Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
60


__ADS_3

Di lereng gunung Pangrangko ada sebuah puri bertingkat yang cukup tinggi. Di belakang puri itu ada sebuah bangunan lainnya. Bangunan besar dikelilingi tembok tinggi ini pada hari-hari sebelumnya terasa sepi. Hanya para penghuninya saja yang keluar masuk melaksanakan tugasnya masing-masing.


Diluar kedua bangunan ini ada sebuah panggung yang tampaknya baru saja dipersiapkan. Panggung yang cukup luas ini dihiasi dengan bermacam-macam janur. Tidak jauh dari panggung tersusun kursi-kursi terbuat dari bahan jati. Adapula sebuah podium lainnya. Disamping podium terdapat dua buah kursi mempelai yang dihiasi dengan beraneka bunga-bungaan.


Rupanya akan ada pesta besar-besaran disini. Terbukti dengan mulai hadirnya para tamu-tamu undangan. Setiap tamu selalu menunjukkan undangan yang diberikan untuk para undangan sekitar satu purnama yang lalu. Jadi tidak sembarang orang dapat menghadiri pesta tersebut. Tanpa undangan merah yang dibuat oleh tuan rumah. Maka orang itu tidak dapat mengikuti acara pibu. Dan siapapun yang dapat mengalahkan putri Maya Swari dalam acara unjuk kebolehan itu. Maka dialah yang akan menjadi suaminya.


Kini para undangan itu mulai memenuhi bangku-bangku yang kosong. Sementara itu didalam sebuah ruangan besar di dalam bangunan yang terletak dibelakang puri tampak seorang laki-laki berpakaian seperti seorang raja dan bertampang bengis sedang menerima kehadiran dua orang tamu.


Tamu pertama adalah laki-laki tua pembawa kepis berpakaian anyaman daun lontar sedangkan capingnya terbuat dari daun lontar pula. Sedangkan tamu yang kedua adalah seorang nenek renta berkulit hitam bermuka bopeng. Kulitnya tipis, sehingga dilihat sepintas lalu hanya berupa jerangkong hidup. Tatapan mata perempuan ini mencorong, rambutnya jarang dan ada beberapa tusuk kundai dari perak yang langsung menancap di batok kepalanya.


Agaknya kedua tamu ini merupakan sahabat terdekat tuan rumah. Terbukti laki-laki bengis berpakaian bangsawan ini menerima mereka secara khusus pula.


"Sudah lama kita tidak bertemu Datuk Mambang Pitoka dan Nyanyuk Pingitan. Setelah dua puluh tahun, bagaimana kabar anda sekalian?" Tuan rumah yang tidak lain adalah Raka Tendra berjuluk Penghulu Iblis ini memulai pembicaraan dengan suaranya yang serak berat seperti dicekik setan.


Buto Terenggi angkat wajahnya. Setan Hitam alias Nyanyuk Pingitan tertawa mengikik.


"Sebagaimana yang Datuk lihat, kami dalam keadaan sehat dan semakin berisi." kata Nyanyuk Pingitan kemudian.


"Dua puluh tahun yang lalu putrimu masih orok. Tidak disangka kini telah dewasa dan cantik. Selain itu tentu ia mewarisi semua ilmu yang kau miliki Datuk?"


Buto Terenggi menimpali


"Diraja Penghulu Iblis pasti memberikan yang terbaik untuk putrinya. Apalagi Maya Swari adalah anak tunggal. Ha ha ha...!"


"Dengan kehadiran sahabat berdua. Aku Diraja Penghulu Iblis dengan rendah hati tentu berharap agar Anda membantu keamanan disini kalau terjadi sesuatu yang tidak kita ingini dalam acara Pibu nanti."


"Ah... Diraja terlalu berlebihan. Kami tentu saja membantu tanpa diminta sekalipun. Tapi menurutku, siapa orangnya yang berani mengusik ketenteraman anda, terkecuali orang-orang yang ingin cepat mam pus?"


"Lagipula kepandaian kami manalah ada apa-apanya bila dibandingkan Ahda Diraja Penghulu Iblis. Untuk itu demi kehormatan persahabatan kita. Hanya dapat membawakan oleh-oleh ular Kayangan untuk acara penentuan pilihan suami bagi putri Anda." Datuk Mambang Pitoka kemudian menurunkan anyaman rotan yang berbentuk kepis di mana didalam kepis itu penuh berisi ular-ular Kayangan yang terus mendesis-desis.


"Hmm, ular Kayangan ini kudengar punya khasiat yang sungguh sangat luar biasa. Ia dapat melipat gandakan tenaga dalam seseorang dalam waktu hanya beberapa jam saja. Selain itu darahnya membuat kita tetap awet muda. Sungguh ini merupakan suatu pemberian yang tidak ternilai harganya."


"Anda terlalu berlebihan, Sahabat. Aku hanya dapat berpartisipasi. Menurutku sebelum acara dimulai sore nanti. Bukankah lebih baik jika ular-ular itu diolah secepatnya. Dengan begitu para tamu undangan dapat merasakan khasiatnya." kata Datuk Mambang Pitoka.


"Betul. Aku setuju." sahut Raka Tendra. Ia kemudian bertepuk tangan. Seorang pengawal masuk ke dalam ruangan dan mengambil kepis berisi ular-ular itu.


Sementara Nyanyuk Pingitan kini telah mengeluarkan sebuah tabung bambu yang sudah tua dan kusam. Di dalam tabung bambu itu terdapat ratusan ekor lebah beracun. Yang tentu saja sudah sangat terlatih dengan baik. Ia kemudian menyerahkannya pada Diraja Penghulu Iblis. Seraya berkata

__ADS_1


"Aku tidak dapat memberikan kado barang-barang berkhasiat selain mainan yang tidak ada guna ini. Terimalah Diraja...!"


Raka Tendra tercenung dengan alis berkerut dalam.


"Ah... sahabat terlalu merendah. Tawon merah siapa yang tidak kenal. Bisanya sangat mematikan. Dikolong langit ini hanya Anda saja yang memilikinya. Pemberian ini merupakan satu kehormatan pula yang tidak mungkin terlupakan."


Tokoh golongan sesat itu kemudian tertawa-tawa. Rupanya mereka selalu cocok dalam berbagai hal.


Pada saat yang sama di jalan utama pada penerima tamu undangan yang terdiri dari murid-murid Raka Tendra sendiri semakin sibuk melayani para tamu yang datang. Sampai menjelang tengah hari pemeriksaan berjalan dengan cukup lancar. Tapi tidak lama kemudian ketika muncul seorang pemuda berambut kemerahan berwajah tampan namun berkesan t olol kekanak-kanakan. Maka suasanapun berubah menjadi lain.


"Mana bendera undangan merah yang seharusnya kau bawa hari ini?" tanya petugas penerima tamu pada pemuda berbaju biru ini dengan mata melotot.


Pendekar Blo'on nyengir kuda, lalu garuk-garuk kepalanya. Akal cerdiknya segera berjalan. Karena ia memang tidak pernah diundang oleh siapapun. Tentu ia tidak dapat menunjukkan bendera merah yang dimaksudkan. Sebab apa yang dilakukannya saat ini adalah mencari musuh besar yang telah membunuh kedua orang tuanya. Tapi ketika di tengah jalan ia melihat banyak orang yang menuju ke gunung Pangrangko ini, mau tidak mau ia menjadi heran ada apakah gerangan? Dan ia jadi ingin mengetahuinya.


"Undangan itu hilang ketika aku sedang mandi di kali. Maafkan aku kawan."


"Jika kau tidak dapat menjaga keselamatan undangan itu. Berarti kau tidak dapat menjaga kehormatan penghulu kami. Bagaimana mungkin manusia sepertimu dipandang muka oleh ketua dan raja kami!" dengus sang penerima tamu. Sedangkan kawan si penerima tamu sedikitpun tidak menghiraukan Suro Blondo. Ia malah sibuk memeriksa identitas tamu-tamu yang lainnya. Kesempatan lengah yang cuma sekejap ini langsung dimanfaatkan oleh Suro Blondo. Ditariknya penerima tamu itu ke tempat yang aman. Seraya kemudian berbisik.


"Tenanglah, aku sahabat baik putri Maya Swari. Jika kau melarangku masuk ke ruangan tamu. Tentu ia akan mencari-cari aku. Bagaimana kalau kita berdamai saja. Aku bisa memintakan bagimu dua keping emas untuk kebaikanmu itu."


Penerima tamu tentu saja terkejut mendengar keterus terangan si pemuda. Padahal yang sesungguhnya Suro Blondo sendiri mendengar Maya Swari dari orang-orang yang dijumpainya di jalan.


"Tentu saja. Apakah kau perlu kupanggilkan puteri. Tapi jika dia sampai marah. Harap resiko ditanggung sendiri."


Rupanya penerima tamu yang masih terhitung murid Diraja Penghulu Iblis begitu takluk pada anak gurunya. Sehingga tanpa banyak kata lagi ia segera menyuruh pendekar Blo'on berlalu.


"Jangan kau cerita pada siapapun karena kau tidak membawa bendera undangan. Diraja Penghulu Iblis bisa menghukumku."


"Jangan takut, kalau ada apa-apa tentu Maya Swari akan membelamu." pemuda ini menyeringai. Sambil bersiul-siul ia melangkah pergi.


Ketika Pendekar Blo'on sampai di bagian penerima tamu terakhir dilihatnya semua kursi yang tersedia telah penuh terisi. Kalaupun ada kursi yang kosong letaknya jauh dari panggung laga dan juga panggung kehormatan. Karena terdorong oleh rasa keingin tahuannya. Maka Pemuda ini terpaksa duduk di tempat terpisah dekat beberapa ekor kuda yang ditambatkan dan juga dikelilingi ayam.


"Ha ha ha...! Duduk dengan kuda lebih baik daripada dengan para i blis bertampang macan. Eeh... ada pula yang gundul seperti tuyul dan ada pula yang jel ek seperti hantu. Ha ha ha... masa bodo. Menunggu acara dimulai aku jadi mengantuk nih!" kata pemuda itu.


Ia bersandar di batang pohon di mana bangku yang didudukinya berada. Tapi aneh ia tidak dapat memejamkan matanya. Apalagi ketika melihat para tamu semakin banyak saja jumlahnya. Setengah jam kemudian Suro Blondo melihat seorang gadis berpakaian pengantin berwajah cantik luar biasa menuju singgasana pelaminan yang terletak di samping podium. Pemuda ini mementang matanya lebar-lebar. Ia memang harus mengakui bahwa gadis itu cantik luar biasa. Tidak seperti tampang para tamu undangan, kalaupun ada yang perempuan tetap saja jel ek menakutkan.


"Luar dalem... eh, luar biasa. Gadis itukah yang ingin menjadi pengantin? Tapi sungguh aneh, pengantin pria masih belum ketahuan siapa orangnya. Sekarang ia sudah memakai gaun pengantin. Apakah dengan pakaian itu ia akan bertarung dengan orang-orang gagah untuk menentukan siapa yang dapat mengalahkannya?" Suro Blondo garuk-garuk kepala. Ia terus memandang ke arah gadis cantik bergaun pengantin kini mulai duduk di pelaminan tunggal.

__ADS_1


Melihat kecantikan gadis itu, tiba-tiba saja ia teringat pada Dewi Bulan. Ia tidak tahu entah kemana gadis itu sekarang. Sejak pertemuan terakhir merekaKonon Dewi Bulan ingin menyambangi gurunya di gunung Merbabu.


Lamunan pemuda ini seketika buyar saat ia melihat seorang laki-laki berpakaian bangsawan menuju ke podium yang terletak disebelah pelaminan tunggal. Dibelakang laki-laki itu menyertai pula seorang laki-laki dan perempuan yang rupanya sengaja mengawalnya.


Acara di tempat yang terbuka itu kemudian dimulai. Seluruh hadirin yang kebanyakan terdiri dari tokoh-tokoh golongan sesat terdiam.


"Saudara-saudara!" Diraja Penghulu Iblis membuka ucapannya.


"Hari ini saya sengaja mengundang saudara-saudara kemari. Pertama-tama adalah untuk bertatap muka dan saling mengenal secara lebih dekat lagi. Sedangkan yang kedua adalah untuk menentukan siapa yang paling pantas untuk menjadi calon pendamping putriku. Inilah peraturan yang ditetapkan oleh putriku sendiri. Itu sebabnya saya meminta saudara dari setiap perguruan membawa murid terbaiknya. Siapa tahu ia mempunyai keberuntungan berjodoh dengan murid sekaligus putri tunggalku. Putriku tidak menghendaki harta benda, tapi ia ingin punya suami yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari kepandaian yang dimilikinya. Sambil mengikuti acara tanding untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pendamping putriku. Sebaiknya nikmati hidangan yang telah kami sediakan!"


Diraja Penghulu Iblis meninggalkan podium, seraya menghampiri putrinya yang duduk lengkap dengan pakaian pengantin. Mereka kemudian terlibat pembicaraan serius.


Maya Swari meninggalkan pelaminan. Sekejap ia menghilang di ruangan ganti setelah itu muncul lagi lengkap dengan pakaian ringkas berwarna biru pula. Ia melompat keatas panggung kayu dengan gerakan yang sangat ringan sekali. Sementara itu seorang pembawa acara mulai membacakan tata cara dan aturan main di atas panggung. Para hadirin berdecak kagum melihat kecantikan sang dara. Bahkan diantara mereka ada yang bertepuk tangan segala. Suasana yang hiruk pikuk itu terhenti begitu tata cara permainan dibacakan.


"Peserta dinyatakan kalah, bila jatuh sampai ke luar arena. Sedangkan putri Maya Swari dinyatakan kalah bila peserta dapat menotoknya. Peserta diperkenankan memakai senjatanya masing-masing. Pertandingan ini digelar selama dua hari. Siapapun punya kesempatan untuk mencoba. Terkecuali mereka yang telah berumur diatas tiga puluh tahun. Sekian...!"


Pembawa acara melompat turun dari panggung. Posisinya digantikan oleh seorang pemuda berkepala gundul, mukanya bopeng-bopeng menakutkan. Hidungnya bengkok seperti paruh burung kakaktua dan badannya tegap berisi. Sebelum bicara ia membungkuk hormat pada hadirin dan pada Maya Swari.


"Aku murid pertama perguruan Alam kubur. Bagus Indrajit namaku. Semoga Anda berkenan main-main denganku barang sejurus dua jurus!"


Maya Swari tersenyum, namun hatinya mendongkol karena lawan yang dihadapinya mempunyai tampang begitu buruk. Dalam hati ia bertekad ingin secepatnya menjatuhkan laki-laki itu.


"Silahkan saudara!"


Dengan tenangnya Maya Swari memperhatikan setiap gerakan Bagus Indrajit. Dimatanya pemuda ini ternyata memang memiliki tenaga yang cukup besar, gerakannya lincah dan setiap serangan yang dilancarkannya terarah pada bagian-bagian yang sangat berbahaya. Tidak salah ketika itu si pemuda telah mempergunakan jurus 'Semilir Senja Dalam Sepi'. Ini merupakan jurus tingkat kedua yang pernah diajarkan oleh gurunya Bageng Jaliteng. Rupanya ia sadar bahwa Maya Swari merupakan anak seorang tokoh besar rimba persilatan. Sehingga ia tidak mau meremehkan lawannya.


Sebaliknya Maya Swari sendiri hanya dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai tarap sempurna tampak berkelebat menghindari setiap serangan yang datang tidak ubahnya seperti burung walet yang menghindari tetesan air hujan. Hanya dalam waktu singkat lima jurus telah terlewati. Keringat telah membasahi sekujur tubuh Bagus Indrajit. Namun sampai sejauh itu ia belum berhasil menjatuhkan lawannya. Jangankan menjatuhkan, menyentuh salah satu pakaian lawan saja ia tidak mampu. Suara-suara sumbang mulai terdengar.


Maya Swari semakin lama semakin cepat dalam menghindar. Disatu kesempatan dengan diawali teriakan melengking tinggi. Gadis cantik ini menerjang ke depan. Tendangan kilat dilakukannya disusul dengan pukulan beruntun. Tendangan itu dapat dihindari oleh Bagus Indrajit. Bahkan pukulan yang dilepaskan oleh Maya dapat dielakkannya. Tapi ketika Maya meneruskannya dengan tendangan susulan. Pemuda ini jadi terdesak.


Wuuk!


Buuk! Buuk!


"Wuaakh...!" Bagus Indrajit terpelanting dan jatuh ke bawah panggung tanpa mampu mempertahankan diri.


Seketika terdengarlah gemuruh suara hadirin mengeluk-elukan Maya Swari.

__ADS_1


Dalam pada itu dari bawah panggung melesat seorang pemuda berompi cokelat. Wajahnya cukup lumayan. Sebagaimana yang dilakukan lawan terdahulu, kini pemuda berompi cokelat inipun menjura hormat setelah itu tanpa basa basi langsung menyerang dengan mempergunakan sepasang pedang pendek. Keadaan tentu semakin bertambah seru, sedangkan Suro Blondo yang menyaksikan pertandingan itu hanya geleng-geleng kepala.


__ADS_2