Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
2


__ADS_3

"Jangan berpikir macam-macam. Berdoalah selalu pada Tuhan agar kita selamat dari segala macam marabahaya!"


"Kakang! Aduh perutku, Kakang... sakit sekali...!" rintih Dewi Rini pelan suaranya.


"Tenanglah tenang. Aku telah mempersiapkan segala sesuatunya." Satria Purba mengingatkan. Suami istri yang sangat dikenal dengan 'Sepasang Pendekar Golok Terbang' ini memang sudah mendengar tentang ramalan Ki Begawan Sudra satu purnama sebelum kelahiran anaknya. Tapi mereka tidak yakin ramalan pertapa di pantai laut Selatan itu. Kalau pun kelak memang


terbukti, jelas mereka berharap bukan anak mereka yang terlahir sebagai anak ajaib.


"Konsentrasikan pikiranmu pada kelahiran anak kita!" kata Satria Purba sambil mengelus-elus perut istrinya yang membuncit.


Menjelang pukul duabelas malam tepat satu Asyuro. Di lereng Gunung Bromo di sebelah timur terdengar suara tangisan bayi. Bayi yang baru lahir ke dunia berasal dari rahim seorang perempuan yang dikumpulkan oleh partai persilatan Dunia Akhirat. Tanpa


melihat keadaan bayi tersebut. Ki Rambe Edan segera menyambarnya. Mereka memang sudah berencana untuk melarikan


bayi yang baru lahir itu ke markas besar mereka yang terletak di gunung Sumbing.


"Kita dapat rejeki besar! Bayi ajaib telah berada di tangan kita. Mari kita tinggalkan tempat celaka ini!" Ki Rambe Edan berteriak memberi aba-aba pada kawannya.


Tapi pada saat itu dari arah lain terlihat


berserabutan orang-orang persilatan yang memang sudah menunggu kelahiran bayi ajaib itu.


"Serahkan anak itu padaku!" bentak sebuah suara. Ketika Ki RambeEdan menoleh ke arah tersebut.


Terlihat oleh mereka seorang laki-laki tua bertampang angker. Laki-laki itu menyeringai dan langsung menyerang Ki Rambe Edan yang sedang menggendong bayi.


Untuk menjaga keselamatan bayi. Tentu saja tiga orang tokoh yang tergabung dalam partai persilatan Dunia Akhirat segera menghadang laki-laki bersenjata pedang dan berbaju


merah ini dengan serangan-serangan yang sangat ganas dan mematikan. Tapi pada saat itu muncul lagi seorang perempuan tua berambut panjang.


"Aku juga menginginkan bayi itu, Setan Merah!" teriak perempuan renta berambut panjang sambil mengibaskan rambutnya yang menjadi senjata andalan itu ke berbagai penjuru arah.


"Tidak kusangka, Rambut Besi ambil bagian juga dalam perburuan ini. Ha ha ha...!" Setan Merah tertawa mengekeh.

__ADS_1


"Mari kita robohkan orang-orang partai Dunia Akhirat. Jika mereka sudah pada ****** semuanya. Kita hanya tinggal menentukan siapa di antara kita yang paling berhak


mendapatkan anak ajaib itu!"


"Setan sepertimu tidak mungkin becus memelihara bayi. Akulah yang paling pantas mendapatkan anak itu!" Nenek Rambut Besi tertawa bekakakan seperti kuntilanak.


"Tua peot banyak mulut! Robohkan dulu lawan, baru kau bicara...!" teriak Setan Merah. Ketika itu ia sudah menyerang Ki Rambe Edan yang dibantu dengan Balung Raja.


Sedangkanrambut Baja berhadapan langsung denganBraja Musti dan Baja Geni.


"Bukan kalian saja yang berhak atas bayi ajaib itu. Tapi, aku Gajah Munding, juga ingin punya seorang murid yang dapat diunggulkan kelak di kemudian hari." Dari satu arah tiba-tiba saja menderu angin kencang yang disertai suara gdebak-gdebuk.


Entah pihak mana yang memulai. Tahu-tahu pertempuran yang sangat seru tiba-tiba saja terhenti. Mereka serentak memandang ke arah datangnya suara aneh yang disertai dengan hembusan angin kencang itu. Dalam kegelapan lereng gunung, tampak menggelinding sebuah benda besar dengan kaki dan tangan terlipat.


Dilihat sepintas lalu benda raksasa yang menerjang ke arah mereka itu seperti trenggiling. Ketika benda bulat itu sampai di tengah-tengah kalangan pertempuran. Maka menderulah angin laksana topan prahara ke arah empat penjuru angin.


Angin kencang disertai hawa dingin membekukan itu menerjang orang-orang yang sempat terlibat pertempuran sebentar tadi.


Untung mereka adalah tokoh-tokoh persilatan yang sudah sangat berpengalaman. Sehingga masing-masing menyelamatkan diri. Bahkan tidak jarang di antara mereka ada yang


Buum! Buum!


Ledakan-ledakan dahsyat terdengar dua kali berturut-turut.


Lereng Gunung Bromo seperti diguncang lindu. Batu-batu kecil berpelantingan


ke udara. Dalam suasana gelap yang hanya diterangi cahaya bulan purnama.


Tiba-tiba terdengar suara tawa menggeledek. Di tengah-tengah kalangan pertempuran tampak berdiri seorang laki-laki bercawat putih, berambut panjang menjela. Laki-laki bertampang kocak ini memiliki tubuh bukan main besarnya.


Perutnya berlipat-lipat, lehernya yang panjang tampak membulat karena kelewat besar. Laki-laki ini diperkirakan memiliki berat tiga ratus


kati. Semua orang yang hadir di situ sebentar dapat melihat ketika tokoh raksasa tertawa, perut serta dadanya yang besar tampak bergoyang-goyang.

__ADS_1


"Sialan! Dia benar-benar Gajah Munding! Kawannya si Gajah Krempeng sebentar lagi pasti datang kemari. *******! Urusan benar-benar jadi susah kalau kedua manusia gajah ini turut campur!" maki Ki Rambe Edan


dalam hati.


Rupanya tokoh angkatan tua ini sedikit banyaknya sudah tahu kehebatan manusia kembar dari lereng Merbabu tersebut.


Dugaan Ki Rambe Edan ternyata tidak meleset. Tidak lama setelah tawa Gajah Munding sirep. Di tempat itu dari arah utara terdengar suara tawa lain mirip suara perempuan. Kemudian tampak pula sesosok tubuh berkelebat mendekat.


Hanya dalam waktu sekedipan mata. Tahu-tahu di samping Gajah Munding telah berdiri seorang laki-laki berbadan kurus kering tidak


ketulungan.


Sama seperti Gajah Munding, ternyata laki-laki ini pun hanya memakai cawat putih tanpa baju.


"Ah... saudara kembarku. Di sini sedang ada pesta gila rupanya? Kenapa kau tidak bilang-bilang padaku?" desis Gajah Krempeng.


Matanya yang cekung berputar-putar liar menjilati orang-orang di sekelilingnya. "Ah... aduh... mengapa orang bunting jelek pada


dikumpulkan di sini...?"


"Tenanglah, kurus-kurus begitu kau pasti dapat bagian! Sekarang kita ambil bayi ajaib itu dari tangan mereka. Aku yang menggebuk orang-orang jelek ini, Sedangkan kau yang ambil bayi!"


Nenek Rambut Besi, empat tokoh yang tergabung dalam partai persilatan Dunia Akhirat dan Setan Merah tampak saling pandang. Rupanya si Rambut Besi dan Setan Merah menarik diri dari kalangan pertempuran yang siap berkobar.


Mereka memilih menunggu kesempatan sampai salah seorang dari tokoh-tokoh itu mengalami kekalahan. Baru mereka menyerang pihak-pihak yang menang untuk merampas bayi.


"Manusia-manusia keparat! Kami partai Dunia Akhirat tidak akan membiarkan kalian memiliki bayi ini!" teriak Balung Raja.


Kemudian terdengar suitan panjang. Maka dua orang kawannya langsung mengeroyok Gajah kembar ini dari berbagai penjuru arah.


Sementara itu Ki Rambe Edan bertindak sebagai penyelamat bayi dan bersiap


siaga membantu kawan-kawannya jika mereka dalam keadaan terdesak.

__ADS_1


Hanya dalam waktu yang sangat singkat


pertempuran seru pun segera terjadi.


__ADS_2