
Ruby mengatakan kalau dia kasihan dengan Stella, jadi lebih baik berkata jujur. Sesama perempuan dia tidak ingin saling menyakiti, tapi itu hanya alasan Ruby. Berbeda dengan kenyataannya, kalau Stella tadi gak kasih uang Ruby juga tidak akan berkata jujur.
"Rencana ku semua gagal! semua gara-gara kamu," ucap Rico.
"Maafkan saya, Tuan," kata Ruby sembari menundukkan kepala.
Rico akhirnya memaafkan Ruby, dan memberikan uang untuknya.
*
*
William sekarang masih bingung dengan masalah perusahaannya, kali ini dia sudah memberhentikan beberapa karyawannya.
"William, kita akan hidup miskin. Cepatlah berbuat sesuatu, Mamah tidak mau," kata Karin.
"Jangan nambah pusing, Mah! lebih baik Mamah bantu William membujuk Stella, agar mau berkerjasama dengan kita," ucap William.
"Stella! apa yang sudah dia lakukan," kata Karin.
William menceritakan semua masalahnya pada Karin, termasuk masalah kerjasama yang ditolak oleh Stella juga. Karin langsung menelpon Nyonya Jennie, dia ingin meminta bantuannya. Karena tidak ada jawaban, Karin hendak menemui Nyonya Jennie di kantor.
"Jennie, apa yang sudah kamu lakukan? kenapa kamu menghancurkan perusahaan William melalui Stella," kata Karin.
"Aku tidak melakukan apa-apa, apalagi Stella," ucap Nyonya Jennie yang memang tidak mengetahui soal kehancuran perusahaan William.
"Terus siapa yang sudah melakukan semua ini? aku tidak mau hidup miskin lagi, perusahaan keluarga sudah jatuh ke tangan Wilda. Kalau William tidak punya apa-apa bagaimana dengan hidupku nanti," kata Karin sambil menangis.
"Kamu tenang dulu, aku akan mencari tau," kata Nyonya Jennie sambil memeluk Karin.
Setelah Karin pulang, Nyonya Jennie menanyakan pada Stella. Kebetulan saat ini Stella berada kantornya hendak meeting.
"Stella, ada yang ingin Tante tanya ke kamu," ucap Nyonya Jennie.
"Tanya apa, Tante?" kata Stella kemudian duduk di depan meja kerja Nyonya Jennie.
"Apa kamu yang sudah membuat perusahaan William bangkrut? tolong jangan lakukan itu, kembalikan seperti semula," ucap Nyonya Jennie.
"Stella tidak tau soal itu, kemarin memang William sempat datang ke kantor meminta untuk kerjasama. Tapi aku tolak," jelas Stella.
"Kenapa kamu menolaknya? masalah pribadi," kata Nyonya Jennie.
"Tante, saya sudah berusaha menghilangkan rasa sakit. saya menolak karena berdasarkan hasil laporan perusahaan William," kata Stella.
__ADS_1
Nyonya Jennie bercerita tetang persahabatannya dengan Karin, dia hanya tidak tega kalau sahabatnya itu hidup menderita. Stella di minta untuk membantu William, demi persahabatan Nyonya Jennie dan Karin.
Stella bersedia membantu William, karena tidak bisa menolak permintaan Nyonya Jennie. Ia juga merasa banyak berhutang budi dengan keluarga Nyonya Jennie, terutama Rico. Stella rela merendahkan harga diri, sampai meminta untuk menikah dengan Rico.
Nyonya Jennie menyuruh Stella untuk melanjutkan meeting, dia akan menemui William sekarang juga. Agar masalah ini cepat terselesaikan.
Di kantor William.
"Nyonya, akhirnya datang juga," ucap William tersenyum.
"Tau saja aku akan membantu mu," kata Nyonya Jennie.
"Aku tau kalau Nyonya, pasti tidak akan tinggal diam atas kehancuran ku," kata William.
"Ini tidak gratis! ada syaratnya yang harus kamu penuhi," ucap Nyonya Jennie dengan sungguh-sungguh.
"Katakan, Nyonya! demi Mamah aku akan penuhi," kata William.
Nyonya Jennie meminta William untuk mengakui kalau Angelica adalah anaknya, William tidak mau melakukannya karena masih menganggap kalau Angelica adalah anak Rico.
"Rico tidak pernah menghamili wanita manapun, kalau itu terjadi saya yang akan membuatnya bertanggung jawab," kata Nyonya Jennie.
William terdiam mendengar perkataan Nyonya Jennie, selama ini William juga tau bagaimana Rico sesungguhnya.
"Baiklah Nyonya, saya akan mengakui kesalahan saya," kata William.
"Dia hanya anak kecil, dibelikan es krim saja pasti nurut," kata William.
"Kamu salah! anak itu lebih peka dari Stella, dia tidak mudah akrab dengan orang asing. Kamu harus meluluhkan nya dengan ketulusan," terang Nyonya Jennie.
William berfikir lagi, dia justru tertantang untuk meminta maaf pada putrinya. Dia harus mengakui dan mendapatkan pengakuan. Dia menyesal telah berbuat kasar pada Angelica, seandainya dia tidak kasar mungkin saat ini mereka sudah sangat akrab.
"Besok saya akan datang ke rumah Nyonya," kata William.
"Oke! lebih cepat lebih baik," kata Nyonya Jennie sembari tersenyum lalu pergi meninggalkan kantor William.
William teringat saat kejadian itu, dia dan Stella sudah melakukan perbuatan terlarang. Air matanya menetes saat teringat dirinya akan menggugurkan kandungan Stella, dia sangat merasa bersalah. Apalagi saat teringat membentak Angelica, semua dia sesali.
William tidak bisa konsentrasi dalam berkerja, kemudian ia pulang ke rumah.
"Tuan, sudah pulang," ucap Mbok Yem.
"Iya, Mbok! tolong buatkan kopi, bawa ke belakang," kata William.
__ADS_1
Di taman belakang ia duduk sambil melamun, teringat semua kejahatan dan kesalahan yang sudah dia lakukan dulu.
"Tuan, ini kopinya," kata Mbok Yem meletakkan secangkir kopi panas di meja.
"Terimakasih, Mbok," kata William singkat.
"Tuan, sepertinya sedang ada masalah. Ceritakan saja," ucap Mbok Yem.
Apapun keadaan William, Mbok Yem tidak akan pernah meninggalkan William. Walaupun dia tidak di gaji. William sudah di anggap seperti anak sendiri, semua itu saking lamanya Mbok Yem berkerja dengan William.
*
*
Nyonya Jennie mengatakan pada Stella kalau William besok akan datang untuk bertemu dengan Angelica, dan mengakui kalau Angelica adalah anak William.
"Tante, aku tidak mau kalau dia membawa Angelica," kata Stella.
"Itu tidak akan terjadi! dia belum tentu berhasil mendapatkan maaf dari Angelica," jelas Nyonya Jennie.
Stella memanggil Angelica, dia mengatakan kalau daddy nya adalah William. Ia juga mengatakan kalau besok akan datang, mendengar ucapan Stella raut wajah Angelica berubah.
Anak itu tidak mau mempunyai daddy lagi, yang dia sebut daddy hanyalah Rico.
Angelica kemudian masuk ke dalam kamar Rico, dia mengunci pintunya dari dalam.
"Sudah jangan dipaksakan, Stella! mungkin saat ini Angelica belum bisa menerima kenyataan.
"Aku takut, Nyonya! Angelica tidak mau menemui William," kata Stella.
Rico yang baru datang kaget, karena pintu kamarnya tidak bisa di buka.
"Daddy!" teriak Angelica dari dalam kamar.
"Sayang, kenapa kamu mengurung diri disini?" tanya Rico saat membuka pintu.
Angelica bercerita dengan benar, apa yang sudah dia dengar. Rico kemudian juga mengatakan yang sebenarnya, mungkin sudah saatnya anak kecil itu mengetahui orang tuanya.
Angelica menangis dengan keras, dia tidak mau mempunyai daddy lagi. Rico berusaha menenangkan Angelica, pasti Angelica sangat sedih.
Keesokan harinya William benar datang ke rumah, semua penghuni rumah menyambutnya dengan rasa bahagia.
William memeluk Angelica, tetapi anak itu berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
"Sayang, maafkan daddy?" ucap William sembari menitihkan air mata.
Angelica hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia masih bingung.