Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
39


__ADS_3

Hanya dalam waktu yang sedemikian cepat bayangan yang terus mengikuti di belakangnya telah berada jauh ke depan. Itu pun Jalak Seta dan Menak Tandira tidak tahu kehadiran kedua orang aneh ini.


"Sebaiknya kita berhenti dulu untuk beristirahat!" kata Jalak Seta.


"Apakah tempat itu masih jauh dari sini?" tanya Menak Tandira sambil menghentikan langkahnya.


"Cukup jauh juga, mungkin sekitar dua hari perjalanan." sahut Jalak Seta.


Mereka pun akhirnya beristirahat. Namun belum lama mereka duduk, tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa yang menyesakkan dada dan mengacaukan jalan darah.


Baik Jalak Seta maupun Menak Tandira sama tersentak kaget. Suara tawa tiba-tiba saja lenyap dan berganti dengan kesunyian yang mencekam. Kedua orang ini saling berpandang-pandangan.


"Rupanya ada orang lain yang pingin mam pus di sini, Jalak Seta! Namun betapa pengecutnya dia karena tidak mau tunjukkan diri!" menggeram Menak Tandira.


"Ha ha ha...!" Suara tawa tiba-tiba terdengar kembali dan seakan datang dari seluruh penjuru arah.


"Kami bukan pengecut, sesungguhnya ku nyuk jelek seperti kalian tidak pantas melihat kami. Karena kalian termasuk orang-orang licik apalagi jika sampai membunuh Tumenggung yang jadi atasan sendiri hanya karena membantu seorang ib lis!" kata suara tadi menimpali.


Memerah kuping Jalak Seta mendengarnya. Ia segera memandang ke arah datangnya suara yang bersumber dari atas pohon. Ternyata di sana tidak ada apa-apa.


"Keluarlah jika kalian memang jantan!" tantang Menak Tandira.


"Hak hak hak! Blo'on kau ditantang supaya keluar dari tempat persembunyian. Tunggu apa lagi, apakah kau ingin jadi pengecut tidak mau tunjukkan diri?"


"Ah, Tenggiling Kedil, bocah bangkotan namun masih seperti bayi! Sebaiknya jangan kau gurui aku. Lihatlah...!" kata pemuda baju biru pakai ikat kepala biru belang-belang kuning.


Pendekar Mandau Jantan ini kemudian melompat turun dari atas kerimbunan pohon. Lalu...


Jliik!


Ia menjejakkan kaki tanpa menimbulkan suara sedikit pun juga. Wiro Suryo si bocah super kerdil langsung melompat dari pinggang Pendekar Blo'on.


Tentu saja kehadiran kedua orang yang sama-sama aneh ini membuat mereka terheran-heran. Yang satu adalah seorang pemuda tampan bertampang ketolo lan, lagaknya cengar-cengir dan sambil garuk-garuk kepala. Sedangkan yang satunya lagi adalah seorang laki-laki berambut, kumis serta jenggot putih. Namun badannya pendek bukan main. Tingginya bahkan tidak sampai setengah meter. Dilihat sekilas keduanya memang seperti orang konyol.


"Hmm, orang-orang bertampang kacau seperti ini rupanya yang coba-coba menghalangi niat kami!" dengus Jalak Seta disertai sesungging senyum menge jek.


"Ha ha ha...! Dia meledekmu, Wiro Suryo. Apa tindakanmu terhadap orang yang telah membunuh penduduk dan mengkhianati Tumenggung nya sendiri? Coba apa?" tanya Pendekar Blo'on sambil menyeka keningnya.


"Pertama dia harus minum ken cingku. Sedangkan yang kedua dia harus jilat pan tatku pulang pergi!" kata si kakek kerdil kocak.


"Ken cingmu kalau tidak pahit pasti asin rasanya. Bagaimana kalau pan tatmu hitam dan bau? Ha ha ha...!"


"Memang betul. Tapi dia harus berterima kasih. Karena aku termasuk orang terhormat di Gunung Sembung!" sahut Tenggiling Kedil.


Baik Jalak Seta maupun Menak Tandira sangat marah sekali. Tanpa bicara apa-apa lagi salah seorang di antaranya langsung menerjang Pendekar Blo'on.


Melihat lawannya menyerang dengan bersemangat, maka Suro meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang lucu.


Ssst...!


"We... kecele....'" ejek si pemuda urakan sambil tersenyum-senyum.


Jalak Seta tidak menanggapi. Ia membalikkan tubuhnya lalu menghantam lagi dengan serangan bertubi-tubi. Kenyataan ini tentu membuat Suro terpaksa mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'.


Tubuhnya kemudian berubah jadi lentur. Tangan mencakar ke berbagai penjuru arah. Namun tidak jarang ia menggaruk kepala atau punggungnya atau terkadang melompat-lompat seperti seekor monyet. Apa yang dilakukan oleh pemuda ini memang terasa menggelikan dan membuat geli yang melihatnya. Malah Wiro Suryo sampai tepuk tangan segala memberi semangat.

__ADS_1


"Ayo, hantam! Pukul mo nyet itu, nyit-nyit... nyit...!"


Tentu saja setelah berulangkali mengalami kegagalan Jalak Seta akhirnya menjadi kalap juga. Tiba-tiba saja ia mencabut badik kecil yang dipergunakan untuk menghabisi jiwa Tumenggung Sastrojoyo.


"Awas Blo'on dia mau mencincangmu dengan senjata itu!" kata Tenggiling Kedil memperingatkan.


Jalak Seta kemudian dengan senjata terhunus menyerang empat jalan darah di tubuh Suro Blondo. Melihat serangan yang datangnya bagai gelombang air bah ini. Suro terpaksa kerahkan jurus Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor. Tubuh pemuda berambut hitam kemerahan ini akhirnya berkelebat lenyap hanya dalam waktu yang sedemikian singkat. Terdengar suara jeritan di sana-sini.


"Hiya...!"


Senjata di tangan Jalak Seta menderu membelah udara. Suro tiba-tiba berjongkok lalu melompat tinggi. Sehingga serangan lawannya pun tidak mengenai sasarannya. Melihat serangannya luput, maka Jalak Seta lepaskan tendangan bertubi-tubi. Suro terus menghindar sambil berjingkrak-jingkrak. Rupanya serangan ini tidak memenuhi sasaran sebagaimana yang diharapkan. Sehingga Jalak Seta melompat ke depan sambil hantamkan lututnya.


"Heaa...!"


Duuk!


"Nggekk...!"


Pendekar Blo'on jatuh terduduk. Dadanya sesak sekali seperti orang yang hampir putus nafasnya. Namun begitu pun ia masih dapat cengengesan.


"Hei, bocah ge blek! Baru segitu saja kau sudah kelenger. Tunjukkanlah kejantananmu! Mengapa segan-segan."


"Edan kowe. Kejantanan itu cuma untuk bini itu pun kalau sudah kawin nanti. Jadi jangan macam-macam!" sahut Pendekar Blo'on.


Secepatnya pemuda itu berdiri lagi. Lalu ketika ia melihat lawan melepaskan pukulannya. Tidak mau kalah pemuda ini pun lepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'. Segulung sinar hitam datang menggebu-gebu. Setelah itu terdengar suara dentuman keras ketika Suro mendorongkan kedua tangannya ke depan.


Bocah ajaib ini hanya terhuyung-huyung. Jalak Seta sendiri selain tubuh menjadi biru terkena pukulannya yang membalik, juga langsung merasa kesulitan untuk bergerak. Kali ini Pendekar Blo'on dengan mimik serius, walau pun pada kenyataannya tetap kacau. Kali ini ia melepaskan pukulan untuk mengakhiri perlawanan Jalak Seta. Pukulan yang dilepaskannya adalah Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar.


Segelombang sinar redup melabrak habis Jalak Seta. Laki-laki yang sudah terluka parah ini tidak lagi mampu menghindar. Ia menjerit kesakitan bersamaan melayangnya nyawa pembantu Iblis Betina Dari Neraka ini.


"Eiit... biarkan kawanku beristirahat dulu. Mari kita main-main sebentar. Jika kau tidak beruntung, tentu secepatnya kau berangkat ke akherat! He he he...!" Wiro Suryo terkekeh kekeh.


"Manusia konyol kepa rat! Aku akan mengirimmu ke neraka!" teriak Menak Tandira dengan marahnya.


"Boleh saja, tapi bagaimana jika Tuhan malah melemparku ke surga?" ejek Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil sambil menghindar ke samping.


"Hii...!"


Sebagai jawaban Tenggiling Kedil lepaskan tendangan kaki ke bagian kepala lawan. Namun Suryo sudah menggelinding dengan kaki dilipat ke kepala.


"Shaaa...!"


"Wiih... hebat tapi kurang mantap!" eje k si kakek super pendek lalu kakinya tiba-tiba saja menendang pantat Menak Tandira.


Buuk!


"Aukh...!"


Menak Tandira menjerit kesakitan.


Ia memegangi pantatnya yang pasti langsung berubah membiru. Jalannya pun terpincang-pincang seperti kerbau habis beranak.


"Kepa rat betul!" geram Menak Tandira.


"Betul-betul kepa rat!" Wiro Suryo menimpali.

__ADS_1


Secepatnya ia menghindar ketika tendangan lawan menderu menghantam tengkuk si kakek.


Wuus!


"Heh...!"


Menak Tandira tersentak kaget ketika melihat serangan yang sudah terarah pada sasaran ternyata meleset. Ia rupanya masih belum sadar bahwa si kakek ketika itu telah mengerahkan jurus Suket Sekilen yang mempunyai keunikan tersendiri.


Lagi-lagi dengan marahnya Menak Tandira melakukan serangan ganas. Sekali ini ia mengerahkan jurus Macan Luwe yang juga merupakan salah satu jurus yang menjadi andalannya.


"Graaa...!" Menak Tandika berteriak seperti suara harimau.


"Panas!" si kakek konyol menimpali.


Lawan yang sudah dilanda kemarahan ini sama sekali sudah tidak begitu menghiraukannya. Tubuhnya tiba-tiba menyambar ke depan, sedangkan kedua tangannya tertuju lurus ke bagian batok kepala Tenggiling Kedil. Hanya sekejapsaja kakek tua yang sama kocaknya dengan Pendekar Blo'on si bocah ajaib itu sudah bergerak ke samping. Praktis serangan lawan-lawannya tidak mengenai sasaran.


Menak Tandira bukan main kagetnya. Ia sama sekali tidak menyangka serangannya akan gagal mengenai sasaran. Padahal ia telah mengerahkan jurus yang menjadi andalannya. Kini dengan rasa penasaran yang mendalam, Menak Tandira melangkah maju. Kedua tangannya bergerak ke depan dan ke samping. Lalu ia menghantam ke dada Wiro Suryo.


"Nah bocah kerdil. Dia mau memutus tenggorokanmu. Jika lehermu putus kau bisa dibuatnya mam pus!" celetuk Suro Blondo sambil cengar-cengir.


"Kalau cuma hanya menonton lebih baik kau tutup mulut rapat-rapat. Jangan pula kau kentut seperti suara burung perkutut di dalam karung butut tidak bisa ribut-ribut!" Tenggiling Kedil menimpali.


"Hraaa...!"


Set!


"Hampir saja...!" dengus Wiro Suryo.


Lagi-lagi serangan lawan luput. Dan ternyata tokoh kawakan dari Gunung Sembung ini memang bukan lawan Menak Tandira. Terbukti ketika Tenggiling Kedil balas melakukan serangan. Ia langsung saja terdesak dan hanya dapat mengelak seperti **** yang kehilangan nyali.


Menak Tandira akhirnya memutuskan untuk melepaskan pukulan jarak jauhnya ke arah lawan. Sekejap saja ia telah mengalirkan tenaga dalamnya kebagian telapak tangannya.


"Hiya...!"


Menak Tandira menghentakkan kedua tangannya. Dari telapak tangan laki-laki itu meleset sinar kuning berhawa dingin bukan main. Si Bocah Kerdil langsung melepaskan ajian Pancar Cahaya. Salah satu pukulan pamungkas yang tidak ada tandingnya.


Sinar putih laksana perak menghantam sinar kuning yang membuncah di udara.


Akibatnya Menak Tandira bukan saja terhantam pukulan sendiri yang membalik. Tapi juga terhantam aji Pancar Cahaya milik Wiro Suryo.


Buum! Buum!


"Waaakh...!"


Menak Tandira menjerit keras, ketika tubuhnya terhempas ke atas batu, maka jiwanya pun tidak tertolong lagi.


Plok! Plok!


"Hebat. Ternyata tidak percuma walau pun tubuhmu pendek memalukan!" puji Pendekar Blo'on.


"Jangan menghina. Tugas masih banyak atau kau mau memanggang mayat mereka?"


"Hhh, amit-amit!"


Dan Pendekar Blo'on pun segera berlalu meninggalkan mayat kedua lawan mereka.

__ADS_1


"Hei... ge blek. Tunggu...! Aku mau minta gendong!" teriak Tenggiling Kedil sambil mengejar kawan barunya.


__ADS_2