
Mengapa hanya Suro Blondo saja yang dapat merasakan perubahan ini?
Sebagaimana di ketahui, anak ajaib ini terlahir pada malam satu Suro. Dalam hitungan hari dan bulan, malam satu Asyuro adalah malam tertinggi dari sekian banyaknya hari. Satu Asyuro malam keramat yang penuh berkah dan keajaiban. Salah satu keajaiban itu ia tidak mempan sirep dan segala sesuatu yang berbau sihir. Tapi akibat matanya yang tidak dapat ditipu itu, kini ia terheran-heran sendiri. Hatinya bertanya-tanya, siapakah yang telah menciptakan bangunan tiruan itu. Mengapa manusia merah yang sedang mengamuk membabi buta itu tidak mengetahuinya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tentu saja tidak terjawabkan jika ia tidak mendengar suara seseorang seperti mengingatkannya.
"Pengantin baru! Aku tahu kau hanya menyamar, sekarang kau berubah menjadi ka cung pula. Sedangkan pacarmu menjadi dirimu dan tidur di kamar pengantin menggantikan dirimu. Aku adalah orang yang berdiri dipihakmu. Untuk itu kau harus dengar ucapanku yang tidak pernah kuulang ini."
Jelas orang yang bicara itu siapapun adanya adalah orang yang memiliki tenaga dalam tinggi dan mempunyai ilmu mengirimkan suara pula.
"Apa yang kau lihat barusan adalah permainan sihir. Datuk Alang Sitepu penyihir kelas satu. Belum lagi di bantu oleh Nyanyuk Pingitan, Buto Terenggi dan juga Diraja Penghulu Iblis orang tua Maya Swari. Sungguhpun Maya Swari cinta padamu, dan kau tentunya tidak berminat kawin dengannya. Kau dan tokoh-tokoh aliran lurus harus bahu membahu menghancurkan Raja penyihir bersama kawan-kawannya. Memang agak sulit, apalagi Prisma Kristal Permata yang menjadi kunci keseimbangan tanah Jawa ini telah jatuh di tangan mereka. Kedudukan mereka akan menjadi kuat. Kau harus dapat mempengaruhi Manusia Merah itu agar dapat kau tarik di pihakmu. Perlu kau tahu manusia merah itu mempunyai pendirian yang tidak menentu. Ia mudah terpengaruh meski oleh musuh besarnya sekalipun."
"Apakah Prisma Permata itu miliknya?" potong Suro Blondo tiba-tiba.
"Prisma permata itu sesungguhnya kunci pintu tempat dipenjarakan di Goa Darah. Kau tidak usah tanya siapa yang telah memenjarakannya. Yang jelas kini Goa Darah tempat bernaungnya selama satu abad telah hancur. Lumpur panas di mana-mana. Tanah yang keras pun akan menjadi leleh. Dan gara-garanya karena Prisma itu juga."
"Tapi... apa dayaku. Yang ku tahu disini aku hanya bersama Dewi Bulan. Kalau kulihat Manusia Merah itu saja rasanya aku akan repot menaklukannya belum lagi menghadapi Raja Penyihir, Datuk Mambang Pitoka, Nyanyuk Pingitan dan juga Diraja Penghulu Iblis?"
"Jangan takut, gurunya Dewi Bulan juga ada disini."
"Apa maksudmu?"
"Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng tidak jauh dari sini. Aku sudah memberitahukan hal ini pada mereka. Kalau manusia merah sudah dapat kujatuhkan, tentu kalian tinggal menyeretnya di tempat yang aman dan membujuknya?"
"Bagaimana dengan Dewi Bulan! Aku takut penyamarannya terbongkar dan dia akan mendapat kesulitan!" ujar Pendekar Blo'on sambil garuk-garuk kepalanya.
"Ah... rupanya kau selalu mengkhawatirkan pacarmu, kau tidak perlu merisaukannya. Lagipula aku akan selalu memantau keadaan di sini. Yang terpenting kalian bertiga harus dapat meyakinkan bahwa kau berada di pihak manusia merah."
"Ah, Manusia Merah macam apakah dia?"
"Jangan garuk-garuk melulu macam mo nyet. Sudah kubilang ia anak Raja Jin yang malang. Nah... sekarang bersiap-siaplah kau untuk menyeretnya ke tempat yang aman!"
Bisikan yang didengar oleh Pendekar Blo'on tiba-tiba lenyap. Angin kencang disertai bau harum semerbak bergerak cepat ke arah manusia merah yang sedang membantai anak buah Diraja Penghulu Iblis. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang Suro Blondo.
"Edan... benar-benar edan! Angin wangi malah membuatku mengantuk!"
Karena merasa yakin rasa kantuk itu diciptakan oleh seseorang yang sempat mengirimkan pesan padanya tadi. Maka Suro Blondo segera mengerahkan hawa murninya untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyerangnya.
Kini tatapan matanya tertuju pada Manusia Merah itu. Dengan jelas ia dapat melihat sisa-sisa anak buah Diraja Penghulu Iblis bergelimpangan. Terakhir Manusia Merah yang tergelimpang dengan disertai suara berdebum. Suro Blondo langsung meninggalkan tempat persembunyiannya. Satu dua lawan Manusia Merah yang masih berusaha bertahan dihajarnya hingga tunggang langgang. Begitu sampai ia tercengang.
"Ya ampun, Manusia Merah ini besarnya tidak ketulungan. Bagaimana aku bisa mengangkatnya?" pikir Pendekar Blo'on.
Si bocah Ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro ini mengangkat tubuh Manusia Merah.
"Hekh...!"
Sampai mata si konyol mendelik, sedikitpun tubuh Manusia Merah ini tidak bergeming. Mulut si pemuda termonyong-monyong, ia mengelilingi tubuh raksasa tersebut sambil menggelengkan kepala terus.
"Orang ini besarnya seperti tiga ekor gajah yang lagi bunting. Kalau pun kukeluarkan tenaga dalam seluruhnya sampai aku mencret mana mungkin aku dapat mengangkatnya?"
__ADS_1
Suro berjongkok dan termenung dengan dagu menopang di kedua tangannya. Ia tidak habis pikir bagaimana caranya menyeret orang ini.
"Sekarang ia dalam keadaan pulas karena pengaruh pembius. Tentu tidurnya tidak akan lama. Sebaiknya aku tarik tangannya!" pikir Suro.
Maka ia pun memegang lengan Manusia Merah yang hampir sebesar pahanya. Tenaga dalam dikerahkan, niat segera dilaksanakan. Namun hasilnya tetap seperti tadi.
"Gila betul!" Suro Blondo menggerutu, lalu garuk-garuk kepalanya.
Pendekar Blo'on memutar lagi, lalu kali ini bagian kaki yang ditariknya. Dasar Suro Pendekar ge blek, kalau tangannya saja tidak dapat diseret apalagi kakinya.
"Go blok. Bagaimana mungkin aku dapat mengangkat manusia macam ikan paus ini?" gerutu Pendekar Blo'on. Ia mendekati kepala Manusia Merah, menarik kuping dan hidungnya namun tetap tidak membuat Manusia Merah terjaga.
"Mana katanya guru Dewi Bulan akan membantuku? Apakah orang tadi cuma membohongiku?"
Selagi Pendekar Blo'on tercenung seperti itulah, tiba-tiba saja terdengar suara, maka Pendekar Blo'on malah tercengang pula.
"Anak perempuan orang. Dalam keadaan seperti ini tidak cukup waktu bagi kita. Cepat bantu kami menyeretnya ke tempat yang aman. Cepatlah, sebelum pengaruh Sirep Ratu Penyair Tujuh Bayangan punah!"
"Walah, aku sudah menyeretnya tadi, tapi tubuhnya berat bukan main. Bagaimana kalau kita bangunkan saja!"
"Go blok betul! Kalau dia bangun nanti mengamuk lagi. Apakah kau becus menghadapinya?"
"Tentu saja kita bersama-sama. Tapi aku merasa yakin dia bakal menjadi sahabatku...!" kata Suro sambil nyengir.
"Hei... jangan cengengesan...!" teriak si gemuk macam raksasa.
"Ssst... kalau bicara jangan keras-keras, nanti orang ini bangun!" desis si Kerempeng.
Suro walaupun cengengesan tapi tidak bicara apa-apa. Manusia dengan berat lebih dari dua ratus kati itu cemberut.
"Benar-benar gila! Makan apa manusia yang satu ini? Ia hampir sama besar dengan Manusia Merah, cuma kalah tinggi saja." batin Pendekar Blo'on terkagum-kagum.
Dengan mengerahkan tenaga biasa mana mereka kuat mengangkat Manusia Merah. Mereka terpaksa mengerahkan tenaga dalam untuk menggotong Manusia Merah itu untuk dipindahkan ke tempat yang aman.
*
Maya Swari masuk ke kamar pengantinnya lagi. Di lihatnya Suro Blondo alias Pangeran Linglung tidur di atas ranjang. Sampai sejauh itu Maya Swari tidak tahu bahwa suaminya telah di gantikan oleh Dewi Bulan alias pelayan Margonda.
"Kakang Pangeran Linglung, apakah kau sudah tidur?" tanya si gadis bermanja-manja.
"Uaah... aku penat sekali. Habis makan, habis minum langsung mengantuk...!" sahut Pangeran linglung si Dewi Bulan.
Maya merebahkan tubuhnya di samping Pangeran Linglung palsu. Di pandanginya pemuda bertampang keto lol an itu. Tiba-tiba ia mengecup bibir Pangeran Linglung dengan sepenuh gejolak hasrat cinta yang menggebu-gebu.
Pangeran Linglung ini tentu memerah wajahnya. Tapi dalam hati geli juga.
"Gadis to lol, kalau kau tahu bahwa aku punya dua mulut juga, punya dua bukit. Tentu tidak begini jadinya?" gerutu Dewi Bulan.
"Kakang...?!" Maya Swari memeluk Pangeran Linglung. Untung tangannya melingkar di bagian perut gadis yang tengah menyamar tersebut. Coba kalau di bagian dada, Wah celaka...
__ADS_1
"Ada apa?"
"Kakang, aku jadi teringat ketika kakang mengatakan pernah jadi tukang mengurus kuda. Mengapa mau-maunya kakang bekerja seperti itu?" tanya Maya dan nafasnya yang harum menyapu wajah Pangeran Linglung palsu
"Mencari pekerjaan itu sulit. Banyak kalangan Sarjana menganggur sampai sekarang. Aku hanya yatim piatu...!" kata Pangeran Linglung ngawur.
"Tidak kuliah terkecuali hanya tulis baca dan berhitung. Sedangkan kau anak orang kaya, segala kebutuhanmu tercukupi, tentu kau tidak pernah merasakan bagaimana pahitnya penderitaan!"
"Aku kasihan melihat nasibmu Kakang, coba kalau kita bertemu sejak kecil, tentu kehidupanmu tidak jelek-jelek amat!"
"Go blok, kalau kau tahu siapa aku. Kau tentu akan mengamuk membabi buta bahkan mungkin membunuhku!" ma ki Dewi Bulan dalam hati.
"Ya, nasib orang sendiri-sendiri. Manusia hidup punya cobaan yang berbeda-beda. Kalau semua orang jadi kaya, tentu tidak ada yang miskin, kalau semua jadi raja siapa rakyatnya?" jawab Pangeran Linglung.
"Ahk, ternyata kau pandai juga Kakang!" puji Maya.
Tiba-tiba ia menggeliatkan tubuhnya. Gerakannya sangat menarik, dadanya yang kenyal tampak menantang. Dewi tidak dapat membayangkan bagaimana jika si konyol itu yang berada di samping Maya.
"Kakang, ah..,!" Mata Maya setengah terpejam.
Sebagai gadis yang sudah dewasa dan cukup matang. Tentu Dewi mengerti apa yang diinginkan oleh Maya. Walau pun ia belum punya pengalaman sama sekali. Nalurinyalah yang mengatakan begitu.
Untuk tidak menimbulkan kecurigaan Maya, maka meskipun dengan rasa jijik Pangeran Linglung mendekap-dekap dan membelai.
"Kakang, rupanya kau belum punya pengalaman sama sekali dalam bercinta, ya...?"
"Wah, belum tuh." kata pengantin laki-laki tersipu.
"Bohong! Biasanya laki-laki suka menipu. Terkadang mereka belum menikah, tapi pengalamannya dengan perempuan bermacam-macam. Apakah Kakang mau mungkir?"
"Itu laki-laki lain. Laki-laki iseng hidung belang-belang. Mereka memang suka jajan. Lalu terkena penyakit kotor, nah nanti kalau keturunan rusak, anak yang disalahkan, Tuhan yang diomeli. Padahal buah setiap pohon selalu jatuh tidak jauh dari batangnya."
"Aih, Kakang... ternyata walaupun tampangmu be go Kakang sangat pintar sekali!" puji Maya.
Tiba-tiba ia mencium bibir Pangeran Linglung palsu. Mula-mula Dewi hanya diam saja. Namun karena kemudian ia mengingat penyamarannya agar tidak terbongkar. Maka Dewi dengan terpaksa membalas ciuman Maya. Nafas putri ib lis ini mulai tersengal-sengal. Lampu di dalam ruangan dipadamkannya.
"Jangan dimatikan, aku tidak bisa tidur, takut hantu!" protes Dewi Bulan si Pangeran Linglung palsu.
"Kakang penakut!" Maya Swari menggerutu namun penuh kemanjaan.
Ia memeluk Pangeran Linglung, bibirnya yang kemerah-merahan mendesis dan merengek. Dengan terpaksa Pangeran Linglung menyelinapkan tangannya di dada Maya. Gadis itu merintih ketika jemari tangan sang Pangeran membelai lembut dadanya. Tanpa malu-malu gadis Maya melepaskan kancing-kancing kemejanya. Sehingga dada Maya yang putih itu tersembul dari balik pakaiannya. Ternyata Maya memang menginginkan suasana sebagaimana yang terjadi pada pengantin baru umumnya.
Dewi Bulan kelabakan, bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi. Sedangkan antara dirinya dengan Maya sama saja. Tidak dapat di bayangkan Dewi bagaimana seandainya Pangeran Linglung yang berada di samping Maya. Tentu setabah-tabahnya laki-laki akan bobol juga bendungan Maya. Duh, Cemburunya Dewi Bulan.
Untunglah Pangeran Linglung ini punya otak yang cerdik. Sehingga dengan caranya yang tentu saja rahasia ia dapat memuaskan Maya Swari. Malam pengantin pun terasa hangat menggebu-gebu. Suasana di luar genting dan kamar pengantin berubah sunyi. Waktu berlalu sebagaimana hari-hari sebelumnya.
Keesokan harinya ketika Maya terjaga tanpa busana. Dilihatnya Pangeran Linglung masih mendengkur di sampingnya. Pakaiannya rapi sebagaimana pakaian orang yang baru saja pulang dari pesta. Maya melihat dirinya sendiri. Sprei yang berwarna putih itu masih tetap bersih. Tidak ada noda-noda darah disitu. Maya pun tidak merasakan sakit pada bagian bawah perutnya. Maya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang ganjil tidak sebagaimana mestinya. Padahal waktu menikah ia masih suci, gadis ting ting. Lalu siapa yang salah?
Diam-diam Maya jadi curiga, kecurigaannya itu tetap ia pendam. Ia harus menyelidik siapa sesungguhnya Pangeran Linglung? Setelah mengenakan pakaiannya kembali yang berantakan, maka Maya segera bergegas ke kamar mandi. Ia sengaja tidak mau membangunkan suaminya.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?