustika Jajar malah balik bertanya. Seakan pertanyaan kakek berwajah seperti terbelah ini hanya angin lalu saja.
"Akulah Datuk Tabala Muka alias Si Burung Bangkai!" jawab si kakek ketus.
"Sekarang coba kau sebutkan kau punya nama atau gelar kalau punya. Dan katakan pula siapa nama gurumu?"
"Aku Mustika Jajar alias Betina Dari Neraka. Guruku memang Tua Tengkorak Mata Api." jawab si gadis.
Jika semula wajah di balik topi caping bambu tampak berseri-seri mendengar julukan Mustika Jajar. Maka setelah gadis berpakaian tembus pandang ini menyebutkan nama gurunya. Maka wajah yang seperti terbelah itu tampak berkerut. Kini setelah mendengar nama gurunya. Maka keinginannya untuk menjajaki kehebatan Iblis Betina Dari Neraka hilang seketika.
"Benar kau muridnya Tua Tengkorak Mata Api?"
"Kau tidak percaya silakan mam pus dulu dan tanyakan kebenaran di neraka...!" kata si gadis.
"Ha ha ha...! Pulau Pelebur Dosa. itu jauh dari mata jauh pula dari hati. Sengaja kucari kau ke sini semata-mata ingin menghapus julukanmu yang kelewat muluk itu. Tidak kusangka kau muridnya Tua Tengkorak Mata Api. Si tua bengal yang kehilangan matanya karena ingin menjajal kehebatan Malaikat Berambut Api...!" desis Datuk Tabala Muka.
Jika semula Iblis Betina Dari Neraka telah bersiap-siap menjaga segala kemungkinan. Maka sekarang setelah kakek di depannya ada menyebut-nyebut nama gurunya. Maka Mustika Jajar jadi bertanya-tanya dalam hati. Siapa agaknya orang tua ini?
"Kau mau membunuhku? Apakah kau mampu?" tanya si gadis dengan senyum menantang.
"Semula memang.... Tetapi sekarang tidak lagi...!" jawab Datuk Tabala Muka tegas.
"Hik hik hik...! Mengapa? Apakah karena kau merasa terpikat dengan kecantikanku dan kemulusan tubuhku atau kau takut mam pus?" e jek Iblis Betina Dari Neraka.
"Hak hak hak...! Datuk Tabala Muka tidak pernah mengenal rasa takut kepada siapapun. Jika benar-benar kau muridnya Tua Tengkorak Mata Api. Apakah manusia Maha Sesat itu tidak pernah bercerita kepadamu tentang adik seperguruannya yang tinggal di Pulau Pelebur Dosa?" Mustika Jajar terdiam. Tiba-tiba ia berseru....
"Guruku memang pernah bercerita tentang adik seperguruannya yang berjuluk Si Burung Bangkai... andakah orangnya?" tanya si gadis.
__ADS_1
"Ha ha ha...! Di dunia ini hanya ada satu julukan Si Burung Bangkai. Tidak kusangka aku punya murid keponakan yang mempunyai ambisi besar sepertimu! Betapa Tua Tengkorak Mata Api akan bangga kepadamu!"
Melihat kenyataan bahwa Datuk Tabala Muka masih merupakan paman gurunya sendiri, maka Mustika Jajar segera menjura hormat dan sikapnya pun berubah menjadi ramah.