
"Helen, aku harus pergi ke luar negeri. ada urusan yang harus aku selesaikan," kata William berpamitan pada istrinya.
"Kenapa kamu tidak mengajakku? sekalian kita bisa bulan madu," ucap Helena sembari merapikan dasi suaminya.
"Ini bukan saatnya untuk bersenang-senang, aku khawatir dengan Nyonya Jennie," kata William.
"William, apa yang kamu sembunyikan dari ku? siapa Nyonya Jennie? begitu perhatian kamu dengannya, sampai menghawatirkan," ucap Helena menarik dasi William hingga membuat William hampir tercekik.
"Apa yang kamu lakukan? mau membunuh ku!" teriak William melotot ke arah Helena.
"Maaf! aku tidak sengaja," kata Helena.
William meninggalkan Helena yang ada di dalam kamarnya, karena ia harus segera berangkat berkerja. William juga harus berpamitan pada Kiana lebih dulu, karena ia yang harus menghandle semua pekerjaan kantor.
Setelah William pergi Helena marah-marah, dia kesal dengan perlakuan William kepadanya. Helena mengobrak-abrik meja rias nya, hingga botol parfum jatuh ke lantai dan pecah. Karena mendengar suara yang mengagetkan dari kamar majikannya salah satu asisten rumah tangganya mendatangi Helena, kebetulan pintu kamarnya dalam keadaan terbuka.
"Nyonya, apa yang terjadi?" tanya asisten rumah tangga Helena.
"Bersihkan!" ucap Helena kemudian mengambil tasnya lalu pergi.
Asisten rumah tangga itu hanya menatap kepergian Helena, kemudian mengambil alat untuk membersihkan lantai.
"Sebenarnya aku dianggap apa sama William, sampai tidak tau siapa orang terdekatnya," gerutu Helena sembari melajukan mobilnya.
Helena kemudian masuk ke sebuah cafe, ternyata di sana sudah ada temannya yang menunggu.
"Ada apa wajahmu muram pagi-pagi begini?" tanya teman Helena yang bernama Alika.
"Jangan banyak tanya! aku pusing Lika," kata Helena sembari memijat kepalanya.
Alika mengajak Helena untuk beristirahat di rumahnya, karena jarak dari cafe itu tidak begitu jauh. Helena menolak, dia ingin meminum minuman keras untuk meredakan sakit kepalanya.
Cafe itu memang buka dua puluh empat jam, jadi pengunjung bisa datang kapan saja tanpa melihat waktu.
"Helena, jangan banyak-banyak! nanti kamu mabuk," kata Alika seraya meminta gelas yang di pegang Helena.
__ADS_1
"Kembalikan, Lika! aku masih ingin meminumnya," kata Helena tangannya hendak meraih gelas itu tetapi Alika menjauhkan.
Helena tidak kehabisan akal, dia meminta lagi pada pelayan cafe. Alika melarang pelayan cafe itu memberikan lagi, karena Helena sudah minum cukup banyak.
"Kamu beneran mabuk, Helena. Gimana aku bawa pergi kamu dari sini," kata Alika bingung karena Helena sudah berbicara tidak jelas.
Kemudian Alika meminta bantuan pada pelayan cafe untuk membawa Helena masuk ke dalam mobilnya, lalu Alika mengantarkan Helena pulang ke rumah Papahnya.
"Mana William? kenapa putri ku menjadi seperti ini," ucap Papah Helena saat melihat putri kesayangannya pulang dalam keadaan mabuk dan di antar oleh temannya.
"Helena tidak mengatakan apa-apa, Tuan. Dia hanya meminta saya untuk menemaninya," terang Alika.
Papah Helena kemudian memanggil asisten rumah tangganya untuk membawa Helena masuk ke dalam rumah, sedangkan Alika di usir oleh Papah Helena karena di anggap mendukung Helena berbuat tidak baik. Menurutnya Alika harus mencegah Helena minum, Alika kemudian pulang dengan menggunakan taksi.
"Di bantu bukannya terimakasih malah main usir saja, Papah Helena sepertinya sudah gila," ucap Alika dalam hati.
"Pak, kenapa jalannya kelewat?" tanya Alika pada sopir taksi.
"Nona, kenapa juga tidak bilang? saya tidak tau tujuan Nona mau kemana," jawabnya.
***
Di kantor William mengatakan pada Kiana kalau dia harus pergi karena ada urusan, tetapi Kiana mau menghandle urusan kantor.
"William, kamu jangan gila! pekerjaan sebanyak ini kamu tinggalkan," kata Kiana sembari menata tumpukan berkas.
"Ini lebih penting dari soal uang, aku harus segera pergi ke rumah Nyonya Jennie," terang William.
"Ada hubungan apa kamu dengan pengusaha terkaya itu? sayang dia tidak pernah menampakkan diri," kata Kiana.
"Nanti ada saatnya kamu mengetahui siapa dia! cepat selesaikan pekerjaan kamu," kata William. Aku harus segera pergi sekarang," Lanjutnya.
William kemudian keluar dari ruang kerjanya, dia hendak pergi ke bandara. Kiana mengikutinya keluar, karena hari ini ada meeting yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.
"William, tunggu!" teriak Kiana sembari berlari mengejar William.
__ADS_1
"Apa lagi? sudah ku bilang handle semua pekerjaan!" kata William terus melanjutkan jalannya.
"Hari ini kamu ada meeting penting, aku tidak bisa mengantikan," jelas Kiana.
William tidak memperdulikan hal itu, dia justru buru-buru segera pergi. Terlepas dari kejaran Kiana, ponsel William berbunyi. Papah Helena memintanya untuk segera pulang dan menjemput Helena di rumah, William tidak bisa membantah perintah Papah Helena.
Kemudian William menyuruh sopirnya untuk ke rumah Papah Helena, dia merasa kesal dengan ulah istrinya itu.
Setelah sampai di rumah Papah Helena, ia di beri pertanyaan oleh Papah Helena. Sepertinya tidak main-main kali ini, William merasa terancam karena banyak menutupi kebohongan tentang dirinya.
"William, kenapa kamu biarkan William pergi sendiri? di mana tanggung jawab kamu sebagai seorang suami?" tanya Papah Helena dengan amarahnya.
"Pah, ini tidak seperti yang Papah pikirkan. Aku bisa jelaskan," ucap William.
"Aku tidak butuh penjelasan kamu! kalau sampai terjadi apa-apa dengan putri ku, kamu akan tau akibatnya!" bentak Papah Helena.
William menjelaskan kejadian tadi pagi, Papah Helena menjadi penasaran dengan keberadaan Jennie.
"Jennie grup! perusahaan yang telah mengalahkan perusahaan ku dari dulu, siapa sebenarnya wanita itu," ucap Papah Helena.
"Kita hanya mengenal saat mendatangi seminar," bohong William. Dia lupa kalau Papah Helena juga mempunyai hubungan yang tidak baik dengan Nyonya Jennie.
"Kamu mau berkunjung ke rumah Jennie? di mana rumah wanita itu?" tanya Papah Helena.
"Saya belum tau pasti, Pah! kita hanya bertemu di kantor cabang, Nyonya Jennie pasti hanya menyuruh orang untuk menemui ku," jelas William agar tidak menimbulkan kecurigaan.
William kemudian berfikir kembali, dia terpaksa mengurungkan niatnya untuk ke rumah Nyonya Jennie. Dia kemudian pergi ke kamar Helena, lalu membawanya pulang ke rumah.
Karena kesal dengan kelakuan Helena, William melajukan mobil Helena dengan kencang. Helena saat ini sudah dalam keadaan sadar.
"Hati-hati, William! aku masih ingin hidup," kata Helena yang duduk di sebelah William.
"Bikin malu saja! untuk apa kamu mabok segala, bikin orang susah!" kata William dengan keras.
"Aku terlanjur kesal dengan kamu, yang akan mengunjungi Jennie," kata Helena tak kalah keras.
__ADS_1
William kemudian diam, dia tidak mau berdebat lagi dengan Helena. Hanya akan menguras tenaga saja baginya.