
Ternyata dugaan Pendekar Blo'on meleset. Kedua sosok berpakaian serba putih ini memang manusia. Tepatnya seorang nenek tetapi memiliki wajah cantik dan seorang gadis berparas jelita.
Pendekar Blo'on sempat tercengang karena gadis itu wajahnya sangat mirip sekali dengan Dewi Bulan.
Setelah melakukan gerakan seperti orang menari di atas air tanpa basah barang sedikit pun. Maka kedua perempuan itu langsung melayang ke daratan.
Jliik!
Keduanya menjejakkan kaki tanpa menimbulkan suara sama sekali. Sekejab gadis dan nenek cantik itu memperhatikan Suro Blondo dan Wiro Suryo silih berganti.
"Hari ini kulihat lagi sebuah kesedihan di balik duka yang kurasakan atas meninggalnya beberapa orang muridku! Kau siapakah pemuda tampan bertampang be go?" tanya si nenek tanpa memperkenalkan dirinya.
"Aku.... Aku Suro Blondo...! Sedangkan kawanku yang pendek tetapi sudah tua bangka ini namanya Wiro Suryo." sahut pemuda berambut hitam kemerahan itu setengah mendongkol.
"Kalian orang-orang konyol hendak kemanakah?" tanya si nenek cantik.
"Aku tidak mau menjawab jika kalian tidak memperkenalkan diri!" desis Suro bersunggut-sungut.
"Aku juga...!" timpal Tenggiling Kedil tidak mau kalah.
"Jika kau bicara seperti itu pada saat aku tidak sedang berduka. Mungkin aku masih bisa maklum. Tetapi sekarang jangan coba-coba membantah. Kalian berada di daerah kekuasaanku! Menolak permintaan berarti mati!" dengus si nenek cantik berang.
"Ha ha ha...! Kau dengar itu, bocah to lol. Ancamannya sungguh membuat tubuhku semakin bertambah kecil. Apakah kau mau menjawab pertanyaan nenek sinting ini?" e jek Tenggiling Kedil.
Suro Blondo pencongkan mulutnya. Lalu keluarkan siulan panjang seperti suara kera.
"Hidup dan mati tidak pernah kutakutkan! Kalau tidak bersalah tentu aku bisa mati tertawa!"
"Bagus! Tertawalah kau sepuas-puasnya!" dengus si nenek cantik. Sedangkan gadis yang menyertainya sejak tadi hanya diam saja sambil memperhatikan Suro Blondo.
"Bunuh! Bunuh!" teriak si nenek tidak jelas perintahnya itu ditujukan pada siapa.
Byur!
Tiba-tiba saja air di dalam sungai bergolak kembali. Lalu terdengar suara deru angin kencang disertai semburan air yang dingin. Sebuah kekuatan yang dahsyat telah menyeret tubuh Suro dan Wiro ke tengah-tengah pusaran air tersebut.
"Haup...! Haup!"
Hanya dua kali saja kedua laki-laki ini tampak timbul tenggelam. Kemudian mereka lenyap dan tersedot ke dalam pusaran air tersebut. Wiro Suryo adalah tokoh kawakan dari Gunung Sembung. Sedangkan Pendekar Blo'on adalah seorang pendekar yang mempunyai ilmu olah kanuragan sangat tinggi. Jika keduanya tidak mampu melepaskan diri dari daya tarik pusaran air tersebut. Ini merupakan pertanda bahwa nenek cantik itu mempunyai keahlian yang sangat hebat.
Setelah lima belas menit Suro dan Wiro tenggelam, tidak lama kemudian mereka tampak muncul kembali. Tapi tubuh mereka sudah sangat lemas seakan tidak punya daya. Nenek cantik menyeret keduanya ke pinggir sungai. Kemudian menelentangkannya di atas pasir.
"Seandainya kalian tadi mati, apakah menurut kalian kematian itu enak...?" tanya si nenek.
"Apa sebenarnya keinginanmu, Ni sanak? Sehingga berani mempermainkan kami yang tidak punya salah apa-apa padamu?" protes Wiro Suryo geram.
"Aku sedih, hik hik hik...! Jangan berani macam-macam, jawab dulu pertanyaanku!"
"Jangan tanya aku dan kawanku! Kami belum pernah mati, lagi pula engkau sedih apakah aku juga harus ikut sedih, huk huk huk!" sahut Suro sambil tertawa.
__ADS_1
Rupanya gadis jelita yang mendampingi si nenek cantik akhirnya tidak sabar juga melihat ulah si nenek cantik.
"Guru, tidak pantas menyiksa mereka. Lagi pula kita tidak tahu apakah dia berada di pihak perempuan setan itu atau tidak. Sebaiknya kita tanya langsung pada persoalan yang kita hadapi!" saran si gadis.
Si nenek cantik tidak langsung menjawab, melainkan kibaskan jubahnya yang menjela.
"Dewi Arimbi muridku, terlalu banyak manusia palsu di dunia ini. Terlalu banyak pula keanehan yang terjadi. Apakah mereka mau mengaku bila kita tanya tentang saudara-saudaramu yang sudah tewas!"
"Benar salahnya tergantung nanti! Yang penting kita tanya dulu kedua manusia konyol ini."
"Hemm, ucapanmu ada benarnya juga. Baiklah, sekarang aku akan menanyai mereka!" kata si nenek cantik, seraya melangkah maju beberapa langkah.
"Kalian lihat mayat-mayat itu?" Si nenek menuding salah satu mayat yang tergeletak tidak jauh di pinggir sungai.
"Hanya orang buta saja yang tidak melihatnya!" sahut Suro sambil garuk-garuk kepala.
"Bagus! Kalian tahu mereka adalah korban perempuan yang berjuluk Betina Dari Neraka!" jelas si nenek cantik.
"Kami juga sedang memburu Manusia Setan itu beserta kaki tangannya!" tegas Wiro Suryo.
"Heh... benarkah begitu?" desis si nenek cantik Tambel Nyawa.
"Kawanku tidak berdusta. Kalau tidak percaya tanya saja pada para hantu, setan, jin, burung-burung yang sedang terbang atau iblis itu sendiri. Kami bahkan baru saja meloloskan diri jebakan Iblis Betina Dari Neraka." Suro Blondo menimpali.
Nenek cantik sebenarnya maklum dengan ucapan pemuda yang tampak rada-rada miring itu. Tetapi mungkinkah pemuda bertampang to lol seperti itu punya urusan dengan Betina Dari Neraka?
"Kalau percaya ya percaya, jangan harus terpaksa. Lagipula siapa yang memaksamu, nenek? Aku tidak memaksa apalagi kawanku?"
"Diam kau pemuda ceriwis! Sekarang kalian harus memejamkan mata!" perintah Dewi Arimbi.
Walaupun hati mereka dipenuhi dengan tanda tanya, namun Suro dan Wiro Suryo terpaksa memejamkan matanya. Tidak lama setelah mata mereka terpejam. Suro Blondo merasa tubuhnya terangkat menuju ke sebuah tempat yang serba asing. Sampai kemudian terdengar sebuah suara....
"Buka matamu!"
Pendekar Blo'on membuka matanya. Kemudian pemuda berambut hitam kemerah-merahan itu memperhatikan keadaan disekelilingnya. Ternyata ia sudah tidak berada di pinggir sungai lagi.
"Kawanku dimana? Siapa yang telah membawaku ke mari?" tanya Suro dengan bingung.
"Kami yang telah membawamu kesini. Sedangkan kawanmu sekarang sedang di pinggir sungai sana!" sahut gadis berbaju putih tenang.
"Apa keinginan kalian sehingga membawaku ke tempat yang sama sekali belum kukenal ini?" tanya si pemuda sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Lembah Tidak Bernama! Aku Dewi Kehidupan membawamu kemari tentu saja ingin bertukar pikiran denganmu?!" tegas si nenek Tambel Nyawa.
"Mengapa kawanku tidak kalian bawa serta?"
"Karena aku hanya ingin bicara padamu!" sahut si nenek cantik.
"Ha ha ha...! Tindakan kalian hanya membuat aku kehilangan kesempatan untuk menghancurkan Iblis Betina Dari Neraka!" dengus Suro Blondo.
__ADS_1
"Jangan banyak bertingkah dihadapanku! Sekarang kau diam dan dengarkan apa yang ingin kukatakan!!" tegas Dewi Kehidupan.
"Cepatlah! Karena aku tidak ingin berlama-lama berada disini!" kata Pendekar Blo'on.
"Baiklah," desah Nenek Tambel Nyawa.
"Beberapa hari yang datang seorang perempuan cantik dan seorang laki-laki tinggi besar yang cuma memakai cawat...!"
"Itu pasti Si Perkasa. Manusia patung yang telah dihidupkan oleh gurunya perempuan itu!" potong Suro.
"Bocah gendeng! Jangan kau potong ucapanku!" dengus nenek berbaju putih itu marah.
"Kalau begitu teruskan!" sahut Suro Blondo serius.
"Perempuan itu mengatakan dirinya sebagai Iblis Betina Dari Neraka. Ia mengajakku agar mau bergabung dengan mereka. Waktu yang diberikan padaku hanya sepekan saja untuk berpikir. Ketika waktu yang ditentukan telah sampai masanya. Maka aku memutuskan tidak ingin bergabung dengan perempuan itu. Aku tahu dia perempuan iblis yang ingin menaklukkan rimba persilatan. Ia ingin mendirikan sebuah kerajaan persilatan yang paling besar di negeri ini. Akibat penolakanku, kau tentu sudah dapat menebak apa yang terjadi!"
"Dia membunuh murid-muridmu dengan serangan beracunnya?!" sahut Pendekar Blo'on.
"Tepat! Itulah sebabnya ketika kalian datang ke sungai itu aku merasa curiga. Kau tahu seumur hidupku, baru kali ini aku Dewi Air merasa kecolongan." ujar si nenek cantik.
"Apa yang dicolong, nenek?" tanya Suro Blondo.
"Nyawa murid-muridku, to lol!" m aki perempuan itu sengit.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"
"Jika memang benar kau bukan anak buahnya Betina Dari Neraka. Aku ingin minta bantuanmu untuk menangkap perempuan iblis itu!" tegas Dewi Kehidupan.
"Apakah engkau dan muridmu tidak dapat melakukannya sendiri?" pancing Pendekar Blo'on.
"Kau memang manusia menyebalkan. Tentu saja aku sanggup, aku hanya ingin membuktikan benarkah kau mau membunuh perempuan itu? Jadi apa salahnya jika aku sekalian menitipkan sebuah tugas untukmu!"
"Engkau tidak usah khawatir. Sudah lama aku memburu Iblis Betina Dari Neraka berikut patung itu. Sekarang aku harus pergi dari sini!" tegas Pendekar Blo'on.
"Eiit... tunggu dulu. Untuk meyakinkan kebenaran niatmu itu, sekarang muridku Dewi Arimbi harus ikut denganmu! Kalau apa yang kau lakukan nanti menyimpang dari apa yang kau ucapkan. Maka muridku ini akan mencincang tubuhmu!" tegas Dewi Kehidupan.
"Aku tidak melarang dia ikut denganku, kalau nenek cantik juga ingin turut serta, aku juga tidak larang!" ejek Pendekar Blo'on sambil mengusap-usap keningnya.
"Tidak...! Untuk sekarang ini sebaiknya muridku saja yang menjadi saksi...!" tegas Dewi Kehidupan.
Pendekar Blo'on walaupun belum pernah mengenal Dewi Arimbi. Namun ia merasa yakin gadis yang tidak banyak bicara itu baik hatinya. Tentu saja ia merasa senang pergi bersama Dewi Arimbi dibandingkan dengan nenek bawel seperti Dewi Kehidupan itu.
"Baiklah, kalau guru memerintahkan aku untuk mengawasi pemuda bertampang to lol ini. Sekarang aku mohon diri...!" kata Dewi Arimbi.
"Pergilah muridku! Ini adalah pertama kalinya kau berada di rimba persilatan. Kau harus berhati-hati menghadapi tipu muslihat musuh-musuhmu. Termasuk juga terhadap pemuda ini...!" tegas Dewi Kehidupan alias Si Nenek Cantik Tambel Nyawa.
"Guru tidak usah khawatir, kalau pemuda ini bertingkah macam-macam tentu aku akan membunuhnya...!"
Suro Blondo sebenarnya mendongkol juga mendengar ucapan si gadis. Tetapi ia tidak ingin bertindak macam-macam. Sebagai pelampiasan kekesalannya Suro Blondo hanya menggaruk-garuk kepalanya. Tidak lama kemudian kedua muda-mudi itu segera meninggalkan Lembah Tidak Bernama.
__ADS_1