
Pamali merasa puas dengan hasil kerjanya. Ikan-ikan di sungai Citarum menggelepar mati. Itu pertanda racun Sangkaning Hurip telah bekerja sebagaimana yang diharapkannya. Ia menarik nafas panjang. Senyumnya mengembang.
"Sugriwa telah mengerjakan sebagian rencana dengan baik. Kematian menyebar di mana-mana. Siapa yang mampu menghalangi sepak terjangnya para iblis. Sebagaimana dalam perjanjian para iblis. Setiap anggota mempunyai tugas untuk menghancurkan seluruh umat manusia di kolong langit ini. Dan tentu saja sebentar lagi di daerah sungai Citarum ini kematian akan menjemput setiap makhluk-makhluk yang bernyawa!"
"Perbuatan seperti itu memang hanya merupakan perbuatan seorang iblis! Mudah-mudahan kau menjadi petunjukku agar aku dapat menjumpai siapa saja yang berdiri di belakangmu, manusia biadab!"
"Eeh...!" Pamali jelas-jelas terkejut sekali karena tidak menyangka ada orang lain yang mengetahui perbuatannya. Ia cepat sekali memutar tubuhnya ke arah datangnya suara. Tapi kemudian ia tersenyum ketika melihat orang yang baru saja bicara tadi tidak lain hanya seorang pemuda bertampang to lol berambut hitam kemerah-merahan. Hanya ada satu hal yang membuatnya heran. Di bagian pinggang pemuda itu menggelantung tali ikat seperti ujud seorang laki-laki.
"Kau... siapa kau yang sebenarnya? Cepat pergi dari hadapanku atau kau ingin agar aku membunuhmu?" bentak Pamali dengan garang.
Laki-laki berbaju hitam bersenjata pedang dan lipan-lipan berbisa ini maju dua tindak ke depan si pemuda.
Suro Blondo seka jidatnya. Lalu menggaruk-garuk rambutnya yang hitam kemerah-merahan.
"Ini juga salah satu dari iblis itu? Kau pantas memberinya pelajaran kalau perlu membunuhnya sekalian! Tapi kau harus berhati-hati!" Wiro Suryo yang dapat merubah tubuhnya menjadi pipih dan tetap menggelantung di pinggang Suro Blondo tidak bedanya dengan ikat pinggang ini memberi peringatan.
"Beres!" sahut Suro Blondo.
Pamaliyang tidak sadar bahwa saat itu Pendekar Blo'on sedang bicara dengan bayi bangkotan itu tentu saja merasa heran mendengar ucapan si pemuda bertampang to lol yang cukup keras.
"Kepa rat! Cepat katakan siapa kau? Jangan hanya bilang beres-beres saja!" bentaknya garang.
"Bagaimana Tenggiling Kedil? Apakah aku harus menjawabnya?"
"Katakan saja, *****. Mengapa harus tanya aku? Lama kelamaan ia bisa menganggapmu seperti orang gila. Karena dia memang tidak dapat melihatku!"
"Go blok! Kau juga sama to lolnya seperti aku!" ma ki Suro Blondo.
Pamali tentu saja menganggap pemuda berambut hitam kemerahan itu menghinanya sehingga membuatnya semakin bertambah marah.
"Rupanya kau benar-benar membuat hilang kesabaranku! Sekarang rasakanlah tinjuku ini!"
Belum selesai dengan ucapannya, Pamali telah menghantam dada Suro Blondo. Pemuda ini yang memang telah bersikap waspada sejak dari tadi segera berkelit menghindar sambil berjingkrak-jingkrak seperti seekor monyet yang baru saja mendapatkan anaknya.
Hantaman tinju yang menggeledek itu luput dari sasarannya. Kenyataan ini sudah cukup untuk membuka mata Pamali. Ia terkejut, 'Kepalan Naga Merah' sebagaimana yang diyakininya selama ini bukan merupakan pukulan yang dapat dianggap enteng, karena selain mengandung tenaga dalam tinggi, juga mengandung racun yang sangat ganas. Daya hancurnya setara dengan bisa kelabang-kelabang merah yang menjadi senjata rahasianya
"Rupanya kau mempunyai kepandaian juga, eeh...? Tapi di hadapanku kau tidak dapat bertingkah lebih jauh lagi. Kau akan mati di tanganku!" Pamali menggeram marah.
Deb! Bet!
"Huyaa!"
Sambil berteriak nyaring, Pamali memutar tubuhnya setengah lingkaran. Setelah itu ia melompat ke depan sambil melancarkan serangan-serangan keras mematikan.
"Kerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'...!" Wiro Suryo memberi aba-aba.
__ADS_1
Pendekar Blo'on sempat terkejut juga mendengar ucapan Tenggiling Kedil. Karena sama sekali ia tidak menyangka bahwa sahabat yang baru dikenal dan wajahnya selalu memancarkan cahaya putih berkilau ini dapat mengetahui jurus-jurus yang dimilikinya. Sungguh pun demikian, ia merasa tidak punya kesempatan untuk berfikir lebih jauh lagi.
"Hait! Heaaa...!"
"Nguk...!"
Dengan lenturnya Suro Blondo bergerak menghindari serangan-serangan ganas yang datang bertubi-tubi. Sesekali ia terhuyung sambil menggaruk-garuk badannya, lalu melompat-lompat. Sungguh pun gerakan-gerakan yang dilakukannya tidak jauh bedanya dengan gerakan monyet. Tapi hingga sampai sejauh itu lawan masih belum dapat menjatuhkannya.
"Kepa rat, ku nyuk hin a...!"
"Jangan hanya ngebacot! Nih makan tinjuku!"
Buuk! Jrot!
Dengan gerakan yang sangat sulit diikuti kasat mata. Suro Blondo berhasil menghantam hidung Pamali hingga mengucurkan darah. Lawan menggeram penuh kemarahan. Laksana kilat ia melakukan serangan balik.
"Huup...!"
Duuk! Duuk!
"Wuagkh...!"
Suro Blondo sempat terhuyung-huyung begitu jemari tangan lawannya menyodok dada. Tapi ternyata jemari tangan Pamali yang mengandung racun itu tidak membawa akibat apa-apa bagi Suro, sehingga membuat lawannya jadi bertambah kaget saja. Tidak heran, karena ketika digembleng oleh gurunya Penghulu Siluman Kera Putih di Gunung Mahameru. Suro Blondo memang digodok di dalam sumur beracun yang di dalamnya juga berkeliaran ular merah dalam jumlah yang tidak terhitung. Itu sebabnya ia kebal terhadap semua jenis racun.
Jika Pamali sempat tercengang-cengang melihat lawan dalam keadaan segar bugar. Sebaliknya Wiro Suryo yang memiliki tinggi badan tidak sampai setengah meter itu malah tidur mendengkur sambil bergelayutan di pinggang Suro Blondo.
Melihat lagak Suro Blondo yang petantang-petenteng. Pamali semakin bertambah berang.
"Makanlah nih."
Pamali tiba-tiba merogoh sesuatu dari balik bajunya. Begitu tangannya dihantamkan ke arah lawannya. Maka enam buah benda berwarna merah dan cukup panjang melesat ke arah si pemuda. Pemuda tampan ini masih sempat melihat bahwa lawannya menyambitkan kelabang-kelabang berbisa ke arahnya. Ia tidak tinggal diam. Dengan cepat ia melepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'. Inilah salah satu pukulan yang diwariskan oleh kakek merangkap gurunya, yaitu Malaikat Berambut Api, manusia sakti berwatak aneh yang tinggal di pulau Seribu Satu Malam.
Angin kencang laksana badai topan menderu, menggulung apa saja yang dilaluinya. Bersamaan dengan menderunya gelombang angin kencang tersebut terlihat sinar putih laksana salju. Udara dingin terasa sedemikian mencucuk. Lalu.... Terdengar enam kali dentuman menggelegar berturut-turut. Senjata rahasia yang disambitkan Pamali hancur berkeping-keping. Lebih dari itu kaki tangan Iblis Betina Dari Neraka ini sempat terpelanting. Dari mulut dan hidungnya menyembur darah kental. Sekujur badan Pamali berubah memutih setengah membeku. Pamali merasa tubuhnya seperti dibenamkan di lautan es. Lebih celaka lagi ia tidak dapat menggerakkan badannya, sungguh pun ia telah mengerahkan hawa murni untuk melenyapkan pengaruh dingin yang bersumber dari pukulan yang dilepaskan oleh Suro Blondo.
"Bang sat pengecut!" Pamali mema ki.
Sementara itu Suro Blondo hanya cengar-cengir. Seraya berjalan mendekati lawannya yang dalam keadaan kepayahan itu.
"Bagaimana Wiro Suryo! Apakah kita harus membunuhnya atau mengajak dia menemui atasannya?"
"Jika kau tidak mau disebut sebagai pendekar pengecut! Sebaiknya kau biarkan hidup saja. Kita dapat memanfaatkannya untuk kita jadikan penunjuk jalan. Kalau kau setuju, tentu saja nasibnya akan lebih baik...!" sahut Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil lalu tertawa membahak.
"Sialan kau bayi bangkotan. Kau bukan membantuku, tapi malah menjadi bebanku!"
"Ah... jangan begitu sobat! Hidup delapan puluh tahun aku sudah lebih berjalan. Apa salahnya sekarang aku menumpang di pinggangmu, tokh beratku seperti kapas! Ha ha ha...!"
__ADS_1
"Gila betul...!"
Pamali sungguh pun dalam keadaan setengah sadar masih sempat mendengar ucapan si pemuda yang tampaknya seperti sedang bicara dengan seseorang. Tapi ia sama sekali tidak melihat siapa orang yang diajak bicara oleh pemuda yang telah menjatuhkannya. Sehingga dalam hati ia berkata.
"Pemuda bertampang to lol berambut hitam kemerahan ini mempunyai ilmu tinggi. Inikah orangnya yang dikatakan tetua sebagai Pendekar Blo'on. Tapi... mengapa ia bicara seorang diri? Kurasa ia pemuda sinting."
"Jangan cuma menggerutu. Sekarang sudah waktunya bagimu untuk membawaku kepada tetuamu!" Sungguh pun Pendekar Blo'on bicara dengan serius. Tapi tampangnya tetap saja lucu sehingga membuat lawannya tetap bertahan.
"Tidak seorang pun yang dapat memaksaku, Aku tidak mau menunjukkan tempat kediaman tetuaku!"
"Kurang ajar! Dalam keadaan hampir mati membeku, rupanya kau tetap keras kepala juga, ehh...? Jika kau tetap menolak, maka aku akan memotong kuping dan hidungmu. Bagaimana apakah kau masih tetap membangkang?" gertak si pemuda.
"Jangankan baru kuping dan hidung. Sungguh pun aku harus mempertaruhkan leherku aku tidak takut!"
"Bagaimana ini Tenggiling Kedil. Ia tetap membangkang! Apakah kau mau telinga dan hidungnya orang jelek ini?" tanya Pendekar Blo'on melalui ilmu menyusupkan suara.
"Siapa sudi!" dengus Wiro Suryo melalui ilmu menyusupkan suara juga.
"Telinganya congekan, sedangkan hidungnya banyak upilnya. Kalau kau suka yang asin-asin dan yang pahit sebaiknya kau saja yang makan!"
"Gila kau! Aku lebih suka memenggal kepalanya untuk kuhadiahkan pada tetua orang ini."
"Kalau begitu lakukanlah, kurasa Mandau milikmu sudah saatnya keluar dari rangkanya!" Tenggiling Kedil yang dapat membentuk badannya menjadi bulat macam tenggiling mendukung.
Pendekar Blo'on kembali menghadap ke arah Pamali. Ia memegang gagang mandau berbentuk seperti patung pertapa itu di balik bajunya. Tidak lama kemudian ia berkata pelan, namun pasti.
"Jadi kau tetap tidak mau merubah pendirianmu?"
"Tidak!"
Singg!
Terdengar suara mendengung ketika Pendekar Blo'on mencabut senjatanya yang berbentuk aneh dan mempunyai lubang pipih pada bagian tengahnya ini. Senjata berwarna hitam ini mempunyai ujung runcing ganda. Dan dapat mengeluarkan berbagai jenis suara bila pemiliknya mengerahkan tenaga dalam pada senjata itu.
Pamali hanya dapat membelalakkan matanya ketika senjata maut itu menghantam batang lehernya.
Hiiiiiik...!
Crees! Dheel!
Kepala Pamali menggelinding, batang lehernya yang terputus menyemburkan darah segar. Kepala itu ditenteng oleh Suro Blondo.
"Tampangmu ge blek, tapi kau sadis juga!" Wiro Suryo mengomentari.
"Hhh, jika kebaikan tidak mampu mengatasi dalam menegakkan kebenaran. Terkadang kita juga perlu ketegasan. Sudahlah, sebaiknya kau merat dari pinggangku!" kata si pemuda mengungkit-ungkit persoalan Wiro Suryo yang terus mengikutinya.
__ADS_1
"Jangan cerewet! Ha ha ha...! Pada saatnya nanti aku akan pergi dengan sendirinya!"
Sambil menenteng kepala Pamali. Suro Blondo mengayunkan langkahnya menelusuri padang ilalang yang cukup luas.