SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 27


__ADS_3

Rico, Karin dan Kiana sudah berada di hotel tempat pesta di adakan, mereka mencari William tetapi tidak menemukan. Teman-teman William juga tidak nampak di pesta.


"Rico, sebenarnya William kemana? kenapa tidak ada?" tanya Kiana.


"Alamat sudah benar Nona, pasti susah mencari Tuan karena banyak orang," kata Rico.


"Aku sudah lelah! kamu telepon saja William," ucap Karin.


Rico mencoba menghubungi William, tetapi tidak bisa. Kiana juga mencoba menghubungi Stella tetapi tidak ada jawaban.


"Mereka sebenarnya kemana?" ucap Kiana.


"Lebih baik Nona dan Nyonya pulang saja! biar saya yang mencari Tuan," kata Rico.


"Baik! Ayo sayang, kita pulang!" Karin mengajak Kiana untuk pulang, sudah hampir dua jam mereka mengelilingi tempat pesta tapi tidak menemukan William.


Saat ini William dan Stella berada di salah satu ruangan VIP hotel tersebut. William bersama teman-temannya, teman William juga membawa kekasihnya.


"William, jangan terlalu banyak minum! nanti kamu mabok," ucap Stella dengan pelan, agar tidak terdengar teman William.


"Kamu tenang saja, aku sudah terbiasa minum banyak," kata William.


William setiap menghadiri pesta pasti ikut minum bir bersama temanya, tetapi ada Rico yang mengawasi jadi masih bisa terkendali.


Satu per satu teman William meninggalkan William dan Stella, karena sudah larut malam. Tepat pukul dua belas William dan Stella masih di tempat itu.


"Apa aku bilang, sekarang gimana kita pulang?" kata Stella. Apa perlu telepon Rico," Lanjutnya.


"Tidak perlu, aku masih bisa bawa mobil," tolak William.


Stella mengikuti permintaan William, untuk tidak menelepon Rico. William memijat kepalanya yang sudah mulai pusing, dia memanggil salah satu pelayan hotel. William meminta untuk di siapkan satu kamar VIP untuk dirinya.


"Stella, bawa aku ke kamar nomor 123! kepala ku terasa pusing," ucap William.


"Kamu minum terlalu banyak, William," kata Stella lagi.


Stella kemudian membawa William ke kamar yang telah dia pesan, di bantu oleh pelayan hotel.


William merebahkan tubuhnya di ranjang , kepalanya semakin pusing.


"William, kamu tidurlah! aku pulang dulu panggil Rico biar menemanimu," ucap Stella.

__ADS_1


William tidak menjawab ucapan Stella, dia justru bangun dari tidurnya lalu memeluk Stella dari belakang.


"Lepaskan, William!" ucap Stella.


"Aku ingin membuktikan cintaku padamu, Stella. Jangan pergi!" kata William, mempererat pelukannya pada tubuh Stella.


William mencium leher jenjang Stella, membuat Stella merasa risih dengan perlakuan William.


"Lepas!" ucap Stella, berusaha agar terlepas dari pelukan William.


William membalikkan tubuh Stella, karena tubuh William terlalu kuat Stella tak bisa melawannya.


"William," ucap Stella.


William mencium lembut bibir Stella, seraya memeluk tubuh Stella. Bukannya menolak lama-lama Stella menikmati ciuman William.


Tidak hanya sampai di situ, William mulai mengelus tubuh Stella dengan lembut membuat Stella terhanyut dalam dekapan William.


Walaupun mereka belum pernah melakukan seperti ini, tetapi rasa keinginan mengalir begitu saja. Sentuhan-sentuhan lembut William membuat terlena, otaknya hilang kesadaran. Ciuman William menuntun ke hal yang lebih, ia mulai melucuti gaun yang di kenakan Stella.


"Jangan lakukan ini, William!" ucap Stella, ingin menghentikan tangan William yang mulai melepas gaunnya.


William tidak mempedulikan ucapan Stella, dia justru mencium kembali bibir mungil Stella seraya melepaskan gaun yang dikenakan Stella. Setelah terlepas William menggiring Stella ke ranjang, dia rebahkan tubuh Stella yang sudah telanjang hanya tersisa bra dan ****** *****. William menindih tubuh mulus itu dan entah apa yang terjadi pada keduanya.


Keesokan hari William terbangun, melihat Stella duduk sambil menangis ia berusaha menenangkan. William memeluk tubuh Stella seraya meminta maaf, dia tidak bisa menahan gairah yang bergejolak dalam dirinya.


"Stella, bersihkan tubuhmu. Ayo kita pulang!" ajak William, setelah selesai berganti baju.


Dengan berbalut selimut Stella memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai. Lalu masuk ke dalam kamar mandi.


William mengajak Stella untuk pulang ke rumahnya, sampai di rumah Rico, Karin dan Kiana sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu.


"William, kamu dari mana saja?" tanya Karin, dengan wajah cemasnya.


"Dari pesta, kita kemalaman jadi menginap di hotel," jawab William.


Karin memperhatikan Stella yang nampak lesu, mata yang habis menangis masih terlihat dengan jelas.


"Stella, kamu kenapa? seperti habis menangis?" tanya Kiana.


"Aku...

__ADS_1


"Stella, cepat ganti baju kamu! ayo!" sahut William, seraya mengandeng tangan Stella menuju kamarnya.


Kiana dan Karin saling berpandangan, mereka curiga ada sesuatu yang baru saja terjadi.


"Ayo kita pulang saja! dada Tante terasa sesak," ucap Karin.


Rico hendak mengantarkan Karin dan Kiana pulang, tetapi malah mendapat bentakan di suruh jaga William.


Rico menghela nafasnya, anak sama ibu tidak ada yang bicara pelan.


Stella di dalam kamar kembali menangis, dia menyesal kesuciannya telah hilang.


"Apa kamu menyesal?" tanya William.


"Iya, aku salah! aku menyesal... " ucap Stella lirih.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu tetapi aku tidak bisa menikahi mu," kata William.


Jantung Stella seakan copot seketika saat mendengar ucapan William, yang artinya tidak akan bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Kamu tega, William!" kata Stella sedikit keras.


William sebenarnya merasa bersalah dan menyesali perbuatannya yang keji itu. Dia juga tak menyangka hal itu akan terjadi, kalau dia menikahi Stella justru akan membuat Stella menderita.


Rico menemui William di dalam kamarnya, dan melihat Stella duduk di lantai seraya memeluk kedua kakinya sambil menangis.


"Tuan, apa yang terjadi dengan Nona Stella?" tanya Rico.


"Selesaikan tugas mu! jangan ikut campur urusanku dengan Stella," kata William.


"Pak Rico, tunggu!" panggil Stella saat Rico akan melangkahkan kaki keluar.


"Iya, Nona," jawab Rico dengan lembut.


"Antar aku pulang!" kata Stella.


William tidak mengizinkan Stella pulang, ia menyuruh Stella untuk beristirahat. Baru kali ini William masuk ke dapur dan mengambilkan Stella makanan lalu menyuapi nya.


Pepatah mengatakan nasi sudah menjadi bubur, apa yang telah terjadi tidak akan bisa kembali lagi. Seperti itu sekarang yang di alami Stella dan William, apa yang mereka lakukan hanya tinggal penyesalan.


Stella sudah sedikit tenang, ia tertidur dengan pulas. William masuk ke dalam ruang kerjanya, dia duduk dan mengacak rambutnya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Stella. Seandainya aku bisa menikahi mu dan tidak terlibat dalam perjodohan akan ku bawa penghulu sekarang juga," ucapnya dalam hati.


William menyuruh Mbok Yem masuk ke dalam ruang kerjanya, dia menceritakan kejadian semalam dengan Stella. Mbok Yem menyarankan agar William menikah dengan Stella secara diam-diam, walaupun resikonya sangat besar jika ketahuan.


__ADS_2