
Laki-laki itu selalu menundukkan kepala setiap kali melangkahkan kakinya. Wajahnya tidak terlihat dengan jelas, karena tertutup topi caping terbuat dari bambu. Bajunya yang berwarna hitam penuh dengan debu. Tampaknya ia baru melakukan sebuah perjalanan yang sangat jauh. Tidak jauh di belakang laki-laki tersebut, di angkasa sana terlihat kawanan burung pemakan bangkai selalu mengawasi kemana dia pergi. Sedemikian banyaknya burung-burung tersebut. Sehingga suaranya memekakkan telinga. Namun orang bercaping itu bertindak acuh tidak acuh. Ia terus berjalan walaupun saat itu matahari seperti terasa memanggang batok kepala.
Dalam suasana yang cukup terik tersebut, tiba-tiba saja dari arah berlawanan tampak dua sosok tubuh berkelebat dengan cepat. Satu memakai baju warna biru, sedangkan yang satunya lagi seorang gadis cantik berkulit kuning langsat. Gadis itu memakai baju warna putih.
"Datuk Tabala Muka?" desis si gadis yang kiranya kenal begitu melihat seorang kakek tua menghadang di depannya. Yang memakai baju biru muda langsung hentikan larinya dan memandang pada kakek bertopi bambu di depannya.
"Kau mengenalnya?" tanya si pemuda yang tidak lain adalah Pendekar Blo'on.
"Dulu sekali dia pernah datang ke Lembah Tidak Bernama. Ia salah seorang datuk sesat yang tinggal di Pulau Pelebur Dosa." bisik gadis baju putih yang tidak lain adalah Dewi Arimbi.
Mendengar nama tempat tinggal Datuk Tabala Muka. Suro Blondo langsung cengengesan.
"Ada-ada saja."
"Aku melihat dua calon bangkai di depanku. Perkenalkan nama kalian dan apakah kalian berdua termasuk anggota Betina Dari Neraka?" tanya si kakek.
Suaranya serak sember seperti baru habis memakan kodok.
"Lagakmu tengil, menurut kawanku namamu Datuk Tabala Muka! Aku jadi ingin lihat apakah wajahmu benar-benar terbelah?" tanya Suro bersikap acuh tak acuh.
"Ha ha ha...! Berani benar kau membantah perintah! Kau sudah bosan hidup agaknya?" bentak Datuk Tabala Muka. Tanpa sadar saat ketawa tadi ia mendongakkan wajahnya ke atas. Astaga! Suro Blondo terkejut. Wajah yang tertutup topi caping tersebut ternyata benar-benar seperti terbelah. Sehingga sekilas terlihat ia memiliki dua hidung, dua mulut dan dua wajah.
"Wajahmu benar-benar je lek sekali. Pasti bundamu salah mengandung. Bunda seperti itu bagusnya di pentung!" kata Pendekar Blo'on sambil tertawa-tawa.
Dewi Arimbi yang telah mengetahui kehebatan kakek berbaju hitam tersebut jelas menjadi gentar juga melihat ulah si pemuda. Apalagi setelah melihat di atas sana terlibat burung-burung bangkai terbang merendah.
"Jaga mulutmu! Dia dapat membunuh hanya dalam waktu sekedipan mata saja!" bisik Dewi Arimbi cemas.
"Mengapa takut mati, Rimbi? Hidup matinya seseorang hanya takdir yang menentukannya!" sahut Suro Blondo.
"Baru pertama kali bertemu kau sudah banyak tingkah berani mengh ina. Kuulangi lagi pertanyaanku! Sebutkan siapa namamu sekalian kau punya gelar!" Bentak Datuk Tabala Muka sengit.
"Aku Suro Blondo! Sedangkan sahabatku ini namanya Dewi Arimbi!" Sahut si pemuda.
"Kau anak buahnya Betina Dari Neraka?" tanya Datuk Tabala Muka.
__ADS_1
"Justru aku sedang mencari iblis itu. Apakah kau saudaranya, Datuk?" tanya pemuda itu sambil garuk-garuk kepala.
"Pemuda to lol! Aku ingin mengetahui kehebatan Betina Dari Neraka yang kabarnya ingin menguasai rimba persilatan itu!" tegas Datuk Tabala Muka.
"Apakah engkau merasa tersaingi?" ej ek Suro Blondo.
"Jelas! Dia boleh menyebut dirinya apa saja. Tetapi untuk menjadi ratu rimba persilatan ia harus berhadapan dulu denganku!"
"Sangat kebetulan sekali. Aku juga ingin membunuh manusia setan itu. Jadi kita bisa sama-sama mencarinya!" ujar si pemuda berambut hitam kemerah-merahan dengan lugu.
Datuk Tabala Muka terdiam, alisnya mengernyit dalam. Lalu terdengar suara tawanya yang panjang menyakitkan telinga.
"Ha ha ha...! Kau bocah kemarin sore tahu apa! Kalian adalah calon bangkai yang tidak pantas berhadapan dengan perempuan itu!"
"Maksudmu?" tanya Dewi Arimbi.
"Kalian akan kubunuh dan sebentar lagi tentu menjadi santapan burung bangkai yang kelaparan di atas sana!" tegas Datuk Tabala Muka.
"Inilah kesempatan bagiku untuk melihat apakah kau mampu menghadapi datuk itu atau tidak!" bisik Dewi Arimbi ditujukan pada Pendekar Blo'on.
"Aku...!" sahut Pendekar Blo'on.
Datuk Tabala Muka untuk sesaat lamanya memperhatikan Suro Blondo. Ia tersenyum sinis. Tiba-tiba saja Datuk Tabala Muka melepaskan topi capingnya dan langsung melemparkannya ke arah Pendekar Blo'on.
Topi caping tersebut meluncur deras ke arah Suro. Sejengkal lagi topi bambu tersebut mengenai perut si pemuda. Maka Pendekar Blo'on segera menghindar dengan menggeser langkahnya ke samping kiri. Anehnya topi bambu tersebut terus bergerak mengikuti kemanapun Suro Blondo berusaha menghindar. Melihat bahaya susulan ini si pemuda terpaksa mengerahkan jurus 'Kacau Balau', yaitu salah satu jurus khusus menghindar warisan dari Malaikat Berambut Api gurunya sekaligus merupakan kakek kandungnya sendiri.
"Hiya...!"
Pemuda itu kemudian meliuk-liukkan tubuhnya. Kakinya bergerak dengan cepat sementara kedua tangannya terkadang menangkis serangan lawan. Atau sesekali menggaruk-garuk kepalanya.
Wuess...!
"Huh...!"
Si pemuda tiba-tiba berguling-guling menghindar saat senjata milik lawan menyambar mukanya. Melihat pemuda konyol itu dapat menghindari serangan senjatanya. Maka diam-diam Datuk Tabala Muka merasa kagum. Belum pernah ada orang yang mampu menghindari serangan topi mautnya selama ini. Namun pemuda bertampang ketolo lan tersebut dengan baik dapat menyelamatkan diri.
__ADS_1
"Kau boleh juga, anak muda! Tetapi coba kau terimalah yang ini!" dengus Datuk Tabala Muka. Tanpa diduga-duga tiba-tiba sang Datuk menjentikkan kedua jari tangannya ke arah Suro Blondo.
Set! Set!
Dua leret sinar hitam meluncur deras ke arah si pemuda. Sementara topi caping lawannya terus menyerang dari bagian atas. Pendekar Blo'on jadi kerepotan juga. Lalu dengan cepat ia berjungkir balik mirip dengan gerakan kera. Secepat kilat ia bangkit berdiri dan....
"Pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'! Hiyaa...!"
Pemuda berambut hitam kemerah-merahan ini langsung mendorongkan ke dua tangannya ke depan. Selarik sinar putih menderu disertai hawa panas yang sangat menyengat. Kedua kekuatan dahsyat itu akhirnya saling membentur di udara....
"Bumm...!"
"Wuaakh...!"
Pendekar Blo'on jatuh terguling-guling. Ia menjerit kesakitan, tetapi dengan cepat ia bangkit berdiri. Tampak jelas dari sudut-sudut bibirnya meneteskan darah kental.
"Sebentar lagi kau akan menjadi bangkai dan dimangsa oleh burung-burung itu!" dengus Datuk Tabala Muka.
"Ha ha ha...! Kau sedang melawak atau membanyol badut konyol!" sahut si pemuda.
"Hup...!"
Tanpa bicara lagi Datuk Tabala Muka langsung menerjang ke depan. Tangannya bergerak cepat ke lima jalan kematian bagi si pemuda. Suro tidak tinggal diam. Ia segera menggabungkan antara. 'Kacau Balau' warisan Malaikat Berambut Api dengan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau' warisan Siluman Kera Putih Barata Surya.
Tentu saja keadaan menjadi semakin runyam bagi lawannya. Sebab bukan gerakan silat si pemuda ini saja yang kacau serta konyol. Tetapi tingkahnya pun seperti seekor monyet. Namun di balik gerakannya yang tidak menentu tersebut tersembunyi sebuah kedahsyatan yang sewaktu-waktu dapat membahayakan diri lawannya.
Agaknya Datuk Tabala Muka mengalami hal ini. Terbukti serangan-serangan tangan kosongnya selalu mengenai angin. Ia segera melakukan tendangan berantai yang penuh dengan tipu-tipu. Pada waktu kakinya melayang mengancam lambung dan ulu hati Suro Blondo. Pemuda itu berjingkrakan. Lalu....
Tap!
Suro berusaha menangkis kaki lawannya dengan telapak tangan. Namun Datuk Tabala Muka menarik balik tendangannya. Kemudian segera melepaskan tinjunya.
Duuk!
"Hegk...!"
__ADS_1
Dada Pendekar Blo'on tampak terguncang. Tampaknya ia menderita luka dalam yang tidak ringan. Merasa berada di atas angin, Datuk Tabala Muka tertawa membahak.