Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
31


__ADS_3

Laki-laki tua bertelanjang dada dan berambut putih ini berjalan mondar-mandir mengelilingi patung yang baru selesai diwarnainya. Memang patut diakui, setelah patung itu diwarnai, hasilnya semakin bertambah sempurna.


Inilah satu-satunya patung yang paling bagus di antara sekian banyak patung yang pernah dibuatnya. Memandangi wajah patung lebih lama, tiba-tiba saja wajah Pematung Kelana berubah muram.


"Tidak kusangka kau pergi secepat itu, anakku! Kini aku hanya sendiri. Hidup bersama bayang-bayang mimpi yang tidak bertepi. Mimpi buruk selalu datang dan pergi. Hal ini sangat menyiksaku, menyiksa sangat dalam."


Tanpa disadarinya air mata Pematung Kelana menetes. Suaranya kemudian berubah serak.


"Jika aku pergi, satu rahasia yang sangat besar terkandung dalam dirimu. Aku selalu berdoa sepanjang siang dan malam. Jika aku tidak dapat menemanimu lebih lama, semoga ada orang baik berhati jujur dapat menyingkap tabir misteri yang sengaja kupendam dalam dirimu...!" desis si kakek tua sambil menengadahkan wajahnya ke langit.


Sedang Pematung Kelana bicara seorang diri seperti itu, sayup-sayup di kejauhan terdengar suara langkah kuda. Semakin lama suara derap kaki kuda semakin bertambah cepat dan bertambah jelas.


"Inilah pertanda yang paling tidak baik dalam hidupku!" membatin si kakek tua dalam hati.


Benar saja, tidak lama kemudian seekor kuda tunggangan berhenti tepat di depan Pematung Kelana. Duduk di atasnya seorang gadis berbaju ungu tembus pandang. Gadis ini terbelalak kaget begitu melihat betapa indahnya patung dan keperkasaan pada bagian bawah perutnya.


Mustika Jajar sempat bergetar tubuhnya. Darahnya berdesir, jantungnya berdetak lebih kencang. Terus terang ia mengakui bahwa patung itu bentuknya sangat sempurna dari pribadi seorang laki-laki jantan yang perkasa. Apalagi setelah melihat tampangnya yang gagah dan ganteng.


Jika semula ia berniat menukar patung itu dengan enam kantung emas murni. Maka kini setelah melihat patung itu ia malah berubah ingin memiliki patung itu untuk selama-lamanya.


"Pak Tua. Benarkah anda yang berjuluk Pematung Kelana?" tanya Mustika Jajar berusaha ramah meskipun suaranya sempat bergetar menahan keinginan yang meledak-ledak setelah melihat keperkasaan patung tersebut.


"Bertanya membawa satu maksud jahat atau baik?" tanya Pematung Kelana acuh tak acuh.


"Hhh... orang ini benar-benar sombong sebagaimana yang dikatakan oleh saudagar mata keranjang itu!" batin Iblis Betina Dari Neraka.


"Maksudku tergantung bagaimana penyambutanmu, Pematung Kelana? Hik hik hik...!" Mustika Jajar terkikik. Ia mengerling genit pada si kakek.


"Hmmm, setiap orang memang punya maksud-maksud tertentu datang kemari. Melihat penampilanmu hatiku mengatakan kau membawa maksud yang bukan saja buruk tapi juga keji! Pergilah! Aku tidak punya waktu untuk melayanimu."


"Bagaimana kalau kau tukar patung itu denganku?"


"Maksudmu?"


"Patung bagus itu kau berikan padaku. Sebagai balas jasa aku menyerahkan diriku padamu untuk beberapa waktu!" Mustika Jajar tersenyum genit. Ia bahkan sengaja menggaruk dadanya, sehingga salah satu kancing bajunya terbuka dan memperlihatkan buahdadanya yang membusung padat, putih berkilat-kilat.


Pematung Kelana cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain. Gelora amarahnya terbangkitkan.


"Perempuan rendah! Aku adalah manusia renta yang tidak dapat kau perdaya. Sungguhpun kau telan jang di depanku, harga patung ini lebih mahal dari kemolekan tubuhmu!"


"Ah... terlanjur aku datang. Terus terang aku mau meminta patung itu!" Mustika Jajar tanpa malu-malu berterus terang.


"Hhh... patung ini kubuat bukan untuk kujual atau kuberikan pada orang lain. Dia adalah tiruan sosok anakku. Karena dia anakku, maka aku akan mempertahankannya walaupun nyawa sebagai taruhannya!"


Mata Iblis Betina Dari Neraka terbelalak lebar. Jika patungnya saja sedemikian perkasa dan jantan apalagi orang yang sesungguhnya.


"Di mana anakmu itu, orang tua?" tanya gadis berbaju ungu.

__ADS_1


"Dia sudah tiada!"


"Ah... sayang betul! Kalau begitu sekarang kau harus menyerahkan patung ukiranmu itu padaku!" tegas si gadis sambil berkacak pinggang.


"Sudah kubilang aku tidak akan memberikannya pada siapapun. Apakah kau tidak mendengar kata-kataku!" dengus Pematung Kelana dengan perasaan muak.


"Rupanya aku harus merampas nyawamu baru kau mau menyerahkan patung itu kepadaku!"


"Demi keselamatan patung ini dari manusia sepertimu, aku rela berkorban apa saja!" dengus Pematung Kelana merasa tersinggung.


"Banyak mulut! Hiyaaa...!"


Secara licik Mustika Jajar menghantam punggung si kakek dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Namun Pematung Kelana begitu merasakan sambaran angin pukulan langsung melompat ke samping kiri. Lalu kibaskan tangan kirinya.


"Duuuk!"


"Uuuuh…!"


Mustika Jajar tersentak. Tangannya terasa seperti menghantam dinding karang. Tangan itu berwarna merah dan nyeri pada bagian jemarinya. Ia terhuyung-huyung sejauh tiga tindak.


Sebaliknya Pematung Kelana juga terkejut. Tangan kirinya seperti ditusuk-tusuk ribuan batang jarum. Lebih celaka lagi tangan itu berubah dingin. Sebagai orang yang telah berpengalaman dan malang melintang di sepanjang pesisir pulau Jawa. Ia sadar betul bahwa lawannya memiliki tenaga dalam yang mengandung racun keji. Cuma yang membuatnya terheran-heran adalah mengenai tenaga dalam yang dimiliki oleh gadis itu. Meski masih berusia muda, tapi tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat sempurna.


"Sebentar lagi kakek tua! Sebentar lagi Ib lis Betina Dari Neraka akan mengirimmu ke Neraka!" dengus Mustika Jajar.


Seraya kemudian mementang kedua


tangannya lebar-lebar. Selanjutnya kedua tangan itu dilintangkannya ke depan dada. Tangan itu kemudian berubah menghitam. Dengan satu gerakan yang sangat menantang, ia membuka jurus 'Prahara Bumi', yaitu salah satu jurus iblis langka yang pernah dipelajarinya dari 'Tua Tengkorak Mata Api'


Pematung Kelana merasakan pernafasannya menjadi sesak. Namun sebagai tokoh angkatan tua yang sangat berpengalaman. Ia langsung mengetahui siapa pemilik jurus sesat yang sangat berbahaya itu.


"Ada hubungan apa kau dengan Tua Tengkorak Mata Api!" hardik Pematung Kelana sambil menghindari tendangan kilat yang dilancarkan oleh lawannya.


"Kau tidak layak bertanya!" dengus Mustika Jajar. Diam-diam hatinya terkejut juga setelah mengetahui ternyata lawannya kenal siapa gurunya.


"Huup! Heaaa...! Jika kau muridnya Tua Tengkorak Mata Api. Berarti aku sudah dapat memperkirakan siapa kau yang sebenarnya. Rasanya tidak salah jika aku turun tangan kejam kepadamu!" Pematung Kelana menggeram.


"Bagus! Aku sendiri memang menghendaki nyawamu!" sinis suara Mustika Jajar.


"Shaa...!" Tubuh Pematung Kelana melesat ke depan. Ia mengerahkan jurus 'Bayang-bayang Sukma'. Inilah salah satu jurus andalan yang dimiliki oleh si kakek tua. Sadar bahwa lawannya merupakan murid seorang iblis. Tidak tanggung-tanggung ia mengerahkan segenap kemampuan yang ada.


Sebaliknya walaupun masih muda, Iblis Betina Dari Neraka ini memang mewarisi kepandaian tinggi dari gurunya. Jadi sungguhpun lawan mempu nyai pengalaman jauh lebih matang. Namun ia masih tetap dapat mengimbangi setiap serangan yang datang.


"'Tujuh Angkara Murka'!" jerit Mustika Jajar. Ia kemudian hantamkan tangannya yang telah berubah hitam itu menyongsong serangan lawannya. Melihat sinar hitam datang menggebu-gebu ke arahnya, maka Pematung Kelana membanting tubuhnya ke samping kiri Lalu lepaskan pukulan 'Geger Bumi'.


Sinar hitam dan merah datang bergulung-gulung bagaikan badai topan prahara. Udara di sekitarnya berubah menjadi dingin dan panas. Lalu dua pukulan yang dilepaskan oleh masing-masing lawannya ini saling bertemu di udara.


"Buummm...!"

__ADS_1


"Braak! Braaak!"


Dua-duanya jatuh terpelanting, Hampir bersamaan mereka bangkit kembali. Ledakan dahsyat itu membawa akibat runtuhnya dinding tebing. Bahkan longsorannya menimbun badan patung. Pematung Kelana menyeringai. Wajahnya berubah pucat. Sebaliknya Mustika Jajar malah tersenyum. Sekarang ia menyerang lagi dengan gerakan-gerakan yang lebih cepat dan gencar.


Namun Pematung Kelana yang telah bergerak lebih awal dapat menghantam perut gadis itu hingga membuatnya jatuh terjengkang dan muntahkan darah segar.


Anehnya gadis itu malah tertawa-tawa. Rupanya itulah satu-satunya cara untuk menyembuhkan luka dalam yang dideritanya. Tidak lama kemudian ia bangkit berdiri.


"Kau telah melukaiku, berarti semua yang kau lakukan hanya mempercepat kematianmu sendiri!" Mustika Jajar menggeram marah sambil seka darah yang menetes di sudut-sudut bibirnya.


"Deb!"


"Beet!"


"Heyaaa...!" Jemari tangan si gadis tiba-tiba saja terentang lebar. Begitu jemari tangan terkembang. Maka terjadilah perubahan warna. Jika semula jemari tangan itu berwarna keputihan, maka sekarang telah berubah menjadi merah laksana darah.


Pematung Kelana terkesiap setelah melihat perubahan yang terjadi pada bagian tangan lawannya. Mulutnya mendesis 'Pukulan Jari Getih'.


Tidak ada kesempatan baginya untuk berpikir lebih jauh. Pukulan Jari Getih sebagaimana yang diketahuinya merupakan satu pukulan ampuh beracun yang sangat mematikan. Siapapun yang terkena pukulan itu tidak ada yang dapat menjamin keselamatan nyawanya!


Merasa tidak ada pilihan lain lagi. Maka ia mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangan. Tubuhnya tiba-tiba saja bergetar hebat. Kedua telapak tangannya berubah kuning berpedar-pedar. Inilah salah satu pukulan simpanan yang bernama'Geger Bumi'. Sungguhpun laki-laki ini tidak dapat memastikan apakah dia sanggup mengatasinya, Namun sebelum segala sesuatunya terjadi. Pematung Kelana telah menghentakkan tangannya ke depan. Hanya beberapa saat setelahnya, lawannya pun melakukan hal yang sama.


"Blaam! Blaaam…!"


Dua letusan dahsyat memporak porandakan suasana di situ. Satu bayangan terlempar ke arah jurang, sedang yang satunya lagi tergontai-gontai dan jatuh terhempas tidak jauh dari longsoran tanah yang menimbun patung ciptaan Pematung Kelana. Dari arah jurang, sayup-sayup terdengar suara jerit seseorang. Itulah suara si kakek pematung.


Sementara itu Mustika Jajar sendiri telah bangkit berdiri. Dari mulutnya darah semakin banyak yang keluar. Barulah setelah menelan beberapa butir pel berwarna hitam dan merah. Darah langsung berhenti.


"Gila betul orang itu. Selain seorang pematung, ternyata ia mempunyai kepandaian yang tidak rendah. Syukur ia terpelanting ke jurang. Aku tidak tahu apakah ia dalam keadaan hidup atau mati!" desis Iblis Betina Dari Neraka sambil menyeringai.


Tidak lama kemudian ia sudah memindahkan longsoran tanah yang menimbun patung pemuda gagah. Entah mengapa semakin dekat tubuhnya dengan patung tersebut, jantungnya berdetak semakin kencang.


"Hhhm, ini dia! Oh sungguh merupakan patung yang sangat perkasa. Seandainya saja ia hidup. Ingin rasanya aku menidurinya sepanjang malam. Hik hik hik...!" Dielus-elusnya patung tersebut.


Tidak lama kemudian setelah longsoran tanah yang menimbunnya habis. Mustika Jajar seperti orang kesurupan langsung memeluk badan patung yang kekar tidak ubahnya seperti sedang memperlakukan orang yang sangat disayanginya.


"Aku menyukaimu. Tidak mungkin rasanya aku menukarmu dengan enam kantung emas. Aku akan selalu meminta pada para iblis, agar suatu saat kau dapat hidup sebagai manusia. Manusia perkasa yang dapat memenuhi setiap keinginanku...!"


Lagi-lagi Mustika Jajar seperti orang kesurupan langsung memeluk patung itu. Kemudian ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada bibir patung.


"Aku mau membawamu ke suatu tempat! Di sana aku akan minta petunjuk dari para iblis untuk membangkitkanmu!"


Gadis berbaju ungu ini kemudian berusaha mengangkat patung tersebut. Tapi ternyata patung itu beratnya bukan main. Sehingga Mustika Jajar terpaksa mengerahkan tenaga dalam untuk meletakkan patung itu di punggung kuda.


"Kraaakkk!"


Kuda yang diharapkannya dapat membawa patung, ternyata tidak kuat menahan berat patung. Bahkan terdengar suara berderak patah pada bagian tulang punggungnya.

__ADS_1


"Upp... tidak kusangka patung ini berat sekali. Sebaiknya biar aku sendiri yang memanggulnya!" Mustika Jajar memutuskan.


Dengan sekuat tenaga patung batu mar-mar seberat kati itu dipanggulnya. Bahkan beberapa saat kemudian ia sudah berlari-lari, seakan beban berat yang dipikulnya tidak dirasakan sama sekali oleh si gadis.


__ADS_2