
"Anak-anak! Bunuh mo nyet bertampang to lol itu!" teriak Dasa Reksa pada anak buahnya yang ternyata telah berkumpul kembali mengurung Suro Blondo. Perintah sang ketua disambut oleh bunyi lecutan cambuk yang meledak-ledak di udara.
Dalam waktu singkat delapan mata cambuk berderu menyerang Pendekar Blo'on dari delapan penjuru arah. Pemuda ini terpaksa melompat ke udara. Lalu kerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'. Sekejap tubuh pemuda ini sudah melompat-lompat atau terkadang menari-nari membentuk gerakan-gerakanya yang sangat aneh. Dilihat sepintas lalu gerakan yang dilakukan Suro Blondo ini memang sangat mirip dengan gerakan monyet yang melompat-lompat di atas pohon. Namun sungguhpun demikian hingga sejauh itu tidak satupun lidah cambuk yang dapat menyentuh tubuhnya apalagi sampai melukainya.
"Gila betul! Rupanya pemuda bertampang to lol ini memiliki kepandaian yang dapat diandalkannya." Membatin Dasa Reksa.
"Kerahkan jurus 'Seribu Bisa'!" sang pimpinan berteriak-teriak memberi aba-aba.
"Shaa...!"
"Buut!"
"Tar... tar...!"
Jurus-jurus yang dimainkan oleh para algojo itu secara serentak berubah. Suara cambuk meledak-ledak memekakkan gendang-gendang telinga. Semakin lama cambuk di tangan lawannya tampak berubah menjadi banyak. Suro Blondo leletkan lidah saat menyadari posisinya dalam keadaan terdesak.
"Gila. Betul-betul gila! Aku harus mengerahkan jurus 'Seribu Siluman Kera Putih Mengecoh Harimau!" batin Pendekar Blo'on dalam hati.
Namun sebelum ia sempat melaksanakan niatnya. Salah satu cambuk lawan menghantam punggungnya. Baju terkoyak lebar. Ada darah yang mengalir di sepanjang luka guratan. Suro Blondo tersungkur mencium tanah. Saat itulah cambuk berduri bertubi-tubi mendera tubuhnya. Dalam keadaan tubuh remuk redam seperti itu. Ia terus berguling-guling menghindari mata cambuk berduri yang datang mendera seakan tidak ada habis-habisnya. Lalu....
"Haap...!"
Suro Blondo bangkit berdiri lalu melompat mundur sejauh tiga tombak. Mulutnya menyeringai menahan sakit. Darah bercucuran membasahi bajunya yang hancur di beberapa bagian.
"Bunuh! Jangan beri kesempatan pada pemuda sinting itu meloloskan diri!" teriak Dasa Reksa sambil terus memperhatikan jalannya pertempuran.
"Urusan jadi runyam jika aku sampai mati di tangan mereka!" gerutu Suro Blondo.
Tiba-tiba saja ia merangkapkan kedua tangannya ke depan dada. Setengah dari seluruh tenaga yang dimilikinya dikerahkannya ke bagian tubuhnya. Lalu... diawali dengan satu langkah yang sangat ganjil. Tubuhnya tiba-tiba bergerak cepat laksana kilat. Di tengah-tengah gerakan yang sangat sulit diikuti kasat mata dan membuat bingung lawannya itulah terdengar suara aneh. Mula-mula terdengar suara tawa meledak-ledak bagaikan hendak mengguncang bumi. Tapi di saat lain terdengar pula suara seperti orang yang sedang menangis. Suara itu mendayu-dayu mendirikan bulu roma. Dan di dalam kesempatan lainnya suara tangis lenyap berganti dengan suara gajah. Rupanya dalam keadaan sedemikian rupa, Pendekar Blo'on disamping mengerahkan jurus "Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Ia juga mengerahkan jurus 'Tawa Kera Siluman'.
Kenyataan ini sempat membuat terkesima lawan-lawannya. Namun mereka tidak mau berdiam diri lebih lama lagi. Laksana kilat cambuk berduri di tangan mereka melecut mengejar kemana saja bayangan Suro Blondo menghindar. Namun berulang kali mereka dibuat kecewa ketika serangan mereka mencapai tempat kosong. Bahkan dengan gerakan-gerakan yang sulit diduga-duga Suro Blondo mulai mempecundangi lawan-lawannya. Satu demi satu lawan-lawannya itu dibuat jatuh bangun. Hal ini semakin memancing kemarahan Dasa Reksa.
Ia pun mulai menerjunkan diri ke medan pertempuran. Tidak pelak lagi, Suro Blondo langsung mendapat keroyokan sembilan jago-jago pembunuh yang memiliki kemampuan tidak rendah.
Sungguh pun pemuda tampan bertampang to lol ini mempunyai watak yang konyol. Namun ia terdidik oleh dua guru yang memiliki pengalaman dan kepandaian sangat tinggi. Sehingga ia segera menyadari bahwa saat itu nyawanya benar-benar dalam keadaan terancam.
"Hiyaa...!"
__ADS_1
"Shaaa...!"
Gerakan silat Pendekar Blo'on dari cepat kini menjadi lambat. Sebagian tenaga dalam yang dimilikinya kini dikerahkannya ke bagian telapak tangannya. Sehingga dalam waktu yang singkat telapak tangan itu menjadi putih berkilauan. Pada kesempatan yang sama cambuk di tangan lawan-lawannya mendera sekujur tubuhnya hingga membuatnya jatuh tergulung-gulung dan babak belur.
"Bunuh!" teriak Dasa Reksa semakin bertambah beringas.
Serangan cambuk semakin menjadi-jadi. Pakaian yang melekat di tubuh Suro Blondo praktis tercabik-cabik. Namun pemuda itu cepat bangkit berdiri. Cambuk di tangan lawan-lawannya menyambut dan melibat tubuhnya. Tarik menarik pun terjadi. Andai saja Pendekar Blo'on bukan pemuda yang telah kenyang makan gemblengan gurunya. Mungkin saat itu tubuhnya telah terpisah pisah.
Suro Blondo menggeram penuh amarah. Sama sekali ia sudah tidak menghiraukan darah yang mengalir dari setiap luka yang terdapat di tubuhnya. Dan dalam keadaan dilanda kemarahan sedemikian rupa. Satu hal yang tidak pernah disadari oleh lawan-lawannya adalah bahwa, rambut Pendekar Blo'on yang hitam kemerah-merahan itu sekarang telah berubah merah sepenuhnya,
"Heaaa...!" Suro Blondo berteriak melengking tinggi. Empat larik sinar putih menyilaukan berkiblat melesat dari telapak tangannya. Itulah salah satu pukulan yang bernama 'Kera Sakti Menolak Petir' yang dilepaskan oleh Pendekar Blo'on.
Udara berubah menjadi panas menyesakkan. Empat orang lawannya terkesiap melihat datangnya gelombang sinar putih yang meluruk deras ke arah mereka. Namun untuk menyelamatkan diri tidak ada kesempatan lagi bagi algojo-algojo ini karena pukulan itu langsung menghantam tubuh mereka.
"Blaam! Buum! Buum!"
"Wuaaakh...!"
Empat sosok tubuh berpentalan meregang ajal. Tubuh mereka berubah hangus. Belum hilang rasa kejut di hati kawan-kawannya, Suro Blondo telah melompat ke belakang sehingga membuat cambuk yang membelit tubuhnya terlepas. Tidak tanggung-tanggung. Ia kali ini melepas pukulan 'Matahari Dan Rembulan Tidak Bersinar'.
Sinar redup bersemu merah bercampur dengan warna biru datang menggebu-gebu. Dun algojo lainnya kini menjadi korban. Tidak sempat menjerit apalagi melolong. Tubuh mereka tiba-tiba terhempas ke depan. Wajah mereka berubah pucat kebiru-biruan. Darah kental menyembur tiada henti dari mulut kedua algojo itu. Laksana mau terbang semangat Dasa Reksa melihat kejadian tragis yang sangat singkat ini. Namun kematian tetap kematian. Kenyataan yang dilihatnya tidak membuat nyalinya lumer, apalagi lari terbirit-birit meninggalkan pertem-puran. Dengan dibantu dua orang kawannya ia kembali merangsak ke depan. Suro Blondo menyeringai seakan mengejek.
"Buuuk! Buuuk!"
"Se tan atas!" maki pemuda itu jatuh bangun mempertahankan diri.
"Ayo kerahkan semua kepandaian yang kau miliki pemuda to lol!" teriak Dasa Reksa dan kawan-kawannya semakin bersemangat.
"Kalian meminta aku memberi!" sahut Suro Blondo, Ia langsung meraba gagang mandau jantan di balik pakaiannya.
"Wuuus!"
Sinar hitam tiba-tiba saja berkiblat. Salah seorang algojo yang berada begitu dekat dengannya menjerit roboh sambil memegangi perutnya yang membusai. Di tengah-tengah berkiblatnya sinar hitam tersebut tiba-tiba terdengar pula suara raungan aneh. Suara raungan kemudian berubah menjadi siulan tidak teratur. Bahkan terus berubah seperti suara ringkik kuda jantan.
Suara yang tidak teratur dan sesungguhnya keluar dari empat lubang miring yang terdapat di tengah cekungan pipih di tengah-tengah mandau ini benar-benar mengacaukan gerakan silat Dasa Reksa dan salah seorang anak buahnya.
Serangan-serangan yang mereka lancarkan pun mulai membabi buta. Namun sampai sejauh itu tetap saja sangat berbahaya bagi Suro Blondo. Bahkan satu tendangan menggeledek berisi tenaga dalam penuh menghantam punggung Suro Blondo. Untuk yang kesekian kalinya pemuda itu tersungkur roboh. Namun senjata sakti mandau jantan masih tergenggam erat di tangannya. Sekilas Dasa Reksa sempat melihat Senjata berbentuk aneh ini. Sungguhpun hatinya berubah kecut. Namun ia tetap mengayunkan cambuknya untuk merampas mandau sakti di tangan lawan.
__ADS_1
Ayunan cambuk mengarah pada bagian tangan Suro Blondo sempat dirasakan oleh si pemuda. Sehingga ia menggerakkan senjata ke arah datangnya cambuk yang menderu ke arahnya.
"Prass!"
"Tees!"
Cambuk baja di tangan lawan terbabat putus menjadi beberapa bagian. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Suro Blondo. Seraya melompat ke depan sambil menusukkan senjata di tangannya ke bagian perut Dasa Reksa.
Kepala algojo ini berkelit ke samping kiri dengan jalan menggeser langkahnya sebanyak dua tindak. Serangan Suro Blondo luput. Tapi senjata itu kemudian ia belokkan dan menghantam tulang iga Dasa Reksa.
Bukan main cepatnya serangan Pendekar Blo'on, sehingga lawan tidak sempat melihat berkiblatnya senjata si pemuda. Tahu-tahu saja dadanya kena dihantam.
"Craak! Craaaak...!"
"Wuaaakkk!"
Suara teriakan Dasa Reksa laksana merobek langit. Tubuhnya terguling, setelah empat tulang rusuk-nya terbabat putus senjata milik Suro Blondo. Laki-laki itu berkelojotan sebentar untuk kemudian terdiam selama-lamanya. Mati!
Suro Blondo bersiul nyaring. Ia memperhatikan algojo yang cuma tinggal satu-satunya ini. Ia menggerakkan tangannya, seraya memberi isyarat pada algojo yang sudah lumer nyalinya ini untuk maju menyerangnya. Namun algojo itu malah melangkah mundur bersiap-siap langkah seribu.
"Kau mau kabur kemana?" desis Suro Blondo. Pemuda ini tampaknya sengaja membiarkan algojo tersebut melarikan diri. Namun begitu sang algojo membalikkan badan dan ambil langkah dua ribu. Suro Blondo memungut sebuah batu sebesar kepalan tangan. Batu itu kemudian disambitkannya ke bagian punggung laki-laki berkepala botak tepat mengenai sasaran.
"Pluuuk!"
"Wadooow...!"
Sang algojo menjerit tertahan. Tubuhnya terguling roboh tanpa mampu bangkit kembali. Sungguhpun ia berusaha mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya. Namun tetap saja ia tidak mampu membebaskan diri dari totokan.
"Ternyata kau hanya seorang pengecut yang takut mati! Tapi hukuman segera kau terima dari para pekerja itu begitu aku membebaskan rantai baja yang membelenggu tubuh mereka!" kata pemuda itu, lalu usap-usap keningnya.
"Tunggu, tolong lepaskan aku! Aku berjanji mengabdi padamu jika kau mau menyelamatkan aku dari amarah mereka!" kata algojo itu penuh permohonan. Suro Blondo malah melangkah pergi sambil berkata:
"Manusia memang selalu begitu. Jika nyawa sudah di tenggorokan baru merengek-rengek minta ampun dan tobat. Huh... dasar kecoa kudisan!" desis Suro Blondo.
Tidak lama kemudian Pendekar Blo'on melepaskan rantai yang membelenggu tangan para pekerja itu. Setelah dirinya merasa terbebas, maka para pekerja itu beramai-ramai meninggalkan gua penggalian.
Saat mereka melihat salah satu algojo masih dalam keadaan tertotok. Dengan penuh amarah mereka mencincang tubuh algojo malang yang selama ini menyiksa mereka di lingkungan kerja paksa.
__ADS_1
Di kejauhan lamat-lamat Suro Blondo yang telah meninggalkan Bumi Ayu mendengar suara jerit kesakitan dari mulut sang algojo yang sedang menerima hukuman rimba.
Pendekar Blo'on bergidik seram, lalu golang-golengkan kepalanya berulang-ulang.