
Pendekar Blo'on turun lagi. Setelah jarak mereka semakin bertambah dekat, maka terlihatlah dengan jelas bahwa gadis berbaju putih itu tidak lain adalah dia yang berada di dalam perahu tadi.
Suro Blondo tidak begitu menghiraukannya. Tapi langkahnya jadi terhenti ketika melihat si gadis menghadang langkahnya.
"Aku tidak punya banyak waktu! Kuharap kau mau menyingkir Nisanak!" kata Suro Blondo ketus.
Rupanya ia ingat gadis berkerudung ini begitu jual mahal ketika ia minta tolong untuk menyeberangkannya ke bukit karang ini.
"Hi hi hi! Begitu tergesakah kau? Dan kau telah membunuh orang itu?" bertanya si gadis sambil tersenyum malu.
Suro menatap tajam pada lawan bicara-nya.
"Kau siapa? Mengapa selalu berusaha mencari tahu apa urusanku?"
"Aku… hi hi hi! Kebetulan adalah orang yang tidak suka melihat laki-laki memaksakan kehendaknya pada perempuan," kata si gadis.
"Sedangkan siapa aku kau tidak usah tahu. Cukup kau panggil Kerudung Putih!"
"Kerudung Putih, boleh jadi Malaikat, hantu pocong, kuntilanak, dan sejenis peri panunggu laut. Aku ingin bertanya padamu, kerudung... eh putih...! Apakah kau melihat Katai Muka Mayat terjun tadi?"
"Hmm, kebetulan aku tidak melihatnya. Yang kulihat adalah runtuhnya gua karang di atas sana. Aku takut kau tertimbun. Kalau sampai mati, alangkah baiknya jika mayatmu kuumpankan pada hiu-hiu yang kelaparan itu!"
"Aku ingin pergi sekarang. Tolong minggir, tuanmu mau lewat!"
"Cih sombong sekali kau. Kau pasti ingin mencari Katai Muka Merah?"
Suro Blondo melengak terkejut.
"Kau... bagaimana kau tahu?" tanya Suro Blondo terheran-heran.
"Hi hi hi! Itu adalah persoalan yang sangat mudah. Jika kau bermusuhan dengan Katai Muka Mayat, berarti kau bermusuhan pula dengan abangnya," jelas si Kerudung Putih.
Cuping hidung si pemuda langsungkembang-kempis ketika mengendus bau harum tubuh si gadis.
"Apakah kau tahu di mana kira-kira Katai Muka Merah ini berada...?"
"Hmm... aku bukan mata-mata. Katai Muka Merah adalah manusia angin-anginan. Terkadang ia berada di timur, barat, utara, atau selatan. Atau boleh jadi dia berada di dasar lautan. Ia tidak pernah menetap seperti Katai Muka Mayat yang doyan perempuan itu. Boleh jadi sekarang ini ia tinggal di Muara Kali Condong di daerah Pasuruan bersama muridnya nan cantik jelita. Apakah kau mau ke sana?"
"Ha ha ha! Kebetulan sekali, sekali jalan dua ekor biang penyakit dapat kubekuk!" desis Suro Blondo.
"Siapakah yang kau maksudkan?" tanya si Kerudung Putih terheran-heran.
Tatapan mata si gadis yang bening memandang tajam pada Pendekar Blo'on. Tatapan mata yang mengandung makna begitu dalam. Sehingga membuat Suro Blondo tidak kuat memandangnya berlama-lama.
"Menurut guruku, orang yang telah membunuh kedua orang tuaku adalah kedua manusia katai itu. Selain itu masih ada satu lagi. Yaitu Kala Demit. Dan menurut kabar yang kudengar pula. Kala Demit tinggal di daerah Pasuruan juga," jelas Pendekar Blo'on.
Suro Blondo tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika melihat gadis berkerudung putih memandang ke arah lain.
"Sakitkah kau?" tanya Pendekar Blo'on.
Si Kerudung Putih menggelengkan kepalanya.
"Banyak yang kupikirkan akhir-akhir Ini," kata gadis cantik itu kemudian.
Ia tidak berani memandang pada Pendekar Blo'on. Seperti ada sesuatu yang meresahkan hatinya.
"Kalau boleh tahu, kurasa aku bersedia menjadi pendengar yang baik sebelum melanjutkan perjalanan."
"Aku tidak bisa mengatakannya."
"Kalau begitu tidak apa. Aku juga tidak mau memaksa. Aku sendiri kalau dipaksa juga tidak mau," tegas Suro Blondo sambil menggaruk kepalanya.
"Se... sebenarnya entah mengapa sejak pertama aku melihatmu tadi, aku tidak sampai hati jika sampai terjadi apa-apa denganmu. Kala Demit menurut kabar yang kudengar punya kepandaian segudang. Pukulan yang dimilikinya juga dahsyat! Selama ini belum pernah kulihat seorang pun yang dapat mengalahkannya," jelas si Kerudung Putih.
"Ha ha ha...!" Suro Blondo tertawa membahak. Kemudian seka keningnya yang berkeringat.
__ADS_1
"Roh ayah dan ibuku tidak dapat tenang di alam kubur sana jika aku tidak dapat membalaskan kematian mereka. Aku tidak perduli apakah Kala Demit atau Katai Muka Merah punya kepandaian sebanyak buih di lautan ataupun tujuh lapis langit tembus. Sejak aku turun dari Semeru, aku telah bertekad untuk mencari mereka," tegas Pendekar Blo'on.
"Aku... sudah terlanjur simpati dan ingin bersahabat denganmu."
"Aku suka bersahabat dengan siapa saja, tapi jangan coba-coba mencampuri urusanku!"
Si Kerudung Putih menganggukkan kepala.
"Aku sama sekali tidak bermaksud mencampuri urusanmu," tegas gadis itu.
"Kalau begitu, maaf. Sekarang aku harus pergi!"
Kerudung Putih tidak dapatberkata apa-apa, ketika Suro berlalu. Namun...
"Tunggu...!"
Suro Blondo tidak memperdulikan teriakan gadis itu. Ia terus berlari.
Namun gadis Kerudung Putih terus mengejarnya sehingga Pendekar Blo’on terpaksa hentikan larinya dan memutar badannya menghadap gadis itu kembali.
"Ada apa? Apakah kau ingin menjadi penunjuk jalan bagiku?"
"Eeh... kalau kau mau. Kau dapat mempergunakan salah satu perahu yang terdapat di bawah sana," kata si gadis dengan muka bersemu merah.
"Wah... sekarang kau baik sekali. Terima kasih sekali," jawab Pendekar Blo'on,
Apakah aku harus membayarnya?"
Gadis Berkerudung Putih menggelengkan kepalanya pelan. Benar saja, ketika pemuda berambut hitam kemerahan ini sampai di pinggir pantai bukit karang, dilihatnya ada dua perahu berukuran sama tertambat di situ.
"Dia begitu baik. Tapi aku tidak tahu maksud baiknya. Siapa dia? Mudah-mudahan saja ia bukan anak kuntilanak atau penunggu teluk ini," bathin si pemuda.
Suro melepaskan salah satu perahu. Dengan mempergunakan perahu tersebut, Pendekar Blo'on menyeberangi selat yang cukup lebar. Sementara gadis Berkerudung Putih berdiri mematung di tempatnya. Wajahnya yang cantik berubah sendu. Sekarang ia menjadi ragu apakah ia harus mengikuti pemuda polos yang telah menyita perhatiannya dalam satu hari ini atau membiarkannya tewas di tangan Kala Demit?
"Aku harus mencegahnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diingini terjadi padanya," bathin si Kerudung Putih.
Dewi Kerudung Putih kemudian menuruni bukit karang. Tidak lama ia telah mendayung perahunya menyusul Pendekar Blo'on.
Sepanjang perjalanannya menuju Pasuruan ia menjadi ragu-ragu. Entah mengapa ia merasa suka pada pemuda berambut kemerah-merahan ini. Padahal selama ini ia merasa belum pernah jatuh hati pada pemuda tampan mana pun. Tetapi yang satu ini terasa lain dari yang ada. Ia ingat betul ketika mencuri pandang pada si pemuda. Jantungnya berdetak lebih cepat, hatinya gelisah tidak menentu. Tatapan Pendekar Blo'on begitu polos dan menggetarkan.
Tidak biasanya si Kerudung Putih yang biasanya dapat bersikap tegas itu kini menjadi gadis yang seperti kehilangan keberanian. Keragua-raguan itu terus mengiringi perjalanannya menuju ke Pasuruan.
***
Muara Kali Condong ternyata sangat jauh lagi dari Pasuruan. Pemuda baju biru muda ini merasa perlu menangsal perutnya sebelum sampai ke tempat tujuan. Tapi di sepanjang jalan yang dilaluinya sangat jarang sekali warung penjual makanan. Kalupun ada itu pun sudah penuh sesak oleh pengunjung.
"Kalau begitu aku harus mencari warung lain. Tapi... eh, sebaiknya aku bertanya pada orang di depan itu. Siapa tahu mereka dapat memberiku petunjuk di mana kira-kira Kala Demit berada."
Setelah memikir sampai ke situ akhirnya ia menemui seorang laki-laki yang kebetulan lewat di depannya.
"Ki... apakah Aki kenal dengan Kala Demit?"
Si laki-laki miringkan wajahnya. Telinga digerak-gerakkan.
"Apa... di sini memang daerah yang ramai. Kalau mau jual atau beli ayam di ujung pasar sana." Laki-laki itu berlalu.
Pendekar Blo'on geleng-gelengkan kepala.
"Orang itu mungkin tuli. Orang bertanya Kala Demit, dia malah bicara soal ayam! Dasar edan...!" Si pemuda menggerutu, lalu berjalan lagi.
Tidak lama ia bertemu lagi dengan seorang pemuda. Pemuda itu bibirnya agak sumbing. Suro Blondo lambaikan tangan dan bertanya lagi:
"Saudara... apakah saudara tahu di mana tempat tinggal Kala Demit?"
Pemuda itu memandang ke arah Suro Blondo, menelitinya sebentar sambil berkata:
__ADS_1
"Hohala hertanya henhang Hala Hemit?Holang haik hihu hinggal hihak hauh haii hini."
Mendengar jawaban si pemuda sumbing Suro Blondo jadi garuk-garuk kepala karena tidak mengerti.
"Apa sih maksudnya?"
Si pemuda sumbing jadi jengkel melihat pemuda konyol di depannya. Lalu ia rapatkan bibirnya yang sumbing. Ia bicara dekat sekali dengan telinga Suro Blondo. Dengan merapatkan bibir suaranya semakin jelas.
"Saudara bertanya tentang Kala Demit? Orang baik itu tinggal tidak jauh dari sini, to lol!"
Pemuda sumbing segera berlalu. Suro Blondo hampir-hampir tidak dapat menahan tawanya. Karena perjelasan itu dianggapnya kurang cukup, maka ia menghampiri seseorang anak kecil yang sedang bermain di halaman.
"Dik! Di mana ya Kala Demit tinggal?"
Bocah berusia sekitar sebelas tahun itu memandang pada si pemuda, lalu senyumnya mengembang.
"Dari sini abang terus saja, setelah itu belok ke kiri, setelah ke kiri terus belok ke kanan, lalu ke kiri lagi, kemudian ke kanan. Sampai di ujung jembatan bambu abang terus saja, lalu belok ke kiri, lalu ke kanan. Jika abang melihat patok-patok kuburan, nah dari situ sudah terlihat rumahnya."
Suro Blondo garuk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Kepalanya menjadi pusing setelah mendengar keterangan si bocah.
"Sial betul! Di dunia ini namanya belokan memang cuma ada dua. Kalau tidak ke kiri ya ke kanan. Akh... bodohnya aku. Mengapa kena dikerjai oleh bocah ingusan?"
Suro menggerutu sendiri, tanpa mau bertanya-tanya lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk menelusuri jalan sebagaimana yang dikatakan oleh si bocah. Langkahnya cepat, mulutnya berkomat-kamit menghitung banyaknya tikungan yang telah dilaluinya
"Kiri-kanan. Hem, kiri lagi. Kiri-kanan. Weleh-weleh banyak sekali tikungan di sini. Berarti bocah itu tidak bohong, ia jujur. Untungnya aku bertemu dengan anak lugu. Hmm, sekarang kanan... ha ha ha... kiri lagi... dan... kalau tidak salah itulah jembatan bambu yang dimaksudkannya. Tapi mengapa tidak kulihat patok-patok kuburan? Jangan-jangan anak itu membohongiku. Ah... bohong apa bukan ya... bukan apa bohong ya... bukan bohong!" kata si pemuda sambil berjingkrak ketika melihat sebuah tempat pemakaman yang luas terbentang di seberang jembatan sungai.
Suro Blondo bergegas menyeberang. Tapi di depan mulut jembatan, langkahnya tertahan ketika melihat sebuah papan peringatan. Bertulis....
Sudi jembatan gila
Jika datang mengusung mayat,
berarti selamat
Jika tiba membawa niat baik,
berarti manusia cerdik
Andai datang membawa dendam danamarah
berarti celaka...!
"Omong kosong!" Suro Blondo tersenyum mencibir.
"Pasti semua ini perbuatan Kala Demit. Betapa sok tahunya manusia busuk yang satu itu. Aku, Suro Blondo datang ingin menuntut balas. Hei….. jembatan gila, sinting, miring. Coba tunjukkan kebolehan gilamu!"
Baru selesai ia berucap, maka pemuda ini mulai menyeberangi jembatan bambu yang lebarnya tidak lebih dari satu meter ini. Di bawahnya lebih kurang sepuluh tombak sebuah jeram berbatu dan deras airnya menanti tubuhnya. Pendek kata tarpeleset sedikit saja nyawa tidak akan tertolong.
Dengan gerakan ringan Pendekar Blo'on mulai menyeberang. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja jembatan tersebut bergetar. Getaran itu disertai guncangan keras, hingga membuat si pemuda nyaris terlempar dari atas jembatan.
"Benar! Sudi Jembatan edan... Ee, bagaimana ini? Bambu-bambu ini terus bergerak seperti ada yang mengayunnya, Kalau begitu aku harus merangkak di atasnya...."
Suro Blondo akhirnya terpaksa merangkak dengan kedua kaki dan tangannya. Sesekali ia harus berpelukan erat pada batang bambu untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Jika semula gerakannya lambat, semakin lama dan semakin ke tengahsemakin dipercepatnya. Sampai akhirnya ia benar benar sampai ke seberang dengan selamat.
"Puuuuh...!" Si pemuda menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
"Jembatan gila si Sudi tidak bisa dianggap main-main!"
Pemuda berambut kemerahan bertampang to lol berwajah tampan ini memandang ke sekelilingnya,Di ujung tanah pemakaman itu ia melihat sebuah rumah sederhana berdiri tegak dengan tenangnya.
Selain rumah yang satu itu, memang tidak ada rumah-rumah penduduk lainnya.
"Kala Demit memang manusia cerdik. Ia memilih tempat tinggal dekat kuburan agar aku tidak susah-susah menguburkannya!"
__ADS_1