
Pada bagian lain masih di dalam bangunan Curing Bencana ada sebuah altar tempat melakukan persembahan kepada pada iblis. Ruangan itu tidak begitu luas. Dengan penerangan yang redup serta bau-bauan yang khas. Jelas sekali ada kesan mejik yang mendalam. Di dalam ruangan itulah kini patung laki-laki perkasa diletakkan.
Sementara seorang perempuan bermuka coreng moreng dan seorang laki-laki tua bermata satu sedang melakukan meditasi. Di tengah-tengah altar terlihat tujuh orang gadis dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Jelas sekali mereka dalam keadaan ketakutan, tidak heran jika sejak tadi mereka terus berteriak-teriak seperti orang yang kesurupan.
Murid dan guru kini berhadap-hadapan. Di tengah-tengah mereka terdapat sebuah pendupaan. Pendupaan itu terus mengepulkan asap tebal menebar bau kemenyan yang sedemikian menusuk. Sementara bibir mereka berkemak-kemik.
Patung Perkasa yang sangat sempurna.
Atas bantuan para iblis yang menghuni alam kegelapan, di dalam hati dan juga yang menyatu dalam pembuluh darah manusia.
Hidupkanlah si perkasa untuk menjadi benteng utama muridku.
Tuntutanmu atas darah perawan akan kupenuhi.
Benteng roh... hai benteng roh...!
Titiskanlah satu roh ke dalam diri si perkasa!
Bangkit dan bangkitlah...!
Apa yang diucapkan oleh murid dan guru ini benar-benar sangat berpengaruh. Dinding ruangan bergetar hebat. Dari segala penjuru arah angin bertiup kencang. Lalu.... Sebuah golok besar mirip golok penjagal **** yang terletak di atas nampan tanah pun tiba-tiba melayang dan memenggal putus kepala gadis-gadis yang dalam keadaan terikat itu. Darah menyembur deras. Memancar bagaikan mata air. Darah itu bukan saja membasahi lantai. Tapi juga sosok patung laki-laki yang berada di tengah-tengah mereka.
Segalanya kemudian berproses. Mula-mula patung itu mengalami perubahan pada bentuk kulitnya. Kulit yang berwarna putih itu berubah menjadi kecoklatan-coklatan. Lalu matanya yang terpejam mengerjab, tangan, kaki dan bagian-bagian tubuh lainnya bergerak-gerak.
"Lihat...!" kata Mustika Jajar tidak dapat menyembunyikan rasa takjubnya.
Tua Tengkorak Mata Api membuka matanya. Ia menoleh ke arah patung yang telah dihidupkannya.
"Tugasku telah selesai, Tika! Sekarang sudah waktunya bagiku untuk meninggalkan tempat ini dan kembali ke Cilawu!" kata laki-laki berwajah tengkorak itu.
"Mengapa begitu tergesa-gesa, guru?" tanya Mustika Jajar seakan merasa tidak rela melihat kepergian gurunya.
"Waktuku sangat sempit sekali. Sejak dulu aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku ingin menciptakan ilmu-ilmu yang baru. Setelah aku pergi, kau tentu saja dapat menjajal si Perkasa yang telah hidup sebagaimana halnya kau ingin. Semoga kau senang berkawan dengannya!" Tua Tengkorak Mata Api bangkit berdiri. Tidak lama kemudian ia memandang ke arah patung yang telah hidup itu.
__ADS_1
"Mulai saat ini kau harus mengabdi kepada muridku, Perkasa...!" katanya ditujukan pada patung bernyawa tersebut.
Si Perkasa menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang kaku. Tatapan matanya yang dingin memandang tajam pada Tua Tengkorak Mata Api.
"Selamat tinggal Mustika Jajar...!"
"Guru?"
Terlambat. Tua Tengkorak Mata Api telah menghilang dari pandangan mata Mustika Jajar. Gadis itu hanya dapat menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Perkasa! Coba kau tunjukkan kehebatan yang kau miliki!" perintah Mustika Jajar beberapa saat kemudian dengan penuh manja.
"Apakah aku harus menghancurkan bangunan ini, tetua?" tanya Perkasa. Suaranya terdengar begitu serak dan berat.
"Oh... jangan! Di luar bangunan ini banyak terdapat batu-batu besar yang dapat kau pergunakan bahan uji cobamu!"
"Sebaiknya kita ke sana, Tetua!"
Dengan disertai Perkasa, Mustika Jajar meninggalkan ruangan itu. Tidak lama sampailah mereka di halaman luas.
"Aku memilih yang besar!"
Ki Alit, Damerta dan Wiku Palawa ikut menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Perkasa. Sementara laki-laki yang hanya memakai cawat ini mulai menggerakkan tangan-tangannya.
Hanya dalam waktu yang sangat singkat, tubuh Perkasa telah mengeluarkan cahaya kemerah-merahan seperti bara. Suasana di sekitarnya berubah panas. Hingga membuat Mustika Jajar dan begundal-begundalnya terkesiap kaget.
"Hiaa...!"
Terdengar suara teriakan menggeledek. Lalu kedua tangan Perkasa dihentakkannya ke depan
Wuut! Wuut!
Wuus!
__ADS_1
Tiga bola api melesat dari telapak tangan Perkasa. Kemudian dari mulutnya yang terbuka melesat pula bola api yang sama. Melesat keenam sasaran sekaligus. Ini merupakan sebuah kenyataan yang sangat langka.
Buum! Buum!
Ledakan-ledakan dahsyat terjadi berturut-turut hingga membuat suasana seperti mau kiamat saja layaknya. Batu-batu sebesar kerbau yang terkena pukulan Perkasa hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu. Suasana di sekeliling mereka menjadi gelap gulita. Damerta, Ki Alit bahkan sempat terpelanting akibat terpengaruh getaran yang ditimbulkan oleh pukulan itu. Sedangkan Wiku Palawa tergetar tubuhnya. Ia mempergunakan tongkatnya untuk tetap bertahan. Mustika Jajar sendiri terpaksa mengerahkan tenaga dalamnya agar tidak sampai terjatuh.
Perkasa terus mengumbar pukulan-pukulan dahsyat yang dimilikinya, hingga membuat batu-batu menjadi porak poranda. Ledakan-ledakan terus terdengar. Bola api berpijar menghantam sasaran apa saja yang dikehendaki oleh si Perkasa.
"Cukup! Cukup Perkasa...!" kata Mustika Jajar.
"Kalau tetua mengatakan sudah cukup, maka aku segera menyudahinya!" sahut Perkasa dalam kegelapan akibat debu-debu yang berterbangan.
Benar saja, Perkasa menghentikan pukulan-pukulan dahsyat yang dimilikinya. Suasana kemudian berubah seperti biasa kembali. Cuma kali ini pemandangan disekeliling mereka benar-benar tidak enak dilihat mata. Pecahan-pecahan batu bertebaran di mana-mana.
Sementara bila Mustika Jajar memandang ke arah Perkasa. Jelas sekali terlihat bahwa laki-laki yang hanya memakai cawat ini sama sekali tidak mengalami kelelahan.
"Kau benar-benar sangat Perkasa sesuai nama yang diberikan guru kepadamu." puji Mustika Jajar bangga.
"Aku tercipta dari api. Karena itu adalah kekuatan sekaligus asal-usulku. Untuk kepentingan orang-orang yang mengabdi pada para iblis. Tidak salah rasanya jika penghulu kegelapan memberikan yang terbaik pada tetua." jawab si perkasa kalem.
"Penghulu kegelapan?" tanya Wiku Palawa tercengang.
"Penghulu kegelapan adalah rajanya dari seluruh para iblis dan setan." jelas Mustika Jajar yang memang sudah banyak tahu tentang hal ini.
"Benar... memang dari sanalah asalku! Sekarang aku ini bertanya tetua? Tugas apakah yang harus kukerjakan?"
"Tugasmu tidak sulit! Untuk pertama kau mengawalku di mana saja aku pergi. Sedangkan untuk meneruskan pekerjaan Sugriwa yang tewas di tangan seseorang kuserahkan pada Damerta dan juga uwa Wiku Palawa. Di samping bunuh siapa saja yang mencoba merintangi gerakan kita. Aku yakin mungkin dalam waktu tidak sampai satu purnama, kita telah berhasil menguasai rimba persilatan di tanah Jawa ini."
"Jika orang-orang itu telah mati semua, kita dapat membuat generasi baru. Yaitu generasinya para iblis!" ujar Wiku Palawa.
"Benar... dan sebaiknya kalian berangkat sekarang untuk menyapu bersih golongan-golongan yang tidak pernah sejalan dengan kita!" kata Mustika Jajar.
Tidak lama kemudian berangkatlah Damerta dan juga Wiku Palawa. Di tengah jalan mereka berpisah.
__ADS_1
Damerta dan Ki Alit bergabung menjadi satu kelompok. Sedangkan Wiku Palawa melakukan perjalanan seorang diri menuju ke arah timur.