
Suro Blondo menyeringai kesakitan. Walaupun sambil menyeka darah yang menetes dari sudut-sudut bibirnya. Pemuda itu masih dapat tersenyum. Sementara itu Dewi Arimbi rupanya tidak tega juga membiarkan Suro menjadi bulan-bulanan Datuk Tabala Muka yang mempunyai kepandaian tinggi tersebut. Sehingga ia bermaksud ingin membantu, tetapi rupanya Pendekar Blo'on mengetahui niat baik si gadis. Tetapi anehnya ia malah menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Jangan, Rimbi...! Aku ingin main-main dengan Datuk berwajah jelek ini. Aku mau lihat dia punya kesaktian sebanyak apa?" dengus Suro Blondo.
"Pemuda sinting! Kau pandai sekali bergurau. Meskipun jiwamu hampir melayang!" dengus Datuk Tabala Muka.
"Lihatlah serangan...!" teriaknya kemudian, Sepuluh jari tangan Datuk Tabala Muka terpentang.
Dewi mengetahui lawannya bermaksud melancarkan serangan 'Jari MautBermata Satu'. Sehingga dengan gugup ia berteriak memperingatkan.
"Awas Suro! Serangannya dapat membunuhmu!"
Pendekar Blo'on rupanya sadar betul dengan bahaya yang mengancam jiwanya. Terlebih-lebih setelah melihat sepuluh leret sinar maut berwarna hitam bergerak ke sepuluh bagian di tubuh Suro. Merasa tidak punya pilihan lain lagi. Suro Blondo langsung mengerahkan jurus 'Tawa Kera Siluman'.
"Nguk! Nguk! Ha ha ha...!"
Sambil bergerak lincah atau terkadang berjingkrak-jingkrak. Mirip seperti gerakan kera. Pendekar Blo'on berputar-putar. Dari mulutnya terdengar suara desis dan tawa yang tidak ada putus-putusnya. Pada saat itu pula si pemuda mengerahkan dua pertiga dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Maka perubahan pun terjadi. Rambut si pemuda yang berwarna hitam kemerah-merahan tersebut berubah menjadi merah seperti bara. Rambut tersebut berumbai-umbai seolah terlihat bagai jilatan lidah api. Pada saat itu suara tawa si pemuda lenyap dan berganti dengan jeritan ketakutan yang seakan datang dari seluruh penjuru arah. Inilah Pukulan 'Neraka Hari Terakhir' yang Maha dahsyat tersebut.
"Hiyaa...!"
Si pemuda kemudian mengibaskan kedua tangannya ke depan. Terlihat sinar merah hitam menderu dan memupus habis sepuluh larik sinar yang menyerang ke sepuluh bagian tempat yang sangat berbahaya. Akibatnya...
Buummm!
"Aakh...!"
Untuk pertama kalinya Datuk Tabala Muka menjerit keras. Tubuhnya terhempas dengan keras di atas batu. Batu hancur sedangkan dari mulut dan hidung Datuk Tabala Muka mengucurkan darah kental berwarna hitam.
Walaupun tubuh Pendekar Blo'on cuma tergetar saja. Tetapi sebelumnya ia sudah terluka dalam. Akibat pengerahan tenaga yang berlebihan tadi membuat luka yang dideritanya menjadi bertambah parah. Ia pun tergelimpang roboh dan tidak sadarkan diri. Dewi Arimbi yang sempat tercengang melihat perubahan yang terjadi pada rambut si pemuda beberapa saat tadi. Kini berubah cemas, sebelum Datuk Tabala Muka sempat sadarkan diri. Ia segera memondong Pendekar Blo'on dan melarikannya ke sebuah tempat yang aman.
Datuk Tabala Muka sempat tidak sadarkan diri akibat pukulan yang dilepaskan oleh si pemuda. Ketika sang Datuk pingsan. Maka ratusan burung pemakan bangkai langsung meluruk turun. Tetapi kawanan burung-burung menjijikkan tersebut tidak memangsa tubuh majikannya. Malah mereka menunggui Datuk Tabala Muka dengan tekunnya. Sampai kemudian terdengar suara rintihan sang Datuk
"Ufh... pemuda itu, akh dimanakah dia...!" desis sang Datuk. Ia segera duduk, ia menjadi kaget ketika melihat disekelilingnya kawanan burung bangkai telah berkumpul dengan suaranya yang ribut memekakkan telinga. Datuk Tabala Muka mengedarkan pandangan matanya. Lalu ia memejamkan matanya untuk mengatur nafas setelah tidak melihat lawan berada di situ lagi. Tidak sampai sepemakan sirih, setelah nafasnya teratur dan luka dalamnya tersembuhkan kembali. Maka sang Datuk bangkit berdiri.
"Pemuda itu sungguh sangat luar biasa. Tampangnya saja yang to lol. Aku benar-benar tertipu dengan penampilannya! Mudah-mudahan dia belum mendahuluiku menemukan Betina Dari Neraka! Gara-gara pemuda itu, urusanku jadi tertunda!" gerutu Datuk Tabala Muka salah tingkah.
"Burung-burungku. Kali ini majikanmu belum bisa mempersembahkan mayat untuk kalian. Mari teruskan perjalanan, mudah-mudahan pesta besar akan kalian dapatkan di depan sana!"
Kreaak! Kreaak...!
Dan burung-burung bangkai tersebut segera mengikuti kemanapun majikan Pulau Pelebur Dosa ini melangkah.
*
Gadis cantik berbaju putih ini terus berlari tanpa mengenal lelah sambil memanggul tubuh Suro Blondo di bahunya. Sampai kemudian ia mendapatkan sebuah tempat yang aman di pinggir sungai kecil berair jernih. Ia segera menurunkan Pendekar Blo'on dari bahunya.
__ADS_1
Ternyata pemuda itu, masih dalam keadaan pingsan. Dewi Arimbi menjadi khawatir nyawa pemuda tampan itu tidak dapat diselamatkan.
"Aku harus membantu pernafasannya!" pikir si gadis.
Tiba-tiba ia menyentuh bibirnya sendiri. Dan wajahnya seketika berubah merah seperti tomat matang. Membantu pernafasan berarti ia harus menyentuh bibir si pemuda dengan bibirnya. Agar udara dapat masuk ke dalam mulut si pemuda. Padahal hal semacam ini belum pernah dilakukannya seumur hidup. Tetapi jika ia tidak menolong, tentu nyawa pemuda itu terancam.
Akhirnya Dewi Arimbi memberanikan diri. Setelah memastikan tidak ada orang lain di tempat itu. Maka dengan cepat ia bergerak. Bibirnya yang kemerah-merahan itu menempel ke bibir Suro. Lalu ia menghembus dengan kuat. Sesaat setelah itu ia mengangkat kepala, lalu memperhatikan reaksi yang terjadi. Karena tidak ada perubahan dan tanda-tanda si pemuda akan sadar. Maka ia menempelkan bibirnya lagi. Dan....
Puuh...!
Demikianlah hal itu dilakukannya berulang-ulang. Karena tetapi tidak ada perubahan. Maka Dewi Arimbi lama kelamaan menjadi cemas. Padahal yang sesungguhnya Suro mulai sadar sejak hembusan pertama. Tetapi ia tetap menahan nafas dan berpura-pura pingsan terus.
Di luar kesadaran si gadis. Ia merasa senang dicium oleh gadis secantik Dewi Arimbi. Sampai kemudian setelah puas membuat Dewi Arimbi cemas. Ia berpura-pura merintih.
"Aduh biyung... sakitnya dadaku ini...!"
"Akh... syukurlah kau sudah sadar, Suro...!" kata Dewi Arimbi tampak kegirangan.
"Ap... apa yang terjadi denganku? Apakah aku sudah mati?" tanya Suro dalam hatinya ia menjadi geli.
"Tidak... tidak! Kau belum mati, Suro. Kau hanya pingsan setelah melawan Datuk Sakti itu. Ach... tidak kusangka kau mampu membuatnya tidak sadar dan terluka! Kau hebat...!" puji si gadis.
"Dia pingsan, aku klenger. Berarti tidak ada yang kalah dan tidak ada pula yang menang!" desis si pemuda.
"Sudah jangan pikirkan! Aku harus menyembuhkan luka dalam yang kau derita. Sekarang duduklah...!" perintah si gadis akrab.
Dewi Arimbi terpaksa mendukungnya. Karena ia berada di belakang. Maka dadanya yang kenyal menyentuh punggung Suro Blondo. Pemuda konyol ini benar-benar ingin menguji sampai di mana perhatian si gadis.
"Nah... tetaplah bertahan duduk seperti ini...!" perintah si gadis.
Tidak lama kemudian ia menyalurkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangan yang menempel di punggung si pemuda. Hawa hangat segera menjalar ke sekujur tubuh si pemuda. Tampak jelas keringat mengalir deras membasahi pakaian Dewi Arimbi. Sampai akhirnya si gadis menarik tangannya yang bergetar. Dewi Arimbi duduk bersila dan mengatur nafasnya yang tidak teratur. Setelah itu ia membuka matanya kembali. Di luar sepengetahuan si gadis. Tadi Suro sempat menelan obat pulung mujarab pemberian gurunya. Sehingga dalam waktu yang tidak lama luka yang dideritanya benar-benar telah sembuh.
"Bagaimana, Suro...?" tanya Dewi.
Pemuda konyol itu tersenyum, senyumannya benar-benar menggetarkan hati si gadis.
"Berkat pertolonganmu nyawaku tidak jadi melayang... Kalau tidak ada engkau mungkin aku sudah mam pus!" sahut si pemuda.
"Ahk... kau ada-ada saja. Masalah nyawa adalah urusan Malaikat. Sebaiknya kau istirahat dulu! Aku ingin mencari buah-buahan untukmu!" ucap di gadis.
Dengan dibantu Dewi Arimbi, Suro merebahkan tubuhnya di atas rerumputan kering. Sebentar saja si gadis telah berkelebat pergi. Mata pemuda berbaju biru muda ini berkedap-kedip. Pikirannya menerawang. Tiba-tiba saja ia teringat pada Wiro Suryo.
"Kemana bocah tua, Tenggiling Kedil. Apakah dia setelah terpisah dariku kembali ke Gunung Sembung? Atau mencari Betina Dari Neraka? Semakin banyak saja orang yang memburu Manusia Setan itu." batin si pemuda.
Tiba-tiba ia mendengar suara gemerisik dedaunan tidak jauh dari sisinya. Lalu, tercium bau harum khas wanita. Pendekar Blo'on menyadari bahwa yang datang adalah Dewi Arimbi. Itu sebabnya ia langsung memejamkan matanya. Gadis itu kemudian muncul dengan membawa buah-buahan hutan yang enak dimakan.
__ADS_1
"Ternyata dia tidur!" kata si gadis dengan suara perlahan saja. Dewi Arimbi meletakkan buah-buahan di sisi Suro.
"Sebaiknya aku mandi dulu!" katanya seorang diri. Dewi Arimbi kemudian melangkah ke arah sungai sejarak dua tombak dari tempat Suro berbaring. Karena mengira si pemuda benar-benar tidur. Maka tanpa curiga ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Sehingga terlihatlah sekujur tubuhnya yang berkulit kuning langsat itu. Dewi kemudian masuk ke dalam sungai. Ia berenang kian kemari sambil bersenandung kecil.
Suro Blondo si pemuda nakal membuka matanya sedikit dan memandang ke jurusan sungai. Sehingga ia dapat melihat lekuk lengkung tubuh si gadis. Lalu ia memejamkan matanya kembali. Dadanya menggemuruh, jantungnya memukul-mukul dengan keras. Darahnya mendesir.
"Aku sih kuat melihat pemandangan apa saja, tapi si entong tidak bisa kompromi!" kata hati Suro.
Tidak lebih dari sepemakan sirih. Dewi Arimbi segera naik kembali ke daratan. Ia mengenakan pakaiannya satu persatu. Pada saat itulah Suro terbatuk-batuk.
"Suro jangan melihat kemari!" seru Dewi sambil memalingkan tubuhnya ke arah lain.
"Ada apa rupanya?" tanya si pemuda dengan lugu.
"Ak... aku... aku sedang... ahk...!" Dewi Arimbi jadi gugup,
"Sedang apa...?" desak si pemuda konyol.
"Se... sedang berpakaian...!"
"Jangan takut. Aku bukan durjana pemetik bunga!" sahut Pendekar Blo'on seenaknya.
Dewi Arimbi segera mempercepat segala sesuatunya. Setelah selesai berpakaian ia langsung menghampiri Suro Blondo.
"Kau... kau mengintipku...!" bentaknya gusar.
"Tidak!" tegas Suro.
"Katakan terus terang!!" desak si gadis dengan wajah memerah.
"Hanya sedikit."
"Ackh... kalau kau orang lain pasti sudah kubunuh!" dengus Dewi Arimbi. Tiba-tiba tanpa sadar ia mencekik leher si pemuda. Suro Blondo hanya diam saja tanpa melakukan perlawanan.
"Kau yang telah menolongku, jika sekarang harus mati ditanganmu hanya karena kesalahan kecil aku tidak akan menangis!" kata si pemuda pelan. Seakan tersadar, Dewi cepat menarik tangannya.
"Kau menyebalkan sih...!"
"Sudahlah, kau tidak perlu gusar. Apa yang kulihat akan kurahasiakan. Percayalah...!"
Dewi Arimbi kemudian terdiam, ia memberikan buah-buahan pada Suro. Sikapnya biasa kembali, seakan tidak pernah terjadi apa-apa antara dia dan pemuda itu.
"Sekarang sudah sangat sore. Kita tidak mungkin meneruskan perjalanan. Sebaiknya kita melewatkan malam di sini saja!" tegas Dewi Arimbi.
"Tapi ingat, jangan kau berani kurang ajar padaku."
__ADS_1
"Mana aku berani bertingkah macam-macam. Sedangkan satu macam saja rasanya aku tidak berani." sahut Suro Blondo.