
William membukakan pintu mobil untuk Stella, karena berada di kantor mereka kembali seperti orang asing.
"Stella, aku butuh jawaban kamu nanti malam! pikirkan baik-baik," kata William.
"Tapi, Tuan. Aku benar-benar tidak bisa," ucap Stella.
Stella mengikuti William dari belakang, di dalam kantor mereka tetap seperti atasan dan bawahan. Saat berada di dalam lift William memegang tangan Stella.
"Lepas! nanti ada yang melihat Tuan," kata Stella, berusaha berontak dari pegangan tangan William.
"Kamu lupa kalau di sini hanya ada kita berdua," ucap William.
Setelah sampai di lantai yang mereka tuju, William melepas tangan Stella. Di lantai itu hanya ada ruang kerja William dan Kiana. Berkas yang menumpuk sudah menunggu kedatangan mereka.
"Rico, panggil Kiana!" ucap William.
Rico segera memanggil Kiana, tetapi Kiana menolak untuk ke ruangan William.
"Nona, jangan membuat Tuan menunggu!" kata Rico. Kiana akhirnya mau menemui William di ruang kerja William.
Kiana masuk dan duduk di sofa yang berada di ruang kerja William, lalu dia memperhatikan Stella yang sedang fokus dengan berkasnya.
"Kiana, kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Stella.
__ADS_1
"Em... Aku! maksud ku, kamu hari ini kelihatan cantik sekali," jawab Kiana.
"Kiana, ada apa kamu mencari ku?" sahut William.
"Yang memanggilku kamu! kenapa balik tanya!" ketus Kiana.
"Dasar wanita aneh!" kata William dengan keras.
"Sepertinya kalian tidak pernah akur," ucap Stella. Heran melihat William dan Kiana saat bertemu seperti Tom and Jerry.
"Aku tidak mau berdamai dengan orang seperti singa kelaparan!" ucap Kiana.
"Mau kamu apa? samakan aku dengan hewan!" kata William.
"Cukup!" teriak Stella.
Rico yang tadinya berada di luar ruangan lalu masuk ke dalam, karena mendengar teriakan Stella.
"Ada apa Tuan?kenapa Nona Stella berteriak?" tanya Rico, dengan wajah paniknya.
"Usir wanita itu, keluar dari ruangan ini! cepat! aku muak melihatnya!" kata William dengan kasar.
"Tuan, anda keterlaluan," ucap Stella. Ayo Kiana kita keluar saja!" Lanjutnya.
__ADS_1
"Pergi semua!" bentak William, sembari mengebrak meja kerjanya.
Rico, Stella dan Kiana pergi ke kantin untuk minum kopi, mereka meninggalkan William seorang diri.
"Rico, kenapa mengikuti kita? urus Tuan kamu," ucap Kiana.
"Tuan sedang marah, biar menyendiri dulu, Nona! kalau sudah tenang pasti memanggilku," kata Rico.
"Sebentar! aku harus membujuk Tuan William," sahut Stella.
Kiana melarang Stella kembali ke ruang kerja William, saat sedang marah William akan membentak siapa yang ada di dekatnya. Jadi percuma bicara dengan William saat dirinya sedang marah.
Sampai di kantin Kiana memesan tiga cangkir kopi, dia memesan kopi jenis espresso.
"Nona, kopinya pahit sekali," kata Rico, setelah menyesap kopinya.
"Iya, punyaku juga," sahut Stella.
"Kepala ku pusing! kalau kalian tidak suka jangan di minum," ucap Kiana, sambil memegang kepalanya yang pusing karena memikirkan sepupunya.
Rico dan Stella terpaksa menghabiskan kopi pahit yang di pesan oleh Kiana, mereka menghargai pemberian Kiana. Setelah dari kantin mereka kembali ke ruang kerja, ternyata William sudah tidak ada di dalam ruang kerjanya.
Stella sangat cemas dan menghawatirkan William, tetapi dia senang karena tidak akan di tagih lagi jawaban dari pertanyaan William.
__ADS_1
Rico kebingungan mencari William, mencoba menghubungi lewat telepon genggamnya tetapi tidak ada jawaban.