
"Dewi sendiri yang meminta untuk menggantikan kedudukanku sebagai pengantin. Karena saat ini dia sedang bersenang-senang dengan putri Diraja Penghulu Iblis! Ha ha ha...!"
"Huh... kalau begitu dia dalam keadaan berbahaya. Bagaimana ini adik Krempeng?"
"Kita bisa menyelamatkannya. Mari kita kesana...!"
"Tapi manusia Merah ini bagaimana pula?"
"Untuk sementara biarkan Suro Blondo yang menjaganya!"
"Mana aku bisa?" Pendekar Blo'on membantah.
Tapi percuma saja, kedua gajah itu telah pergi.
Sekarang tinggallah Suro Blondo seorang diri. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Terkecuali diam menunggu sampai Manusia Merah sadar dari pingsannya.
"Kalau aku tetap berada disini keadaan bisa jadi kacau. Manusia Merah ini pingsan seperti mendengkur dan mendengkur seperti pingsan. Aku tidak tahu apakah penyamaran sudah terbongkar atau belum. Tapi.... "
Suro tiba-tiba saja terdiam begitu melihat Manusia Merah menggeliat.
"Oh... oh... moga saja jangan bangun sampai dunia kiamat!" desis Suro sambil mengurut dada.
Apa yang diharapkannya itu ternyata tidak kesampaian. Karena Manusia Merah begitu mengerjabkannya matanya langsung duduk. Begitu tingginya dia, sehingga dalam posisi seperti itu tingginya sudah menyamai Pendekar Blo'on yang tengah berdiri.
"Laaa... ladalah... dimana aku. Dimana musuh-musuhku. Kurang ajar, Prisma Permata milikku diambil orang. Aku harus mencarinya. Bau badannya aku tahu. Orangnya harus kutangkap!" kata Manusia Merah alias Soma Sastra.
Matanya mencari-cari. Ee... dia melihat ada seorang pemuda tidak dikenal didepannya.
"Kau siapa? Kaukah orangnya yang telah menyeretku?"
"Mati aku!" Suro Blondo keluarkan keringat dingin. Terbayang olehnya mulut Soma Sastra dapat menyemburkan lidah api. Sehingga diam-diam ia bergidik seram.
"Aku Suro Blondo, seorang kawan yang juga ingin menangkap orang yang telah mencuri Prisma Kristalmu."
"Heh... kawan? Seingatku aku tidak punya kawan. Apakah kau bisa kupercaya?" Manusia Merah meragu.
"Harus. Kau harus percaya hanya padaku. Karena di dunia memang sangat jarang orang yang bisa dipercaya. Selain aku kau tidak punya kawan lagi. Musuhmu ada dimana-mana!"
"Hmm, begitukah?"
"Iya. Kulihat kau mempunyai kecerdikan yang lambat, kawan. Lihatlah aku juga begitu. Lihat tampangku pula... dimana-mana kau tidak akan pernah bertemu dengan orang sepertiku. Hanya manusia yang punya tampang sepertiku ini saja yang dapat menjadi kawanmu!" kata Suro Blondo sambil tertawa-tawa.
Cuping hidung Soma Sastra kembang kempis. Seakan ia mengendus dan berusaha mengenali lawan bicaranya. Setelah itu Manusia Merah ini tertawa ngakak.
Kini giliran Suro Blondo yang dibuat pontang-panting. Suara tawa manusia merah tidak ubahnya seperti rentetan halilintar yang Maha Dahsyat. Sungguhpun Suro Blondo telah menutup indra pendengarannya. Tetap saja pengaruh suara tawa itu membuat jantung dan isi kepalanya terguncang.
Pendekar Blo'on jatuh bangun. Kedua matanya telah berubah memerah karena menahan rasa sakit yang sangat.
Patut diakui getaran suara Manusia Merah ini menimbulkan gempa disana sini. Bahkan bangunan milik Diraja Penghulu Iblis pun sempat tergetar.
"Hentikan...!" teriak Pendekar Blo'on.
Tidak kalah kerasnya pemuda itu berteriak. Soma Sastra hentikan tawanya seketika. Ia kemudian berpaling dan memandang tajam pada Suro.
"Mengapa harus berhenti kawan. Setelah aku terkurung dibawah tanah selama seratus tahun. Mengapa tidak boleh tertawa?"
Suro sesungguhnya kaget juga. Tapi ia kemudian bicara apa adanya
__ADS_1
"Suara tawamu membuat gunung runtuh dan lautan bergelombang. Aku tidak kuat mendengarnya. Eeh... apakah kau bersungguh-sungguh mau mengangkat sahabat denganku?"
"Hmm, kurasa begitu. Tapi aku perlu mencari Prisma Permata yang telah dicuri maling. Tanpa prisma itu pulau Jawa bisa tenggelam."
"Jangan takut. Aku akan membantumu, tapi bagaimana caranya?"
Manusia Merah menggelengkan kepala.
"Tidak akan semudah itu kawan. Sekarang aku sudah tidak mengendus lagi bau si pencuri. Mungkin ia sudah pergi ke suatu tempat! Aku harus menyusulnya sebelum bahaya besar mengancamku!"
Soma Sastra bangkit berdiri.
"Selamat tinggal kawanku. Ditengah jalan nanti aku akan membantai siapa saja yang kutemui karena mereka musuhku!"
"Betul, golongan iblis memang musuh kita. Selamat jalan!" Suro Blondo melambaikan tangannya persis diatas kuping.
Manusia Merah segera melangkah pergi. Langkah kakinya panjang dan berat, hingga dalam waktu sekejap ia telah tidak terlihat lagi.
Barulah pada saat itu Pendekar Blo'on teringat sesuatu. Ia tepuk-tepuk keningnya.
"Ah mengapa bo doh sekali aku ini. Kalau ia membantai semua orang yang ditemuinya di jalan. Bukan tidak mungkin orang-orang tanpa dosa menjadi sasarannya. Tapi... eeh, apa pula itu...?"
Pemuda yang baru saja berniat menyusul Soma Sastra ini menjadi menunda niatnya saat terdengar suara teriakan disertai beradunya senjata tajam membelah keheningan pagi menjelang siang.
"Siapakah yang sedang bertempur itu?" batinnya dalam hati.
Laksana kilat ia bergegas pergi menuju tempat terjadinya pertempuran tersebut. Hanya dalam beberapa detik saja ia sudah sampai di lingkungan bangunan besar milik Diraja Penghulu Iblis.
Bangunan itu tetap utuh sebagaimana mestinya. Padahal tadi malam bangunan ini seperti dimakan api. Tapi pendekar Blo'on segera maklum bahwa apa yang dilihatnya tadi malam hanyalah permainan sihir seseorang. Dalam arti Manusia Merah telah tertipu. Hanya para pengawal yang bergelimpangan tanpa nyawa saja yang kelihatan.
Sedangkan yang menjadi lawan mereka adalah Buto Terenggi dan Diraja Penghulu Iblis.
Suro Blondo melihat saat itu Dewi Bulan telah terluka pada bagian bahu dan tangannya. Mengapa gadis itu sampai terlibat pertempuran dengan Buto Terenggi?
Pagi-pagi sekali Diraja Penghulu Iblis memanggil putrinya melalui seorang pengawal yang tersisa. Ia memang ingin membicarakan masalah yang tertunda tadi malam.
Tapi begitu pengawal ini sampai dikamar Maya Swari, gadis itu tidak berada ditempat. Dewi bulan yang menyaru sebagai Suro Blondo yang juga sempat terkejut melihat raibnya Maya Swari mengaku terus-terang bahwa Maya Swari hilang.
Spontan pengawal tadi melapor pada Diraja Penghulu Iblis. Tidak pelak lagi Dewi Bulan pun dipanggil dan terbongkarlah penyamarannya. Melihat kenyataan ini Diraja Penghulu Iblis menjadi panik, lalu ia memanggil algojo untuk memenggal Dewi Bulan dihalaman depan.
Tapi lagi-lagi ia mendapat laporan bahwa para algojo dan pengawal-pengawal lainnya berkaparan. Mati.
Apa yang dialami oleh Diraja Penghulu Iblis tidak ubahnya seperti mimpi buruk. Tadi malam ia memang mendengar sendiri dari laporan Nyanyuk Pingitan tentang kehadiran manusia Merah.
Tapi ia menyangka selain bangunan istana miliknya yang dilindungi oleh raja penyihir, ia juga menyangka para pengawal dan juga muridnya juga dalam lindungan selubung gaib. Tidak dinyana para undangan yang telah dijadikan pengawal berkat Racun Pelemah Akal, cuma bertahan beberapa jam saja.
Bagaimana pun Diraja Penghulu Iblis sangat sayang sekali pada putri satu-satunya. Jika Maya Swari yang mempunyai kepandaian tinggi itu diculik oleh orang lain. Pasti ini ada hubungannya dengan penyamaran Dewi Bulan. Karena gadis itu menurutnya tetap tidak mau mengaku. Maka akhirnya ia memutuskan untuk membunuhnya.
Tapi ternyata diluar dugaannya Dewi Bulan memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Tidak pelak lagi terjadilah pertempuran sengit. Jurus demi jurus berlalu. Tapi masih belum ada tanda-tanda sapa yang bakal memenangkan pertarungan sengit itu.
Tapi ketika Diraja Penghulu Iblis mengerahkan jurus-jurus simpanannya. Maka disini terlihatlah bahwa Dewi Bulan mulai terdesak. Dua kali pukulan menghantam perut dan dada si gadis. Hingga selain menimbulkan luka dalam juga membuat Dewi Bulan menjadi murka.
Ia mencabut pedang pendeknya. Dengan mengerahkan jurus Kupu-Kupu Biru yang cukup terkenal itu ia merangsak lawannya. Pertempuran menjadi sengit. Permainan pedang Dewi Bulan hanya dapat berkembang selama lima belas jurus.
Diraja Penghulu Iblis ternyata selain sangat licik dan memang berpengalaman kini mulai melepaskan pukulan-pukulan yang sangat keji.
Dalam pertempuran menjelang lima puluh jurus, selain terdesak hebat. Keselamatan Dewi Bulan benar-benar dalam keadaan terancam. Satu pukulan dahsyat yang dilepaskan oleh Raka Tendra ini berhasil dihindari dengan tangkisan pedang. Tapi akibatnya ia terpaksa melepaskan pedangnya yang berubah panas seperti terbakar.
__ADS_1
Pukulan kedua dilepaskan oleh lawannya lagi. Namun pada saat-saat yang sangat kritis itu ada cahaya biru berkilauan menghambat cahaya hitam membara yang melesat dari telapak tangan Raka Tendra.
Glaar! Glaar!
Terjadi ledakan dahsyat. Diraja Penghulu Iblis terguncang tubuhnya. Sebaliknya pada bagian lain tampak seorang laki-laki krempeng jatuh terduduk, sedangkan yang berbadan gemuk hanya terguncang-guncang saja perutnya yang berlapis lemak.
"Bangunlah muridku!" Gajah Gemuk langsung mendekap muridnya dan mengurut punggung gadis itu hingga memuntahkan darah kental berwarna hitam.
Yang kurus langsung berdiri dan mendamprat ditujukan pada Raka Tendra
"Ib lis pengecut! Beraninya cuma dengan bocah ingusan yang punya kepandaian tidak seberapa."
Raka Tendra tidak langsung menjawab.
Melainkan meneliti orang yang bicara petenteng
tangan dibawah ketiak.
"Ah... bukankah anda berdua Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng. Maafkanlah kami yang lupa menyambut dan mengundang majikan Merbabu waktu pesta kemarin!"
Gajah Gemuk mendengus.
"Pesta apa? Siapa yang mau makan bangkai orang-orang yang sudah mati. Lagipula kau punya dua kesalahan. Pertama kau telah melukai muridku...."
"Maaf..." Raka Tendra memotong.
"Aku tidak menyangka gadis itu murid kalian."
"Yang kedua." Gajah Gemuk menyambuti.
"Kau harus menyerahkan Buto Terenggi manusia daun itu kepada kami."
"Apakah salahnya?"
"Kesalahannya sudah sangat jelas. Dia telah mencuri ular-ular Kayangan milik kami. Dua kesalahan dibandingkan satu kenakalan murid kami kau masih utang satu, Raka Tendra!"
"Tapi...!"
"Tidak ada tapi-tapi. Kalau kau tidak ingin kami membakar singgasanamu ini sebaliknya serahkan maling itu?"
"Tidak bisa. Terkecuali orang yang bersangkutan sudi menjumpai kalian!" Raka Tendra tetap bersikeras.
"Biarkan saudara Diraja Penghulu Iblis! Aku telah datang menjumpai kalian. Sekarang mau apa?"
Tiba-tiba terdengar suara ketus dan yang bicara tidak lain adalah Datuk Mambang Pitoka.
"Bagus kau sudah datang! Sekarang serahkan ular-ular yang kau curi!" Gajah Gemuk mendengus marah.
Datuk Mambang Pitoka sebaliknya malah tertawa ngakak.
"Ambillah dari perutku kalau kalian mampu!" tantangnya.
Dan ini bagi kedua Gajah sungguh merupakan penghi naan besar. Mereka merasa lebih terhi na dan sakit lagi setelah melihat muridnya terluka terkena pukulan Raka Tendra.
"Ib lis pengecut! Aku tahu siasat keji kalian dengan menyebar undangan merah!" desis Gajah Krempeng sudah tidak sabar lagi.
Sementara Gajah Gemuk membawa Dewi Bulan ke tempat yang aman. Dia sendiri langsung menyerang kedua tokoh sesat itu secara bersamaan.
__ADS_1