
Di pantai Karang Bolong ada sebuah bukit-bukit kapur menjulang tinggi ke ungkasa. Tidak jauh dari bukit kapur lersebut terdapat pula sebuah bukit karang yang cukup tinggi.
Untuk mencapai tempat ini orang harus menyeberangi laut karena letaknya memang agak ke tengah laut. Bukit karang ini selain sangat berbahaya juga licin sekali karena pada permukaannya ditumbuhi lumut-lumut laut yang telah berusia ratusan tahun.
Siang itu setelah membatalkan niatnya pergi ke Pasuruan, pemuda berbaju biru berambut hitam kemerahan memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning ini pergi ke Karang Bolong. Ini semua dilakukannya karena menurut keterangan yang didapatnya di jalanan bahwa manusia Katai bersaudara tinggal di pantai Karang Bolong.
Keterangan ini memang sulit dipegang kebenarannya, karena mungkin saja katai yang dimaksud bukan katai yang telah membunuh kedua orang tuanya. Karena di
kolong langit ini banyak manusia berbadan cebol, jangkung, kurus, gemuk dan kurus kering macam orang cacingan juga cukup banyak.
Setengah hari setelah menyelusuri pantai laut Jawa. Kira-kira sekitar jam tiga sore, pemuda baju biru yang tidak lain adalah Pendekar Blo on ini sampai juga di tempat tujuan.
Ia mencari-cari, kemudian terlihat olehnya sebuah bukit karang menjulang seperti kerucut. Suro Blondo garuk-garuk belakang kepalanya.
"Sarang se tan tempatnya memang selalu sulit dijangkau," gerutu si pemuda.
"Di sini tidak ada perahu yang lewat, tempat ini juga lebih sepi dari kuburan. Bukit karang itu agak jauh dari pantai ini. Bukan aku tidak
sanggup berenang ke sana. Tapi dinginnya ini alamak. Lagipula konon banyak hiu-hiu ganas berkeliaran di sekitar sini. Apa caraku...?" Suro Blondo seka keringat yang mengalir di keningnya.
Matanya mencari-cari hingga kemudian ia tersurut mundur. Matanya memandang tajam pada sebuah papan kayu peringatan dengan pesan-pesan menggidikkan tertulis di atasnya.
Pantai Karang Bolong
Siapa datang nyawa tidak tertolong
Bukit Karang Hantu
Siapa mendekat tinggal tulang belulang
Terkecuali para sekutu
Dan para sahabat ikan hiu
Jangan coba mendekat
Terkecuali punya jiwa seikat...
"Hmm, sebuah peringatan yang cukup Mengenaskan? Hanya dedemit neraka yang punya kerja. Dari jauh aku datang untuk mempertaruhkan nyawa, untuk apa aku harus pulang sia-sia!" dengus Pendekar Blo'on.
Pemuda ini kemudian mencari potongan kayu untuk menyeberangi selat kecil itu. Tapi sebelum usahanya tercapai, tiba-tiba terdengar suara seseorang bersenandung.
Menilik suaranya yang kecil dan merdu sudah jelas pemiliknya paling tidak adalah seorang perempuan.
Suro cepat menoleh ke arah datangnya suara. Tiba-tiba ia melihat sebuah perahu kecil meluncur cepat ke arahnya. Di atas perahu tampak seorang gadis cantik memakai kerudung serba putih. Ketika angin bertiup ke arah si pemuda, maka tercium bau badannya yang harum seperti bunga cempaka.
Pendekar Blo'on melongo ketika melihat perahu kecil itu mendadak berhenti. Seperti ada kekuatan yang menahannya dari bawah perahu.
"Anak muda nan tampan. Aku tahu kau mau menuju ke bukit karang itu. Aku jadi kasihan padamu, kulihat belum pernah ada yang selamat kembali bila sudah sampai ke sana. Daripada kau mengantar nyawa percuma, alangkah baiknya jika kau ikut denganku...!"
"Siapa Nisanak ini? Aku punya tujuan dan tidak seorang pun yang dapat menghentikannya terkecuali maut," kata si pemuda pelan.
__ADS_1
"Hi hi hi! Dendam di hatimu dendam berkarat, sampai kiamat dunia akhirat.... Sebaik-baiknya manusia adalah dia yang suka mengukur kemampuan diri sendiri!" Gadis berkerudung di dalam perahu tertawa membahak.
Suro Blondo kerutkan kening. Ia berpikir bagaimana mungkin perempuan dalam perahu tahu apa yang diinginkannya.
"Nisanak belum menjawab pertanyaanku. Katakan terus terang atau aku harus meninggalkanmu!"
"Mengapa harus tergesa-gesa jika hanya ingin mengantar nyawa? Aku gadis tanpa nama, hidup, makan dan tidurku di atas air. Kalau hanya untuk urusan orang yang mau buang nyawa, aku bersedia mengantarmu sampai ke bukit itu. Tapi dengan satu syarat!"
"Hi hi hi. Sudah kuduga, pemuda tampan bertampang to lol sepertimu mana punya banyak uang. Bagaimana kalau kau membayar dengan kepalamu?"
Suro Blondo garuk-garuk kepalanya.
"Kau sangat keterlaluan sekali. Tidak tahukah kau bahwa aku cuma punya satu kepala?"
"Hi hi hi! Kalau tidak mau aku akan segera pergi!"
Tanpa menunggu lagi gadis berkerudung putih dan berpakaian serba putih memutar perahunya. Di lain kejap ia telah bergerak menjauh, kemudian hilang di tikungan teluk.
"Heh... kalau hanya menggoda, untuk apa tunjukkan diri? Menolong orang dengan meminta imbalan jiwa adalah perbuatan tercela." Suro Blondo bersungut-sungut.
Ia memutar badannya, lalu mengambil sepotong kayu kering yang tergeletak tidak jauh dari kakinya.
Kayu itu kemudian dilemparkannya ke dalam air. Setelah itu tubuhnya melayang, kaki menjejak ke atas potongan kayu tersebut. Hanya dalam waktu sangat singkat ia telah meluncur ke tengah selat dengan sangat cepat sekali.
Namun pemuda ini kemudian menjadi tergagap ketika melihat puluhan sirip ikan menjembul ke atas permukaan air. Ikan-ikan haus darah ini mengitari si pemuda.
"Mati aku. Binatang-binatang ini bukan main banyaknya. Aku harus cepat sampai ke sana kalau tidak ingin mati konyol!" pikir si pemuda.
Suro tidak sempat lagi mengurangi kecepatannya. Tidak ayal lagi tubuhnya terbanting. Suro Blondo tenggelam, air laut yang sangat jernih lagi dalam membuat ia dapat melihat puluhan ekor ikan mengejarnya. Sambil berenang menghindar Suro cabut senjatanya. Dengan mempergunakan senjata andalan ini ia menyongsong kedatangan ikan-ikan buas yang menyerangnya.
Sementara gadis berpakaian serba putih yang tadi sempat menghilang di balik cekungan teluk telah muncul di tempat itu dengan maksud menolong.
Ketika ia sampai, pemuda lugu yang hendak ditolongnya telah lenyap dari permukaan air. Ia terkesiap ketika melihat air laut tiba-tiba berwarnamerah. Kemudian terlihat pula gejolak air di sana sini.
"Celaka, bocah itu telah dimangsa ikan-ikan hiu di sini!" desisnya dengan mata membelalak lebar.
Air laut semakin bergolak, warna merah semakin menyebar dan berwarna pekat. Di dalam air Suro Blondo telah membunuh lebih dari dua puluh ekor ikan hiu besar dan ikan-ikan yang telah terbunuh itu dimangsa oleh kawanannya sendiri.
Rupanya bau darah itulah yang membuat hiu-hiu lain yang kelaparan tidak dapat membedakan kawan sendiri.
Melihat hiu-hiu lain berebut mangsa, maka kesempatan ini dipergunakan oleh Suro Blondo untuk berenang di bawah air mendekati pulau karang yang hendak ditujunya.
Sebentar saja ia sudah sampai ke pinggir bukit karang.
"Puah... hampir meledak paru-paruku karena menahan nafas," keluh Suro Blondo.
Ia melirik ke tengah-tengah teluk. Dilihat gadis baju putih kerudung putih duduk terbengong-bengong di atas perahunya.
Suro Blondo lambaikan tangannya.
"Maaf, ikan-ikanmu rupanya semakin tidak sabar, sehingga kawannya sendiri dimangsanya...!"
__ADS_1
Si gadis bermaksud mengejar, tapi ia mengurungkan niatnya. Seakan ia ragu mendekati bukit karang tersebut.
Suro Blondo sambil cengar-cengir tidak perduli lagi pada gadis di atas perahu tersebut. Ia mulai mendaki bukit karang yang terjal dan cukup licin tersebut.
"Edan... sudah sampai di tengah melorot lagi. Apakah mungkin tidak ada jalan lain untuk sampai ke tempat yang mirip dengan cekungan gua di atas itu?"
Si pemuda mendongakkan kepalanya ke atas. Bersamaan dengan itu ia melihat ada sosok tubuh melayang dan kemudian jatuh terhempas di sampingnya. Apa yang dilihatnya adalah sosok telan jang perempuan. Sekujur tubuhnya berlumuran darah, leher patah, mata melotot dan lidahnya terjulur.
"Perempuan malang ini mustahil jatuh dari langit. Mengapa tidak sempat kudengar jeritannya," desis Suro sambil goleng-golengkan kepalanya.
"Pastilah ini perbuatan iblis-iblis berhati sapi. Aku harus bisa sampai ke atas sana tanpa sepengetahuan mereka. Dengan begitu aku bisa terhindar dari bahaya...!"
Si pemuda kemudian merayap lagi, kali ini ia menemukan jalan yang agak lebih baik dari pada lereng terjal yang coba didakinya tadi.
Sedikit demi sedikit ia mendaki. Tapi gerakannya terhenti lagi ketika melihat tiga ekor ular berbisa menghadangnya. Ular-ular itu angkat kepala tinggi-tinggi. Mulutnya terbuka, lidahnya yang bercabang terjulur.
Ketika makhluk-makhluk melata itu mendesis, maka tercium bau amis bisa yang membuat mual pernafasan. Suro Blondo yang pernah digodok dalam sumur kawah bisa dihuni ular-ular merah oleh gurunya, hanya tersenyum sambil garuk-garuk kepala.
"Malang benar nasibmu, Nak. Rupanya kau diperintahkan oleh tuanmu untuk menghadang aku! Nih gigitlah...!" Suro Blondo dengan sengaja angsurkan tangannya.
Tiga ekor ular berwarna belang, kuning hitam ini serentak menyerbu dan mematuki tangan Suro Blondo.
Tangan si pemuda berdarah, air mukanya seketika berubah menghitam. Rupanya kekebalan di dalam tubuhnya mulai bekerja bertarung melawan bisa dari ular-ular yang menggigitnya.
Kulit tubuhnya yang hitam secara berangsur-angsur kembali ke warna semula. Si pemuda lagi-lagi menyeringai.
"Kurasa sudah puas kalian menggigitku!" dengus Suro Blondo, sekejap kemudian ditangkapnya ketiga ekor ular sebesar jempol kaki ini setelah itu badan ular digigitnya satu demi satu.
Ular-ular ini meronta, tapi rontaannya semakin melemah ketika tulang belakangnya putus menjadi dua.
"Puih...!"
Suro menyemburkan ludah bercampur darah ular. Selanjutnya ia merayap dan merayap lagi.
Tidak sampai sepemakan sirih, sampailah pemuda ini di depan sebuah cekungan mirip gua. Pada dataran yang rata ia melihat sebuah pedang, pakaian dan juga tulang belulang lainnya.
"Mayat tadi perempuan. Pakaian ini juga pakaian perempuan. Gua besar itu seperti tertutup batu. Alangkah baiknya jika aku mencoba membukanya."
Suro Blondo kemudian mendekati pintu gua yang tertutup batu. Sekejap kemudian ia mendorong pintu batu karang ini. Tapi jangankan bergerak, bergeming pun tidak.
Si pemuda mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangan. Setelah itu ia mendorong lagi.
"Uuph...!"
Kali ini secara perlahan pintu batu terkuak sedikit. Suro mendorongnya lagi. Semakin lama pintu pun terbuka semakin lebar.
Pendekar Blo’on tercengang begitu melihat ke dalamnya. Ruangan gua itu memancarkan cahaya biru kehijauan yang entah datang dari mana. Lantai gua juga dalam keadaan bersih.
Ketika melihat ke arah kiri, di sana ada sebuah altar. Di atas altar mirip dipan ini tergeletak sosok tubuh perempuan pula dalam keadaan setengah tela njang.
Perempuan ini sangat sulit dikenali karena seluruh wajahnya yang menghadap ke langit-langit gua tertutup kain berwarna merah.
__ADS_1
Suro Blondo menyelinap masuk dan bersembunyi di salah satu sudut yang gelap. Ketika terdengar suara langkah-langkah kaki, maka ia menundukkan badannya serendah mungkin sehingga ia terhindar dari penglihatan orang lain