
Bukan di daerah Bumi Ayu saja kematian akibat mempergunakan air sungai terjadi. Bahkan para penduduk yang mempergunakan air sumur, juga tidak terlepas dari bahaya racun yang mematikan. Rupanya hanya dalam waktu singkat racun yang ditebarkan oleh Sugriwa ke dalam sungai Cimacan telah meresap ke seluruh mata air tanah. Dalam waktu yang singkat banyak penduduk di wilayah Jawa bagian barat tewas secara sia-sia. Waktu itu sangat dikenal dengan istilah 'Kegebluk'.
Tinggallah Suro Blondo dengan dibantu oleh beberapa pemuda, masyarakat bekerja mati-matian untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak berdosa. Tapi tidak jarang ia juga mendapat perlakuan kasar bahkan dicaci maki oleh penduduk pada setiap desa yang dilaluinya karena mereka menyangka bahwa Suro Blondo-lah yang menjadi penyebab timbulnya wabah yang sangat mematikan itu.
"Rasanya memang sulit menghadapi orang-orang bodoh! Aku yang kasih kabar agar mereka tidak minum air sungai. Aku pula yang mereka tuduh telah meracuni sungai. Tapi...!" Suro Blondo menggaruk-garuk rambutnya.
"Bagaimana mungkin racun itu dapat merembas sampai ke sumur? Padahal jarak sumur-sumur mereka dengan sungai sangat jauh sekali."
Pemuda berambut hitam kemerahan ini tiba-tiba menghentikan langkahnya. Angin kencang berhembus, mengibarkan anak-anak rambutnya yang terikat pita biru belang-belang kuning. Pemuda ini tiba-tiba menutup hidungnya. Udara busuk menyengat hingga membuat perutnya terasa mual.
"Angin ini berasal dari desa di depan sana. Kalau tidak salah itu adalah desa Cirebon! Apakah mungkin orang-orang di sana juga sudah pada mati? Ah... kasihan. Kalau orang tuanya yang mati, berarti anak kehilangan bapak dan ibunya. Sedangkan kalau gadis yang mati, kasihan sekali karena mereka belum sempat kawin. Bagaimana ini? Apakah aku harus mengurus mayat-mayat atau mencari biang keroknya penebar racun?"
Pendekar Blo'on tiba-tiba saja hentikan ucapannya. Ia melihat ada cahaya putih berkilauan tampak melesat dari satu arah. Bila Suro menoleh ke arah asal cahaya tadi. Maka jelas cahaya tersebut berasal dari gunung.
"Gunung apa itu? Mengapa gunung bisa mengeluarkan cahaya? Siang-siang bolong begini, mana mungkin ada hantu berani tunjukkan muka tunjukkan hidung."
Bumm! Buum!
Terdengar suara ledakan keras. Pendekar Blo'on sempat merasakan tanah yang dipijaknya bergetar hebat. Dan ia sadar betul ledakan itu berasal dari tempat jatuhnya sinar putih laksana bola tadi.
"Apa ini! Apa mungkin ada bintang yang jatuh dari langit? Sebaiknya aku lihat. Siapa tahu ada petunjuk yang dapat kujadikan alat untuk membongkar masalah yang sedang kuhadapi."
Karena jaraknya masih cukup jauh juga. Maka mau tidak mau Suro terpaksa mengerahkan ilmu lari cepat Kilat Bayangan untuk segera sampai ke tempat terjadinya ledakan tadi. Hanya dalam waktu yang singkat Suro telah sampai di depan tempat terjadinya ledakan tadi. Dengan jelas ia dapat melihat sebuah lubang yang menganga. Lubang itu masih mengepulkan asap menyerupai kabut berwarna putih kemerah-merahan. Anehnya selain sebuah lubang yang cukup besar, ia tidak melihat apa-apa lagi.
"Ternyata bukan petunjuk. Hanya sebuah lubang yang **** hutan pun dapat membuatnya." Suro Blondo menggerutu. Lalu seka keringat yang mengucur di dahinya. Tanpa minat pemuda ini bermaksud meninggalkan tempat. Namun langkahnya tertahan ketika melihat sesuatu berwarna putih seperti salju. Sesuatu yang dilihatnya pertama tampak bulat seperti trenggiling. Tapi lama kelamaan mengembang sehingga terlihat bentuk kaki dan tangan yang sangat pendek mirip bayi yang baru berumur satu tahun.
"Eeh... anak apa itu? Mana mungkin ada orang membuang anaknya di tengah-tengah tanah tandus seperti ini? Walaupun menjelang akhir jaman nanti memang banyak perempuan yang membuang anaknya karena tidak punya bapak."
Suro Blondo merasa penasaran, kemudian ia menghampiri sosok yang dilihatnya sangat aneh itu. Pemuda berambut hitam kemerahan ini tentu saja tercengang begitu melihat sosok serba putih seperti mayat itu ternyata bukan bayi dan juga bukan trenggiling
"Gila betul! Mau dikata orang, tapi badannya kecil macam orok satu tahun. Mau kubilang bayi, tapi sudah punya jenggot, kumis dan rambutnya putih. Aneh... mengapa wajahnya memancarkan cahaya. Bocah kecil tapi seperti bocah bangkotan? Pantasnya malah orang yang sudah berumur delapan puluh tahun."
__ADS_1
Suro Blondo menggaruk rambutnya berulang-ulang.
"Sial betul, tampangku saja sudah konyol. Tapi tampang kakek setengah meter tidak sampai ini lebih konyol lagi. Ya ampun... di atas to lol masih ada to lol. Ini benar-benar tiruanku yang konyol. Sontoloyo...!"
Pendekar Blo'on hanya berdiri mematung sambil memandangi wajah ***** yang menggeletak dengan mata terpejam dua tombak di depannya. Pendekar muda berwajah tampan to lol ini menggelengkan kepalanya. Tidak disangka-sangka bocah berjenggot dan berkumis putih ini membuka matanya. Begitu mata terbuka ia malah tertawa sekeras-kerasnya hingga membuat sakit telinga si pemuda.
Suro Blondo menutup telinganya, rupanya ia lupa. Padahal jika ia mengerahkan tenaga dalamnya saja. Tentu pengaruh suara tawa itu dapat ditangkalnya.
"Bocah to lol, Pendekar Blo'on. Ilmumu segudang, baru menghadapi aku saja kau seperti melihat hantu jelek telanjang!" kata bocah seperti bayi, namun berkumis dan berjenggot putih ini, lalu hentikan tawanya.
Suro Blondo kaget bukan main. Ternyata suara bayi itu seperti suara orang tua. Selain itu ia juga heran bagaimana mungkin orang ini dapat mengetahui namanya?
"Kau mengenalku, tapi alangkah kurang ajarnya kau karena memanggilku dengan nama saja. Padahal umurmu paling baru satu tahun...!"
"Hu hu hu! Go blok juga kau. Umurku dengan umur kakekmu mungkin sama. Aku sudah delapan puluh tahun, sedangkan kau baru dua puluhan...!"
Suro Blondo terlolong-lolong mendengar pengakuan orang yang mempunyai tinggi badan tidak sampai setengah meter tersebut. Pemuda itu akhirnya pun ikut tertawa. Ia geli melihat kenyataan yang sungguh-sungguh berada diluar dugaannya.
"To lol... justru aku sudah terlalu lama berada di dunia. Karena di dunia ini masih ada orang yang memiliki tampang sepertiku, maka aku keluar dari puncak Gunung Sembung untuk membantu kesulitannya."
"Gila bayi ini... eh kakek ini... lho bagaimana aku harus menyebut orang aneh macam tenggiling ini?" batin Suro Blondo. Masih dalam keadaan telentang dan memakai cawat saja bocah berjenggot itu berkata.
"Namaku Wiro Suryo dari Gunung Sembung! Tenggiling Kedil sebutanku, aku punya ajian Suket Sekilen dan ajian Pancar Cahaya. Hanya bocah gendeng, kalau kau mau. Aku ikut kau, tapi kuharap kau memanggilku kakek. Karena umurku jauh lebih tua dari umurmu. He he he...!"
"Nggak bisa. Badanmu kecil seperti bayi setahun. Ha ha ha... mana mungkin kau lebih tua dariku. Ha ha ha... jangan mengaku-ngaku. Lagi pula siapa tahu kau, bapak moyangnya para tuyul!"
Wiro Suryo yang menurut pengakuannya telah berumur delapan puluh tahun itu bangkit berdiri. Ketika ia berdiri tegak. Maka tingginya hanya sebatas lutut Suro Blondo, sehingga membuat tawanya semakin keras.
"Kampret kau... jangan menghi naku. Di Gunung Sembung semua jin baik takluk padaku. Lagipula mana kau bisa hentikan racun darah yang telah dibuang ke sungai oleh Sugriwa! Cuma aku yang bisa menutup semua mata air. Karena aku Tenggiling Kedil yang sakti. Hu hu hu...!"
"Aku tidak perduli siapa kau. Bagiku kau tidak bedanya dengan bayi, makanya aku tidak mau memanggilmu kakek...!"
__ADS_1
"Go blok! Jangan banyak mulut, nanti kau tahu siapa aku...!"
"Apa perduliku. Mau setan, mau jin mau bocah bangkotan, kakek-kakek atau anak tuyul. Ha ha ha... bagiku kau tetap bayi berjenggot yang terlalu lama berada dalam kandungan!"
"Ha ha ha...!" Wiro Suryo tergelak-gelak. Kedua kakinya dilipat ke kepala sehingga posisinya melingkar dan berubah bulat seperti tenggiling putih.
"Apakah kau bisa seperti aku ini?"
Suro Blondo tercekat.
"Hmm, benar-benar aneh manusia yang satu ini. Apakah dia manusia sepertiku atau malah jin penunggu Gunung Sembung sana?" batin Pendekar Blo'on.
"Ha ha ha...! Benar-benar gila bukan? Aku hidup sampai tua tetap seperti bayi hanya menunggu bertemu dengan seorang sahabat sepertimu."
"Siapa sudi bersahabat dengan kau?"
"Ah... sudah kubilang kau harus memanggilku kakek! Kalau tidak kau bakal kubuat kelenger...!"
"Aku tidak mau!"
"Rasain kalau kau tetap ngotot!" tiba-tiba Tenggiling Kedil melentik ke arah Suro Blondo. Begitu cepatnya, sehingga pemuda itu tidak sempat mengelak. Dilain kejab Wiro Suryo telah merengkuh pinggang si pemuda tidak jauh bedanya dengan tali pengikat pinggang. Lebih mengejutkan lagi, Wiro Suryo berubah bentuk memipih seperti angkin.
"Hiii... geli. Ha ha ha... geli...!" Suro Blondo melonjak-lonjak kegelian. Ia bahkan berusaha menarik lepas Wiro Suryo yang bergelantungan di pinggangnya. Tapi kakek seperti bayi itu benar-benar mirip tenggiling. Sehingga Suro Blondo tidak mampu melepaskannya.
"Geli... wuakh... ******. Jangan kau gelitiki perutku... wuah... geli...."
Suro Blondo menggeliat-geliat sambil berjingkrak-jingkrak dan berlari kian kemari.
"Go blok. Urusanmu masih banyak, aku bisa menjadi penunjukmu!" kata Wiro Suryo terus menggelantung di pinggang Pendekar Blo'on.
"Edan...!" Suro Blondo menggerutu.
__ADS_1