
"Bukan main. Kau hebat. sayang kini aku harus menjadi seorang kacung!"
"Jangan cerewet!" kata Dewi Bulan ketus.
"Sekarang bukan saatnya bersenda gurau. Sekali terbongkar, maka celakalah kita semua!"
Dewi Bulan yang telah menyaru sebagai Suro Blondo ini segera menyuruh Pendekar Blo'on yang telah bertukar menjadi Morganda sang ka cung keluar meninggalkan kamar. Ia sendiri kemudian enak-enakan merebahkan tubuhnya yang terasa penat diatas kasur empuk.
"Sialan. Balas dendam dia rupanya. Aku hampir saja mendapatkan yang enak diatas enak. Nggak tahunya sekarang harus menjadi ka cung!"
Pemuda ini hampir saja menggaruk rambutnya. Namun ketika ia teringat sedang berada dalam penyamaran. Maka keinginannya itu diurungkan. Tidak lama setelah melewati beberapa kamar yang cukup banyak jumlahnya. Secara mengendap-endap ia menembus kegelapan malam yang pekat.
Di sebuah ruangan pribadi, Maya Swari rupanya pada saat yang bersamaan sedang berdebat dengan ayahnya. Gadis pengantin baru ini memandang tajam pada sang ayah yang tampak duduk tenang-tenang.
"Ayah... aku tidak menyangka ayah begini tega!" Maya Swari terisak.
"Pangeran Linglung siapapun dia adalah pemuda pilihanku. Mengapa ayah memberinya racun Penghilang Ingatan?"
"Tokh bukan kau yang ayah racuni. Ayah hanya ingin membuat semua orang patuh dan tunduk pada ayah, terkecuali tiga tokoh yang sedang menunggu di ruangan pertemuan."
"Apa tujuan Ayah yang sebenarnya?" tanya Maya Swari heran.
"Ayah belum dapat mengatakannya, meskipun pada anaknya sendiri. Yang jelas Ayah curiga pada Pangeran Linglung."
"Apa yang Ayah curigai? Ia begitu lugu, polos dan bersahaja."
"Dunia ini penuh dengan tipu-tipu Anakku. Kau tidak tahu karena kau belum matang benar. Kalau ada apa-apa, sebaiknya bicarakan saja besok. Ayah harus menjumpai mereka sebelum kesempatan besar ini hilang!" Raka Tendra bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan kemarahan Maya Swari ia meninggalkan sang anak termenung sendirian.
Di dalam ruangan pertemuan pembicaraan mulai berlangsung. Buto Terenggi, Nyanyuk Pingitan dan Datuk Alang Sitepu dan Raka Tendra berkumpul membentuk lingkaran.
"Jadi Prisma Permata itu telah didapatkan?" Yang bertanya adalah laki-laki hancur sebelah bermata satu.
"Sudah. Aku yang telah mencurinya dari Goa Darah!" jawab Nyanyuk Pingitan membanggakan diri.
"Goa Darah yang sangat ditakuti itu ternyata tidak ada apa-apanya. Kuakui memang Prisma Permata yang konon mengandung kekuatan magis itu sempat merepotkan aku. Tapi kenyataannya aku dapat mengatasinya."
"Kurasa gua itu sekarang sudah hancur. Bukankah begitu, Nyanyuk Pingitan?" tanya Buto Terenggi was-was.
"Ya... gua itu telah hancur karena kekuatan yang menjaganya sudah kuambil. Dengan Prisma Permata di tangan kita, siapa lagi yang tidak tunduk pada kita? Kita dapat mendirikan sebuah kerajaan besar setelah kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Hik hik hik!"
"Sungguhpun begitu masih ada bahaya lain yang mengancam kita. Kita tidak boleh lengah!" kata Raka Tendra.
"Apa itu?" Nyanyuk Pingitan dan Datuk Alang Sitepu bertanya.
__ADS_1
"Menurut yang kudengar. Konon Prisma Kristal Permata itu sebenarnya adalah sebuah kunci yang menentukan kebebasan setengah anak manusia dan setengah anak jin. Dengan dibukanya Prisma Permata itu. Berarti Soma Sastra si Manusia Merah terbebas dari hukuman Kyai Tapa. Tidak seorangpun tahu bagaimana perangai manusia setengah jin itu. Karena selama ini ia memang tidak pernah muncul. Dan lagipula, jika Goa Darah hancur. Pulau Jawa ini terancam tenggelam dalam bahkan menjadi lautan lumpur api. Ini adalah sebuah sumpah yang pernah dituturkan oleh nenek moyangku dulu!"
"Tidak usah khawatir Diraja Penghulu Iblis. Semua yang Anda dengar hanyalah dongeng. Jika kerajaan telah kita bangun, siapa yang tidak tunduk pada kita?" desis Datuk Alang Sitepu.
"Kau punya Racun Pelemah Akal. percobaanmu terhadap para undangan saja telah terbukti. Jadi apa lagi yang kau risaukan. Seratus datang seratus tunduk dan patuh di bawah perintah. Kita semua punya keahlian masing-masing. Jadi apa yang ditakutkan?"
"Memang. Untuk lebih meyakinkan lagi. Kurasa tidak ada salahnya sekarang ini Nyanyuk Pingitan menunjukkan Prisma Kristal yang telah Anda curi dari Goa Darah itu!"
"Jangan!" Datuk Alang Sitepu mencegah.
"Jika Prisma Permata itu sampai keluar dari kantung kulit beruang milik Nyanyuk Pingitan. Kekuatannya akan menyerang orang-orang disekelilingnya. Terkecuali aku yang memegangnya."
Apa yang dikatakan oleh Datuk Alang itu memang tidak dipungkiri oleh Nyanyuk Pingitan. Sehingga tanpa merasa curiga lagi ia menyerahkannya pada raja Penyihir. Mata Datuk Alang yang cuma sebelah itu terpejam, ia kemudian membaca mantra hitam yang dimilikinya. Setelah itu dengan tangan-tangan yang bergetar ia mengeluarkan Prisma Kristal dari kantung kulit beruang.
Begitu Prisma Kristal dikeluarkan. Maka terpancarlah cahaya merah. Ini merupakan keanehan tersendiri. Karena sebetulnya Prisma Permata itu berwarna putih kemilau.
"Hanya sebentar aku dapat menahannya. Apakah semua yang hadir disini telah puas melihatnya?"
"Cukuplah, Datuk!" kata Raka Tendra.
Datuk Alang Sitepu memasukkan kembali Prisma Permata itu ke dalam kantungnya. Mereka baru saja hendak melanjutkan pembicaraan ketika secara tiba-tiba terdengar suara jerit kematian diluar gedung itu.
Entah karena apa, atau mungkin pula karena pengaruh kekuatan Prisma Kristal itu. Mereka yang berada di dalam ruangan pertemuan itu sama sekali tidak bergerak. Malah terus melanjutkan pembicaraan. Dua bayangan yang ikut mengintip pembicaraan mereka berkelebat menuju arah yang berlawanan. Yang satu ke belakang yang satunya lagi ke depan. Selain itu masih ada lagi dua bayangan lainnya yang bergerak ke arah bagian depan bangunan.
Entah darimana datangnya sosok serba merah dengan tinggi lima meter dan hanya memakai koteka ini muncul begitu saja. Begitu datang ia langsung membantai orang-orang yang bertugas jaga malam. Kakinya menendang, tangan mencekeram siapa saja yang terdekat dengannya. Bila telah berada dalam genggamannya, maka pengawal Diraja Penghulu Iblis ini langsung dibantingnya.
Korban mulai berjatuhan. Pasukan pemanah yang berada di atas bangunan tidak tinggal diam. Mereka melepaskan anak-anak panah kearah manusia merah ini. Tapi sungguh sayang sekali. Manusia merah ini ternyata kebal terhadap semua jenis senjata.
Suro Blondo yang telah menyamar sebagai Margonda melihat kejadian ini dengan mata melotot.
"Betul-betul edan. Apakah dia juga iblis dari neraka? Tapi mengapa malah membunuh orang-orang Diraja Penghulu Iblis?"
Di sudut lain Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng juga sama tercekat. Tapi sebagai tokoh angkatan tua mereka langsung teringat sesuatu.
"Manusia merah itu bukankah anak raja jin yang menitis di rahim istri Kyai Tapa?"
"Kau tidak salah Kakang. Ternyata kabar yang pernah kita dengar dulu bukan dongengan anak-anak. Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga ia terbebas dari penjara Gua Darah."
"Bagaimana? Apakah kita tinggalkan tempat ini?"
"Tidak bisa! Apakah Kakang tidak dengar rencana gila para tokoh sesat itu? Kita harus menghentikan mereka!"
"Bagaimana dengan manusia merah?"
__ADS_1
"Kita tidak tahu dia berada dipihak mana. Tapi aku yakin dia datang kemari untuk mengambil Kristal Permata itu."
"Apakah kita harus turun sekarang?"
"Jangan!" cegah Gajah Krempeng.
"Walaupun Kakang punya badan tidak kalah besar dengan manusia merah. Tapi tingginya Kakang kalah. Lebih baik kita pancing agar Raka Tendra dan kawan-kawannya keluar."
Belum sempat kedua manusia Gajah ini bergerak. Tiba-tiba terdengar suara teriakan menggelegar. Angkasa bagai terbelah. Kegelapan malam berubah terang benderang karena darimulut manusia merah menyembur lidah api pada saat ia bicara.
"Siapa yang merasa telah mencuri Perisma Permata harap segera menyerahkan diri kepadaku! He... anak-anak se tan apakah kalian tidak mendengar seruanku?"
Jangankan orang yang bisa mendengar, orang tuli sekalipun bila mendengar gelegar suara manusia merah itu pasti akan terkejut.
Karena tidak seorangpun ada yang menjawab pertanyaannya. Manusia merah Soma Sastra langsung mengamuk. Para undangan yang sekarang berada dalam posisi menjadi pengawal langsung bergerak mengeroyok manusia merah dari empat penjuru arah. Tentu saja serangan mereka cukup berarti dan berbahaya sekali karena orang-orang ini terdiri dari tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian tinggi dan tentu saja mempunyai pengalaman dalam bertarung pula.
Anak Jin ini bukan sembarangan. Selain mempunyai kekebalan tubuh yang sangat luar biasa. Juga setiap bacokan lawan hanya menimbulkan pyaran bunga api.
"Serang terus jangan beri kesempatan bagi si raksasa ini hidup!"
Teriakan-teriakan seperti itu terus terdengar di tengah-tengah suara denting senjata yang tidak ada habis-habisnya.
Tapi apa yang mereka lakukan hanya sia-sia saja karena tubuh Manusia Merah alotnya bukan main. Di lain pihak Manusia Merah ini selain menginjak-injak para pengeroyoknya juga menendang dan melempar. Mereka yang dibanting langsung mati tanpa mampu bangkit lagi. Ada yang lehernya patah, tulang iganya remuk dan ada juga yang isi perutnya hancur. Lebih celaka lagi, manusia merah Soma Sastra ini hanya memporak porandakan lawan-lawannya tapi juga mulai membakar bangunan besar milik Diraja Penghulu Iblis.
Hanya dalam waktu singkat tempat itu menjadi lautan api. Sebenarnya kemanakah perginya Diraja Penghulu Iblis dan kawan-kawannya? Marilah kita lihat di ruangan pertemuan.
Ketika terjadi keributan di luar. Rupanya Nyanyuk Pingitan dipersilahkan untuk melihatnya. Sedangkan tiga tokoh perencana lainnya tetap melanjutkan pembicaraan didalam ruangan pertemuan.
Sampai di depan pintu Nyanyuk Pingitan melihat mayat-mayat bergelimpangan. Sementara mereka yang masih bertahan hidup adalah para undangan yang kini telah menghambakan diri secara sukarela karena pengaruh Racun Pelemah Akal. Sungguh khasiat Ular Kayangan benar-benar terbukti dengan berlipatnya tenaga yang mereka miliki, sungguhpun mereka ini mendesak sosok tinggi besar berwarna merah dengan tinggi lima meter ini bagaikan banteng. Tetap saja mereka tidak berdaya untuk menjatuhkan Soma Sastra.
Setelah mengetahui siapa manusia merah itu. Maka Nyanyuk Pingitan perempuan kering seperti mayat hidup ini langsung melaporkan kejadian ini pada kawan-kawannya.
Disini Datuk Alang Sitepu punya peranan. Mereka mengambil keputusan kilat untuk menyelamatkan Prisma Permata dan bangunan milik Diraja Penghulu Iblis dari kehancuran.
"Hanya dengan selubung tipuan pandang, kurasa Soma Sastra untuk sementara dapat terkecoh. Kita harus menciptakan bangunan tiruan dan para pengawal tiruan pula. Sementara singgasanamu yang asli berada dalam lingkup tabir gelap yang kuciptakan."
"Apakah anak raja Jin itu tidak mengetahui tipuanmu?" Diraja Penghulu Iblis ragu-ragu.
"Dia tidak akan tahu. Paling tidak untuk sementara waktu. Kita berempat, mari kita gabungkan seluruh kekuatan kita untuk menciptakan sebuah kehendak!" kata Datuk Alang Sitepu merasa yakin.
Laki-laki tua berwajah rusak ini kemudian meletakkan Prisma Permata dibawah telapak tangannya. Secara teratur telapak tangan Diraja Penghulu Iblis, Nyanyuk Pingitan dan juga Buto Terenggi saling tindih menindih. Ketika mereka mengerahkan tenaga dalamnya sementara Raja Penyihir membaca mantra-mantra. Maka terjadilah perubahan yang begitu halus dan tidak terlihat oleh kasat mata. Gedung tiruan yang sama persis, tercipta. Sedangkan gedung yang aslinya terselubung kabut kegelapan.
Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng tidak merasakan perubahan ini. Dapat dibayangkan jika tokoh-tokoh berkepandaian tinggi seperti mereka sempat terkecoh. Tentu kekuatan sihir di bantu dengan kekuatan Prisma Permata itu sangat hebat sekali. Sebaliknya manusia merah pun begitu juga.
__ADS_1
Hanya Pendekar Blo'on saja yang sempat merasakan perubahan mendadak ini.