Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
54


__ADS_3

"Setelah mengetahui keinginan apa yang terkandung dalam niatku. Apakah paman guru kini bersedia bergabung denganku?" tanya si gadis sambil membasahi bibirnya yang kemerahan dan mengedipkan matanya yang nakal.


"Mengapa tidak. Jika telah kuketahui siapa kau. Tentu aku turut mendukung usahamu untuk mendirikan sebuah kerajaan persilatan. Aku akan membantumu sekuat kemampuanku!" kata Datuk Tabala Muka.


Iblis Betina Dari Neraka merasa senang mendengar keputusan Datuk Tabala Muka. Ia kemudian mendekati sang Datuk tanpa ragu-ragu lagi.


"Bersama pasukan Mayat ini aku telah mendirikan sebuah bangunan merah tidak jauh dari sini. Paman bisa melihatnya betapa megahnya kerajaan persilatan yang kubangun. Jika paman mau, mari kita ke sana. Sementara ini kita biarkan pasukan mayat hidup ini bertahan di Bukit Cadas Siluman. Mereka akan menjadi ujung tombak di barisan depan."


"Jauhkah tempat itu dari sini?" tanya Datuk Tabala Muka.


"Tidak jauh. Hanya dua jam dari bukit ini."


"Mengapa pasukan mayat hidup ditinggalkan disini. Bukankah lebih baik mereka menjaga singgasana mu?"


"Semua ini kulakukan untuk mengecoh perhatian musuh-musuhku! Singgasana megah dari batu pualam putih itu dibangun dengan bantuan iblis. Jika sampai rusak. Aku akan meratapinya seumur hidup!"


"Ha ha ha...! Ternyata kau sangat cerdik dalam mengatur siasat. Aku yakin bocah to lol itu tidak akan lolos bila telah sampai disini!"


"Siapa yang paman guru maksudkan?" tanya Mustika Jajar dengan kening berkerut.


"Siapa lagi kalau bukan si to lol Suro Blondo."


"Oh itu, aku sendiri memang ingin menangkapnya hidup atau mati. Pernah dia dan kawannya termakan jebakanku, tetapi entah mengapa ia dapat meloloskan diri!" ujar Mustika Jajar, geram.


"Jangan takut. Aku akan membantumu. Kelak aku akan menangkapi tokoh-tokoh rimba persilatan yang tidak mau tunduk kepadamu!" janji Datuk Tabala Muka.


"Aku senang mendengarnya." sahut si gadis sambil mengedipkan matanya.


"Paman guru tahu, bahwa guru Suro Blondo adalah musuh besar guruku. Bahkan guru telah berpesan padaku agar mencari Malaikat Berambut Api. Cuma aku belum bisa melaksanakan perintah guru, karena sekarang ini aku harus melakukan tugas utama yang menjadi cita-citaku selama ini!"


"Dan cita-citamu hampir berhasil, bukan?"


"Memang. Tetapi hanya sebagian saja. Oh ya... sekarang kita lihat betapa megahnya singgasana yang dibangun hanya dalam waktu semalam itu." ujar si gadis.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Iblis Betina Dari Neraka dengan diikuti oleh Datuk Tabala Muka dan Perkasa segera meninggalkan Bukit Cadas Siluman. Sehingga di atas bukit itu sekarang yang tertinggal hanya pasukan Mayat Hidup dan juga pasukan hitam yang jumlahnya tidak lebih hanya lima belas orang saja. Sedangkan mayat-mayat hidup tampaknya jumlah mereka tidak berkurang dan mencapai ratusan.


*


Menjelang sore hari, di Bukit Cadas Siluman tampak sosok berbadan pendek berlari-lari seperti sedang bermain kucing-kucingan. Gerakannya lincah dan cepat. Sehingga sekilas seperti setan gentayangan yang sedang memburu waktu. Tingkah kakek yang cuma berselempang kain putih ini memang mirip dengan seorang bocah kecil yang nakal. Cuma yang membedakannya, kakek ini berambut putih, kumis dan janggutnya juga berwarna putih. Kakek bertampang lucu ini bernama Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil.


Ia menyisir Bukit Cadas Siluman semata-mata karena mendapat keterangan bahwa Betina Dari Neraka membangun sebuah kekuatan baru disana. Setelah sampai di puncak bukit sebelah selatan. Tenggiling Kedil sekonyong-konyong hentikan larinya. Karena badannya yang setinggi setengah meter, maka ia tidak melihat keadaan di depannya.


"Susahnya jadi manusia adalah seperti diriku ini. Ingin menggapai langit, langit begitu tinggi. Mau menggapai matahari, tubuhku pasti hangus. Ingin melihat ke depan, terpaksa memanjat pohon dulu ah!" kata Wiro Suryo kesal. Lalu dia menghampiri sebatang pohon berukuran sedang-sedang saja. Dengan gerakan cepat sulit diikuti mata ia mulai memanjat.

__ADS_1


"Heh... ternyata aku sudah sampai di pucuk. Mengapa harus ke pucuk, kalau jatuhkan bisa mam pus." gerutu Tenggiling Kedil. Ia bergerak agak turun. Di depan sana ia melihat sebuah bangunan yang tidak begitu mewah. Di depan bangunan terbuat dari kayu itu tampak ratusan laki-laki bertampang aneh-aneh sedang berjaga-jaga.


"Di situ rupanya manusia setan bersembunyi. Aku hampir kena di tipu jika Wiku Palawa tidak kasih petunjuk. Aku harus kesana!" pikir Wiro Suryo. Ia bermaksud menuruni pohon yang dipanjatnya. Namun gerakannya terhenti ketika melihat dua sosok tubuh bergerak mengendap-endap di bawah pohon tersebut.


"Kurasa kita sudah hampir sampai!" kata yang berada di bawah pohon berbisik pada gadis baju putih yang berada di sampingnya.


"Lihatlah, penjagaan begitu ketat. Aku heran dalam waktu tidak lama Betina Dari Neraka mampu mengumpulkan pengikut-pengikut yang cukup besar." gadis baju putih menyahuti.


Pemuda di sampingnya julurkan kepala sambil mengangguk-angguk macam burung perkutut. Lalu digaruknya belakang kepala berulang-ulang.


"Tidak heran. Orang-orang yang tidak mau berpihak padanya pasti dibunuh. Kita juga harus berhati-hati, aku khawatir gurunya yang dapat menghidupkan patung ada bersamanya. Urusan bisa jadi runyam jika mata sumplung itu ada bersama Mustika Jajar."


"Kau takut, Suro? Kita berdua kurasa bisa mengatasi mereka." menyahuti gadis baju putih penuh keyakinan.


"Jangan kelewat memandang rendah dengan kemampuan lawan. Kau tahu tidak. Aku sendiri bersama bocah tua bangka berambut putih dan berkumis cuma beberapa lembar itu pernah masuk dalam perangkap iblis Betina. Sebenarnya bukan kesalahanku, tapi kesalahan si to lol itu. Untung gurumu memisahkan kami. Kalau tidak bocah sinting itu bisa membuat aku semakin miring!" dengus pemuda berambut hitam kemerahan.


Walaupun kata-kata Suro Blondo terdengar pelan, tetapi sempat didengar oleh Wiro Suryo.


"Pemuda edan ini kalau nggak dibikin babak belur pasti selalu menghi na orang lain. Dia kira dirinya itu siapa!" dengus Tenggiling Kedil dalam hati.


Set! Ser,...!


Wiro Suryo tiba-tiba melakukan sesuatu.


"Hah... hujan gerimis." Suro Blondo menyeka tangannya yang terkena air.


"Nah hujan lagi...!" kata si pemuda. Lalu ia menyeka air yang bergulir di atas batang hidungnya. Tetapi ia mengendus bau pesing menyengat.


"Kurang ajar, bukan hujan. Tapi air kencing. Mana ada Malaikat kencing secara kurang ajar begini !" dengus Pendekar Blo'on.


Suro Blondo tidak disangka-sangka memungut batu di bawah kakinya. Sedangkan Wiro Suryo terpaksa menahan nafas dan menahan tawa.


"Kalau bukan perbuatan tua bangka edan kejepit bumi. Pasti ini perbuatan setan! Setiap setan usil harus dikasih mam pus!" Pendekar Blo'on secepat cahaya melemparkan dua buah batu ke atas pohon.


Wuut!


Jdaak!


"Aduh...!"


Di atas pohon terdengar suara mengaduh disertai melayangnya sosok tubuh pendek ke bawah.


Gubrak ..!

__ADS_1


Tenggiling Kedil jatuh tepat di depan kaki murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api. Begitu mengenali orang yang mengusilinya. Maka Suro tertawa membahak.


"Oh... rupanya kau setan yang telah mengirimkan hujan padaku! Manusia macam kau memang selalu bikin jengkel orang lain. Dasar tua bangka sinting." dengus Pendekar Blo'on sambil pencongkan mulutnya.


"Pemuda sinting! Jangan kau berani kurang ajar padaku. Kau punya kesalahan sudah melebihi takaran. Kini setelah kau bergandengan dengan seorang gadis cantik. Kau berpura-pura tidak mengenal kawan lama."


"Apa salahku Tenggiling Kedil. Kau hendak mengatakan bahwa berjalan seorang diri tidak enak atau kau malah merasa iri? Besarkan dulu badanmu, nanti kalau sudah besar dan dewasa baru kau boleh punya pasangan." e jek Wiro Suryo.


"Bukan... bukan itu...! Aku mau tau kau punya jawaban, mengapa tempo hari kau meninggalkan aku di pinggir sungai. Hayo mengapa, coba jawab?"


"Oh... itu. Kurasa hanya kebetulan saja guru Dewi Arimbi menyukai aku. Beliau tidak mau mengajakmu karena walau kau sudah berjenggot dianggapnya kau masih bocah kecil."


Dewi Arimbi hanya diam saja melihat Suro dan Wiro berdebat. Ia rupanya sadar bahwa kedua manusia yang dihadapinya benar-benar sinting.


"Kau jangan meledekku. Sekarang kita punya tugas besar dan pesta pembantaian yang besar pula."


"Apa maksudmu?"


"Di depan sana ada sebuah bangunan. Turut Wiku Palawa yang sudah kojor di tanganku. Katanya Betina Dari Neraka sekarang menghimpun kekuatan di Bukit Cadas Siluman ini. Apa pendapatmu, sobatku?" desah Wiro Suryo ingin tahu.


"Wiku Palawa sudah mam pus, aku sendiri hampir membunuh Perkasa. Sayang dia melarikan diri setelah terluka parah."


"Kurasa Perkasa segera pulih setelah mendapat kehangatan dari Mustika Jajar." sahut Tenggiling Kedil.


"Bagaimana kau tahu?"


"Menurut ramalanku begitu."


"Sudahlah, sekarang lebih baik kita santroni manusia setan itu." tegas Suro Blondo memutuskan.


"Tunggu dulu...!"


"Ada apa lagi?" tanya Suro, seraya menghentikan langkah tanpa menoleh ke belakang.


"Kau belum memperkenalkan aku pada gadis cantik ini. Apakah dia sekarang telah menjadi sobatmu atau kekasihmu?"


Memerah wajah Dewi Arimbi mendengar ucapan Wiro Suryo. Lalu matanya melotot, namun Tenggiling Kedil malah tertawa.


"Tanyakan saja padanya, aku tidak layak menjawab pertanyaanmu, orang tua gila." dengus si pemuda kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


Karena berulangkali Dewi Arimbi terus memelototi Wiro Suryo. Maka kakek pendek itu tidak berani mengajukan pertanyaan. Lebih kurang dua puluh tombak berjalan. Akhirnya mereka sampai di depan bangunan yang belum jadi sepenuhnya itu. Serentak mayat-mayat hidup dan pasukan hitam mengepung mereka.


"Gila... orang-orang ini tidak ramah pada tamunya." bisik Wiro Suryo pada Pendekar Blo'on.

__ADS_1


"Kurasa mereka bangkai berjalan. Cobalah rasakan bau yang sangat busuk ini." desis Suro sambil garuk-garuk kepalanya.


Dewi Arimbi tidak menyahut. Sebaliknya tampak bersikap waspada menghadapi segala kemungkinan.


__ADS_2