
Di dalam ruangan bawah tanah itu pemuda berambut hitam kemerah-merahan sedang bingung. Ia sudah mencoba segala cara untuk keluar dari perangkap yang dibuat oleh Mustika Jajar alias Betina Dari Neraka. Namun semua cara yang telah ditempuhnya tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Pemuda berpakaian biru muda dengan ikat kepala warna biru belang-belang kuning itu akhirnya hanya duduk termenung.
Tidak jauh dari pemuda tampan itu duduk seorang laki-laki berambut putih berjenggot dan berkumis putih. Tubuhnya pendek tidak sampai setengah meter. Dialah Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil.
"Kau harus ikut mencari jalan bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari kubangan lintah ini, Tenggiling Kedil!?" dengus pemuda berbaju biru muda yang tidak lain adalah Suro Blondo atau lebih dikenal dengan julukan Pendekar Blo'on sambil garuk-garuk kepala.
"Aku... ha ha ha...! Apakah tidak keliru. Percuma kau dijuluki si anak ajaib. Ingatkah kau ketika menjelang kelahiranmu banyak tokoh-tokoh sakti di rimba persilatan datang berduyun-duyun ke Gunung Bromo untuk mendapatkanmu. Lalu mana keajaiban itu?" sindir Wiro Suryo sinis.
"Kau memang seorang kawan tidak punya guna, kawan yang membosankan yang telah membawaku terjerumus ke dalam perangkap gila ini!" ma ki Pendekar Blo'on berang.
"Hei... tidak perlu menyesali nasib. Semua yang terjadi sudah ada dalam surat hidupmu, juga hidupku."
"Suratan nasibmu dan nasibku mana bisa disamakan. Aku tetap aku, sedangkan kau sampai tua tetap seperti bayi, bayi bangkotan berkumis dan berjenggot putih. Huh betapa memalukan!"
"Tidak perlu menghi na. Lihatlah, lintah-lintah celaka ini terus menghisap darah kita. Kalau terus bertengkar, kapan kita dapat menemukan jalan keluar dari sini?!" kata Wiro Suryo.
Pendekar Blo'on terdiam. Rasanya memang tidak ada gunanya bertengkar saat itu. Mereka telah terjebak di ruangan bawah tanah tersebut selama tiga hari, berarti hukuman yang akan dijatuhkan oleh Mustika Jajar si gadis sesat tersebut sekitar empat hari lagi.
Otaknya yang cerdik segera memikirkan jalan keluar yang memungkinkan bagi mereka. Lalu saat ia memperhatikan dinding-dinding kamar di sekelilingnya. Maka terlihatlah olehnya sebuah saluran air. Suro mendekatinya, kemudian segera melakukan pemeriksaan.
Tuk! Tuk! Tuk!
Diketuknya dinding di samping saluran air tersebut. Ternyata saluran air yang cukup jernih dan telah dipergunakan untuk menghilangkan dahaga selama beberapa hari ini berongga. Pemuda tampan itu pun tersenyum.
"Kakek Suryo! Kemarilah sebentar!" panggil Suro Blondo dengan wajah berseri-seri.
"Ada apa lagi? Kau telah menemukan lubang kubur untuk kita berdua?" ej ek Tenggiling Kedil.
"Tentu saja. Mudah-mudahan jalan ini untuk keselamatan kita!"
"Kurasa saluran air ini menuju ke neraka!" sahut Wiro Suryo.
Tidak lama kemudian ia mulai mengetuk-ngetuk dinding di sebelah saluran. Ternyata di balik dinding batu itu memang berongga.
"Aku harus melepaskan pukulan untuk membuktikan apakah di balik dinding ini ada jalan keluar atau tidak!" tegas pemuda berambut hitam kemerahan tersebut.
"Jangan! Pukulanmu hanya akan membuat dinding ini runtuh. Mati yang paling tidak menyenangkan adalah bila kita tertimbun longsoran tanah!" ucap Wiro Suryo.
"Lalu...?"
"Kita gali dinding ini!" kata kakek berbadan pendek ini tegas.
Tanpa bicara apa-apa lagi kedua laki-laki yang sama konyolnya itu mulai melakukan penggalian. Setelah sampai sepemakan sirih, maka dinding batu di samping saluran air telah selesai mereka gali.
"Lihat! Ada sebuah terowongan di sini! Kita bisa bebas...!" seru Pendekar Blo'on sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Mudah-mudahan terowongan ini menuju ke dunia bebas! Ingat! Kau sekarang yang mencari jalan keluar. Jika ada malapetaka menghadang di depan sana, jangan lagi salahkan aku!" ujar Wiro Suryo.
"Kalau tidak setuju sebaiknya jangan ikut aku! Sekarang aku akan masuk ke dalam terowongan ini!" tegas Suro Blondo.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Pendekar Blo'on mulai memasuki terowongan tersebut. Ia terpaksa merangkak karena terowongan di samping saluran air yang menghubungkan ke kolam lintah ternyata agak sempit. Bagi Wiro Suryo yang berbadan kerdil tentu terowongan tersebut cukup lebar. Ia bahkan dapat berjalan tegak. Karena tinggi tubuhnya tidak lebih hanya setengah meter.
"Betapa untungnya mempunyai badan sepertiku. Aku tidak perlu merangkak seperti seekor ba bi yang terjebak perangkap!"
"Kau menyindirku!" dengus Suro Blondo kesal.
"Tidak usah marah-marah, aku bicara dengan diriku sendiri!"
"Dasar orang gila!" sahut Pendekar Blo'on.
Tidak lama mereka sampai di ujung terowongan. Tetapi di ujung terowongan itu terdapat dua buah terowongan pula. Yang satu ke arah selatan sedangkan yang satunya lagi ke arah utara.
"Sekarang bagaimana, kita akan menelusuri terowongan yang mana?" tanya Pendekar Blo'on sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Terserah kau! Aku kan hanya ikut kemana kau pergi."
"Kurasa otakmu lebih kecil dari otak semut. Tenggiling Kedil. Diajak bertukar pikiran saja kau tidak bisa." gerutu si pemuda sambil menyeka keringat yang membasahi wajahnya.
"Otakku memang kecil, tetapi pikiranku seluas jagad. Aku tidak mau kasih pendapat, sebab aku takut salah lagi. Kau tahu orang yang paling jelek di dunia ini bila sedang marah adalah kau!" ej ek Wiro Suryo.
"Dan manusia yang paling menyebalkan kaulah orangnya!" jawab Pendekar Blo'on tidak mau kalah.
Lalu mereka saling diam lagi. Suro kemudian memutuskan untuk menelusuri terowongan yang menuju ke arah selatan. Sedang Wiro Suryo terus mengikuti di belakangnya. Di ujung lorong sebelah selatan tersebut ternyata terdapat sebuah sungai. Rupanya air sungai itulah yang mengairi kolam lintah di ruangan bawah tanah.
"Kita sudah bebas, benar-benar bebas. Kau lihat ada langit, pohon dan suara gemuruh air!" desis Pendekar Blo'on. Wiro Suryo tidak langsung menjawab. Hidungnya kembang kempis seakan sedang mengendus-endus sesuatu.
"Aku seperti mencium bau bangkai!" kata Wiro Suryo, matanya melirik pada kawannya yang tampak sedang mengagumi keindahan alam.
"Aku membaui sesuatu yang busuk!" tegas kakek berbadan kerdil seperti bayi dengan ketus.
Wiro Suryo malah tersenyum. Tatapan matanya tetap memandang lurus ke depan. Tepatnya ke permukaan air. Sungai yang lebar itu memang sepi, tetapi sekejab tadi ia melihat ada bayangan-bayangan putih berkelebat.
"Kurasa kolam lintah itu berisi tinja. Kotorannya Mustika Jajar. Tahu tidak walaupun gadis itu cantik. Tetapi kotorannya tetap bau. Sebentar lagi kita bisa mandi." jawab Pendekar Blo'on.
Bau busuk semakin menusuk, sehingga membuat Tenggiling Kedil jadi curiga. Tetapi ia terus mengekor di belakang Pendekar Blo'on ketika pemuda berpakaian biru muda tersebut keluar dari terowongan. Pemuda itu segera menarik nafas sedalam-dalamnya.
"Hemm, lega rasanya! Tetapi... eh...!" Suro mendesis kaget. Ternyata ia juga mencium bau sesuatu yang sangat busuk. Tiba-tiba saja ia menoleh pada Wiro Suryo.
"Ada kau cium bau sesuatu?" tanya si pemuda.
"Kurasa kupingmu benar-benar tuli. Sudah kukatakan sejak tadi bahwa aku mencium bau yang teramat busuk!" sahut kakek berbadan super pendek sinis.
"Bau bangkai?"
"Tepat! Bau orang yang sudah mam pus!" jawab Wiro Suryo.
Suro berjalan ke arah pinggiran sungai. Tetapi langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika melihat ada mayat yang telah membusuk tidak jauh di depannya.
Ketika ia melakukan pemeriksaan, ternyata mayat itu adalah mayat seorang gadis memakai baju warna putih. Ia tersentak kaget, sebab tadi ia juga sempat melihat ada bayangan putih seperti menari-nari di permukaan air yang deras arusnya itu. Bayangan itu tiba-tiba lenyap ketika Tenggiling Kedil mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Kau lihatlah ini...!" seru Suro.
"Disini juga ada mayat." kata Wiro Suryo pelan.
Setelah mereka mengitarkan pandangan matanya, ternyata banyak sekali mayat-mayat bergeletakan disitu. Dan mereka semuanya terdiri dari kaum sejenis.
"Siapa yang telah melakukan perbuatan keji ini?" tanya Suro.
"Mana aku tahu! Tetapi mayat-mayat ini sedikitpun tidak terluka. Cuma sekujur tubuh mereka membiru seperti keracunan!" gumam Tenggiling Kedil.
Mereka segera menyingkir menjauhi mayat-mayat tersebut karena tidak tahan dengan baunya yang busuk. Sekitar lima belas batang tombak mereka melangkah. Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan. Suaranya itu mirip ratapan seorang gadis yang sedang dirundung duka.
"Bertanya pada orang kaya, langit, bumi, udara, tumbuhan dan makhluk punya
jiwa siapa yang punya? Bertanya pada
nafsu, amarah dendam, iri dengki, tamak
dan sombong kemana perginya? Bertanya
pada hati, cinta kasih sayang untuk
siapa? Hidup tujuh puluh tahun entah buat
apa? Orang-orang jujur mati terbujur.
Manusia banyak dosa panjang umurnya.
Lihatlah bangkai yang berserakan, mereka
korban angkara murka! Lalu aku si tua
bangka bisa apa? Aku tidak bisa apa-apa.
Hik kik hik! Betapa menyedihkan!"
Pendekar Blo'on dan Wiro Suryo saling pandang dan sama-sama membasahi lidah.
"Siapa dia?" tanya Suro.
"Hemm, aku hidup hampir sembilan puluh tahun. Tetapi aku tidak pernah mendengar tentang orang ini. Barangkali Kuntilanak, wewe air atau penyair picisan sedang bersenandung" sahut Tenggiling Kedil seenaknya.
"Sudahlah buat apa kita pikirkan. Sekarang aku harus kembali mencari Mustika Jajar. Perempuan itu mempunyai dosa selangit tembus. Dan lagipula dia telah membunuh Pematung Kelana, selain itu manusia jelmaan patung batu itu harus kumusnahkan!" tegas Pendekar Blo'on.
"Apa kau pikir hanya kau saja yang punya kepentingan. Betina Dari Neraka sangat sakti sekali. Aku tidak ingin melihatmu mati konyol di tangannya. Jadi aku harus ikut!" kata Wiro Suryo.
Pendekar Blo'on baru saja ingin mengatakan sesuatu. Namun ucapannya tertunda karena tiba-tiba saja air sungai yang deras itu bergolak hebat. Lalu terdengar suara menderu-deru seperti air bah. Kedua sahabat tersebut tercengang. Mereka menjadi kaget ketika melihat ada sesuatu bergerak-gerak di dalam pusaran air itu. Sampai kemudian tampak dua sosok bayangan putih melesat ke udara. Lalu mendarat lagi di permukaan air sambil menari-nari.
"Han... hantu...!" desis Pendekar Blo'on.
__ADS_1
"Go blok, mereka bukan hantu. Kurasa kalau tidak salah mereka inilah Dewi Kehidupan!" ujar Wiro Suryo yang ternyata memang mempunyai pengalaman lebih luas dibandingkan Pendekar Blo'on.