Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
12


__ADS_3

Adalah satu kecelakaan besar bagi siapa saja yang berani menentang kekuasaan partai Dunia Akhirat. Balung Raja, Braja Musti, Baja Geni dan Ki Rambe Edan jadi uring-uringan setelah membaca sobekan kain kuning yang dibawa oleh Tiga Iblis Pemburu Nyawa.


Hampir enam belas tahun selama mereka mendirikan markas besar di puncak gunung Bromo. Belum pernah ada seorang pun orang-orang rimba persilatan berani mengusik atau mencampuri sepak terjang mereka yang ganas. Tapi hari ini tiga pembantu utama telah jadi pecun dang seorang gadis cantik yang tidak pernah mereka kenal sama sekali. Sungguh pun suasana di dalam markas yang mirip istana kecil ini semakin memanas.


Namun karena begitu banyaknya urusan yang harus diselesaikan oleh pentolan-pentolan yang tergabung dalam partai Dunia Akhirat. Maka mereka hanya mengirimkan seorang tokoh sakti bernama Braja Musti. Pagi-pagi sekali laki-laki bertampang kejam bersenjata bola berduri ini dengan diiringi oleh Tiga Iblis Pemburu Nyawa tampak menggebrak kuda tunggangannya menuju daerah Nongkojajar. Seperti dikejar-kejar setan mereka memacu kuda-kuda tunggangan itu. Setiap orang yang dijumpai di tengah jalan, cepat-cepat menyingkir saat melihat siapa para penunggang kuda tersebut.


"Heya...!"


"Heya...!"


Suara teriakan-teriakan menyelingi derap langkah kaki kuda. Debu mengepul ke udara. Semakin lama para penunggang kuda itu semakin jauh meninggalkan lereng Gunung Bromo.


Sebelum sampai di daerah Nongkojajar di sebuah tempat yang agak tersembunyi terdapat sebuah telaga yang cukup luas. Airnya terasa sejuk karena memang di atas telaga itu tertutup pohon-pohon liar yang cukup tinggi.


Masih dari atas telaga, terdengar suara seseorang bersenandung. Menilik besarnya suara pastilah pemiliknya merupakan seorang gadis. Atau mungkin juga seorang banci, atau boleh jadi kuntilanak. Terlebih-lebih mengingat di daerah itu tidak satu pun terlihat ada rumah penduduk. Seorang pemuda yang baru saja muncul dari arah utara. Mendadak saja menghentikan langkahnya. Ia menarik napas dalam-dalam saat mencium bau harum yang sangat menyengat.


Sesaat pemuda berbaju biru muda memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning ini celingak-celinguk menyapu pandang tempat disekelilingnya. Wajah pemuda ini sebenarnya cukup tampan, rambutnya hitam kemerah-merahan. Cuma tampangnya seperti orang Blo on. Lagaknya yang cengar-cengir menimbulkan kesan lucu yang polos.


"Bau wangi ini apakah bau se tan? Tapi ada orang menyanyi-nyanyi. Ah... sepertinya dari sana...!"


Tanpa prasangka apa-apa, pemuda berbaju biru muda ini bergerak mendatangi. Semakin dekat ia ke arah telaga, maka suara nyanyian semakin bertambah jelas, bau harum yang sempat terendus hidungnya juga semakin menyesakkan dada.


Si pemuda yang tiada lain Suro Blondo alias Pendekar Blo on segera bersembunyi di balik sebuah batu besar ketika melihat air telaga bergolak besar. Semula ia menyangka orang yang bernyanyi-nyanyi dalam telaga itu adalah bidadari yang baru turun dari kayangan. Dengan takut-takut ia tongolkan kepalanya.


"Busyet! Orang itu tidak berpakaian. Mengapa tidak seperti aku? Dia punya bisul kembar di dadanya! Ini pasti porno. Baiknya aku cepat pergi...!"


Dengan wajah memerah karena dengan tidak sengaja ia telah mengintip gadis cantik yang sedang mandi. Suro Blondo bermaksud meninggalkan tempat secepatnya.


Tapi celakanya kakinya tergelincir karena memang batu yang dipijaknya licin bukan kepalang.


Grosak!


"Aduh...!"


Suara berisik semak-semak dan keluhan pendekar Blo on terdengar oleh gadis yang baru saja mengenakan pakaiannya kembali.


"Pengintip kurang ajar! Jangan lari...!"


"Ala emak, mati aku!" Si pemuda mengeluh.


Setelah celingak-celinguk dan tidak melihat orang di situ. Dengan mempergunakan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sangat sempurna ia menjejak kakinya. Tubuhnya melesat ke udara. Dilain saat ia telah bersembunyi di atas cabang pohon paling tinggi.


"Mudah-mudahan gadis itu tidak melihatku! Malu aku kalau ketahuan!" batin Suro Blondo.


Dugaan pemuda tampan berambut merah pirang ini memang tidak meleset. Beberapa saat tampak seorang gadis berpakaian serba kuning berambut panjang telah berdiri disitu. Matanya memandang berkeliling tapi ia tidak melihat siapa pun disitu.


"Tadi aku mendengar suara orang di sini! Betul... ini bekasnya...! Jelas-jelas ia mengintipku! Kurang ajar betul!" geram si gadis dengan wajah berubah merah jengah.


"Pengintip kudi san! Aku tahu kau masih bersembunyi di sekitar sini. Cepat tunjukkan diri kalau tidak ingin kupecahkan kepalamu!"

__ADS_1


Suro Blondo memperhatikan kulit tangannya.


"Ah... aku tidak kudi san seperti yang dikata gadis itu. Kalau begitu pasti ada orang lain lagi di sini selain aku!"


Suro Blondo usap-usap keningnya yang keringatan. Namun tiba-tiba saja pemuda ini jadi kelabakan ketika tangannya mulai diserang semut-semut merah. Semakin ia berusaha menahan serangan semut-semut itu. Maka semakin bertambah banyaklah makhluk-makhluk kecil ini yang menggigitnya.


"Celaka...!"


Walau suara Suro Blondo tidak keras, namun cukup di dengar oleh gadis di bawahnya. Sontak ia mendongakkan kepalanya ke atas pohon.


"Mo nyet pengintip baju biru, harap turun tunjukkan tampang!" teriak gadis baju kuning sambil bertolak pinggang.


"Sudah ketahuan begini, terpaksa aku turun...!"


Dengan gerakan yang sangat indah sekali, pendekar Blo on bersalto beberapa kali. Dengan kedua kakinya ia menjejak persis di depan gadis itu. Ia usap-usap keningnya yang berkeringat. Lagaknya cengar-cengir.


Gadis di depannya yang semula tampak


marah, kini malah terkejut.


"Aneh...! Pemuda ini tampan, tapi mimiknya tampak to lol! Lagi pula mengapa rambutnya bisa berwarna merah pirang begitu?" membatin gadis berbaju kuning.


Sebaliknya Suro Blondo memandang ke arah si gadis tidak berkesip.


"Cantik... cantik bukan main. Kulitnya putih bersih, ada tahi lalat pula di dagunya. Siapakah dia? Apakah benar dia seorang bidadari?"


"Pemuda mata keran jang! Berani kau memandangku? Sudah mengintip sekarang kau melihatku begitu rupa!"


membuat Suro Blondo terjingkat kaget.


"Ma... maaf Nisanak! Sebenarnya aku bukan mengintipmu. Aku tidak sengaja... sungguh...!" sahut si pemuda dengan mimik lucu. Sungguh pun ia telah berusaha bersikap serius.


"Dusta...!"


"Aku tidak berdusta!"


Bantah Suro Blondo.


"Tampangmu saja seperti orang be go. Padahal kau pengintip licik! Rasakan nih! Hiyaa...!"


Tidak banyak cakap, dara berbaju kuning berwajah cantik ini langsung kirim satu tendangan dahsyat ke arah dada Suro Blondo. Melihat angin kencang menderu ke dadanya. Suro Blondo yakin tendangan yang dilakukan si gadis mengandung tenaga dalam tinggi. Suro Blondo terkesiap. Ia melompat mundur sejauh dua tombak.


"Nisanak! Jangan...! Kau salah sangka...!"


Pemuda itu berusaha membela diri. Namun manalah gadis baju kuning mau mengerti. Ia terus menyerang bahkan sekarang mulai melepaskan pukulan-pukulan tangan kosongnya. Suro Blondo terus mengelak.


"Mengelak terus bisa kojor aku!" membatin si pemuda.


Untuk menghindari serangan yang semakin bertambah ganas itu. Suro Blondo kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'. Spontan tubuhnya meliuk-liuk, gerakan-gerakan yang dilakukannya tidak ubahnya seperti tingkah seekor mo nyet. Terkadang tangannya menggaruk, kaki berjingkat-jingkat. Atau menangkis dengan sikap seperti main-main.

__ADS_1


"Bagus! Rupanya kau hanya sejenis ku nyuk yang hanya pandai main sulap. Kerahkan semua yang kau punya! Aku ingin melihat tiga jurus di muka kau masih mampu melompat lompat seperti mo nyet!" bentak dara baju kuning marah bukan main.


"Ah... ah... jangan marah terus. Nisanak salah paham!"


"Pers etan dengan salah paham! Mam pus...!"


Gerakan silat dara baju kuning berubah seketika. Jika tadi ia menyerang dengan gerakan yang sangat teratur mengundang maut. Kini diawali dengan satu bentakan menggeledek. Tubuhnya berkelebat lenyap, hingga tinggal berupa bayang-bayang kuning saja. Satu hantaman keras menderu ke bagian wajah Suro Blondo. Ia tersentak kaget sekaligus menarik wajahnya ke depan.


"Mati aku...!" Suro Blondo menggerutu.


Tangannya menyodok ke depan dengan maksud menangkis tangan kiri lawan yang mencengkeram bagian lambungnya. Namun rupanya serangan itu hanya tipuan belaka. Sebaliknya kaki dara baju kuning sudah menghantam perutnya. Suro Blondo tidak dapat selamatkan perutnya.


Buuk!


Pemuda berbaju biru muda berikat kepala warna biru belang-belang kuning ini jatuh terguling-guling. Isi perutnya seperti diaduk-aduk. Anehnya ia masih mampu cengengesan seakan tidak merasakan akibat apa-apa.


Selain kaget, gadis ini tentu saja marah sekali. Tendangan yang dilakukannya jelas mengandung tenaga dalam tinggi. Paling tidak pemuda tampan bertampang to lol di depannya menderita luka dalam yang tidak ringan. Tapi ternyata pemuda itu malah cengengesan.


Semakin panas semakin bertambah penasaran, dara baju kuning. Hingga amarahnya yang meluap-luap itu dilampiaskannya dengan menyerang Suro Blondo lebih dahsyat lagi.


"Ups... tidak puaskah kau setelah hampir membuat remuk ususku, Nisanak...!" pekik Suro Blondo.


"Mana aku bisa puas kalau belum membuat remuk mukamu yang ko nyol itu!" bentak dara baju kuning.


"Gadis liar ini kalau belum kubikin kapok semakin besar kepala saja...!" rutuk pendekar Blo on.


Saat ia melihat serangan dara baju kuning menderu lagi menyerang sepuluh jalan darah. Sadarlah Suro Blondo lawannya tidak main-main dengan ancamannya.


"Hiiiiiit...!"


Disertai suara menggeredeng panjang. Jemari tangan si pemuda terpentang ke depan. Pinggulnya bergoyang seperti orang yang sedang menari. Mulutnya pletat-pletot seakan menge jek. Hampir sama dengan gerakan mon yet melompat. Suro Blondo menerkam ke depan dengan badan setengah membungkuk.


Dara baju kuning terkesiap. Ia menyambuti cengkeraman jemari tangan si pemuda dengan tendangan kaki yang terarah pada bagian kepala lawannya. Gerakan yang menganggap enteng lawan ini segera disambut Suro Blondo


Jab!


Tangan kanan si pemuda mencengkeram kaki lawannya. Kemudian dengan tenaga kasar didorongnya kaki sang dara.


"Ups...! Kep arat betul...!"


Sang dara terpaksa jungkir balik untuk menyelamatkan kepalanya yang terus meluncur ke arah sebongkah batu di belakangnya.


Jlik!


Kini gantian dara baju kuning yang terbengong-bengong. Sama sekali ia tidak menyangka pemuda tampan bertampang tol ol itu dapat menyerangnya sedemikian rupa. Lebih tidak menyangka lagi, pemuda berambut pirang itu ternyata memiliki kepandaian tinggi.


Jika ia memang mau mencelakai. Pasti sejak tadi pemuda itu telah mempergunakan tenaga dalamnya untuk mencelakai dirinya. Sungguh pun begitu ia masih merasa penasaran. Ia ingin menjajal sekaligus menjajaki kemampuan yang dimiliki oleh pemuda di depannya. Namun sebelum niatnya kesampaian. Ia mendengar derap suara langkah kaki kuda mendekat ke arah mereka.


"Jangan ke mana-mana, pemuda Blo on. Urusan kita belum selesai. Aku merasa perlu mengurus ku nyuk-ku nyuk jel ek berkuda yang baru datang itu...!" desis dara baju kuning.

__ADS_1


Ia memandang ke arah datangnya suara kuda. Sungguh pun masih agak jauh, namun ia sudah dapat melihat siapa siapa saja penunggang kuda itu, terkecuali satu orang di antaranya ia memang tidak mengenalnya sama sekali.


__ADS_2