SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 90


__ADS_3

"Hentikan, Za! apa yang kamu lakukan!" teriak Ruby sembari memegang tangan Reza yang hendak memukul Rico lagi.


"Kamu belain dia! jadi gara-gara laki-laki ini kamu ninggalin aku! jawab Ruby," kata Eza membentak Ruby.


"Jangan kasar sama wanita, wajar kalau Ruby ninggalin kamu," sahut Rico berusaha bangkit dari jatuhnya.


"Eza, aku bisa jelasin tapi tidak sekarang," kata Ruby.


Rico tidak jadi mengantarkan Ruby, ia langsung kembali ke rumahnya. Setelah Rico pergi Ruby mengejar Eza, dia menjelaskan pada Eza.


"Bodoh kamu! aku lagi dapat pekerjaan dari laki-laki kaya tadi, kenapa kamu pukul dia," kata Ruby.


"Jelas aku cemburu dong! masa pacar ku yang cantik ini berduaan sama orang," kata Eza sembari merangkul pundak Ruby.


Ruby membagi makanan yang dia bawa tadi dengan Eza setelah sampai di rumahnya, Ibu Ruby juga sangat senang dibawakan makanan.


"Ruby, besok kamu bawa lagi makanan seperti ini ya! sejak kita jadi miskin Ibu tidak pernah makan makanan enak, apalagi Ibu miskin gara-gara melahirkan kamu," kata Ibu Ruby.


"Bu, harusnya Ibu bersyukur mempunyai anak seperti Ruby! dia berkerja keras untuk Ibu," kata Eza tidak terima dengan ucapan Ibu Ruby.


"Eza, Ibu benar kok! kalau Ibu tidak melahirkan aku mungkin Ibu hidup enak sekarang, tinggal menikmati masa tuanya," kata Ruby sembari tersenyum.


"Selera makan ku hilang! aku pulang dulu, Ruby," pamit Eza.


"Eza, tunggu!" teriak Ruby.


"Biarkan dia pergi! putuskan saja hubungan mu dengan anak itu, lagian sekarang kamu sudah dekat dengan orang kaya," kata Ibu Ruby.


"Tuan Rico hanya meminta Ruby jadi pacar pura-pura, Bu. Tolong Ibu jangan seperti ini," kata Ruby.


"Buat orang kaya itu jatuh cinta padamu, Ruby. kamu harus bisa memanfaatkan situasi seperti ini, jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada," ucap Ibu Ruby lagi.


Ibu Ruby terus menghasut Ruby agar mendapatkan Rico, tetapi ada rasa takut dalam diri Ruby. Kalau sampai Rico mengetahui dia bisa kehilangan pekerjaan, padahal kerja di kantor Rico gaji Ruby sudah lebih dari cukup. Gajinya 70% di minta oleh Ibunya, sedangkan ia hanya tinggal 30% itu pun ibu Ruby masih sering mengatakan kurang.


Ruby lalu masuk ke dalam kamarnya, ia merenung memikirkan ucapan ibunya. Eza kekasih Ruby sebenarnya orang yang baik, dia juga sering membela Ruby ketika Ibunya marah pada Ruby. Ia juga sudah tau dan menerima keadaan Ruby, karena mereka sudah lama mengenal. Walaupun terkesan berani pada ibu Ruby, Eza hanya membela Ruby demi kebaikan.


Rico sampai di rumah langsung masuk ke dalam kamarnya, kebetulan Stella belum tidur dan mengikuti Rico ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Mau apa kamu? aku harus istirahat, Stella," ucap Rico saat mendapati Stella berada di depan pintu kamarnya.


"Wajahmu kenapa, Rico? kenapa lebam begitu," ucap Stella sembari memegang sudut bibir Rico yang terluka.


Stella kemudian berlari ke dapur, ia mengambil air hangat dan ia gunakan untuk mengompres luka Rico.


"Pelan- pelan, Stella! sakit sekali," ucap Rico saat kain yang di gunakan untuk mengompres luka menyentuh lukanya.


"Katakan sebenarnya apa yang terjadi? kenapa bisa seperti ini," kata Stella.


"Aku mau istirahat, kembalilah ke kamarmu," kata Rico.


"Bukannya terimakasih malah main usir," gerutu Stella, lalu meninggalkan kamar Rico


Rico terpaksa tidak mengatakan dengan apa yang terjadi dengannya, karena Stella bisa curiga dan akhirnya ketauan.


Keesokan harinya Ruby berangkat ke kantor, dia sebenarnya sangat pusing memikirkan ibunya. Tak sengaja Ruby bertemu dengan Stella di kantor Rico.


"Ruby, kamu sudah di sini? Rico ada di ruangannya, kebetulan kita ada meeting pagi ini," ucap Stella.


"Iya, Stella! aku ke ruangan Rico dulu," kata Ruby.


"Aku masih penasaran, apa benar Ruby dan Rico beneran pacaran," ucap Stella dalam hati.


Stella berusaha membuang jauh-jauh pikirannya tentang Rico dan Stella, karena hanya akan menimbulkan rasa penasaran dan akhirnya ia mencari tahu kebenarannya.


*


"Ruby, tolong antar berkas ini ke ruang meeting," ucap atasan Ruby sembari memberikan tumpukan berkas pada Ruby.


"Tapi, Bu," kata Ruby.


"Cepat, Ruby! Bu Stella sudah menunggu dari tadi," ucap atasannya.


Ruby lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya, ia masih berfikir bagaimana cara memberikan berkas itu pada Stella. Ia kemudian pergi ke ruang kerja Rico terlebih dahulu, Ruby menceritakan pada Rico.


"Biar aku saja yang membawa, taruh saja di meja! bukannya kemarin aku sudah bilang, kalau selama kamu berkerjasama dengan ku harus cuti dulu," kata Rico tanpa menoleh ke arah Ruby.

__ADS_1


"Saya butuh banyak uang, Tuan," kata Ruby.


"Aku bayar segitu banyak, apa gak cukup untuk memenuhi kebutuhan kamu," kata Rico menghentikan aktivitasnya sembari menatap Ruby.


"Tuan, saya punya seorang ibu yang harus saya bahagiakan," kata Ruby.


Rico kemudian menyuruh Ruby untuk kembali ke ruang kerjanya, dia juga ada meeting dengan Stella.


*


*


"Tuan, ini laporan perusahaan kita bulan ini," kata sekertaris William sembari memberikan laporan perusahaan.


"Apa? kenapa menurun drastis," kata William saat melihat laporan itu.


"Banyak yang menolak kerja sama dengan perusahaan kita, harapan kita masih satu, Tuan," jelas sekertaris William.


"Katakan apa? agar semua perusahaan yang pernah berkerja sama bisa kembali lagi," ucap William.


"Berkerja sama dengan Nona Stella, Tuan," kata Sekertaris itu.


William mengebrak mejanya, dia tidak setuju dengan ide yang diberikan oleh sekertaris nya. William tidak memikirkan bagaimana nasib perusahaan, ia kemudian menghubungi Rico untuk meminta tolong.


Rico juga memberikan solusi yang sama, karena saat ini perusahaan Stella sedang berkembang pesat. William marah pada Rico, ia mengatakan kalau Rico hanya menjebaknya.


Kini ia pusing karena perusahaannya berada di ambang kehancuran, dia akan mencari solusi sendiri.


William kali ini nekad menemui Lukman, tetapi ia di usir oleh Lukman.


"Helen, tolong aku! aku bisa jatuh miskin kalau seperti ini," kata William.


"Aku tidak peduli, lagian kita akan bercerai," ucap Helena sembari tersenyum.


"Helen, kamu tega sama aku," ucap William.


"Kamu lebih jahat, lebih tega! membohongi semua orang demi ambisimu," kata Helena.

__ADS_1


"Helena, kamu lupa kalau kita menikah karena Papah mu yang memaksa. Bukan karena kita saling mencintai," terang William.


Helena kemudian pergi meninggalkan William, dia sudah tidak sudi melihat William lagi. William terpaksa menemui Stella di kantornya, ia berjalan menuju ruang kerja Stella. Ia nekad datang ke sana, walaupun belum tau gimana hasilnya.


__ADS_2