
Malaikat Berambut Api lintangkan senjata berbentuk aneh itu ke depan dada. Mulutnya menyeringai, wajahnya yang kemerah-merahan berubah kelam membesi.
"Suro Blondo! Kau memiliki pukulan Maha Dasyat yang kuberi nama pukulan 'Neraka Hari Terakhir'! Kurasa hanya pukulan itulah yang mampu menandingi Mandau Jantan di tanganku ini. Ini adalah senjata sakti yang tidak dapat dibuat main-main, Suro! Perhatikanlah...!"
Suro Blondo tidak sempat lagi perhatikan senjata di tangan si kakek. Laki-laki di depannya sambil mengerahkan tenaga dalam ke bagian tangannya memutar senjata berwarna hitam itu hingga menimbulkan angin dahsyat menderu-deru. Bahkan sekarang seluruh rambut kakek tua itu telah berubah merah menyala.
Sadarlah pemuda bertampang Blo on di depan si kakek. Bahwa kakek merangkap guru ini telah mengerahkan tenaga dalam pada puncak tertinggi.
"Weleh, kakek sin ting itu rupanya benar-benar ingin membuat aku mam pus...!"
Suro Blondo leletkan lidah. Ia menarik kaki kirinya ke belakang. Tangan disilangkan ke depan dada dalam keadaan terkepal. Tubuhnya bergetar hebat ketika Suro Blondo mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.
Akibat pengerahan tenaga dalam sampai pada puncaknya disertai hawa amarah yang menggelagak. Maka secara aneh rambut Suro Blondo yang kemerah-merahan itu berubah merah bagaikan api. Itulah pukulan 'Neraka Hari Terakhir' yang telah siap dilepaskan oleh si pemuda tampan bertampang blo on.
Sontak sekujur tubuhnya mengepulkan uap panas. Udara di sekitar puncak gunung hingga ke lereng Mahameru berubah panas seperti di neraka. Daun-daun berubah layu, berguguran akibat sengatan hawa panas mematikan itu.
Dalam keadaan berkelebat lenyap itu. Malaikat Berambut Api menggeram. Ia babatkan senjata sakti Mandau Jantan di tangannya. Suro Blondo memekik kaget. Tapi cepat hantamkan kedua tangannya memapaki senjata maut di tangan gurunya. Sinar merah panas membutakan mata bergulung-gulung menerjang ke arah si kakek.
Laki-laki itu segera merasakan bagaimana panasnya api yang menyengat. Ia kiblatkan Mandau Jantan di tangannya. Hawa dingin menghadang dan menghalau sinar merah menghanguskan yang nyaris menghantam tubuhnya.
Blaar! Blaar!
Dentuman-dentuman keras menggelegar laksana membelah langit. Membuat tanah puncak Mahameru menjadi longsor. Pohon-pohon besar bertumbangan.
Baik Malaikat Berambut Api yang rambutnya berubah merah memancarkan cahaya maupun pemuda tampan bertampang blo on sama-sama terlempar jauh dari kalangan pertempuran. Bahkan sebagian longsoran tanah sempat menimbun tubuh mereka. Sehingga tampak hanya tinggal rambut mereka saja yang berwarna merah menyala.
"Uhuk! Uhuk...! Tobat-tobat...!" kata Suro Blondo yang baru saja keluar dari reruntuhan tanah.
Sementara itu Malaikat Berambut Api yang juga mengalami nasib sama telah duduk di atas gundukan tanah yang menguruknya dengan mata terpejam.
Suro Blondo seka jidatnya yang mengucurkan keringat. Sebentar ia memandangi kakeknya yang diam tidak bergeming.
"Ufss... napasku sesak. Sekujur tulangku seperti mau remuk. Mata pedih kulit hangus. Ah... guruku apakah ia menderita luka dalam juga. Aku harus menolongnya!"
Suro Blondo melompat ke depan.
"Guru... kau...!" kata-kata pemuda tampan bertampang blo on tertahan.
Ia melihat mata gurunya terbuka kembali. Tatapan matanya memandang tajam ke arah Suro Blondo. Sedangkan dipangkuannya terlihat senjata aneh yang tadi telah dipergunakannya untuk menyerang Suro Blondo.
"Duduklah mendekat, cucuku!" terasa berat suara Malaikat Berambut Api.
Pemuda berbaju biru tampak ragu-ragu. Namun matanya tidak lepas memandang senjata hampir sepanjang pedang, namun memiliki ujung runcing pada punggungnya, sedangkan di tengah-tengahnya yang berbentuk pipih memiliki empat lubang miring.
Gagang Mandau Jantan seperti yang dikatakan gurunya tadi. Tampaknya terbuat dari mata akar bahar berbentuk seorang pertapa berkepala gundul dan mempunyai kuncir di atas kepala botaknya.
Suro hanya dapat menduga, mungkin empat lubang miring di tengah-tengah senjata itulah yang tadi saat dipergunakan mengeluarkan suara yang aneh-aneh.
"Mendekatlah kemari, mengapa takut?!"
Sambil menyeka keningnya yang terus berkeringat, Suro Blondo menyeringai. Ia segera duduk di depan kakeknya.
"Di depanku kuharap kau jangan cengengesan seperti gurumu yang sin ting itu...!" kata Malaikat Berambut Api.
Suaranya tajam, namun tegas. Suro katupkan bibirnya rapat-rapat. Ia teringat pesan Barata Surya tentang bagaimana ia harus bersikap bila berhadapan dengan kakek kandungnya ini.
__ADS_1
"Suro Blondo! Kau tahu mengapa hari ini kakekmu ini menguji segala kemampuanmu yang telah kau pelajari dariku juga dari gurumu Barata Surya?"
"Tahu guru, eeh... Kakek...!"
"Apa?"
"Kakek mungkin mau hadiahkan padaku sebuah senjata aneh yang dapat merintih, dapat bersiul dan dapat pula meringkik seperti kuda!"
"Gundulmu! Bukan itu tujuan utama!" Malaikat Berambut Api mendengus gusar.
"Maaf, kalau begitu aku tidak tahu!" kata Suro sambil menjura lucu.
Dewana alias Malaikat Berambut Api geleng-geleng kepala. Sekeras-kerasnya Malaikat Berambut Api mendidik Suro Blondo dalam berdisiplin. Namun karena dasarnya ia memang memiliki watak yang kocak dan lucu.
Tetap saja Suro Blondo menjadi dirinya sendiri. Belum lagi bila mengingat begitu dekatnya Suro Blondo dengan Penghulu Siluman Kera Putih yang memang miring.
"Suro! Tahukah kau sudah berapa tahun kau tinggal dan berguru di puncak Mahameru ini?"
"Ee... kalau tidak salah baru lima tahun!"
"Blo on. Jangan bergurau." rungut kakek berbaju merah.
"Kalau tidak salah sudah hampir delapan belas tahun!"
"Bagus!"
Malaikat Berambut Api tersenyum puas.
"Selama itu kau sudah mempelajari seluruh ilmu sakti yang kami punya. Kau harus ingat. Bila kau meninggalkan puncak Mahameru ini. Maka orang-orang yang perlu kau cari adalah musuh besarmu yang telah membunuh kedua orang tuamu! Selain itu pergunakanlah segala kesaktian yang kau miliki untuk menolong sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. Jangan congkak dan takabur terhadap apa yang kau punya. Karena di atas langit masih ada langit!"
"Ah, kakekku pi kun barangkali. Sejak dulu langit cuma satu." membatin Suro Blondo.
"Sin ting! Maksudku semuanya adalah perumpamaan." desis kakek Dewana yang seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh cucunya.
Suro tepuk-tepuk jidatnya.
"Disamping itu, Suro Blondo. Akhir-akhir ini kudengar di puncak Gunung Bromo ada sekawanan manusia ib lis yang telah begitu berani membuat cemar dan mengobrak-abrik tanah milik leluhurmu! Juga merupakan tugasmu untuk membasmi manusia-manusia durjana pemeras rakyat itu. Lakukanlah apa yang dapat kau lakukan. Pergunakan apa yang dapat dari kami untuk kebenaran. Apakah kau mengerti Suro?"
"Mengerti, Kek?"
"Mengerti apa?"
"Semua ilmu yang Kakek dan guru Barata Surya berikan kepadaku, hebat semua!" sahut Suro Blondo, mimiknya terkesan serius.
"Geb lek! Sin ting! Bukan itu maksudku!"
Pemuda bertampang blo on usap-usap keningnya.
"Sekarang aku sudah mengerti apa yang Kakek maksudkan. Dan aku berjanji tidak akan membuat Kakek kecewa." kata Suro Blondo serius.
Malaikat Berambut Api, tokoh sakti dari pulau Seribu Satu Malam dari laut selatan ini terdiam. Ia menimang-nimang senjata Mandau Jantan yang berwarna putih itu dari pinggangnya.
Suro memperhatikan semua itu tanpa pernah berkedip sekali pun.
Sreek!
__ADS_1
Senjata berbentuk aneh dengan lubang miring di tengahnya itu dimasukkan ke dalam rangkanya.
"Kau sudah melihat senjata maut tadi, Suro?" kakek Dewana memandang tajam pada muridnya.
Suro Blondo mengangguk.
"Hampir tujuh puluh tahun aku membuat senjata sakti itu, Suro. Segenap kemampuan dan kesaktianku kucurahkan pada senjata ini. Dalam umur delapan puluh lima tahun. Sudah saatnya bagiku untuk menyerahkan senjata sakti ini pada orang yang pantas!"
Suro Blondo tersentak kaget. Semula ia menyangka umur kakeknya paling baru lima puluh tahun. Tidak tahunya sudah delapan puluh lima.
"Kupesankan padamu. Rangka Mandau Jantan ini dapat melenyapkan segala macam bisa! Kau dapat mempergunakannya jika sewaktu-waktu kau benar-benar membutuhkannya. Nah sekarang terimalah...!"
Malaikat Berambut Api mengangsurkan tangannya pada Suro Blondo.
"Guru, Kakekku! Mana berani aku...!"
"Gob lok! Terima kataku!" bentak kakek Dewana, marah bukan main.
"Tapi...!" Suro masih ragu-ragu.
"Kenapa?"
"Apa aku pantas menerima kepercayaan ini?"
"Tentu saja. Karena senjata ini khusus kuciptakan untuk orang sepertimu. Perlu kau tahu, mulai saat ini karena tampangmu itu. Maka kau pantas kuberi gelar Pendekar Blo on...!"
Suro Blondo kerutkan kening. Wajahnya tampak berubah memerah. Tapi kemudian terdengar suara tawanya membahak. Tawa itu semakin lama semakin meninggi membelah langit.
Jika bukan Malaikat Berambut Api yang berada di depan Suro Blondo. Niscaya orang itu terjengkang roboh akibat pengaruh suara tawa si pemuda.
"Diam! Kenapa kau tertawa?"
Malaikat Berambut Api meradang.
"Pendekar Blo on... guru Barata Surya juga pernah berkata begitu. Aku setuju... ha ha ha.... Blo on...! Tapi pintar...!"
Suro Blondo tertawa dan tertawa lagi. Perutnya terguncang-guncang. Matanya sampai terpicing karena geli.
Namun pemuda ini tampak terkejut ketika membuka mata, Malaikat Berambut Api sudah lenyap dari hadapannya.
Suro Blondo mencari-cari. Dikejauhan sayup-sayup terdengar suara Dewana.
"Aku akan pulang ke pulau Seribu Satu Malam. Sekarang sudah waktunya bagimu untuk turun gunung...!"
"Wah aku harus turun gunung. Bagaimana ini... ke mana perginya guruku, si sin ting yang satunya lagi ke mana dia. Beliau sekarang berada di mana?"
Suro Blondo usap-usap jidatnya yang keringatan. Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang seakan datang dari sebuah tempat yang sangat jauh seperti dari perut gunung Mahameru.
"Anak bod oh! Jangan cuma celingak-celinguk seperti ku nyuk! Lekas kau merat tinggalkan tempat ini! Aku sudah muak lihat tampangmu!"
Jelas yang bicara melalui ilmu mengirimkan suara itu adalah Barata Surya, gurunya yang konyol.
"Walah! Siluman je lek! Aku sudah bosan mendekam terus di puncak Mahameru ini!"
Ucapan itu disambung dengan suara tawa membahak yang tidak putus-putusnya. Hingga membuat suasana di sekelilingnya seperti diguncang petir.
__ADS_1