Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
42


__ADS_3

Damerta dan Ki Alit tiba-tiba tersentak kaget ketika melihat ada potongan kepala melayang ke arahnya. Mereka lebih terkejut lagi setelah diperiksa ternyata potongan kepala itu tidak lain merupakan potongan kepala kawan mereka sendiri.


"Pamali? Apa yang telah terjadi dengannya?" desis Ki Alit dengan perasaan kecut bercampur rasa geram.


Damerta lain lagi, karena kepala itu bagian wajahnya menghadap ke arahnya. Di samping itu mata Pamali melotot dan lidahnya terjulur. Tentu saja ia cepat melangkah mundur, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Siapa pun yang telah membunuhnya tentu dia memiliki kepandaian yang sangat tinggi!" desis Damerta kemudian.


"Apa yang harus kita lakukan? Tugas kita belum beres, apakah salah seorang dari kita harus melaporkan kejadian ini kepada tetua?"


Damerta terdiam, keningnya berkerut dalam. Ia sendiri merasa heran. Karena seingatnya Pamali, tokoh sesat dari tenggara ini selain memiliki kelabang beracun juga mempunyai ilmu pedang yang sangat tinggi. Jurus Inti Pamungkas adalah salah satu yang sangat diandalkannya. Jika seseorang mampu membunuhnya. Tentu orang itu memiliki kepandaian jauh di atas Pamali.


"Huh, hanya orang yang sudah bosan hidup saja yang begini gegabah membunuhnya...!"


Belum sempat Ki Alit meneruskan kata-katanya. Dari atas bukit di sebelah kanan mereka tiba-tiba saja menggelinding batu-batu besar disertai gelak suara seseorang.


"Sahabatku Tenggiling Kedil! Lihatlah para ib lis yang pada kebingungan. Melihat kawannya mati mereka hanya dapat sesumbar, bingung-bingung sambil menggaruk kepala. Jika mereka merupakan kaum yang berfikir. Tentu saat ini mereka sudah harus menggali lubang untuk kubur kawannya dan kubur mereka sendiri!"


"Lha dalah... sialnya nasibmu dan nasibku, Pendekar Blo'on. Setiap bertemu dengan para ib lis kita hanya mendapatkan cecurutnya. Biangnya ib lis belum juga kita dapatkan. Apakah kita harus menggebuknya sampai mam pus?"


Lalu terdengar suara tawa ha-ha-he-he. Sementara mereka yang berada di bawah bukit sibuk selamatkan diri dari terjangan batu-batu yang dijatuhkan oleh Suro Blondo. Maka Wiro Suryo, bayi bangkotan yang selalu menggandul di pinggang Suro Blondo melompat dan berdiri di samping pemuda berambut kemerahan itu.


Tinggi badannya yang tidak sampai setengah meter itu memang selalu mengundang tawa bagi Suro Blondo. Karena pada dasarnya mereka memang sama-sama konyol. Tidak heran jika mereka kelihatan begitu cocok antara satu dengan yang lainnya.


"Manusia kurang ajar yang di atas bukit! Apa keinginan kalian sehingga menyerang kami begini rupa?" bentak Ki Alit setelah selamat dari timpahan batu-batu.


Pendekar Blo'on tidak langsung menjawab, melainkan menoleh ke arah laki-laki super pendek yang berdiri di sebelahnya sambil garuk-garuk kepala.


"Mereka bertanya apa keinginanmu, Tenggiling Kedil! Hayo coba terangkan apa yang kau inginkan dari mereka?"


"Guwoblok! Aku ini hanya penonton, kau yang punya urusan dengan mereka. Kalau kau melihat sekian ribu jiwa tewas akibat ulah mereka, apakah menurutmu nyawa mereka sudah setimpal untuk membayar hutang-hutang nyawa mereka?"


"Untuk membayar bunganya saja belum cukup. Tapi alangkah baiknya kita ajak bicara dulu mereka sambil minum air sungai beracun!" kata Suro Blondo lugu.


"Sinting...! Kepada musuh tidak perlu diajak bicara. Mereka dapat melicikimu. Lebih baik aku yang mendatangi mereka dulu setelah itu kau baru menyusul...!"


Belum sempat Suro Blondo mengatakan sesuatu, Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil itu telah melipat badannya dalam posisi sedemikian rupa. Tubuh Wiro Suryo benar-benar berubah bulat macam buah jeruk. Seperti seekor tenggiling ia menggelinding menuruni bukit.


Damerta dan Ki Alit tentu saja terkejut karena menyangka ada batu-batu lagi yang sengaja dilemparkan oleh si pemuda di atas bukit sana. Untuk itu keduanya langsung memasang kuda-kuda untuk mempertahankan diri dari serangan.


"Gila... benda bulat ini bagaimana mungkin dapat menyerang begini rupa?" batin Damerta sambil menghindari Wiro Suryo yang telah melipat badannya hingga berubah bulat sedemikian rupa.


"Hei...!"


Ki Alit berkelit menghindar saat Wiro Suryo menerjangnya. Tapi apa yang dilakukannya masih kalah cepat dengan gerakan Wiro Suryo. Tidak ayal lagi.


Buuk!


"Heekgh...!"


Ki Alit terhuyung-huyung. Kini Tenggiling Kedil berbalik menyerang Damerta. Laki-laki ini sempat terkejut beberapa saat tadi. Karena ia melihat benda bulat yang bagaikan jeruk itu menghantam Ki Alit denganmempergunakan tangannya yang cukup pendek.


Duk! Duuk!


"Hiya...!"


"Ha ha ha...!"


Dalam keadaan sulit bernafas, tiba-tiba Damerta melihat seorang pemuda bertampang to lol telah berdiri di belakang mereka sambil berkacak pinggang.


"Kau... manusia super kerdil...! Kita telah tertipu oleh orang-orang yang *****!" mak i Ki Alit setelah melihat benda yang menyerangnya tadi ternyata merupakan laki-laki berbadan tidak sampai satu meter, berjenggot serta berkumis putih. Yang membuat mereka sempat terkesima adalah karena wajah orang aneh di depan mereka memancarkan cahaya berwarna putih laksana perak.

__ADS_1


Silih berganti mereka memandang ke arah Suro Blondo dan Wiro Suryo. Tiba-tiba mereka tertawa geli melihat wajah Wiro Suryo dan Suro Blondo. Wajah pemuda berambut kemerahan di depannya, sungguh pun tampan, namun terkesan seperti orang to lol. Sedangkan bila melihat ke arah laki-laki super pendek dengan tinggi tidak lebih dari anak berumur satu tahun, lebih parah lagi. Hanya yang tua ini sungguh pun tampangnya seperti orang be go namun memancarkan cahaya yang menakjubkan.


"Orang-orang go blok darimanakah kalian? Kalian tidak ubahnya seperti badut. Jadi karena melihat tampang kalian yang begini lucu, kami sungguh pun telah kalian serang masih ada kesempatan bagi kalian untuk hidup lebih lama!" kata Damerta sambil tertawa lebar. Lain halnya dengan Ki Alit yang agaknya lebih teliti dan mengingat pesan tetua mereka. Kakek tua yang mempunyai badan super pendek memang sama sekali tidak dikenalnya. Tapi pemuda berambut hitam kemerah-merahan dan berbaju biru ini mana bisa dia lupa.


"Ciri-ciri yang disebutkan oleh Mustika Jajar sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki pemuda ini." Sehingga dengan cepat ia memotong.


"Tidak bisa! Yang kerdil boleh saja merat dari hadapan kami. Tapi kau pemuda berambut merah... Kau harus tinggal disini dan menyerahkan diri dengan sukarela!" tegas Ki Alit serius sekali.


"Bagaimana ini, Tenggiling Kedil? Ternyata mereka lebih suka padaku dari pada denganmu!" kata Suro Blondo melalui ilmu mengirimkan suara. Tapi kepada Damerta dan Ki Alit kata-katanya berubah tegas dan penuh ancaman.


"Rupanya kita mempunyai tujuan yang sama. Kau memintaku dan aku sesungguhnya memang menginginkan nyawa kalian!"


"Apakah kau manusianya yang bernama Suro Blondo dengan gelar Pendekar Blo'on?" tanya Ki Alit ingin memastikan dugaannya.


"Benar! Akulah orangnya." sahut si pemuda.


"Bagus... tidak bersusah payah rupanya kami mencarimu. Tidak kami kira kau datang menyerahkan diri dengan sukarela." kata Damerta. Laki-laki yang sangat dikenal dengan jurus-jurus tangan kosongnya ini langsung bergerak mengurung buruannya dari arah kanan.


Suro Blondo tetap tenang. Malah ia sempat tersenyum, kemudian menyeka keringat yang mengalir di keningnya.


"Melihat kalian telah mengenalku, dan aku belum mengenai kalian pada waktu sebelumnya. Tentulah orang yang berdiri di belakang kalian merupakan Iblis Betina Dari Neraka, bukan?"


Sungguh pun Suro Blondo hanya bersifat menduga-duga saja, tapi melihat calon lawannya sempat berubah air mukanya. Maka kini Pendekar Blo'on sudah dapat memastikan bahwa dugaannya itu benar.


"Kau tidak perlu tahu siapa tetua kami. Sekarang kau tinggal memilih apakah ingin menyerah secara baik-baik atau memilih jalan kekerasan?" kata Ki Alit. Seraya lalu mencabut senjatanya yang berbentuk aneh. Melengkung seperti bulan sabit. Namun mempunyai ujung pengait bagaikan mata tombak.


"Tampaknya di antara kita memang sama-sama menghendaki kekerasan." dengus Suro Blondo. Ia kemudian berpaling ke arah Wiro Suryo, tapi rupanya laki-laki bangkotan berbadan super kerdil ini telah menyerang Damerta dengan mengandalkan jurus-jurus Tenggiling Kedilnya.


"Ha ha ha...! Cocok bukan, kita berhadapan satu lawan satu!" kata Ki Alit tetap menganggap remeh lawannya.


Tidak perlu berkata lagi, Suro Blondo langsung menyerang lawannya dengan mengandalkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'. Ki Alit langsung tersenyum mengejek melihat jurus konyol yang dimainkan oleh si pemuda. Ia dapat memastikan tidak sampai tujuh jurus tentu pemuda berambut hitam kemerahan itu dapat dirobohkannya. Apalagi ia sekarang memegang senjata andalannya.


Untuk itu ketika ia membuka serangannya, Ki Alit langsung mengerahkan 'Memanah Rembulan Bintang Berguguran'.


Wuuk!


Serangan luput. Ki Alit kembali menghantamkan senjatanya sekaligus melepaskan satu tendangan telak ke dagu lawannya.


"Hait! Hampir ambrol perutku!" desis Suro sambil melakukan serangkaian liukan indah. Dua kali serangan gencarnya menemui sasaran kosong. Sudah cukup membuka mata Ki Alit bahwa lawannya benar-benar tidak dapat dianggap sepele. Ia pun membuka jurus baru 'Menumpas Badai Topan'. Ini merupakan salah satu jurus terhebat yang dimiliki oleh Ki Alit. Rupanya ia benar-benar menyadari bahwa lawannya tidak dapat dianggap main-main.


Hanya dalam waktu sepuluh jurus di depan, serangan-serangan Ki Alit berubah cepat dan sangat mematikan sekali. Di mata Suro senjata lawannya tampak berubah menjadi banyak. Ia tentu saja tidak mau bertindak ayal-ayalan lagi. Apalagi orang yang dihadapinya merupakan kaki tangan musuh bebuyutannya. Kini ia mempergunakan jurus Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau. Diiringi dengan suara teriakan melengking tinggi. Suro Blondo berkelebat lenyap.


Dalam penglihatan Ki Alit tubuh lawannya berubah menjadi tidak terhitung. Kemana pun ia berusaha membabatkan senjatanya. Tetap saja tidak mencapai sasaran. Ki Alit semakin marah, kedua rahangnya bergemeletukan. Sedangkan bibirnya terkatup rapat. Menghadapi kenyataan sedemikian rupa, tangan kirinya melepaskan pukulan secara beruntun ke arah lawannya.


Seleret sinar hitam melesat dan menghantam setiap bayangan lawannya yang bergerak cepat bagaikan setan.


Buum!


Salah satu pukulan di antara sekian banyak pukulan yang dilepaskannya menghantam Suro Blondo. Hingga membuat pemuda itu jatuh terjengkang. Sudut-sudut bibir Suro Blondo mengalirkan darah. Sebelum ia sempat berdiri sepenuhnya. Lawan telah menghunuskan senjatanya ke bagian perut pemuda itu. Ia terkesiap namun cepat membuang tubuhnya ke kiri sambil lepaskan satu tendangan telak ke arah kaki Ki Alit. Tidak menyangka lawannya yang dalam keadaan terjepit itu masih dapat melepaskan serangan balasan. Sedapat-dapatnya Ki Alit menghindar. Tapi gerakannya kalah cepat.


Buuk!


"Aaaa...!" Ki Alit terpincang-pincang, rasa sakit akibat tendangan Suro Blondo terasa sampai ke otaknya.


Suro Blondo bangkit berdiri. Masih dalam keadaan terhuyung-huyung senjata lawannya kembali menderu, menusuk ke bagian iganya. Suro melompat ke samping, tapi lawan masih sempat menghantam punggungnya. Sungguh pun Pendekar Blo'on dapat menghindari serangan senjata yang sangat mirip dengan pengait serta gancu itu.


Untuk yang kesekian kalinya, Suro terpelanting lagi. Punggungnya yang terkena pukulan lawannya terasa panas seperti terbakar. Sementara dari hidungnya mengalir darah kental. Jelas sekali pemuda ini menderita luka dalam,


"Go blok! Mengapa kau biarkan dirimu menjadi bulan-bulanan lawan! Kerahkan kepandaian yang kau miliki!" terdengar suara seperti lebah mendengung di telinganya. Dan suara itu jelas suara Wiro Suryo.


"Enak saja kau bicara! Karena kau mempergunakan ajian 'Suket Sekilen', makanya dapat mempecundangi lawanmu tanpa lawan tahu posisimu di mana. Sedangkan aku mana bisa menghilang seperti setan, to lol?" Suro Blondo balas mema ki. Tapi kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh manusia super kerdil itu memang ada benarnya. Pendekar Blo'on segera bersiap-siap melepaskan pukulan 'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar'.

__ADS_1


Sementara itu pertarungan antara Wiro Suryo dengan Damerta memang berlangsung tidak seimbang. Diawal jurus-jurus pertama Damerta memang dapat mendesak bahkan menghajar lawannya sampai tunggang langgang. Keadaan itu tentu saja membuat Damerta menjadi senang bukan main mempermainkan bocah bangkotan berbadan pendek ini. Namun menjelang pertarungan berlangsung duapuluh jurus. Keadaan benar-benar sangat berubah. Terlebih-lebih setelah Wiro Suryo mempergunakan ajian 'Suket Sekilen'. Maka terkadang tubuh Wiro Suryo lenyap dari penglihatan Damerta. Dalam keadaan sedemikian rupa tentu saja Wiro Suryo yang tidak kalah konyolnya dengan Suro Blondo langsung menelanjangi Damerta.


Karena lawan memang tidak terlihat maka sulit bagi Damerta untuk menentukan di mana posisi lawannya. Sementara tindakan Wiro Suryo semakin kurang ajar saja.


Disentilnya ketimun milik lawan, hingga membuat Damerta melonjak-lonjak kesakitan seperti monyet kebakaran ekor. Dilain saat Wiro Suryo menampar pipi lawannya kanan kiri hingga membuat Damerta keliengan. Maka mengamuklah Damerta seperti orang gila. Pukulan-pukulan maut dilepaskannya secara serampangan. Hingga membuat suasana di sekeliling mereka menjadi porak poranda. Karena lawannya yang dapat menghilang itu tidak ditemukan juga. Maka ia sekarang ikut menyerang Pendekar Blo'on.


"Hei... Wiro Suryo. Sekarang kau malah membiarkan lawanmu yang telanjang itu berkeliaran menyerangku. Apakah kau tidak sanggup mengamankannya?" gerutu Suro Blondo berbisik.


"Wah... tenang sobat. Tampaknya ia sangat frustasi karena tidak berhasil mendapatkan aku. Lihatlah aku istirahatkan dia...!" kata Tenggiling Kedil.


Dan benar saja, dalam beberapa saat kemudian tubuh Damerta dalam keadaan kejang kaku karena ditotok oleh Wiro Suryo.


"Bagaimana, hebat nggak!" Bocah bangkotan yang sudah memperlihatkan diri kembali itu tersenyum. Suro Blondo menggerutu. Pada saat ia sedang menghadapi tekanan-tekanan berat dari lawannya, masih juga Wiro Suryo memperoloknya.


"Hiya! Jebol perutmu, anak tol ol!"


Wuus!


Luput lagi. Suro melompat setinggi pinggang lalu menendang dagu lawannya dengan telak.


Thaak!


Bruuk!


Ki Alit terjengkang ke belakang. Sama sekali ia tidak mengeluh. Malah dengan cepat ia telah bangkit kembali. Kesempatan ini dipergunakan oleh Suro Blondo untuk melepaskan pukulan 'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar' untuk yang kedua kalinya.


"Heaaa...!"


Weer! Weer!


"Uuts...!"


Dalam kesempatan yang sama untuk melindungi dirinya dari ancaman sinar redup bersemu biru yang melesat dari telapak tangan Suro Blondo ini. Ki Alit juga melepaskan pukulan 'Wisa Biru'. Sebagaimana namanya, maka dari setiap ujung jemari Ki Alit melesat lima larik sinar berhawa panas menggidikkan. Dua pukulan sakti saling menyongsong dan akhirnya bertemu di udara.


Blaar! Blaar!


Badan Suro Blondo tergetar keras, sedangkan Ki Alit sendiri sempat terdorong mundur. Wiro Suryo jatuh tunggang langgang dan Damerta melolong keras terkena sambaran pukulan yang dilepaskan oleh kawan dan lawannya. Laki-laki itu jatuh terduduk.


"Edan...!" Wiro Suryo yang baru dapat berdiri mema ki.


Sementara Pendekar Blo'on sendiri telah melepaskan pukulan susulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'. Inilah salah satu pukulan hebat yang diwariskan oleh kakek gurunya 'Malaikat Berambut Api'. Angin kencang laksana topan menderu disertai menebarnya hawa panas bukan kepalang.


Ki Alit terkesiap, lalu memutar senjata di tangan sambil melepaskan pukulan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkannya. Tapi celaka, pukulan yang dilepaskannya membalik dan menghantam diri sendiri. Belum lagi ditambah dengan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma' yang terus menderu tidak terbendung. Pada akhirnya pukulan itu menghantam telak tubuhnya.


Maka terdengarlah dua jeritan sekaligus, bukan hanya Ki Alit saja yang tewas seketika terkena pukulan tersebut, Damerta yang terkena sambaran pukulan lawannya juga tewas. Hanya saja keadaan Damerta tidak begitu mengerikan dibandingkan mayat Ki Alit.


"Weii... edan kau Suro! Seharusnya kau tidak membunuhnya. Musuhku tadi pasti mau menunjukkan di mana markas tetuanya!"


"Semestinya kau membiarkan Damerta berdiri mematung di dekat ajang pertempuran. Lagi pula aku sudah dapat meraba dimana kira-kira Mustika Jajar berada!" sahut Suro Blondo.


"Kau yakin dia yang telah melakukan semua ini?"


"Aku hanya menduga, tapi semoga ada kebenarannya!"


"Mari kita berangkat!"


Lagi-lagi Wiro Suryo melompat dan bergelantungan di pinggang si pemuda hingga membuat Suro Blondo menjadi marah


"Jika urusan ini selesai. Kuharap kau tidak merepotkan aku lagi. Aku muak melihat benalu sepertimu!"


"Ha ha ha...!"

__ADS_1


Wiro Suryo hanya tertawa mengekeh.


__ADS_2