
Gunung Merbabu selayang pandang hanya berupa dataran tinggi menjulang ke langit. Di senja hari bagian lerengnya nampak sunyi. Sebelum mencapai lereng gunung, di bagian lembahnya terdapat sebuah telaga, dan dari pinggiran telaga itulah jalan satu-satunya untuk mencapai lereng ataupun puncak Merbabu.
Hampir bisa dipastikan orang tidak berani datang ke tempat ini. Selain tempatnya sangat rawan. Daerah ini merupakan tempat kediaman manusia aneh Gajah Munding alias Gajah Gemuk dan Gajah Kerempeng.
Pada masa itu tokoh-tokoh persilatan baik dari utara, selatan, timur dan barat begitu menaruh hormat dan takut kepada dua tokoh bersaudara ini karena ketinggian ilmu silatnya. Terhitung tokoh angkatan tua namun memiliki perawakan awet muda itu hanya sekali turun gunung. Yaitu ketika terjadinya geger di Gunung Bromo pada saat menjelang kelahiran seorang bayi ajaib alias Suro Blondo. Tapi itupun terjadi sekitar delapan belas tahun yang lalu. Setelah kegagalannya mendapatkan bayi ajaib tersebut, masih ditempat yang sama mereka membawa seorang bayi perempuan yang akhirnya mereka angkat menjadi murid dan mereka beri nama Dewi Bulan. Kini gadis itu sudah dewasa dan telah turun gunung pula setelah mereka gembleng dengan berbagai ilmu olah kanuragan.
Jika dulu Gunung Merbabu selalu diwarnai dengan suara-suara teriakan seorang gadis yang sedang melatih ilmu silatnya. Maka kini Gunung Merbabu berubah sunyi seperti kuburan.
Melihat ke lembah, tepatnya di pinggir telaga. Tampak seorang laki-laki tua duduk mencakung. Laki-laki ini memakai baju dari anyaman daun lontar. Begitu juga dengan topi capingnya. Dandanannya kedodoran, kedua mata kecil seperti mata ikan lele. Jika ia menarik kailnya ke permukaan air. Maka tercium bau busuk yang menusuk. Karena umpan kail itu tidak lain merupakan potongan-potongan tangan manusia yang sengaja dibusukkan.
Satu dua makhluk panjang melata dari dalam air menggelepar dan mengeluarkan suara mendesis-desis. Jelas yang memakan mata kailnya bukanlah ikan ataupun belut, melainkan ular-ular berbisa yang sangat mematikan. Ular-ular yang tertangkap mata kailnya itu, langsung ia masukkan ke dalam kepis. Sebuah tempat yang terbuat dari anyaman kulit rotan berpenutup.
Sementara gerakan mata kailnya semakin bertambah cepat. Setiap mata kail disentakkan, maka yang terlihat hanyalah ular-ular berbisa yang menggelepar kesakitan. Hampir dua jam ia berbuat seperti itu sampai kemudian ia menarik nafas lega.
"Kepis ini sudah penuh. Aku Datuk Mambang Pitoka hanya dapat memberikan hadiah seperti ini pada Penghulu Iblis alias Datuk Raka Tendra. Duh seandainya aku masih muda, tentu aku ikut tanding Pibu. Dengan begitu jika aku keluar sebagai pemenangnya. Maka aku berhak mendapatkan Maya Swari sebagai isteriku yang sah." kata Buto Terenggi alias Datuk Mambang Pitoka ini sambil mengelus-elus jenggotnya yang hanya beberapa helai itu.
"Maya Swari adalah lambang keagungan dari seluruh putri iblis yang cantik. Sayang kini usiaku sudah tidak muda lagi. Datuk Raka Tendra dengan kebiasaannya yang aneh tentu telah menyebar undangan. Jika ia mengundang seluruh kalangan persilatan baik yang hitam dan yang putih. Tentu ia mempunyai tujuan yang lain sesekali. Putrinya Maya Swari juga mempunyai keinginan yang aneh. Ia hanya mau bersuamikan pemuda yang dapat mengalahkannya. Padahal adalah sangat berbahaya jika ia sampai mendapat suami dari golongan lurus. Ha ha ha...! Mungkin perlu aku memberi tahu sobatku itu."
Datuk Mambang Pitoka penguasa rimba kegelapan ini tiba-tiba saja menepuk keningnya.
"Mengapa harus kuurus? Tokh sebagai sesama iblis kami punya urusan sendiri-sendiri."
Kakek tua bertampang angker ini bangkit berdiri. Tidak lama ia membalikkan badan dan baru saja hendak melangkah ketika ia mendengar suara mendesir. Matanya yang kecil kemudian mengerjap. Tapi ia tidak melihat siapa-siapa di sekitarnya selain dirinya sendiri.
"Aku ini iblis. Kalau ada setan yang berusaha menggodaku. Berarti ge blek yang tidak memandang muka pada golongannya sendiri." Datuk Mambang Pitoka menggumam seorang sendiri.
"Kau berani memasuki daerah orang lain dan berani mencuri ular berkhasiat milik kami. Kembalikan ular Kayangan milik kami!"
Buto Terenggi terkesiap begitu mendengar suara seseorang yang disampaikan melalui ilmu menyusupkan suara tersebut. Cepat sekali ia berpaling ke arah datangnya suara.Pada saat itulah ia melihat dua orang laki-laki hanya mengenakan koteka. Yang satu berbadan gemuk luar biasa sehingga mirip gajah bunting sedangkan yang satunya berbadan kurus kering macam jerangkong hidup.
__ADS_1
Anehnya walaupun laki-laki gemuk itu mempunyai badan besar sekali. Tapi gerakannya cepat sedangkan langkahnya ringan. Berbeda dengan yang berbadan kurus. Langkah kakinya terasa begitu berat namun mantap. Mereka memakai senjata berbentuk gaitan. Disambung dengan sebuah rantai memanjang tapi hanya diselempangkan di bahu. Buto Terenggi begitu melihat kehadiran dua tokoh ini agak terkesiap. Namun kemudian tawanya terdengar.
"Majikan Gunung Merbabu. Ah... sudah lama sekali kita tidak bertemu. Terimalah hormat sesama sahabat!" Buto Terenggi merangkap kedua tangannya ke depan dada kemudian membungkukkan kepala sebanyak tiga kali.
Dua pendatang yang tidak lain adalah Gajah Gemuk alias Gajah Munding dan Gajah Kerempeng ini saling pandang sesamanya. Melihat dandanan laki-laki asing di depan mereka rupanya Gajah kurus langsung mengenali.
Buto Terenggi adalah tokoh aliran sesat yang sangat jarang sekali muncul di rimba persilatan. Sekali saja laki-laki yang sangat ahli dalam mempermainkan senjata toya ini muncul. Pastilah ada sebuah peristiwa yang sangat besar bakal terjadi.
"Kami lihat sejak tadi kisanak mencangkung di pinggir telaga tempat kami memelihara ular Kayangan. Apakah yang anda perbuat?"
"Bukan ingin tapi aku telah mengambil ular-ular Kayangan ini untuk seorang sahabat hendak mencarikan jodoh buat anaknya. Apakah saudara Gajah sudah mendapatkan undangannya?"
Gajah gemuk dan Gajah Kerempeng berpandangan sejenak, kemudian sama menggelengkan kepala.
"Belum!"
"Kalau begitu anggaplah kedatanganku ini mewakili keluarga besar Diraja Penghulu Iblis Raka Tendra. Satu purnama mendatang datanglah kalian ke gunung Pangrangko. Siapa tahu anda merupakan orang yang beruntung mendapatkan putri agung Maya Swari untuk menjadi pendamping di sini. Selamat tinggal...!"
"Bukan main, sungguh aku tidak percaya kehebatan sesepuh gunung Merbabu jika tidak melihatnya sendiri hari ini!"
"Mau percaya atau tidak bukan urusan. Kisanak telah melakukan pencurian barang yang sangat langka dan berharga. Kau hanya boleh meninggalkan lereng Merbabu ini setelah mengembalikan ular-ular Khayangan milik kami!"
"Wah... masalahnya akan jadi runyam jika aku melayani gajah bunting dan gajah kurang makan ini. Walaupun aku tidak merasa ragu bahwa aku belum tentu kalah menghadapi mereka. Apa yang harus aku lakukan?" batin Buto Terenggi.
"Masalah kecil janganlah diperbesar. Aku mau membayar seratus ular Kayangan dengan seratus uang emas. Bagaimana? Apakah kalian setuju?"
"Kami tidak setuju. Ular Kayangan itu bertelur selama seratus tahun sekali. Siapapun yang memakannya, akan menambah kekuatan tenaga dalamnya menjadi sepuluh kali lipat. Dan kami tidak pernah memperjual belikannya."
"Kalau tidak dijual dan dibeli. Jika begitu aku memintanya dari kalian secara hormat hai orang gagah!" ujar Datuk Mambang Pitoka.
__ADS_1
"Tidak bisa. Kembalikan barang itu!" Gajah Krempeng bersikeras.
Merasa tidak punya jalan lain lagi. Datuk Mambang Pitoka langsung mengebutkan ujung jubahnya, sehingga terlihat lima sinar merah berbentuk bintang menderu ke arah kedua Gajah.
"Se tan alas!" Dua-duanya menggerung, dua tangan melambai ke arah senjata-senjata rahasia yang menyerang secara cepat ini.
Wuuk! wuus!
Tring! Tring!
Enam buah senjata rahasia dibuat terpelanting. Bahkan dua diantaranya berbalik menyerang tuannya sendiri. Buto Terenggi adalah tokoh sesat berpengalaman bahkan ia mempunyai julukan Datuk Mambang Pitoka, karena dianggap memiliki kepandaian setingkat dengan para makhluk alam gaib. Dengan tenang sekali ia acungkan jari telunjuknya ke arah lain. Sehingga senjata rahasia yang berbalik menyerangnya itu melenceng dari sasaran dan menancap di batang pohon di belakangnya.
Hanya lima detik pohon itu berubah layu dan daun-daunnya langsung berguguran. Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng sempat tercengang dibuatnya. Namun sebagai orang yang sudah melihat kehebatan datuk. Tentu mereka tidak perlu merasa kagum.
"Datuk, kami akui kehebatan racun yang terkandung dalam senjata rahasiamu itu. Tapi kami bukan anak kecil yang dapat kau takut-takuti. Jika kau tetap tidak mau mengembalikan ular-ular Khayangan kami ke dalam telaga. Hari ini kami bersumpah untuk mengikat permusuhan kepadamu!"
"Urusan ini ada baiknya kalau kita bicarakan di gunung Pangrangko satu purnama mendatang!"
Selesai dengan ucapannya. Tiba-tiba Datuk Mambang Pitoka menyambitkan sesuatu ke arah Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng. Karena terkejut dan tidak menyangka datangnya serangan gelap ini. Maka Gajah Krempeng langsung menyambutnya dengan satu tendangan yang cukup keras. Sehingga membuat benda berbentuk bulat macam bahan peledak itu mengeluarkan bunyi mendesis yang disertai dengan menebarnya asap tebal. Seketika itu juga suasana di sekeliling mereka berubah menjadi gelap berselimut kabut.
"Bang sat! Iblis itu benar-benar mengecoh kita." teriak Gajah Gemuk sambil membanting-banting kakinya. Sehingga membuat tanah yang diinjaknya amblas sampai sebatas dengkul. Kenyataan ini membuat Gajah Krempeng menggerutu.
"Seharusnya kita kejar se tan itu kakang. Ular-ular berkhasiat milik kita yang telah ditangkapnya tentu jumlahnya cukup banyak juga."
"Ya... kurasa tidak ada gunanya. Kalau memang benar di gunung Pangrangko akan ada pertemuan yang sangat besar. Mengapa kita tidak ke sana saja? Kita bisa melihat apa yang akan terjadi disana sekalian mencari tahu bagaimana kabarnya murid kita Dewi Bulan sekarang? Apakah ia telah berhasil menemukan pembunuh orang tuanya atau belum."
"Tapi... bukankah kita sendiri punya pantangan untuk membunuh? Apalagi sampai meninggalkan gunung Merbabu ini?" Gajah Krempeng rupanya teringat akan sumpahnya.
"Sudahlah... lupakan masalah itu. Kita berangkat sekarang...."
__ADS_1
Nampaknya Gajah Krempeng memang merasa tidak punya pilihan lain lagi. Ia terpaksa mengikuti keinginan kakang kandungnya sebagaimana yang terjadi ketika mereka hendak ke gunung Bromo delapan belas yang lalu.