
Berdirinya sebuah singgasana kecil di gunung Bromo dengan sepak terjangnya yang ganas tanpa pandang bulu, telah menarik perhatian seorang tokoh sesat dari daerah Ponorogo. Ia seorang laki-laki memakai baju hitam ikat kepala warna hitam. Tubuhnya tinggi semampai berotot.Rambut, kumis jambang dan jenggot berwarna hitam.
Walaupun umurnya sudah mencapai hampir enam puluh tahun. Tapi ia kelihatan masih gagah, langkahnya tegap. Wajahnya yang angker hampir tanpa senyum, karena memang sepanjang hidupnya ia tidak pernah tersenyum.
Adapun tujuan laki-laki ini adalah ingin bergabung dengan penguasa gunung Bromo. Yang kabarnya merupakan tokoh-tokoh aliran hitam yang sangat kuat di samping memiliki jago-jago bayangan sekaligus pengawal-pengawal dalam jumlah tidak terbatas.
Sudah empat hari Warok Batiroso melakukan perjalanan bersama gemblaknya (istri dari kaum sejenis). Bila sang gemblak ini letih, tidak segan-segan Warok menggendongnya. Ia sangat sayang pada Gemblak ini karena wajahnya yang sangat tampan disamping memiliki ilmu silat tinggi.
"Hari sudah siang. Kurasa gunung Bromo tidak jauh lagi dari sini, istriku. Aku jadi ingin cepat-cepat sampai ke sana!"
"Jangan terlalu berambisi, Kakang Warok. Lihatlah ke langit, Undan milik kita masih jauh tertinggal di belakang. Kakang lari laksana terbang, tidak tahu siang tidak perduli malam!"
"Undan (Sejenis burung bangau
berbulu hitam) kita itu semakin tua semakin lamban. Terkadang aku malas membawanya serta. Tapi binatang itu selalu ngotot dan mau ikut juga ke mana aku pergi!" Warok Batiroso mengomel.
Dalam hidupnya sang Undan merupakan makhluk kedua yang sangat dia sayangi setelah Gemblaknya sendiri. Sekaligus binatang ini merupakan pengawal setianya.
"Jangan terlalu tergesa-gesa. Tidak akan lari gunung dikejar. Ada baiknya jika kita istirahat dulu!"
Kening Warok Batiroso mengerut dalam ia melirik pada sang Gemblak bernama Panaran itu. Kemudian seraya anggukkan kepala tanda setuju, Warok Batiroso mengambil buli-buli tuaknya.
Kemudian dinikmatinya seteguk demi seteguk. Sang Warok kemudian menyodorkan daging panggang yang mereka bekal sejak dari Ponorogo beberapa hari yang lalu.
Sedang mereka istirahat melepas lelah, di atas mereka tiba-tiba terdengar suara menggemuruh seperti angin ****** beliung.
Tanpa melihat sekalipun tentu sang Warok sudah tahu bahwa suara itu timbul akibat kepakan sayap sang Undan. Hanya anehnya kali ini binatang yang sangat besar itu menguik keras. Suaranya berisik memekakkan gendang-gendang telinga. Ini adalah sebuah kebiasaan sebagai isyarat bahwa di tempat itu ada orang lain selain mereka berdua.
Warok Batiroso tiba-tiba mendongak ke langit.
"Turunlah kekasihku. Jika pendatang bermaksud baik tentu ia tunjukkan diri. Kalau cari penyakit, tuanmu ini tidak segan-segan mengirimnya ke neraka!"
"Ngiiiiikkh...!"
Sang Undan memperdengarkan suara menguik keras. Sayapnya dikepak-kepakkan hingga menimbulkan deru angin yang sangat keras.
Dalam pada itu di balik kerimbunan pohon terlihat seorang gadis cantik dengan tahi lalat di dagu dan berbaju kuning gading melompat keluar.
Dan hanya beberapa kali lompatan saja gadis itu telah berada di depan Warok Batiroso.
Laki-laki berbadan tegap ini memandang kehadiran si gadis dengan tatapan tidak suka. Ketika ia bicara, suaranya serak sember.
"Katakan apa maumu? Mengapa mengintip orang yang sedang melepas lelah?"
Gadis berbaju kuning gading yang tidak lain adalah Dewi Bulan ini tersenyum. Seraya memandang Panaran sekejap, setelah itu menoleh ke arah Undan yang terus berputar-putar liar di udara.
"Aku bukan mau mengintipmu, Kisanak! Aku sedang pergi menuju ke suatu tempat tidak jauh lagi dari sini. Jadi teruskanlah istirahatmu, aku akan meneruskan perjalananku!"
Dewi Bulan baru saja hendak melanjutkan perjalanannya ketika di belakangnya terdengar suara membentak.
"Berhenti...!"
__ADS_1
Mau tidak mau gadis ini hentikan langkahnya tapi tidak menoleh ke belakang.
"Kalau ingin bicara, bicaralah, aku tidak punya banyak waktu!"
"Gadis sombong! Kau hendak ke mana, katakan tujuanmu! Bukankah tempat terdekat dari sini adalah gunung Bromo? Apakah kau mau ke sana?"
"Pertanyaanmu banyak sekali. Mana yang harus kujawab?"
"Jangan banyak mulut! Katakanlah ke mana tujuanmu!"
"Aku mau ke gunung Bromo. Apakah itu sudah cukup?"
"Lagakmu tengil seperti bayi kebesaran upil! Aku tahu kau pasti minta ingin bergabung dengan penguasa gunung Bromo. Hak hak hak! Tujuan kita sama. Jika kita punya nasib baik, tentu kelak kita bisa bersahabat!"
Maka tertawalah Dewi Bulan mendengar ucapan si baju hitam.
"Siapakah namamu, Kisanak?"
"Mengapa kau tanya nama? Aku Warok Batiroso dari Ponorogo."
"Warok sama dengan jagoan, tapi menyimpang dari kodratnya. Terus terang, Kisanak. Aku pergi ke gunung Bromo justru untuk menagih hutang nyawa pada para ib lis yang bercokol di sana. Jadi tujuan kita jelas jauh berbeda"
Warok Batiroso terkesiap mendengar ucapan Dewi Bulan. Sebaliknya Undan yang terus terbang berputar-putar di atas Dewi Bulan mencuik keras. Kepakan sayapnya pang keras saja membuat pakaian Dewi Bulan berkibar-kibar. Dan muka gadis itu terasa perih bukan main.
"Hmm, kita punya tujuan berbeda. Jauh dari tanah kelahiran aku telah berjanji untuk menghambakan diri pada mereka. Walaupun mereka belum menerima kehadiranku. Adalah pahala besar jika aku membunuhmu untuk mereka!" geram sang Warok.
Dalam pada itu sang gemblak pun menimpali pula.
"Heee... kau. Manusia salah kaprah yang menyalahi kodratnya. Lontong lawan lontong. Jangan ikut campur jika tidak ingin mam pus!" damprat Dewi Bulan sengit,
Disindir begitu Panaran rupanya tidak terima. Ia bangkit berdiri lalu cabut keris pendek berwarna hitam dari balik bajunya. Sebelum laki-laki ini bertindak, Warok Batiroso mencegah.
"Jangan buang-buang keringat istriku! Untuk membunuh bocah tengil ini, paman Undan sudah cukup mewakili kita."
Warok Batiroso tiba-tiba menjentikkan tangannya. Undan yang berputar-putar di atasnya menguik keras. Tubuhnya berputar-putar melayang rendah. Isyarat yang diberikan oleh sang majikan itu rupanya sangat dimengerti oleh sang Undan sebagai isyarat membunuh.
Bukan main cepatnya gerakan burung besar ini. Dalam waktu yang singkat sekali ia sudah menyambar dengan paruh terbuka ke arah Dewi Bulan.
Gadis ini terkesiap. Sambaran angin yang sedemikian keras itu saja sudah membuatnya tergontai-gontai. Ia terpaksa melompat sambil berguling-guling.
Dewi Bulan selamat dari patukan paruh sang Undan yang panjang dan runcing. Tapi kepakan sayapnya membuat dada sang dara seperti terhimpit batu gunung.
Dewi Bulan tiba-tiba saja membentak keras. Ia hantamkan dua tinjunya ke depan. Seleret sinar biru melesat dari telapak tangannya. Sinar yang disertai deru angin ini panas bukan main. Tapi seperti sudah mengerti bahaya yang mengancamnya saja, Undan ini kepakkan sayapnya yang lebar. Hingga pukulan yang dilepaskan oleh Dewi Bulan buyar, mental dan sebagian lagi berbalik nyaris menghantam diri sendiri.
Gadis itu berguling-guling.
“Bumm! Bumm!"
"Kurang ajar!" gerutunya dalam hati.
Dewi bangkit berdiri. Kali ini ia mencabut pedang pendek dari pinggangnya. Pedang ganda ini diputarnya sedemikian rupa hingga menimbulkan suara menderu-deru dingin sekali. Di tangannya pedang kembar itu seakan berubah menjadi banyak.
__ADS_1
Warok Batiroso tergelak-gelak. Namun kagum juga melihat permainan pedang si gadis yang begitu cepat dan berbahaya itu. Jika saja hanya orang yang mempunyai kepandaian biasa yang melihat permainan pedang Dewi tentu mereka tidak dapat membedakan yang mana bayangan dan yang mana aslinya.
Tapi karena Warok Batiroso tercokol berkepandaian tinggi dan sangat terkenal di daerahnya. Jadi permainan serta jurus-jurus pedang Dewi hanya berupa gerakan-gerakan yang sangat mengagumkan.
"Bunuh!" Teriak Warok Batiroso pada Undan yang terus berputar mencari kelemahan jurus pedang 'Kupu-Kupu Menari Di Atas Bunga Matahari' tersebut.
"Keeek! Kreeekkh!"
Undan itu memekik keras menggetarkan dada Dewi. Sayapnya kembali mengepak membelah udara memedihkan mata.
Dewi mengerahkan tenaga dalanmya untuk melindungi sekujur tubuhnya dari hantaman sayap sang burung. Tidak lama kemudian ia menggenjot tubuhnya, hingga sekejap saja tubuhnya telah melayang di udara. Karena burung itu terbang rendah, begitu pedang pendek di tangan Dewi berkiblat, maka angin menderu disertai sinar putih berkiblat menebas.
Namun Undan itu telah mengangkat sayapnya sehingga tebasan pedang Dewi luput. Gadis itu tidak mau ambil resiko. Ia alihkan pedang ke tangan kiri. Lain tangannya menghentak ke atas.
Pada saat burung itu melayang, pukulan Gempa Merbabu menghantam.
"Brass!"
"Kreaaakkh!"
Tubuh sang Undan terguncang. Dewi melesat turun dan menjejakkan kedua kakinya di tanah dengan mulus sekali.
Undan tersebut agaknya menjadi marah sebagaimana pemiliknya. Ia terbang tinggi, hingga bentuknya berubah mengecil. Hanya dalam sekedipan mata, binatang yang sudah sangat terlatih itu menukik turun. Bukan main gerakan burung besar ini. Sampai-sampai hampir tidak terlihat kasat mata karena cepatnya.
Dewi begitu merasakan sambaran angin langsung melompat ke samping. Tapi kepakan sayap burung yang seakan menendang tidak sempat dihindarinya.
Braak!
"Glebuk!"
Dewi jatuh terguling-guling. Ia merasa dada dan punggungnya seperti remuk.
Warok Batiroso melihat ini terlonjak girang dan semakin bersemangat.
"Bunuh dengan paruhmu!" perintahnya.
"Kreaakk...!"
Sang Undan menyahuti dengan pekikan keras. Ia tidak lagi berputar. Melainkan terbang serendah-rendahnya sambil mematuk dahsyat ke arah batok kepala Dewi.
Gadis ini pasti akan kehilangan kepalanya jika pada saat yang sangat kritis itu tidak melesat sebuah benda berwarna hitam panjang menderu kencang ke arah paruh sang burung.
Begitu kencangnya hingga Undan itu sendiri tidak sempat melihat bahaya ini.
"Taak!"
"Kreaakkkk...!"
Sang Undan menjerit keras ketika benda hitam menghantam ujung paruhnya. Patukannya gagal, selain itu ia golang-golengkan kepalanya karena didera rasa sakit bukan kepalang.
Terbangnya menjadi oleng, lalu membumbung tinggi semakin bertambah tinggi hingga lenyap dari pandangan mata.
__ADS_1