Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
4


__ADS_3

Sekejap mereka sempat terkesiap. Tapi dengan sangat mengagumkan mereka merundukkan kepala sambil hantamkan satu jotosan ke dada Dewi.


Cras!


Sebagian kuncir salah satu manusia katai ini rontok tersambar ketajaman golok di tangan Dewi.


Katai muka kuning mengeluarkan seruan tertahan. Untung hanya rambutnya yang terpotong, jika lehernya. Tentu katai muka kuning sudah tergusur ke neraka.


Setelah Dewi Rini merasa gagal hantamkan goloknya ia cepat bersurut langkah. Serangan katai muka merah luput. Hal ini membuatnya marah bukan main.


Denganberingas ia menerjang lawannya dengan serangan menggeledek. Dewi yang dalam keadaan lemah ini mati-matian mempertahankan diri.Sementara tanpa sepengetahuan mereka yang terlibat pertempuran.


Bayi yang baru berumur beberapa jam ini secara aneh tampak merangkak menuruni ranjang.


Setelah itu seperti menyadari adanya bahaya yang menghadangnya. Ia terus menelusup ke tempat-tempat gelap di dalam ruangan.


Sesekali matanya berkedip-kedip. Seberkas sinar putih terus menerus membimbingnya. Dengan cara merangkak seperti anak yang telah berumur delapan bulan. Ia menyelinap


di balik pintu.


Kemudian merangkak terus sampai di pintu belakang yang hancur berantakan.


Sampai di depan pintu belakang. Ia celingak celinguk. Selanjutnya merangkak lagi menuju kegelapan malam lereng Gunung Bromo.


Disaat itulah cahaya putih seperti meteor tampak berpedar-pedar. Cahaya itu bergerak mengikuti ke mana bergeraknya bayi. Kilat tiba-tiba menyambar. Cahaya putih memijar dan membentuk sosok tubuh seorang laki-


laki.


Laki-laki berbaju serba putih yang seakan datang dari langit ini melesat ke permukaan lereng dan langsung menyambar si bayi. Bayi itu kemudian di dukungnya. Seraya tertawa-tawa seperti orang linglung.


Matanya meneliti bayi yang ada dalam gendongannya. Dan setelah mengetahui keadaan si bayi. Gema suara tawanya semakin memanjang.


"Ha ha ha. Ilmu Penuntun Sukma telah membuatmu selamat calon muridku!" kata laki-laki berambut, berjambang dan berjenggot serba putih ini sambil berlari menuju ke jurusan utara.


Sementara itu di dalam pondok, pertarungan seru masih terus berlanjut. Satria Purba ternyata telah mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Bahkan kemudian satu tendangan telak menghantam remuk dadanya. Sehingga membuat laki-laki ini jatuh tergelimpang dengan mulut menyemburkan darah.

__ADS_1


Kala Demit yang dilanda kemarahan setan rupanya tidak mau bertindak tanggung-tanggung. Ia mengebutkan senjatanya ke wajah Satria Purba.


Craas!


"Akggh!" terdengar suara jeritan Satria Purba yang sedemikian menggidikkan.


Dewi yang sedang bertarung menghadapi dua manusia katai sakti ini rupanya sempat mendengar suara jeritan suaminya.


Walaupun tubuhnya yang dalam keadaan lemah dan terluka parah ini sudah tidak memungkin untuk bergerak. Namun tanpa menghiraukan lawan-lawannya ia meluruk ke depan.


"Kakang!" jeritnya ketika melihat keadaan suaminya tewas secara menggenaskan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh kedua manusia katai yang dikenal dengan julukan 'Sepasang Iblis Pegat Nyawa'.


Laksana kilat mereka menyambitkan senjata rahasianya berupa gigi-gigi ulat berbisa ke arah Dewi.


Wuss!


Dewi yang kurang kontrol dan berada dalam belenggu kesedihan ini sudah tidak dapat menghindari serangan gelap itu. Ia pun hanya mampu menjerit. Tubuhnya ambruk jatuh di atas mayat suaminya.


"Kau satu aku satu! Sekarang aku inginkan bayi itu!" kata Kala Demit.


"Celaka! Bayi itu sudah tidak ada di sini!" teriak salah seorang manusia katai tersebut tanpa menghiraukan ucapan dan kehadiran Kala Demit yang juga telah berada di dalam ruangan yang sama.


"Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi, Adi?" desis katai muka merah pada katai muka kuning yang juga tampak tercengang.


"Mana mungkin bayi dapat hilang begitu saja! Kalian pasti telah bersekutu dengan orang lain untuk menguasai bayi itu!" bentak Kala


Demit.


Rupanya ia merasa curiga.


"Demit jelek. Jangan kau berani membentak kami! Aku datang kemari bersama adikku! Ketika kami bertarung dengan istri pendekar Golok Terbang bayi itu masih berada di tempat tidur," bantah katai muka kuning


berang.


"***** semua!" rutuk Kala Demit. Ia sendiri mulai memeriksa ke dalam ruangan-ruangan lain bahkan sampai ke bawah kolong. Tapi bayi yang diinginkannya tetap tidak dijumpai.

__ADS_1


"Mungkin seseorang telah melarikannya! Kita harus melakukan pengejaran, Kakang!" Katai muka kuning sudah tidak sabar lagi.


"Kita periksa dulu sekitar sini!" teriak muka merah.Pada saat mereka saling bersitegang seperti itulah tiba-tiba terdengar seruan kaget seseorang.


"Oh.... Gusti...!


Rupanya aku benar-benar datang terlambat...! Kedua ke-ponakanku! Hmm... siapa orangnya yang telah berani bertindak lancang dan gegabah ini...!" Suara seruan itu pertama datang dari jarak yang cukup jauh.


Namun ketika kedua manusia katai dan Kala Demit mengintip ke pintu depan melalui sebuah lubang. Maka di depan pintu telah berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berambut serba merah.


"Malaikat Berambut Api...!"


desis mereka hampir serentak.


Tampak jelas ketiga wajah manusia iblis ini


berubah pucat.


"Bayi tidak kudapat. Daripada mati di tangannya, lebih baik aku mencari selamat." membantin Kala Demit dalam hati. Tiba-tiba saja ia melesat meninggalkan kamar Dewi diikuti oleh sepasang Iblis Pegat Nyawa. Gerakan melarikan diri yang sangat luar biasa cepatnya ini sempat terlihat oleh kakek berambut dan berpakaian serba merah ini.


Namun ketika ia hendak melakukan pengejaran. Gerakannya segera tertahan saat mendengar suara rintihan Dewi.


Dengan hati terharu biru, si kakek datang menghampiri dan langsung berjongkok di samping keponakannya dan dalam keadaan tumpang tindih. Malaikat Berambut Api di pulau Seribu Satu Malam yang terletak di tengah-tengah laut pantai selatan ini segera menelentangkan Dewi.


Ia memeriksa keadaan keponakannya itu. Gelengan kepala disertai desisan lemah keluar dari bibirnya yang tertutup kumis serba merah.


"Racun yang terdapat dalam senjata rahasia gigi ular berbisa telah memenuhi jantungnya. Celaka... aku tidak mungkin dapat menyelamatkan jiwanya lagi." desis si kakek bersedih hati.


"Katakan Dewi! Aku telah mengetahui orang-orang yang telah mencelakai dirimu dan juga suamimu. Penciumanku tidak dapat ditipu. Tapi ke mana anakmu?"


Mata Dewi yang terpejam dan kehilangan cahayanya tampak meredup. Wajahnya berwarna biru. Diambang ajal ia tetap berusaha tabah.


"Pp.... Paman.... Ramalan Ki Begawan Sudra itu... ternyata memang terbukti. Hekh... ciri-ciri anakku sama persis dengan apa yang dikatakannya. Si... sinar put... tih... hanya dia yang dapat bergerak seperti cahaya.... Carilah Siluman Kera Putih. Dia yang telah membawa anakku....paman...!" Kepala Dewi Rini terkulai.


Malaikat Berambut Merah yang jarang bicara dalam hidupnya tundukkan kepada dalam-dalam.

__ADS_1


"Orang-orang berjiwa serakah telah membunuh keponakanku. Ternyata sebagai seorang paman aku tidak dapat menjadi pelindungnya. Gusti...! Pada arwah leluhurku dan leluhur kakangku... maafkan adikmu ini. Satu kepercayaan telah kulalaikan. Aku teledor, hingga membuat jiwa-jiwa yang tidak berdosa ini terenggut. Anaknya... cucuku...! Tidak akan kubiarkan lagi siapa pun yang menyentuhnya. Lecet Baja kulit cucuku. Siluman Kera Putih benar-benar akan kubuat ******!" desis Malaikat Berambut Api yang mempunyai nama asli Dewana ini dengan hati masgul. Mayat Sepasang pendekar Golok Terbang ini didukung di bahu kiri dan kanan. Tidak lama kemudian tubuhnya bergerak menuju pulau Seribu Satu Malam untuk menguburkan mayat keponakannya.


__ADS_2