
Di balik rimbunan pohon yang memayungi atap genteng bangunan besar tersebut. Sepasang mata yang terus mengawasi sejak tadi bukan tidak tahu apa yang terjadi.
Malah matanya sempat melotot ketika Ki Rambe Edan secara curang menotok Dewi Bulan dengan cara meremas payud aranya.
Tindakan kurang ajar ini membuat pemilik sepasang mata sempat garuk-garuk kepala. Dalam suasana seperti itu mustahil ia turun tangan, sungguh pun baginya keberadaan para pengawal tersebut tidak masuk dalam hitungan.
Hanya kelihatannya ia lebih bersikap hati-hati. Dan tidak mau gegabah sebagaimana gadis itu.
Kini ia sedang mencari cara untuk membebaskan Dewi Bulan. Memang patut diakui sebagaimana yang pernah dikatakan oleh gurunya, ciri-ciri Ki Rambe Edan dan kawan-kawannya. Tidak satu pun yang mirip dengan musuh-musuh besar yang telah membuatnya yatim piatu. Mereka bukan pembunuh orang tua si pemuda.
Tapi dulu, delapan belas tahun yang lalu, tindakan Ki Rambe Edan dan kawan-kawannya tidak kalah sadis dengan yang dilakukan oleh pembunuh kedua orang tuanya.
Mereka mengumpulkan ibu-ibu yang hamil tua di gunung Bromo ini juga. Kemudian mereka membunuhinya secara semena-mena. Termasuk kedua orang tua Dewi itu
sendiri.
"Belum sepantasnya Dewi Bulan turun gunung. Kurasa gurunya orang gendeng. Muridnya lebih sinting lagi. Wataknya keras, keberaniannya segunung. Cuma ia terlalu ceroboh."
Si pemuda seka keningnya yang berkeringat, padahal udara malam di gunung Bromo dinginnya bukan main-main. Lalu kejap kemudian ia garuk-garuk kepalanya.
"Aku harus dapat membebaskannya sebelum malapetaka besar menimpa diri gadis itu. Eeh... mengapa jantungku berdebar-debar. Aku seakan tidak rela jika sampai terjadi apa-apa dengannya. Padahal... tol ol sekali. Mengapa aku terlalu merisaukannya?"
Pemuda ini kemudian melompat ke atap genteng bangunan. Suasana malamhari yang gelap benar-benar telah menolongnya dari penglihatan para pengawal yang berjaga-jaga di menara pengawas.
Lalu dengan gerakan seringan kapas ia terus mengendap-endap sambil memasang telinganya.
Di tengah-tengah atap genteng ia berhenti. Ia mendengar suara orang bercakap-cakap sambil tertawa. Lalu...
"Gluk! Gluk! Gluk!"
"Yang kudengar pasti bukan suara kuda lagi minum atau orang lagi kencing berdiri. Pasti para iblis sedang menunggu giliran. Kurasa iblis yang satunya tidak jauh dari ruangan ini."
Si pemuda menggaruk lagi belakang kepalanya. Ia melangkah lagi, bergeser dari genteng yang satu ke genteng lainnya. Lalu terdiam sekitar jarak satu batang tombak dari tempat semula.
Dia berjongkok, lalu merapatkan sebelah telinganya ke genteng. Mula-mula Suro Blondo tidak mendengar apa-apa. Tapi setelah memusatkan segala perhatiannya ke satu arah yang dituju, yaitu bagian dalam kamar, maka mendengar suara desah nafas memburu seorang laki-laki.
"Kebo gelo gajah budek, sapi lanang kebo kam pret! Aku harus sampai ke dalam sebelum iblis rambut lurus bertindak lebih gila lagi!" desis pemuda itu sambil menggeser genteng satu demi satu.
Sementara itu di dalam ruangan kamar pribadinya, Ki Rambe Edan sudah melucuti pakaian yang melekat di tubuh Dewi Bulan.
Kini gadis itu benar-benar dalam keadaan tela njang. Dadanya yang putih membusung tegak menantang segera dipermainkan oleh laki-laki bertampang angker ini. Dire masnya kedua bukit yang tegak menantang ini, sementara air liur sang iblis tidak hentinya meleleh membasahi tenggorokannya.
Mata Ki Rambe Edan yang agak sipit membulat lebar. Kini tangannya bertindak lebih agresif lagi. Tangan itu meluncur melalui perut Dewi yang mulus. Lalu terus ke bawah dan mencopot penutup terakhir badan Dewi sehingga gadis itu benar-benar dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun.
Menyaksikan pemandangan ini nafsu iblisnya terbangkitkan. Darahnya memanas hingga ke ubun-ubun.
Dengan leluasa ia menggerayangi seluruh keindahan tubuh yang dimiliki Dewi.
Ki Rambe Edan kemudian mencopot pakaiannya sendiri, hingga membuatnya seperti bayi.
Dewi Bulan ketakutan setengah mati, wajahnya pucat, ia ingin berteriak tapi suaranya tidak keluar. Ia meronta, tapi tubuhnya yang dalam keadaan tertotok tidak dapat digerakkan sama sekali.
Sedemikian besar ancaman ini sehingga ia sendiri merasa lebih rela dipenggal kepalanya daripada menanggung aib yang memalukan.
Ki Rambe Edan mulai mencumbui si gadis. Ia menjatuhkan ciuman bertubi-tubi ke bagian mana saja yang disukainya.
Sementara itu Suro Blondo sudah membuka langit-langit kamar. Ia terkesiap melihat gadis yang selalu dipikirkannya dalam keadaan begitu rupa.
Dengan penuh kegeraman ia mencabut senjata andalannya yaitu sebuah mandau jantan berwarna hitam dengan empat lubang miring di tengah-tengahnya.
Setelah itu Pendekar Blo'on melayang turun dengan kecepatan dua kali kecepatan biasa.
Senjata di tangannya diayunkan sekeras-kerasnya ke arah leher Ki Rambe Edan. Mandau menderu menimbulkan suara seperti orang sedang menangis.
Mungkin suara inilah yang membuat KiRambe Edan terkejut, hingga ia cepat berpaling. Matanya terbelalak lebar begitu melihat senjata lawannya hanya seperempat jengkal saja dari batang tenggorokannya. Ia tidak sempat lagi berteriak memanggil kawannya, apalagi menghindar dari senjata berbentuk aneh itu.
"Jraak!"
"Cuur! Klokokk...!"
Darah menyembur dari penggalan kepala Ki Rambe Edan. Kepala yang terputus dari badan itu jatuh menggelundung di atas perut Dewi Bulan. Sekujur tubuh si gadis bermandi darah musuh bebuyutannya. Sementara kepala tanpa badan ini terhuyung-huyung, kemudian ambruk begitu saja setelah kehabisan darah.
Dewi terbelalak melihat kejadian mengerikan yang berlangsung sangat singkat ini.
Suro Blondo mendekati pembaringan Dewi, ia ingin membebaskan totokan si gadis, tapi ragu-ragu. Karena totokan pengunci berada di bagian bukit kembar Dewi Bulan.
Pemuda ini melihat Dewi melotot kepadanya, ia tidak punya pilihan lain, Maka tak lama setelah itu memejamkan matanya. Karena tidak melihat ketika meraba, rabaannya tidak tepat pada bagian yang tertotok, malah yang terpegang bagian bukit yang paling tinggi.
Suro menahan nafas, lalu...
"Bet! Bet!"
Satu sapuan agak keras dilakukannya. Gadis ini menjerit dan langsung bangkit berdiri. Setelah membersihkan darah Ki Rambe Edan yang membasahi tubuhnya, ia cepat mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya si pemuda berhasil membebaskannya.
Pada saat yang sama, Balung Raja dan Baja Geni bukan tidak mendengar suara gaduh di dalam kamar sahabat tertua mereka.
Tapi mereka menyangka Ki Rambe sedang bergumul dengan gadis bertahi lalat di dagu itu. Mereka baru tersentak kaget ketika melihat pintu terbuka.
Sementara seorang pemuda berambut hitam kemerahan telah berdiri di sana sambil menenteng kepala Ki Rambe Edan.
Sedangkan di belakang pemuda itu berdiri seorang gadis dengan muka bercelemongan darah.
__ADS_1
Belum hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba Suro Blondo melemparkan potongan kepala Ki Rambe Edan ke arah mereka. Potongan kepala dengan mata membelalak dan lidah terjulur ini jatuh persis di atas meja.
Balung Raja dan Baja Geni saling pandang, wajah mereka pucat kehilangan darah. Hanya sekejap mereka terkesima, di lain waktu mereka mencabut senjata mereka berupa kapak berujung tombak. Sedangkan Baja Geni mencabut rantai baja berujung pedang.
"Manusia rendah berhati ib lis! Siapakah kau bocah bertampang tol ol!" hardik Balung Raja.
Rahangnya menggelembung pertanda amarahnya benar-benar memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Manusia ib lis berhati setan!"
Suro membentak dengan tatapan mata tidak kalah dinginnya.
"Kau siapa pula? Ha ha ha...! Aku tahu kalian telah membunuh kedua orang tua gadis ini. Sekarang kalian bermaksud menodainya secara keji! Tahukah kalian hutang kalian cukup banyak pada gadis ini. Dan semua itu belum berikut bunganya!"
Kini Balung Raja dan Baja Geni beralih pada Dewi Bulan yang juga sedang dilanda kemarahan.
"Siapakah kau?" tanya Balung Raja.
"Aku! Orang tuaku kalian binasakan delapan belas tahun lalu di lereng gunung ini. Sedangkan kawanku ini adalah yang kelahirannya ditunggu-tunggu oleh tokoh-tokoh sesat semacam kalian."
"Jadi kau putrinya perempuan bunting yang telah kami bunuh dulu? Berarti kau muridnya Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng?" desis Baja Geni sambil tersenyum sinis.
"Dan kau, siapakah?" Balung Raja ikut bertanya.
"Hmm, kawanku sudah mengatakannya. Aku Suro Blondo!" dengus si pemuda dengan mimik serius.
"Jadi kaulah orangnya yang kini sudah tumbuh besar. Bayi ajaib yang digembar-gemborkan pertapa pantai selatan itu ternyata setelah dewasa tidak lebih hanya berupa seorang pemuda bertampang to lol tidak ada gunanya. Terlanjur kepalang basah, hari ini peristiwa delapan belas tahun yang lalu segera terbukti apakah benar kau mempunyai kehebatan. Selain itu karena dosa-dosamu telah membunuh sahabat kami. Maka kini rasakanlah pembalasanku!"
"Plok! Plok!"
Dari luar para pengawal menghambur ke dalam. Dewi Bulan langsung menghadangnya.
Untuk menghadapi pengawal-pengawal yang jumlahnya men capai puluhan ini, Dewi Bulan langsung mencabut senjatanya. Pedang itu diputar sedemikian rupa. Maka terdengarlah suara jeritan-jeritan kesakitan.
Satu demi satu pengawal itu roboh bermandikan darah.
Suro Blondo tidak membuang-buang waktu lagi. Ia kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu' dan jurus "Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor' secara silih berganti.
Balung Raja dan Baja Geni putar senjatanya yang berbentuk aneh ini. rantai baja berujung pedang diputarnya sedemikian rupa.
Sebaliknya Balung Raja dengan kapak berujung tombak mencecar Suro dari arah samping kanan.
Dengan lincah sekali si pemuda menghindari serangan senjata lawan yang sangat cepat dan berbahaya ini.
Angin menderu-deru. Rambut si pemuda berkibar-kibar terkena sambaran senjata lawannya.
Tapi dengan gerakan yang aneh dan kacau, Suro Blondo terus menghalau atau menghindari setiap serangan yang datang.
Sementara itu Dewi Bulan sudah sampai di halaman depan. Sepanjang lorong ruangan telah penuh dengan mayat-mayat yang bergelimpangan.
Pemuda ini demi melihat gelagat yang sangat baik segera lepaskan pukulan
'Kera Sakti Menolak Petir'.
Seleret sinar putih bergulung-gulung menerjang Baja Geni dan Balung Raja yang sedang menerjangnya. Sinar yang memanca-kan hawa panas ini menderu kencang lalu melabrak lawannya.
"Bumm! Buum!"
"Uhk... kep arat!" m aki Balung Raja begitu pukulan lawan menyambar ke arah mereka.
Tapi karena melindungi diri dengan senjata di tangan, akibat yang timbul karena pukulan itu tidak seberapa. Hanya bangunan itu saja yang runtuh pada bagian atapnya.
Sebaliknya Pendekar Blo'on telah melesat ke halaman.
"Ku nyuk to lol gila! Hendak lari ke mana kau?" bentak Balung Raja ketika melihat lawannya berkelebat pergi.
Tentu saja mereka tidak membiarkan lawannya meloloskan diri begitu saja. Mereka segera mengejar ke depan. Ternyata setelah sampai di halaman anak buah mereka sudah bergelimpangan, tewas di tangan Dewi Bulan.
Splak!
"Gubrak! Gubraak!"
Rupanya ketika Suro sampai di luar ia tidak langsung menuju halaman melainkan berdiri di samping pintu. Begitu melihat lawan-lawannya keluar sambil berlari ia sodorkan kakinya.
Hingga membuat Baja Geni dan Balung Raja jatuh terguling-guling. Mereka bangkit berdiri, sambil meludah mulut menggembor memuntahkan kemarahannya.
"Anak se tan! Aku tidak akan puas sebelum memakan daging dan menghirupdarahmu!" Teriak Balung Raja.
"Bapak ib lis. Mulutmu berkoar seperti kaleng rombeng. Ajal sudah di depan mata tapi belum tobat juga!"
"Wut!"
"Wuuk! Wuuk!"
"Wiit...
"Hampir saja putus si ntong!" kata Pendekar Blo'on memanasi.
Ia melompat. Ketika serangan lawannya semakin menggila, maka ia berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil bermain tali.
"Bang sat!" Baja Geni menggerutu.
__ADS_1
Kedua tangannya bertepuk satu sama lain. Kemudian kedua tangan itu digosok-gosokkannya.
Wajah Baja Geni menegang, mulutnya komat-kamit. Dari telapak tangannya mengepul kabut pipih berwarna hitam. Kabut itu kemudian menyebar ketika Baja Geni hentakkan tangannya ke depan.
Serangkum gelombang berhawa dingin dengan bau menyengat menderu dan menghantam Pendekar Blo'on. Pemuda ini leletkan lidah. Ia tidak menangkis atau memapakinya, melainkan mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.
Pada detik itu juga tubuhnya terangkat ke udara dengan kecepatan laksana kilat. Pukulan yang dilepaskan Baja Geni menyambar sejengkal di bawah kakinya, lalu menghantam tembok bangunan hingga hancur berkeping-keping
Pukulan mengandung racun keji yang dilepaskan oleh Baja Geni luput. Ia penasaran dan melepaskan pukulan susulan secara beruntun.
Gerakan menghindar yang dilakukan oleh si pemuda semakin menggila. Tubuhnya berkelebat lenyap hingga berubah menjadi bayang-bayang yang sangat banyak membingungkan.
Dalam pada itu Balung Raja yang menyerang dengan rantai Baja berujung pedang tampak
kewalahan. Suro yang dalam keadaan mengambang di udara ini melepaskan tendangan beruntun ke arah wajah lawannya.
"Dekk!"
"Buk...! Buuk! Buk!"
"Kraak!"
Terdengar tulang leher patah berderak. Balung Raja tidak sempat lagi melolong. Tubuhnya langsung terbanting dengan senjata masih di tangan ia menggelepar sesaat, lalu gerakannya semakin lemah dan hilang sama sekali bersamaan dengan melayangnya selembar nyawa Balung Raja.
"Kau benar-benar telah berubah menjadi balung seratus hari di depan," desis si pemuda.
Kini ia hanya tinggal menghadapi seorang kawannya lagi. Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring penuh permintaan.
"Bang sat yang satu itu bagianku, Suro!"
Berkata begitu sebuah bayangan berkelebat sedemikian cepatnya. Bayangan menuju ke arah Baja Geni yang sedang terpana menyaksikan kematian sahabatnya. Lalu ketika Baja Geni merasakan ada sambaran angin di belakang, begitu menoleh sebuah pedang pendek menghunjam punggungnya.
"Wuaakkh...!"
Baja Geni terhuyung. Ia mendekap ujung pedang yang tembus dari punggung hingga mencuat ke depan dada. Tidak sampai di situ saja, Dewi Bulan pun kembali mengayunkan pedangnya.
Pedang itu dihantamkannya ke tubuh lawannya secara berulang-ulang hingga membuat kondisi lawannya yang telah kehilangan nyawa dalam waktu singkat ini tidak ubahnya seperti dicincang.
Melihat kekejaman ini Suro Blondo langsung mendatangi. Sebuah tangan yang kokoh menahan gerakan Dewi hingga membuat gadis itu menoleh.
"Kau... mengapa kau lakukan...?"
"Bulan... eeh, Dewi...! Baja Geni telah meninggalkan dunia fana ini. Apakah kau hendak memasak dagingnya?"
"Selain membunuh orang tuaku, mereka juga hampir membuat aib yang sangat besar atas diriku."
Suro golang-golengkan kepala.
"Memang betul...!"
Dewi memotong:
"Tahukah kau betapa sakitnya hatiku?"
"Betul. Paling tidak aku turut merasakannya. Tapi tidak baik menganiaya mayat. Dia sudah menjadi bagian dari tanah...."
"Huh... jangan menggurui aku. Pemuda sepertimu mana layak memberi nasehat. Ah... gila...." Dewi membanting-banting kakinya.
"Kini hanya tinggal kau yang belum mati."
"Mengapa kau menudingku begitu?"
"Karena... karena... karena kau telah melihat tub...!" Dewi Bulan katupkan bibirnya.
Wajahnya berubah memerah. Ia teringat bagaimana pemuda tampan bertampang to lol ini meraba-raba dadanya untuk membebaskan pengaruh totokan Ki Rambe Edan.
Sebaliknya Pendekar Blo on hanya garuk-garuk kepala sambil tersenyum tertahan.
"Dibandingkan Ki Rambe Edan, dosaku tidak kelewat besar, Dewi. Dia sudah lihat semua. Sedangkan aku tidak. Lagipula aku telah membantumu dan membebaskanmu dari aib maha besar. Kalau kau bunuh aku hari ini sama artinya aku tidak sempat mencari para pembunuh orang tuaku. Bagaimana kalau arwah mereka gentayangan dan mengejar-ngejar gadis secantikmu?"
"Pemuda ceriwis. Aku tahu telah barhutang nyawa padamu, kelak aku akan membayarnya."
"Tidak usah dibayar, cukup kau mengingatnya saja. Kurasa urusanmu disini telah selesai. Sedangkan persoalan yang harus kuselesaikan sangat banyak sekali. Aku harus pergi sekarang...!"
Suro Blondo putar tubuhnya, ketika baru beberapa tombak ia melangkah Dewi Bulan yang mulai menyukai pemuda konyol ini memanggilnya.
"Hei... tunggu...!" cegah Dewi Bulan.
"Ada apa lagi?" tanya si pemuda.
"Kau hendak ke mana?"
Suro garuk-garuk kepalanya.
"Aku mau cari musuh yang telah membunuh orang tuaku. Mungkin ke Pasuruan, Bukit Arjuna, Gunung Sumbing, Gunung Grumpung bisa jadi ke bukit kembar! Ha ha ha...!" kata Suro Blondo tanpa menoleh-noleh lagi sambil berlalu.
"Dasar edan!" gerutu Dewi Bulan seraya pandangi kepergian si pemuda yang telah menarik perhatiannya itu.
Dan ketika pemuda itu lenyap dari pandangan matanya, ia merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
"Tuhan...ya Tuhan... mungkinkah aku dapat bertemu dengan dia di suatu saat nanti?" kata si gadis resah.
__ADS_1