
Pada saat yang sama Satu Penyair Tujuh Bayangan sudah melepaskan totokan pada bagian jalan suara Dewi Bulan. Begitu terbebas dari totokan gadis ini langsung bicara.
"Sebenarnya aku sudah memenuhi keinginanmu. Sekarang bebaskan aku! Pemuda itu perlu ditolong. Aku tidak suka ia kawin dengan anak ib lis!" semburnya.
Ratu Penyair Tujuh Bayangan tersenyum.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kulihat tatapan matamu dan kau menyukainya. Tapi jangan khawatir aku pasti akan membantumu. Kini niatku telah berubah setelah melihat Raja Penyihir ada disini. Kurasa ada yang tidak beres bakal terjadi!"
Dewi Bulan terkejut bukan main mendengar Ratu Penyair Tujuh Bayangan menyebut-nyebut tentang ahli sihir.
"Nisanak, siapakah kau sesungguhnya. Kau berdiri dipihak mana?"
"Di tengah-tengah. Iblis juga sahabatku, walau tidak jarang aku juga berkawan dengan orang-orang lurus. Tapi jangan takut. Aku paling tidak bisa melihat kekejian." desah Ratu Penyair.
"Kudengar tadi pemuda itu menyebut tentang kacung. Kalau kau bisa menyamar, sebaiknya menyamarlah sebagai kacung. Sementara aku sendiri akan menyelidik apa yang tersembunyi dibalik undangan merah ini!"
Tees! Tees!
Ratu Penyair Tujuh Bayangan membebaskan totokan Dewi Bulan. Sebelum berkelebat pergi ia masih sempat berpesan.
"Hati-hati kau bertindak. Sekali langkahmu tercium oleh mereka. Maka setiap jengkal tanah disini akan mendapat pengawasan yang sangat ketat dari anggota mereka!"
Dewi Bulan yang semula merasa curiga atas kehadiran Ratu Penyair Tujuh Bayangan, kini hanya menganggukkan kepala. Secara diam-diam ia meninggalkan pohon yang mereka jadikan tempat bersembunyi sejak tadi.
Sementara itu sepasang mempelai telah disandingkan. Dandanan Pendekar Blo'on sangat lucu sekali. Tidak jauh dari kursi pengantin, para hadirin kini sedang berpesta pora. Tidak lupa ular Kayangan yang telah dimasak dengan cara khusus disajikan. Bau arak wangi dan aneka roma berbagai jenis makanan berbaur menjadi satu. Kenyataan ini membuat Gajah Gemuk merasa menjadi lapar seketika.
"Kita harus ikut mencicipi hidangan itu sekaligus menyelidik apakah ular-ular berkhasiat milik kita telah menjadi hidangan ini!"
"Jangan...!" cegah Gajah Krempeng.
"Aku seperti mencium bau sesuatu yang sangat khas. Kurasa inilah yang dinamakan Racun Pelumpuh akal."
"Apa?" Gajah Gemuk belalakkan mata.
"Racun Pelumpuh Akal? Aku tahu kini. Bukankah racun itu gunanya untuk menghilangkan akal sehat seseorang. Siapakah yang memakannya ia akan menjadi patuh pada orang yang menguasainya. Tapi untuk apa Diraja Penghulu Iblis melakukannya?"
"Kurasa ada rencana besar dibalik semua ini. Jika orang-orang itu telah keracunan, tentu mereka tidak ubahnya seperti orang bodoh. Mereka akan menjadi penurut dan melakukan semua perintah orang yang telah meracunnya. Dan kurasa ini ada hubungannnya dengan ular Khayangan milik kita yang dicuri oleh Buto Terenggi. Jika ular-ular itu sekarang telah diolah dan dihidangkan, bukankah para undangan yang telah terkena racun akan memiliki tenaga cukup besar untuk membantu Diraja Penghulu Iblis. Tenaga mereka yang berlipat ganda itu akan sangat berguna sekali. Tidak ada orang yang dapat menghentikan mereka...!"
Gajah Krempeng bergidik seram.
"Aku hampir tidak percaya mereka punya rencana besar. Rencana apa?" desis Gajah Gemuk.
__ADS_1
"Itu gunanya jika kita mau menyelidik. Sebelum kita pergi apakah kau melihat ada bayangan berkelebat dari atas pohon tadi?"
"Aku tidak melihatnya, perhatianku selalu tertuju pada pemuda itu."
"Sudahlah, sekarang sudah waktunya kita bergerak!"
Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng kemudian keluar dari tempat persembunyiannya. Kemudian dengan mengendap-endap mereka mulai mengitari bangunan besar itu dari belakang.
Tepat seperti yang dikatakan oleh Gajah Krempeng. Para undangan yang terdiri dari tokoh-tokoh aliran hitam ini setelah menyantap hidangan tampak berubah lain. Tatapan mereka tampak kosong, sementara keringat terus bercucuran di kening dan tubuh mereka. Anehnya tidak seorangpun diantara mereka yang berani bicara.
Saat itu hari sudah berubah senja. Matahari hanya tinggal bayang-bayang merah yang menyeruak di celah-celah dedaunan.
Suro Blondo yang duduk di samping Maya Swari tentu saja merasa heran sekali melihat perubahan ini. Cuma ia tidak mau menanyakan pada Maya Swari.
Saat malam tiba, pengantin masuk ke dalam kamar mereka. Sementara para undangan sekarang malah bertindak menjadi pengawal di luar bangunan yang cukup besar itu.
Kenyataan ini memang sangat mengherankan. Bagaimana mungkin orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi ini bisa takluk bahkan kini seperti telah berubah menjadi para abdi yang paling setia pada Diraja Penghulu Iblis.
Hanya orang-orang yang mempunyai otak cerdas saja yang tahu, bahwa Diraja Penghulu Iblis telah mempergunakan cara yang paling halus untuk membuat tokoh-tokoh golongan menjadi tunduk padanya. Itulah kunci dari kehebatan 'Racun Pelumpuh Akal'.
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini mulai bertindak dengan sangat hati-hati. Sedikit banyak ia menjadi lega juga ketika melihat seorang pengawal merangkap murid Diraja Penghulu Iblis mengantar seorang laki-laki berkumis tipis dengan tahi lalat di dagu ke kamarnya. Walaupun sebenarnya Suro Blondo merasa kaget atas kemunculan Dewi Bulan yang tidak disangka-sangka ini. Tapi ia telah bertekad untuk membicarakan masalah yang sedang dihadapinya. Ia lalu tertawa melihat sang kacung ini yang sempat mendelik padanya.
"Aku tentu saja tidak keberatan, Kakang Pangeran...!" Maya Swari memperhatikan kacung yang berkumis tipis dan berpakaian kedodoran ini.
"Siapa namamu?"
"Margonda, Gusti Putri."
"Margonda nama yang cukup bagus. Tolong sediakan hidangan buat kami malam ini, Margonda!" kata Maya Swari lembut. Dan sebenarnya walaupun ia anak dedengkotnya para iblis, Maya Swari sebenarnya berhati lembut, polos dan penuh pengertian.
"Baik, segera hamba kerjakan." Margonda alias Dewi Bulan berlalu meninggalkan ruangan pengantin itu dengan dikawal oleh seorang pengawal bersenjata tombak. Pengawalan ini sesungguhnya membuat Margonda tidak dapat bergerak dengan leluasa. Apalagi sebelumnya ia telah mendapat kisikan dari Ratu Penyair Tujuh Bayangan bahwa semua makanan disitu telah dibubuhi Racun Pelemah Akal. Apapun alasannya yang jelas tuan rumah punya maksud-maksud yang tidak baik.
Ketika ia sampai di dapur tidak tahunya hidangan itu untuk pengantin telah disediakan. Jadi Margonda hanya tinggal membawanya sekarang. Hidangan ini jelas tidak boleh dimakan oleh Suro Blondo kalau ingin dirinya selamat. Tapi bagaimana membuang nya dan menggantikannya dengan hidangan lain. Sedangkan pengawal itu terus mengawasi gerak geriknya.
Bagi Dewi Bulan alias Margonda sebenarnya tidak sulit untuk merobohkan seorang pengawal. Tapi setiap sudut selalu dijaga oleh orang-orang tertentu. Jika ia nekad membungkam pengawal yang terus mengikutinya. Bukan mustahil penyamarannya akan terbongkar.
Dalam keadaan bingung seperti itu tiba-tiba Dewi Bulan teringat sesuatu. Ia menyelipkan sepotong ubi di tengah-tengah nampan tanah. Di tengah-tengah potongan ubi rebus itu ia susupkan dua butir pil berwarna putih. Dua obat mujarab pemberian gurunya ini bukan sembarang obat. Karena diambil dari bisa ular merah dicampur ramuan lain. Fungsinya akan melumpuhkan pengaruh racun lainnya didalam tubuh seseorang setelah itu racun ular merah itu setelah bekerja tidak akan membahayakan keselamatan jiwa yang memakannya.
Tidak lama kemudian ia telah sampai kembali di kamar pengantin. Maya Swari tentu saja terheran-heran ketika melihat Suro Blondo menyambar potongan ubi itu lalu memakannya dengan lahap.
"Aih... Kakang, mengapa makan ubi. Bukankah hidangan lainnya cukup lezat?" tegurnya.
__ADS_1
"Biasanya sebelum makan yang enak-enak kacungku ini memang kuminta menyediakan sepotong ubi. Kalau tidak manalah makanku lahap!"
Maya Swari yang sesungguhnya benar-benar sangat mencintai Suro Blondo sejak pandangan pertama langsung tersenyum. Dengan dibantu oleh Margonda ia meletakkan hidangan itu diatas meja kecil. Sikap Maya Swari yang begitu manja membuat Dewi Bulan selalu menundukkan kepala.
Hidangan telah tersedia Margonda meninggalkan ruangan pengantin. Ketika Suro Blondo hendak mencicipi salah satu hidangan. Tiba-tiba Maya Swari mencegahnya.
"Kakang sebaiknya makanan ini kita bubuhkan penyedap khusus." desah gadis itu. Tapi diam-diam keningnya berkerut. Dalam aroma hidangan dia seperti mencium bau Racun Pelemah Akal. Siapa yang telah membubuhkannya? Sungguhpun ia kebal terhadap racun itu. Tapi bagaimana jika racun yang berbau harum sebagai aroma masakan ini termakan oleh suaminya?
Untuk menghindari kecurigaan Suro Blondo ia berpura-pura untuk membubuhkan penyedap khusus. Padahal ia ingin membubuhkan penangkal racun itu agar Suro Blondo terhindar dari bahaya.
Maya Swari menjadi curiga pada ayahnya. Janganjangan sang ayah sengaja meracuni Suro Blondo. Tapi apa tujuannya?
Sementara itu Suro Blondo sudah mencomot salah satu masakan dan memakannya sebelum Maya Swari membubuhkan penyedap sebagaimana yang dikatakannya tadi.
"Kakang mengapa dimakan?" tanya Maya Swari dengan terkejut.
"Bukankah hidangan ini khusus disediakan buatku?"
Mendengar ucapan Suro Blondo, gadis itu jadi kehilangan kata-kata. Mereka pun makan bersama-sama. Tentu saja setelah Maya Swari membubuhkan menyedap berwarna merah di dalam botol. Selesai makan Maya Swari tidak langsung tidur. Ia pamitan untuk bicara dengan ayahnya sebentar. Ini kesempatan baik Dewi Bulan untuk bicara dengan Suro Blondo.
"Aku benci melihat kau berdekatan dengan gadis itu. Walaupun aku tahu kau hanya berpura-pura menjadi suaminya. Kesempatan itu tidak akan kau dapatkan bila kau tidak makan obat didalam ubi tadi. Tahukah kau bahwa hidangan ini telah dibubuhi Racun Pelemah Akal?"
"Aku sudah tahu, tapi tidak tahu nama dan jenis racunnya. Reaksi obat yang kau berikan sudah kurasakan sejak tadi. Bagaimana kau bisa sampai kemari. Dan apa sesungguhnya rencana Diraja Penghulu Iblis?"
"Yang tidak penting jangan ditanya dulu. Yang jelas seseorang telah membawaku kemari dan sekarang sedang menyelidik. Kurasa Diraja Penghulu Iblis dan kawan-kawannya punya rencana besar dan keji. Kuharap kau tidak tidur dengan anak gadis itu malam ini!"
"Kau cemburu?" tanya si pemuda sambil cengengesan.
Dewi Bulan merengut.
"Jangan banyak omong. Kau mempunyai kepandaian lebih tinggi dariku. Sebaiknya kau mulai menyelidik sebagaimana yang dilakukan oleh kawanku!"
"Kalau begitu kau harus menyamar menjadi aku sedangkan aku menggantikanmu!"
"Bagaimana dengan rambutku? Apakah kau dapat menirunya?"
Dewi Bulan membuka penutup kepalanya. Rambutnya yang tergerai dan berwarna hitam kini telah berwarna kemerah-merahan. Rupanya sebelum masuk ke dalam ruangan pengantin ia telah mewarnai rambutnya dengan sejenis daun yang ditumbuk halus.
Tanpa bicara lagi ia langsung merias wajah Pendekar Blo'on. Cara kerjanya cekatan sekali. Karena sesungguhnya Dewi Bulan sangat ahli dalam menyamar. Hanya sebentar Suro Blondo telah berganti rupa seperti Margonda sang pelayan.
Sedangkan Dewi Bulan sendiri segera bertukar pakaian dengan si pemuda. Karena pakaiannya berlapis-lapis, tentu auratnya tidak terlihat. Tidak sampai sepuluh menit Dewi Bulan telah berubah seperti Suro Blondo pemuda ini berdecak kagum atas keahlian yang dimiliki oleh Dewi Bulan.
__ADS_1