
"Aku adalah orang yang tersesat dan ingin mencari jalan menuju daerah Malaya. Eeh... apakah kalian mengetahui arah yang hendak kutuju?" tanya Mustika Jajar.
"Sebaiknya Nisanak menuju ke arah timur!" sahut Panji bersungguh-sungguh.
"Hmm, begitu. Kalau pulau Seribu Satu Malam apakah kalian tahu di mana letaknya?"
Sapala dan Panji menggelengkan kepalanya.
"Maaf kami tidak tahu. Mendengar namanya saja baru kali ini!" ujar Sapala.
"Sayang sekali kalian tidak tahu. Oh ya kalian sendiri hendak kemana, dua pemuda gagah?"
Panji dan Sapala saling berpandangan. Salah seorang di antara mereka lalu menyahuti.
"Kami ingin pergi ke suatu tempat!"
"Aku tahu kalian pasti mengejar para algojo yang menculik beberapa puluh pemuda untuk dikerahkan menjadi tenaga pekerja paksa, bukan?" Gadis berbaju ungu tiba-tiba saja tertawa mengekeh. Lalu pinggulnya digoyang-goyangkan membentuk sebuah gerakan yang sangat merang sang.
Sapala dan Panji terkejut bukan main. Bagaimana mungkin gadis berpakaian merang sang ini dapat mengetahui rencana perjalanan mereka? Apakah tadi dia sempat mencuri dengar apa yang mereka bicarakan?
"Kuharap Nisanak tidak mencampuri segala urusan kami!" Sapala memperingatkan.
"Hi hi hi...! Untuk apa mengejar para algojo itu? Apakah kalian tidak tertarik melewatkan malam yang indah bersamaku malam ini? Hik hik hik!"
Dengan sengaja Mustika Jajar melepas salah satu kancing bajunya, sehingga sebagian payudaranya yang kencang itu menyembul keluar. Sebagai pendekar golongan lurus dan berhati bersih, Sapala dan Panji cepat-cepat palingkan muka ke arah lain dengan wajah bersemu merah.
"Hah... kalian rupanya benar-benar manusia banci. Baiklah, karena kalian bermaksud pergi ke Bumi Ayu. Tidak ada salahnya jika aku menjajal sampai di mana kepandaian yang kalian miliki!" Gadis berbaju ungu menutup ucapannya dengan satu serangan dahsyat yang tidak terduga sama sekali.
"Hiyaaa...!"
"Wuus!"
Sapala dan Panji yang tidak menyangka akan mendapat serangan yang sedemikian cepat ini langsung melompat mundur. Serangan pertama luput, namun mereka sempat merasakan sekujur tubuh mereka seperti ditusuk-tusuk ribuan batang jarum. Sadar lawannya menghendaki nyawa mereka. Maka tanpa sungkan-sungkan lagi mereka mencabut pedang yang miliki ketajaman pada kedua sisinya.
"'Jurus Hati Suci'!" teriak Panji memberi aba-aba. Pedang di tangan kemudian diputar sedemikian cepat. Angin menderu-deru. Hanya dalam waktu yang teramat singkat senjata di tangan mereka telah berubah menjadi gulungan sinar putih yang sangat menyilaukan mata. Kehebatan jurus yang dimiliki oleh mereka adalah kecepatan dan kekompakannya dalam melancarkan setiap serangan. Demikian juga yang terlihat pada saat itu. Namun lawannya malah tertawa mengikik. Mustika Jajar yang dalam keadaan terkurung sinar senjata lawannya ini tampak melesat ke udara.
"Haap...!"
"Shaaa...!"
"Wuuss!"
Segulung sinar hitam melesat dari sekujur tubuh gadis berbaju ungu. Sinar berhawa dingin menggidikkan itu menyapu lawan-lawannya dengan hanya dalam tempo sekedipan mata saja. Panji dan Sapala terdorong ke belakang. Mereka merasa sulit menggerakkan pedangnya. Bahkan tubuh mereka sendiri cepat terdorong, sungguhpun mereka berusaha bertahan. Bahkan telah mengerahkan tenaga dalam untuk mengha-lau pengaruh serangan aneh itu, tetap saja terlempar.
__ADS_1
"Aaakh...!"
"Braak!"
Sapala dan Panji jatuh terbanting. Celakanya mereka sama sekali tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Adalah sungguh mengejutkan jika pendekar seperti mereka berdua ini dapat terkalahkan dengan mempergunakan ilmu menotok jarak jauh.
Jika saja lawannya memang bukan orang yang memiliki kepandaian yang benar-benar sangat tinggi. Mustahil mereka dapat dijatuhkan hanya dalam waktu beberapa gebrakan saja.
"Bang sat pengecut! Lepaskan kami...!" teriak Panji. Ia menjadi berang karena ternyata lawannya telah memperdayai mereka.
"Tidak ada gunanya kalian mema ki! Kalian telah menjadi tawananku!" dengus Mustika Jajar.
Gadis ini kemudian mengambil dua utas dari kulit kayu waru. Sebuah kecerdikan sekarang terlintas dalam hatinya.
"Jika saudagar Bergola Mungkur benar-benar merupakan orang yang kaya raya. Mengapa aku tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk menguasai hartanya? Mengenai musuh besar guruku aku dapat mencarinya kemudian. Tapi aku juga harus ingat harta juga tidak kalah menariknya dengan musuh besar. Kedua pemuda ini dapat kujadikan jembatan untuk mendekati saudagar itu!"
Mustika Jajar tersenyum genit. Seraya kemudian mendekati Sapala dan Panji yang berhasil ditotoknya melalui pertarungan yang sangat singkat itu.
"Kkk... kau mau apa?" tanya Panji gugup.
"Hik hik hik! Kau tidak usah takut. Aku tidak akan menggantung dan membunuh kalian seperti orang yang tidak mau kasih keterangan di jalan! Paling tidak sampai di rumah saudagar Bergola Mungkur!" dengus gadis itu. Kemudian dengan cepat ia mengikat tangan Panji dan Sapala.
"Perempuan ib lis! Mau kau bawa kemana kami?" teriak Sapala.
"Bang sat!"
"Mema kilah sepuasmu! Aku memang ib lis dari neraka. Kalian tidak perlu gusar!" ujar gadis baju ungu. Seraya lalu melompat ke atas punggung kuda milik Sapala. Tali yang mengikat kaki kedua tawanannya disentakkannya. Tidak lama kemudian melesatlah kuda tunggangan itu menyeret Sapala dan Panji.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa si gadis. Sementara di belakangnya terdengar jerit dan lolong kesakitan dari mulut kedua pemuda yang dalam keadaan tertotok itu.
*
"Jtar!"
"Jtarr!"
"Akkkh... ampun Pak... ampun Tuan...!" suara pekik tangis itu menggema meningkahi suara lecutan cambuk di tangan algojo. Beberapa pemuda bertubuh tegap yang baru saja didatangkan dari Kuningan tersungkur dengan tubuh bersimbah darah.
"Di sini tidak ada kesempatan hidup lebih lama lagi bagi seorang pemalas! Tugas kalian adalah mengumpulkan biji-biji emas. Tidak layak membantah apalagi membangkang! Cepat kerja!" bentak kepala algojo itu, lalu cambuk di tangannya diayunkannya tinggi-tinggi.
"Jtar! jtaar…!"
"Walah... walah! Sakitt...!" teriak salah seorang yang tangannya dirantai ini kesakitan. Kepala algojo dan kawan-kawannya tergelak-gelak. Tampaknya semakin banyak darah yang mengalir dari tubuh para pekerja paksa ini semakin membuat puas hati mereka.
__ADS_1
Apa yang terjadi di tempat itu tampaknya tidak lepas dari perhatian seorang pemuda berbaju biru muda. Pemuda berambut panjang sebahu dan memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning ini menggeram marah. Mulutnya pletat-pletot, kepala golang-goleng ke kiri dan kanan.
"Algojo kepala botak itu tampaknya bukan manusia, tapi setan berkedok yang selalu haus darah. Jika terus kubiarkan, tingkah mereka jadi kelewatan!" desisnya.
Dilain kesempatan pemuda ini melangkah tenang menghampiri para algojo yang selalu siap dalam keadaan waspada. Dasa Reksa Sebagai orang yang mengepalai delapan orang anak buahnya tentu saja menjadi heran sekaligus terkejut melihat kemunculan Suro Blondo. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka langsung mengurung Pendekar Blo'on.
Pemuda berbaju biru muda ini garuk-garuk kepalanya. Mulutnya nyengir begitu melihat ulah laki-laki bertubuh tegap ini.
"Heh... hari ini kita dapat tenaga tambahan lagi. Walaupun tampang ku nyuk ini to lol. Tapi rasanya kita dapat memanfaatkan tenaganya untuk menggali emas dalam jumlah besar! He he he... mimpi apa aku semalam?"
"Aha... aku yakin semalam kau telah bermimpi buruk! Melihat badanmu yang lebih besar dari kawan-kawanmu, rasanya tidak salah penglihatanku, kaulah orangnya yang bernama Dasa Reksa? Apakah betul...?" tanya Suro Blondo. Walaupun hatinya kesal bukan main, tapi ia tetap tertawa-tawa.
Dasa Reksa sempat tersentak kaget. Bagaimana mungkin pemuda ini dapat mengetahui siapa namanya? Namun setelah mengingat sepak terjangnya, maka ia merasa tidak tertutup kemungkinan nama besarnya telah dikenal di seluruh penjuru persilatan.
"Kalau kau sudah tahu siapa aku. Bicaralah yang sopan dan sekarang berlutut di depan majikanmu ini. Setelah itu menyalak tiga kali!" perintah Dasa Reksa diikuti tawa anak buahnya.
"Oh... maafkan aku majikan. Sama sekali aku tidak melihat tingginya gunung di depanku. Tapi bolehkah aku bertanya pada majikan yang terhormat?" ucap Suro Blondo sambil membungkuk-bungkukkan badannya.
"Bagus! Rupanya kau tahu bagaimana caranya menghargai orang lain. Sekarang coba katakan apa yang ingin kau tanyakan?" perintah Dasa Reksa, lalu tersenyum. Sementara itu satu dua orang algojo begitu melihat keramahtamahan atasannya terhadap pemuda bertampang to lol yang tidak dikenal itu langsung membubarkan diri.
"Yang ingin kutanyakan adalah berapa harga setiap kepala gundul di sini?"
Dasa Reksa pentang mata lebar-lebar dengan kening berkerut. Sedangkan pemuda di depannya kini. tampak berubah serius.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku sudah jelas, Tuan!"
Suro Blondo mengusap keningnya.
"Kulihat di dataran rendah sebelah sana tulang dan bangkai manusia bertimbun. Kalau dihitung mungkin jumlahnya lebih dari dua ratus biji, eeh... orang maksudku! Berarti sudah dua ratus nyawa melayang menjadi tumbal secara sia-sia. Dan semua itu adalah hasil kejahatanmu dan orang-orangmu. Kini aku datang menagih hutang nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Apakah keterangan ini sudah cukup jelas bagimu?"
"Huh..., puih, pemuda edan dari mana kau! Berani-beraninya kau mengungkit-ungkit segala persoalan yang terjadi di sini? Apakah kau pikir kau mampu melakukannya?" bentak Dasa Reksa. Wajah sampai kepala botaknya berubah merah padam.
"Pruuuh... ha ha ha ha...! Dasa Reksa. Sudah kukatakan aku datang kemari ingin membebaskan orang-orang di dalam gua penggalian emas. Tentu saja sekalian mencopot kepala kalian dari badan!"
"Ke parat! Kau benar-benar tidak tahu penyakit! Hiaaa...!"
Disertai satu teriakan melengking tinggi. Dasa Reksa melompat ke depan. Tangannya yang kokoh dan besar itu mencengkeram ke bagian leher. Ia berpikir hanya dengan sekali gebrak saja, tentu kepala pemuda tampan bertampang ***** terpotes dari kepalanya.
Tapi ternyata dugaan Dasa Reksa benar-benar meleset. Laksana kilat Suro Blondo yang telah memperhitungkan segala sesuatunya ini berkelit ke samping. Serangan itu hanya menyambar tempat kosong. Karena saat menyerang tadi Dasa Reksa mengerahkan tenaga dalam yang cukup tinggi. Maka kini setelah tidak mencapai sasarannya membuat ia kehilangan keseimbangan.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Suro Blondo untuk membetot tubuh lawannya. Dengan satu sentakan yang sangat keras tubuh besar itu melayang dan tersungkur mencium tanah keras.
__ADS_1
Dasa Reksa menggerung. Hidungnya yang membentur tanah patah dua dan berubah lembam membiru. Sambil meringis kesakitan ia bangkit berdiri. Matanya merah beringas. Memandang penuh kekejaman pada Suro Blondo. Yang dipandang malah tersenyum sambil garuk-garuk belakang kepalanya.