Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
56


__ADS_3

Dengan jelas mereka melihat ada tiga sosok bayangan bergerak cepat ke arah mereka. Hanya dalam beberapa detik saja, terlihat ada dua orang laki-laki dan seorang gadis berwajah cantik telah berdiri di depan mereka. Suro Blondo walaupun terkejut, namun tetap berusaha tersenyum.


"Manusia se tan dan kekasihnya telah datang. Yang satunya lagi kalau tidak salah adalah Datuk Tabala Muka. Tenggiling Kedil, lihatlah tampang orang bercaping itu. Menurutmu apakah dia bukan sebangsanya siluman juga?" tanya Suro. Sambil bicara ia melirik ke arah Si Burung Bangkai.


"Ib lis dan siluman bagiku hampir sama. Mari kita sikat saja!" tegas Tenggiling Kedil.


Belum sempat Suro Blondo bicara, Mustika Jajar telah memotong.


"Kalian bertiga merupakan penghalang yang harus dienyahkan dari muka bumi ini. Sejak dulu aku menginginkan kematianmu dan juga kematian gurumu Pendekar Blo'on. Jika gurunya belum aku dapatkan, membunuh muridnya yang to lol pun bagiku sudah merupakan kesenangan tersendiri."


Secepat kilat tanpa disangka-sangka Betina Dari Neraka menyerang Pendekar Blo'on. Tinju kanan kirinya menderu menghantam pelipis dan dada si pemuda. Itulah sebuah jurus 'Gempa Di Lereng Cilawu'.


Suro menyadari serangan lawannya ini sangat berbahaya. Sehingga ia segera mempergunakan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.


"Nguk...! Nguuk!"


Suro Blondo berjingkrak-jingkrak, atau berjongkok sambil berguling-guling. Sesekali ia tampak menggaruk-garuk kepalanya seperti seekor monyet. Kemudian ia melompat ke depan. Tangannya terpentang menyambut tinju lawannya.


Tap!


"Heh...!"


Mustika Jajar terkejut. Ia terus mendorongkan tinjunya ke arah lawan, tetapi lawannya tidak bergeming. Dengan licik gadis berpakaian merang sang ini kemudian menghantam perut lawannya dengan lutut terlipat.


Des!


"Hekh...!"


Suro Blondo terbungkuk-bungkuk. Perutnya mual bukan main. Ketika ia menarik nafas, maka dari lubang hidungnya tampak darah menetes. Rupanya lawan telah mengerahkan tenaga dalam penuh dalam gebrakan pertama tadi.


Sementara itu Dewi Arimbi sendiri merasa terheran-heran melihat Datuk Tabala Muka malah bergabung dengan Betina Dari Neraka. Ketika bertemu beberapa waktu lalu Datuk Tabala Muka ingin membunuh Mustika Jajar karena dirinya merasa tersaingi, tetapi kini?


"Rupanya kau ular berkepala dua. Katanya kau ingin membunuh manusia se tan itu, tidak tahunya kini kau malah menyeberang ke pihaknya." dengus Dewi gusar.


"Ha ha ha...! Waktu itu aku tidak tahu bahwa Betina Dari Neraka adalah murid keponakanku. Setelah kuketahui siapa dia. Maka kini tentu saja aku membelanya sekuat tenagaku!" sahut Datuk Tabala Muka.


"Ib lis selamanya tetap ib lis, Dewi. Dia tidak bisa berubah menjadi kambing, sapi atau kerbau, apalagi manusia seperti kita. Dia musuh kita yang nyata, mengapa sekarang kita tidak menggebuknya?" ujar Wiro Suryo.


Mendapat aba-aba dari kakek berbadan sangat pendek ini. Tentu saja Dewi tidak mau menunggu lebih lama. Ia segera menyerang Datuk Tabala Muka. Karena menyadari lawannya sangat tangguh. Maka begitu melancarkan serangan Dewi Arimbi langsung mengerahkan jurus-jurus andalannya. Datuk Tabala Muka tertawa mengekeh.


"Aku lebih suka berkelahi dengan gadis secantikmu. Kau pasti masih perawan. Jika kau nanti kalah, maka aku akan mengajakmu bermain cinta sampai kau merengek-rengek minta ampun!" ujar sang Datuk.


"Manusia cabul, makanlah selendangku!" teriak Dewi Arimbi dengan marahnya.


Datuk Tabala Muka yang baru saja hendak bicara lagi langsung menutup mulut rapat-rapat. Terlebih-lebih ketika melihat lecutan selendang di tangan lawan menimbulkan percikan bunga api. Dengan cepat Datuk Tabala Muka alias si Burung Bangkai melepas capingnya dan langsung melemparkannya ke arah Dewi.


Gadis ini tidak mau mengambil resiko. Segera ia mengerahkan tiga perempat dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya ke bagian selendang. Setelah itu selendang kembali dilecutkan ke arah topi bambu yang melayang-layang mengincar leher Dewi. Topi caping bambu seperti ada kekuatan yang menggerakkannya langsung berkelit. Namun Selendang Api terus bergerak mengejar, hingga akhirnya benturan keras terjadi.


Braak!


Caping bambu milik Datuk Tabala Muka hancur berkeping-keping. Tentu pemiliknya yang memandang enteng lawan jadi terkejut.


"Kepa rat! Makanlah ini...!" teriak si Burung Bangkai.


Kemudian jari tangannya dirapatkan. Setelah sepuluh jari tangan menyatu. Tubuhnya menerjang ke depan. Sedangkan tangan terus meluncur ke dada Dewi. Serangan ini sangat dahsyat, karena si Burung Bangkai mengerahkan jurus 'Jari Maut Bermata Satu'.


Dewi Arimbi segera dapat merasakan adanya satu tekanan hawa dingin menghimpitnya. Tetapi rupanya Wiro Suryo yang sedang bertarung melawan Perkasa sempat melihat serangan yang dihadapi Dewi. Tenggiling Kedil walaupun sedang repot segera menolong Dewi dengan melepaskan ajian 'Pancar Cahaya' ke arah Datuk Tabala Muka.

__ADS_1


"Serangan keji!" dengus Wiro ditujukan pada si Burung Bangkai.


Wuut!


Segulung cahaya putih menderu-deru ke arah Datuk Tabala Muka. Ajian 'Pancar Cahaya' yang melesat dari tangan Wiro Suryo memotong tangan Datuk Tabala Muka. Jika kakek berwajah aneh ini tidak cepat menarik tangannya. Tentu tangan itu buntung atau paling tidak hangus terkena pukulan yang dilepaskan oleh Wiro Suryo.


"Jadah...!"


Si Burung Bangkai mengumpat sambil membanting dirinya ke samping.


Buum!


Terjadi guncangan keras ketika serangan Tenggiling Kedil mengenai tempat kosong.


Sebuah lubang menganga di samping Datuk Tabala Muka. Ia tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan dirinya jika pukulan tadi menghantam tangan. Sambil mema ki dihati, Datuk Tabala Muka bangkit berdiri.


Dewi yang selamat dari maut tanpa memberi kesempatan lagi langsung menyerang Datuk Tabala Muka.


Di lain pihak perkelahian antara Mustika Jajar dan Pendekar Blo'on sudah memakan waktu hampir enam puluh jurus. Tampaknya kedua belah pihak sudah sama-sama terluka. Apalagi ketika itu Mustika Jajar telah mempergunakan senjatanya yang berbentuk aneh macam bulan sabit ini. Senjata itu menderu-deru mengeluarkan sinar menyilaukan. Kemana Pendekar Blo'on menghindar, maka kesitu pula senjata Betina Dari Neraka mengejarnya. Suro merasa mati kutu, ia terus saja mengerahkan jurus 'Kacau Balau' dan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Dengan mengerahkan kedua jurus ini, serangan-serangan lawan dapat diatasinya.


Namun tiba-tiba saja Mustika Jajar membentak garang. Serentak tubuh gadis itu berkelebat lenyap dari pandangan mata Suro. Pemuda berambut hitam kemerah-merahan ini segera menyadari bahaya sedang mengancamnya. Untuk itu ketika merasakan sambaran angin dingin di bagian punggungnya. Ia segera melenting ke udara. Tetapi gerakannya itu kalah cepat dengan luncuran senjata Mustika Jajar. Sehingga bagian iganya kena dilukai oleh lawan.


Crees!


"Akh...!"


Tanpa menghiraukan sakit yang ia derita. Pendekar Blo'on terus berputar-putar di udara. Kemudian ketika tubuhnya meluncur deras ke bawah. Maka ia mengibaskan kedua tangan ke arah sasaran.


"'Neraka Hari Terakhir'! Hiya...!" teriak si pemuda.


Buum!


Tidak dapat dihindari lagi, Mustika Jajar jatuh terpelanting. Kalau bukan dia yang terkena pukulan itu. Tentu sudah tewas meregang nyawa. Tanpa menghiraukan darah yang mengucur dari sudut-sudut bibirnya. Maka Betina Dari Neraka bangkit berdiri. Tiba-tiba ia tertawa, suara tawanya semakin lama semakin meninggi. Tentu saja Suro jadi terheran-heran. Ia tidak tahu bahwa tawa si gadis sebenarnya cara aneh yang mungkin jarang ditemui di rimba persilatan untuk menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.


Ternyata sekejab kemudian memang tampak Mustika Jajar seperti tidak menderita luka dalam. Sekarang ia malah menghimpun tenaga dalam untuk melepaskan pukulan 'Segala Racun Segala Bisa'. Inilah salah satu pukulan maut yang paling diandalkannya. Hanya dalam waktu sekejab kedua telapak tangan Betina Dari Neraka telah berubah menghitam. Suro terkesiap. Namun segera mencabut Mandau Jantan dari balik bajunya. Mandau berwarna hitam dengan empat sisi lubang miring di tengah-tengahnya langsung dikibaskan ke depan.


Terlihat sinar hitam berkelebat. Lalu terdengar suara mendengung disertai rintihan semacam tangis dari senjata itu. Pada waktunya Mustika Jajar telah mengibaskan tangannya ke arah sasaran. Sinar hitam terus meluncur, lalu membentur senjata milik si pemuda.


Wees!


Anehnya begitu pukulan 'Segala Racun Segala Bisa' mengenai senjata milik Suro. Pukulan tersebut seperti menembus ruang hampa. Tidak ada suara ledakan terdengar. Betina Dari Neraka terkejut setengah mati. Kelengahannya yang cuma sebentar ini langsung dipergunakan oleh Suro Blondo. Tubuhnya tiba-tiba meluruk deras ke arah lawan. Sedangkan Mandau Jantan di tangan ia kibaskan. Betina Dari Neraka sempat terkejut. Ia cepat menggeser tubuhnya ke kiri. Namun ujung Mandau membabat putus tangannya.


Craas!


"Akh...!"


Mustika Jajar menjerit tertahan. Ia mengambil putusan tangan yang tergeletak di depannya. Tetapi ketika itu Suro telah berputar. Kembali Mandau berkelebat.


Cres!


"Huaakg...!"


Mustika Jajar tampak terhuyung-huyung. Perutnya robek, ususnya berbusaian. Gadis itu merasa sekaranglah ajalnya tiba. Tetapi pada saat yang kritis itu sebuah bayangan berkelebat menyambar tubuh Iblis Betina Dari Neraka. Hanya sekejab saja bayangan lenyap, Suro bermaksud mengejar. Namun pada saat itu ia mendengar suara jeritan si Dewi Arimbi. Ketika ia menoleh ke arah datangnya suara. Kiranya ia melihat Dewi yang dalam keadaan tertotok sedang ditindih oleh Datuk Tabala Muka.


Masih memegang Mandau Suro Blondo memburu. Datuk Tabala Muka yang hampir saja dapat merenggut kesucian si gadis memang sempat merasakan sambaran angin dingin di punggungnya. Namun begitu ia menoleh senjata lawan langsung menebas lehernya. Datuk Tabala Muka tidak sempat menghindar lagi. Karena ia begitu terkesima melihat keindahan tubuh Arimbi.


Crees!

__ADS_1


Dhel...!


Kepala Datuk Tabala Muka langsung menggelinding dan menimpa dada si gadis yang tidak berpenutup apa-apa. Dewi Arimbi menjerit. Suro segera menendang kepala berikut tubuh sang Datuk yang menindih tubuh telanjang Dewi. Suro kemudian membebaskan totokan di tubuh si gadis. Begitu terbebas dari totokan Dewi Arimbi langsung menyambar pakaiannya yang tercabik-cabik. Karena pakaian itu tidak pantas dipakai maka Suro Blondo sambil cengar-cengir memberikan pakaiannya.


"Pakailah! Untung iblis itu tidak sempat membuatmu malu!" kata si pemuda berambut hitam kemerahan.


Kemudian ia memandang ke arah Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil. Ternyata kakek tua itu sedang berjuang habis-habisan menghadapi Perkasa. Manusia penjelmaan patung itu ternyata mempunyai daya tahan yang sungguh sangat luar biasa.


Dihadapan Perkasa, ternyata Tenggiling Kedil untuk sekian jurus lamanya terpaksa bergerak mundur. Ketika Perkasa mendesak dengan pukulan-pukulan yang mematikan. Ternyata Tenggiling Kedil ini memapakinya dengan sebelah tangan. Benturan keras tidak dapat dihindari lagi.


Duuk!


"Wei... eudan...!" dengus si kakek pendek. Sebenarnya tenaga dalam yang dimiliki oleh pemuda ini tidak lebih tinggi dari tenaga dalam yang dimiliki si kakek. Namun karena tubuhnya yang pendek dan agak kurus. Sehingga ia tidak dapat mempertahankan kuda-kudanya.Dengan cepat ia bangkit berdiri lagi.


Ketika itu Perkasa mulai menginjak-injak dirinya. Bocah tua kerdil ini lalu menggelundung seperti bola kian kemari.


"Hiaa...!"


Perkasa berteriak murka karena setiap injakannya hanya menghancurkan batu dan tampak seperti tidak teratur. Tiba-tiba saja laki-laki penjelmaan patung ini melepaskan pukulan dahsyat yang bersumber dari inti api.


"Hei... orang tua pendek jelek! Awas! Lawanmu kelihatannya tidak main-main. Kau bisa gosong jadi ubi bakar, jika kau tetap membiarkan dia melepaskan pukulan!" Suro Blondo mengingatkan.


"Tidak usah takut. Aku akan menahannya dengan ajian Pancar Cahaya!" sahut si kakek aneh.


Benar saja, ketika sinar merah menderu cepat ke arah Wiro Suryo. Maka sekujur tubuh si kakek berubah putih di selimuti cahaya. Lalu tangannya yang juga telah berwarna putih segera dihentakkannya ke depan


Buum! Buum!


"Aaaaa...!"


Terdengar jeritan keras di tengah-tengah suara ledakan dahsyat yang terjadi. Wiro Suryo terjengkang sambil muntahkan darah kental. Lalu terdengar ledakan lagi. Ketika semua mata memandang ke arah Perkasa. Maka terlihatlah tubuh sosok patung itu hancur berkeping-keping menjadi batu terkena ajian Pancar Cahaya.


"Hmm, bukan main-main!" desis Pendekar Blo'on memuji.


Dengan terpincang-pincang Tenggiling Kedil menghampiri dan langsung bertanya.


"Kemana Iblis Betina itu?"


"Dia sudah terluka parah. Tapi seseorang telah menyelamatkannya!" sahut Pendekar Blo'on.


"Pasti perbuatan gurunya!"


"Aku harus pergi! Tidak baik mata tua melihat sepasang muda-mudi yang sedang lirik-lirikan!"


Pendekar Blo'on baru saja mau mema ki. Namun ternyata sahabatnya yang super pendek itu telah menghilang dari pandangan mata.


"Pakaian itu cocok denganmu, Rimbi?"


"Jangan menghi na, baju jelek begini!"


"Ha ha ha! Yang terpenting bagian-bagian yang terbuka dapat ditutupi. Hampir saja kau menjadi pengantin kesiangan Datuk Tabala Muka! Aduh... mana tahan aku membayangkannya!"


Dewi Arimbi cemberut. Lalu dengan wajah memerah ia segera berlalu meninggalkan Suro Blondo.


"Hei... tunggu.... Jangan kau tinggalkan aku...!"


"Hi hi hi! Kalau punya kaki mengapa tidak mengejar?" tantang si gadis sambil tertawa.

__ADS_1


"Nantang nih! Awas kalau dapat aku pasti menciummu!" kata si pemuda lalu menyusul Dewi Arimbi.


__ADS_2