
Semenjak Stella menghidupkan ponselnya, Kiana langsung melacak nya begitu ada notifikasi pesan telah terkirim. Kiana adalah salah satu orang yang mengetahui keberadaan Stella.
Dia langsung bergegas menuju tempat di mana Stella berada, dia tau semua kesulitan Stella. Diam-diam dia mengintai Stella dari kejauhan.
Saat ini Kiana sedang berada di kota Stella berada, dia tau Stella akan melahirkan. Kiana membayar tetangga Stella untuk memantau Stella.
Dulu pernah Stella tidak bisa membayar kontrakan, Kiana lah yang membantu tanpa sepengetahuan Stella.
Kiana memang sengaja tidak menemui Stella langsung, karena takut Stella menghindar dan menghilang lagi.
***
Stella bangun dari tidur, perutnya terasa mulas. Walaupun perutnya terasa sakit ia masih sempat menyebrang kan jalan Kakek.
"Kek, perut Stella semakin sakit," ucap Stella setelah sampai di sebrang jalan.
"Ayo! Kakek antar ke rumah sakit, sepertinya kamu akan melahirkan," ucap Kakek.
"Tidak Kek, Stella masih kuat," kata Stella sambil menahan rasa sakit.
Kakek tidak segera pergi, ia masih membujuk Stella agar mau di ajak ke rumah sakit. Dia juga tidak tega meninggalkan Stella seorang diri.
Stella meninggalkan Kakek di tempat itu, melihat Stella jalan sambil menahan sakit Kakek tidak tega.
"Nak, tunggu!" teriak Kakek.
"Kakek! ada apa?" tanya Stella sambil menoleh ke arah Kakek.
"Tunggu! aku akan membawa mu ke rumah sakit," ucap Kakek lalu menghubungi seseorang.
"Kek, Stella tidak mau merepotkan," ucap Stella sembari memegang perutnya yang sudah mulai kencang.
Orang yang di hubungi Kakek sudah datang, ternyata adalah sopir pribadi Kakek itu. Kakek di bantu oleh sopirnya membawa Stella ke sebuah rumah sakit.
"Tuan besar, sepertinya ada yang mengikuti mobil kita," ucap sopir.
"Biarkan saja! yang penting Stella segera di tangani," kata Kakek.
Sopir itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena Stella sudah tidak kuat menahan sakitnya.
"Kakek, sakit sekali tolong Stella! kalau Stella nanti tiada tolong kasih nama anak ini Angelica Anggraeni, nama Ayahnya William," ujar Stella ngomong tidak jelas.
"Bertahanlah Nona, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ucap Sopir.
Setelah sampai di rumah sakit Stella segera di bawa ke ruang bersalin, Kakek dengan sabar menunggu Stella di luar.
Kiana kehilangan jejak saat mengikuti mobil Kakek, padahal dari tadi pagi saat Stella jalan kaki hendak menemui Kakek dia sudah mengikuti Stella.
"Sial! cepat sekali orang itu membawa mobil," ucap Kiana.
Kiana kebingungan karena tidak hafal dengan jalan kota itu, lalu dia memutuskan untuk kembali ke hotel lebih dulu. Dia juga memikirkan biaya persalinan Stella, ia gak tau akan mencari Stella kemana lagi.
Kiana teringat tadi Stella kesakitan setelah menemui Kakek, dia mengira Stella di bawa ke rumah sakit. Sepuluh rumah sakit yang dia kunjungi untuk mencari keberadaan Stella, akhirnya dia menemukan Stella.
Kiana mencari akal agar bisa melihat keadaan Stella, yaitu memakai seragam perawat. Ia masuk ke dalam ruang bersalin ikut membantu seorang dokter yang menangani Stella, beruntung Kiana paham alat apa yang di butuhkan dokter.
Dengan perjuangan dan usahanya, akhirnya Stella melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu mirip dengan William, sangat cantik dan lucu.
"Setelah melihat bayi ini pasti William akan menyesal," ucap Kiana dalam hati.
__ADS_1
Tinggal Kiana dan Stella yang berada di ruang itu. "Nona, anak anda mirip dengan Ayahnya," ucap Kiana dia tidak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya.
"Memang anda tau Ayah anak saya? kenapa bilang mirip?" tanya Stella.
"Tidak! maksud saya kemungkinan, Nona," ucapnya. Beruntung Kiana menggunakan masker jadi Stella tidak mengenalinya.
"William..." ucap Stella lirih.
"Anak ini memang benar sangat mirip dengan William, bagaimana kalau kita bertemu," ucap Stella dalam hati. Stella masih takut bertemu William, yang dia takutkan adalah keselamatan bayinya.
Kiana kemudian keluar dan menyelesaikan administrasi persalinan Stella.
Dokter yang menangani Stella menemui Kakek, dia mengatakan kalau cucunya sudah lahir dan berjenis kelamin perempuan. Kakek sangat bahagia dan tidak sabar ingin bertemu dengan Stella, namun saat ini Dokter belum mengizinkan.
Kakek hendak mengurus administrasi Stella, tetapi dia kaget karena sudah ada yang melunasi. Petugas kasir tidak mau memberitahu siapa yang sudah membayarnya.
Kiana buru-buru pergi dari rumah sakit itu, dia takut penyamarannya terbongkar. Melihat Stella dalam keadaan sehat dia sangat lega dan bahagia. Dia berencana akan kembali ke kotanya dan menghadiri pernikahan William.
"Nak, bagaimana keadaan mu?" tanya Kakek saat masuk ke dalam ruangan Stella di rawat.
"Stella baik, Kek," ucapnya memperlihatkan bayi yang di pangkuannya kepada Kakek.
"Cantik sekali! mirip kamu, Stella," kata Kakek dengan tersenyum.
"Tadi ada perawat yang bilang kalau anak ku mirip Ayahnya, padahal perawat itu belum pernah ketemu Ayah bayi ini," ujar Stella.
Kakek hanya tersenyum mendengar ucapan Stella, "Kemungkinan memang mirip Ayah nya," kata hati kakek.
Karena sudah di perbolehkan pulang, Kakek membawa pulang Stella kerumahnya. Awalnya Stella menolak, dia takut merepotkan Kakek. Tapi Kakek terus memaksa, di rumah Kakek hanya tinggal dengan asisten rumah tangganya. Anak-anak kakek semua tinggal di luar negeri ikut istrinya, dia tidak punya siapa-siapa lagi.
***
"William, siapa Stella itu?" tanya Helena dengan berbisik.
"Kamu tidak perlu tau!" ketus William.
"Oke! jadi selama ini kamu menyembunyikan wanita dalam hubungan kita?" ucap Helena.
"Kalau iya, apa kita akan bercerai?" tanya William.
"Tidak akan! aku akan mencari tau siapa wanita itu!" ujar Helena.
Kekhawatiran ada dalam benak William, bagaimana kalau benar Helena akan mencari tau Stella. Yang William takutkan adalah keselamatan Stella.
Papah Helena memasrahkan Helena pada William, beliau juga menyerahkan tanggung jawab Helena pada William. Dia juga mengancam William jika tidak memperlakukan Helena dengan baik, maka keluarganya akan di buat menderita.
William dan Helena pulang ke rumah barunya, hadiah pernikahan dari Papah Helena.
Kiana baru sampai di hotel tempat William melangsungkan pernikahan, dia tidak bertemu dengan siapapun karena sudah bubar hanya tinggal petugas catering yang sedang beres-beres.
Dia kemudian datang ke rumah baru William dan Helena.
"Ada apa kamu datang kesini?" tanya William dengan ketus.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Kiana seraya memberikan kado pada William.
"Iya, terimakasih sudah datang ke sini," kata Helena.
"Kamu kemana saja, bisa-bisanya sepupu menikah tidak datang!" ujar William.
__ADS_1
"Aku keluar kota! ada keperluan yang harus diselesaikan," ucap William.
Helena lalu menyela obrolan Kiana dan William, dia menanyakan soal Stella.
"Bukannya kamu sudah pernah bertemu dengan Stella di kantor William, dia sekertaris William," jawab Kiana.
"Hanya seorang sekertaris yang kamu sebut tadi?" ucap Helena.
"Maksudnya?" tanya Kiana bingung.
Helena lalu menjelaskan kalau tadi waktu ijab qabul, William salah menyebutkan nama. Dia memang sudah lupa dengan Stella karena hanya bertemu sekilas saja, dan sudah lama.
Kiana lalu berpamitan pulang, dia mengajak Rico untuk pulang ke rumah William.
"Rico, ayo kita pulang! jangan mengganggu Tuan mu," ajak Kiana.
"Baik, Nona!" ucap Rico lalu mengikuti Kiana keluar dari rumah William.
"Kurang ajar kalian!" teriak William.
"William, akan menyesal setelah bertemu dengan putrinya nanti," kata Kiana pada Karin saat berada di rumah William.
"Apa Stella sudah melahirkan cucuku?" tanya Karin.
Kiana memperlihatkan foto anak Stella, yang diam-diam dia ambil saat menyamar menjadi seorang perawat.
"Tante, anak Stella sangat mirip dengan William. Aku tadi hampir keceplosan di depan Stella," kata Kiana.
"Kiana, bawa aku melihatnya! aku ingin membelikan rumah untuk cucuku," ucap Karin.
"Tidak semudah itu, Tante. Pasti Stella akan kabur kalau melihat kira," terang Kiana.
Foto itu Karin padang, memang benar bayi itu berparas cantik, hidung yang mancung seperti William waktu masih bayi.
"Stella tinggal di mana? apakah cucuku akan hidup kecukupan?" tanya Karin.
"Tadi yang mengantarkan Stella ke rumah sakit adalah seorang Kakek tua, Kiana kurang tau pasti siapa itu Kakek," jelas Kiana.
Karin sangat bersyukur kalau Stella ada yang menjaganya.
***
Kakek membawa Stella ke kediamannya, rumah mewah yang berada di tengah kota. Stella takut hal yang menimpa Rayhan akan terjadi pada Kakek. Stella tidak mau menjadi beban dan merepotkan orang, hanya karena orang itu mau membantunya. Dia akan tinggal di rumah Kakek untuk beberapa hari saja, kemudian akan kembali ke rumah kontrakannya.
Kakek sudah menyiapkan seorang asisten rumah tangga untuk melayani Stella, semua keperluan Stella ternyata juga sudah disiapkan.
"Kakek, aku sangat tidak layak menerima semua ini," ucap Stella.
"Ini semua sudah menjadi rezeki mu dan anak kamu," ujar Kakek.
Stella sangat beruntung banyak orang yang mau membantunya saat dia dalam kesulitan, dia juga sangat bersyukur masih ada orang baik.
Tiba-tiba Stella teringat dengan William, kebencian mengalir begitu saja dalam diri Stella. Dia tidak tau masih bisa memaafkan William atau tidak. Laki-laki yang telah menghancurkan masa depannya.
Saat melihat wajah anaknya Stella tersenyum, dengan kehadiran anaknya sedikit mengobati rasa sakit dalam hatinya. Anak yang tidak berdosa harus ikut menanggung malu nantinya, karena tidak memiliki seorang Ayah. Stella kembali meneteskan air mata, kemudian dia gendong anaknya lalu mencium keningnya.
Anaknya itulah saat ini harapan dan masa depan Stella, dia harus kuat membesarkan anaknya seorang diri. Stella lalu menghapus air matanya, tidak ada gunanya dia menangis.
Stella menghubungi Rayhan memberitahukan kalau dia sudah melahirkan dan dalam keadaan sehat. Tetapi Stella tidak memberitahukan keberadaannya saat ini. Sudah cukup Stella menyusahkan Rayhan, dia juga berjanji akan mengganti semua uang Rayhan yang dulu pernah di gunakan untuk membantunya. Walaupun Rayhan menolak dan sudah mengikhlaskan, tetap saja rasa tidak enak ada pada Stella.
__ADS_1